Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 141. Satu Bukti


Denting jam di tengah malam, menemani Leon yang masih terjaga dari tidurnya. Matanya enggan terpejam meski Khansa tidur dalam pelukannya. Ranjang yang cukup luas, tidak menyulitkan mereka untuk beristirahat.


Tangannya terus membelai rambut panjang Khansa, pikirannya bercabang ke mana-mana. Padahal biasanya, merasa damai ketika memeluk wanita yang dicintainya itu. Leon terus berusaha menekan emosinya yang siap meledak kapan saja. Demi Khansa, ia tidak akan gegabah dalam bertindak.


Dering ponselnya membuyarkan lamunan Leon. Tangannya merogoh saku untuk segera mengangkatnya. Leon hanya menjawab singkat dan bersuara pelan karena takut membangunkan Khansa.


Leon bergerak dengan perlahan untuk turun dari ranjang. Kepalanya menoleh pada Bibi Fida yang masih tidur dengan tenang. Ia bermaksud menunggu Hansen di luar kamar sembari menyesap rokok favoritnya.


"Kak!" panggil Hansen dengan langkah tergesa. Pria itu segera duduk di sebelah Leon dan menyodorkan amplop hasil penelitiannya.


Leon menerimanya, menyobek ujungnya dan meraih beberapa lembar kertas putih yang dibubuhi nama perusahaan Hansen beserta tanda tangannya. Menyatakan bahwa hasil tersebut memang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.


"Sebenarnya untuk apa Khansa menggunakan serbuk itu, Kak?" tanya Hansen menatap Leon dengan serius.


"Ini apa maksudnya?" Leon justru mengalihkan pembicaraan sembari mengernyitkan dahinya.


Hansen menghela napas panjang, "Serbuk tersebut mengandung monoamine oxidase inhibitor. Biasanya digunakan untuk obat depresi tingkat tinggi. Penggunaan yang berlebihan dan terus menerus, bisa merusak organ-organ tubuh secara perlahan. Selain itu, kandungan MOAI ini dapat menimbulkan interaksi beberapa makanan, seperti keju, asinan dan anggur. Jika dikonsumsi secara bersamaan, dapat menimbulkan kematian," papar Hansen sejelas-jelasnya.


Dada Leon kembali bergemuruh. Kedua tangannya yang bertumpu di atas paha mengepal dengan kuat, hingga kertas-kertas itu turut terkepal dalam genggamannya. Kiilat mata Leon berubah nyalang.


"Kak," panggil Hansen menepuk bahu Leon.


"Maharani telah membunuh ibu Khansa! Kirim padaku soft filenya. Berikan bungkus itu pada Gerry. Suruh periksa sidik jarinya!" perintah Leon dengan napas yang menderu kasar.


Hansen terkejut mendengarnya, rasanya hampir tak percaya. Ia membenarkan posisi kacamatanya sembari mengangguk paham. "Baik, Kak. Tapi dari kabar yang beredar, dia sudah dibawa pergi oleh Jihan."


"Sampai ke ujung dunia pun, aku pasti akan menemukannya!" tegas Leon penuh penekanan.


"Kalau ada yang bisa kubantu lagi, katakanlah, Kak," tawar Hansen.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Dua pria itu mendongak dan menemukan Khansa yang berdiri di ambang pintu sambil membawa infusnya.


"Sasa!" seru Leon beranjak berdiri lalu mengambil alih kantung infus tersebut.


"Kak, sepertinya aku harus pergi. Simon sudah menunggu di bar," pamit Hansen memasukkan ponselnya ke saku jas. Ia harus segera menyelamatkan diri sebelum melihat kemesraan mereka berdua. "Kakak ipar, cepet sembuh ya," lanjutnya berpamitan pada Khansa.


Sepeninggal Hansen, Khansa menatap curiga suaminya. Buru-buru Leon mengajaknya masuk kembali tidur di ranjang.


"Hansen ngapain ke sini tengah malam?" tanya Khansa yang sudah merebahkan tubuhnya.


Leon kembali memasangkan infus pada tiang penyangga, lalu tidur di sebelah sang istri. Lengannya memeluk tubuh kurus Khansa, kepalanya menempel pada wajah perempuan itu.


"Hanya masalah pekerjaan. Oh iya, dua hari lagi aku ada acara di Bali," ucap Leon menundukkan pandangan untuk melihat perubahan wajah Khansa.


"Berapa lama?" tanya Khansa mendongak.


"Emm ... lama. Mungkin seminggu atau sepuluh hari, atau mungkin satu bulan," celetuk Leon menahan tawanya.


Khansa mencebik, ia memutar tubuhnya membelakangi Leon, "Yaudah," ucapnya pelan dengan nada kecewa.


Pria itu semakin merapatkan tubuhnya, meletakkan wajahnya di ceruk leher Khansa. "Jangan ketemu Fauzan sendirian. Tunggu aku pulang," ucap Leon mengeratkan pelukannya.


"Hmm!" gumam Khansa sedikit kesal sembari memejamkan matanya.


"Selamat tidur, Sayang!" bisik Leon mencium pipi Khansa. Ia juga segera memejamkan mata, menyambut esok dengan ceria. Berusaha menutup luka yang takut kembali menganga.


