
Jihan menutup mulutnya yang terbuka, bulir bening di kedua manik matanya turut terjatuh saat melihat Fauzan memukul ibunya tanpa perasaan.
Ia segera menjatuhkan tubuh di depan ibunya. “Ibu,” ucapnya lirih menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
“Maafin Jihan, Bu!” Tangis Jihan semakin keras, semua karena kesalahannya. Harusnya ia yang dipukul bukan ibunya. Jihan mengeratkan pelukannya, berharap dapat mengobati sedikit rasa sakit yang ibunya rasakan saat ini.
Hari indah yang dirancang keduanya, seketika menggelap. Dunia mereka seakan runtuh sekarang. Sungguh terlihat memilukan dua orang yang saling berpelukan di lantai itu.
Tangis ibu dan anak yang menyayat hati. Namun momen itu justru membuat awak media berlomba-lomba mendapat gambar terbaik. Mereka berdesakan berebut posisi paling terdepan. Situasi menjadi kacau balau. Tidak ada rasa iba sedikit pun untuk keduanya.
Derap langkah banyak orang yang mendekat, membuat Jihan menaikkan pandangannya. Seperti tengah menghadapi lautan manusia, saling dorong, saling sikut merupakan hal biasa bagi mereka.
Jihan membelalakkan kedua matanya. Ia segera melindungi Maharani, menangkup tubuh wanita itu, menutupi dengan tubuhnya.
Sayangnya, massa yang sangat banyak dan tidak ada yang mau mengalah, membuat Maharani dan Jihan diinjak-injak banyak orang. Mereka melingkari Jihan dan Maharani.
“Kalian bukan manusia! Kalian serakah! Tega mengumbar fitnah hanya untuk keuntungan kalian sendiri!” pekik salah seorang awak media menunjuk-nunjuk Jihan dan Maharani.
“Ya! Benar! Kalian kek pohon pisang. Punya jantung tapi nggak punya hati!” pekik lainnya tepat di telinga mereka berdua.
"Pandai sekali mempermainkan kami!"
Beberapa dari mereka mendorong bahu Jihan dan Maharani. Tubuh keduanya terombang-ambing. Mereka hanya bisa menangis dan saling berpelukan erat. Para awak media tidak terima karena sudah dipermainkan oleh Maharani.
“Ibu, Jihan takut,” lirih Jihan melingkarkan lengannya dengan erat.
“Pas pembagian otak kalian ke mana, hah? Demi ambisi kau bahkan menyakiti orang lain sampai harus memutuskan hubungan darah mereka?!” Bentakan yang sangat keras itu membuat Jihan terlonjak dan semakin meringkuk di lantai.
Maharani tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Mereka sudah terdesak dan tidak bisa melarikan diri. Para awak media melingkar dan merapatkan barisan. Tak lupa kamera yang selalu on.
“Mampus aja lo!” teriak seseorang emosi menendang mereka berdua.
“Menuh-menuhin dunia aja. Akan lebih baik kalau kalian enyah dari muka bumi ini!” teriak awak media bergantian.
Semua tersulut emosi, mengingat pembodohan yang dilakukannya tadi. Untung saja segera terbongkar. Jadi mereka bisa segera tahu bangkai yang sudah tertutup rapat.
“Pintu neraka sudah terbuka lebar untuk kalian berdua!” Sebuah tendangan mendarat lagi di lengan keduanya.
Ibu dan anak itu meringkuk seperti tikus jalanan yang dimarahi dan dipukul semua orang. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam, nyeri, perih menjalar hingga ulu hati. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain menangis hingga suaranya serak.
Sekelompok satpam muncul menerobos orang-orang yang sedang emosi itu. Para pria bersegam itu mendorong massa agar menjauh, menyelamatkan ibu dan anak yang sudah terluka dengan menyedihkan itu.
“Mari Nyonya, Nona,” ajak satpam membangunkan mereka berdua.
Masih banyak yang hendak menyerang mereka berdua lagi. Namun mampu tertahan benteng yang dibuat tim keamanan.
Maharani dan Jihan berhasil dibawa keluar dari sana dengan keadaan yang sangat kacau. Tubuh keduanya melemas tak berdaya. Air matanya tak henti-hentinya menyeruak dari kedua bola mata mereka.
Keduanya dibawa ke in house clinic yang bekerja sama dengan hotel tersebut untuk mendapatkan perawatan dasar.
Seorang dokter segera memeriksa mereka bergantian, luka-lukanya dibersihkan dan diobati oleh perawatnya.
“Tidak perlu khawatir, tidak ada hal yang serius pada kalian berdua. Ini saya beri obat antibiotik dan paracetamol untuk meredakan rasa nyeri atau demam yang kemungkinan akan timbul setelah beberapa saat nanti,” jelas sang dokter memberikan dua bungkus obat yang sama untuk Maharani dan Jihan.
Mereka masih terpukul, bahkan tak menjawab apa pun. Hanya mengangguk lemah dengan tatapan kosong saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beristirahat sejenak, Maharani mengajak Jihan untuk pulang. Ia menggoyangkan bahu Jihan yang sedang tertidur di atas bed kecil yang muat untuk satu orang saja.
“Ji, bangun,” panggil Maharani.
“Ayo kita pulang,” ujar Maharani pelan.
“Pulang … ke mana, Bu?” tanya Jihan memastikan. Pasalnya ia tidak berani pulang ke kediaman Fauzan. Membayangkan kembali kemarahan Fauzan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
“Pulang ke rumah ayah kamu dong, Sayang.”
“Tapi ... Jihan takut, Bu,” ujar Jihan menyendu. Matanya kembali berkaca-kaca.
Maharani tidak bisa marah dengan Jihan. Walaupun putrinya itu penyebab semua kekacauan yang terjadi, ia tetap masih berlaku baik pada putrinya. Rasa sayangnya lebih besar ketimbang kemarahannya.
“Apa yang kamu takutkan, Nak. Kan ada ibu. Kita hadapi sama-sama ya. Ibu akan meyakinkan ayah agar mereka menerima kita,” ujarnya dengan mantap.
“Jihan takut nanti kalau kita diusir, Bu,” sahut Jihan yang berpikir kemungkinan terburuknya.
“Tidak! Kita nggak boleh nyerah sampai di sini saja!” tegas Maharani melihat sekelilingnya. Kemudian melanjutkan ucapannya dengan perlahan, “Ibu sudah mengorbankan seluruh masa muda ibu hanya demi Fauzan dan demi keluarga Isvara. Ibu tidak bisa dan tidak rela kalah dari Khansa. Kita harus bisa merebutnya lagi,” elak Maharani mengingat bagaimana ia jatuh bangun hingga bisa mendapatkan Fauzan.
Jihan mengangguk, mereka bergegss keluar hotel dengan terpincang memesan taksi. Maharani dan Jihan nekad untuk pulang ke rumah Fauzan.
Hari sudah menjelang sore, keduanya sampai di halaman kediaman Isvara. Maharani dan Jihan pun masuk ke dalam.
“Kamu langsung ke kamar aja, bersihin diri,” ucap Maharani mengusap bahu putrinya.
“Iya, Bu,” jawab Jihan dengan patuh.
Mereka masuk ke kamar masing-masing. Maharani langsung mengedarkan pandangan mencari keberasaan suaminya. Namun matanya sama sekali tidak menangkap tanda-tanda kehadiran lelaki itu. Maharani mengernyit bingung.
Belakangan ini Fauzan sering tidak pulang. Akhirnya wanita itu mencoba menelepon Fauzan, tapi hanya nada sambung saja yang terdengar. Fauzan sama sekali tidak mengangkatnya.
“Ke mana dia?” gumam Maharani pada dirinya sendiri sembari memainkan ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di belahan bumi lainnya. Khansa tengah menikmati sun set yang begitu indah di Pantai Kuta, salah satu destinasi yang paling diminati oleh turis baik lokal maupun mancanegara. Bahkan di sana juga sering digunakan untuk syuting. Karena memang pemandangannya yang sangat bagus.
Siluet tubuhnya diterpa sinar mentari yang hampir saja tenggelam, kembali ke peraduannya. Sepoi angin berembus menerbangkan helaian rambut panjangnya. Matanya terpejam, menikmati udara yang semakin dingin menembus permukaan kulitnya.
Di tengah badai yang menerpa keluarganya, Khansa justru menikmati liburannya. Senyum puas pun tak pernah luntur dari bibir cantiknya.
Bersambung~
Akhirnya... done yah. mon maap kalo ada typo. belum aku cek lagi. nanti revisi sambil jalan.
*Woy, Thor! Khansa mana?
🌶Sssttt! jan tereak tereak, Sasa lagi liburan. dia capek kejar stripping. aku juga mau liburan ini, makanya tak kelarin tengah malem. jadi maklumin ye kalo ada typo2. kdang sambil merem ngetiknya 😆😆
Daaah sampai jumpa minggu depan. simpenin vote buat senin! terus bunga sama kopinya juga boleh 🤣🤣🤣 ngelunjak ya..
Kalau kalian kangen SaLe _Sasa_Leon_ baca ulang part manis2 mereka aja 🤣🤣🤣
makasi bnyak like komennya.. maap balesnya ga sempet semuanya tapi aku baca kok. komen kalian kadang bikin ngakak... ada juga yg bikin esmoni 😂😂 mood booster banget tp ada juga yg bikin mood ancur.. wkwkwk... yah apa pun itu, tetep makasih. kalian semua luar biasa..
lope sekebon cabe 🥰🥰😍🌶🌶