Butuh waktu lama untuk Khansa kembali tidur. Tubuhnya susah bergerak karena pelukan erat dari Leon. Jika dulu mungkin ia biasa saja saat Leon berpamitan untuk dinas luar negeri atau luar kota, tidak untuk sekarang. Rasanya berat jika harus berjauhan dengan pria itu. Tak terasa, matanya semakin berat dan perlahan tertutup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon terperanjat saat sinar matahari menelusup ke celah jendela. Jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia bergegas mandi dan bersiap menyelesaikan pekerjaannya.


Keluar dari kamar mandi, Leon sudah melihat Khansa yang membuka kelopak matanya. Gadis itu menatap sendu, hingga tubuh Leon semakin dekat dengannya.


Leon yang sudah berpakaian rapi segera melenggang pergi. Khansa merasa bosan, ia meraih ponselnya hendak menghubungi Emily. Namun belum sampai chat terkirim, Emily sudah muncul dari balik pintu.


"Pagi, Sasa. Pagi Bibi Fida," sapa Emily dengan ceria membawa parcel buah di tangannya. "Uups! Bibi masih tidur ya," lanjutnya menutup pintu dengan perlahan.


"Baru mau aku chat, udah sampai sini aja," ucap Khansa yang juga bahagia melihat sahabatnya itu.


Emily meletakkan buahnya di atas nakas. Lalu memeluk tubuh Khansa dengan erat. "Kangen banget aku tuh," ucapnya.


"Sama, aku juga kangen. Padahal baru berapa hari nggak ketemu ya," balas Khansa menepuk punggung sahabatnya.


Emily meregangkan tangannya, menarik kursi dan duduk di sana. Ia mencecar Khansa dengan berbagai pertanyaan. Dan Khansa pun menceritakan kembali kisah pahit yang menimpa ibunya.


"Kurang ajar! Wanita sialan itu pasti dalang semuanya! Kamu tenang aja, aku akan hubungi semua koneksiku untuk menemukannya." Emily menatap Khansa dengan serius. "Eh iya, Sa. Aku ke sini sekalian mau pamit."


Khansa mengerutkan keningnya. "Pamit?"


"Iya, manajer aku udah telepon tiap hari nih. Katanya udah nggak bisa mundur-mundurin jadwal syuting aku lagi. Jadi, nggak apa-apa 'kan kalau aku tinggal? Lagian sekarang sudah ada pangeran Leon," goda Emily menaik turunkan kedua alisnya sambil menahan tawa.


"Iihh apa sih," elak Khansa yang malu-malu.


"Yaudah deh, semoga lancar ya, Emily. Aku juga nggak berhak ngelarang kamu. Cuma bisa doain yang terbaik aja. Ohya, gimana perkembangannya sama Hansen? Sudah sampai di mana?" Kali ini Khansa yang menggoda Emily.


"Ah, itu ... jangan dibahas dulu deh. Aku mau fokus sama karir dulu," sanggah Emily menggaruk kepalanya, tidak berani menatap Khansa.


Khansa hanya menatap curiga karena menemukan gelagat Emily yang berbeda. Namun Khansa tak ingin memaksanya. Ia lebih memilih menceritakan perkembangan hubungannya bersama Leon.


Hingga hari berganti, Khansa tidak bertemu dengan Leon lagi. Gadis itu mengira Leon sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Kondisinya sudah stabil, dokter sudah melepas infus yang menempel di lengannya.


"Sasa!" seru Emily yang heboh menerobos kamarnya.


"Loh katanya mau berangkat?" tanya Khansa.


"Iya makanya aku buru-buru. Ayo ikut!" Emily menarik lengan Khansa dan memaksanya untuk ikut.


Khansa yang masih bingung hanya menurut saja. "Ini maksudnya apa nih? Bibi Fida gimana?" tanyanya saat mereka tengah naik taksi online.


"Pokoknya kamu harus nemenin aku kali ini! Bibi 'kan udah ada yang jagain," paksa Emily.


Khansa hanya mengernyit. Ia bahkan tidak membawa apapun saat ini. Tidak mau semakin pusing, Khansa menurut saja. Dan saat tiba di bandara, Emily mengajaknya naik veteran sherman unycicle.


"Sasa, kita naik jet itu ya. Biar nggak capek, kita ke sana pakai ini. Lets go!"


"Hah? Emily! Aku syok banget ini. Berasa masih di alam mimpi," keluh Khansa yang mulai mengendarai scooter mengikuti Emily.


"Sasa buruan!" teriak Emily yang sudah di pertengahan jalan.


Pandangan Khansa mengedar, mengamati sekitarnya saat benda elektrik mengantarnya semakin dekat dengan sebuah jet yang siap landas.


Emily mengulurkan tangan saat menaiki tangga jet tersebut, dua gadis itu masuk bersamaan. Ia mendudukkan Khansa di sebuah kursi, sedangkan Emily duduk di belakangnya.


"Emily, duduk di sini aja. Eh ini punyamu ya atau punya papamu?" tanya Khansa menengok ke belakang.


"Ehm!" Suara deheman, sangat mengejutkan Khansa. Ia berbalik dan matanya membelalak melihat orang itu.


Bersambung~




Ya mangaapp... tadi kupikir udah kukirim, sebelum tidur lagi. ternyata belom 🥺