
Kabar yang tersiar di seluruh penjuru media, membuat pihak yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi milik Hendra memilih untuk memutuskan kerja sama mereka. Sudah dipastikan para investor akan turut menuai kerugian besar-besaran. Mereka tidak mau ambil resiko dan mencabut dana yang mereka tanam pada perusahaan tersebut.
Beberapa pemegang saham juga mulai gencar meminta pertemuan darurat pagi-pagi sekali. Mereka ingin meminta penjelasan dan solusi bagaimana perusahaan tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Hendra tidak tidur semalaman, dia bersama sang sekretaris terus terhubung melalui virtual mengatur strategi dan mengumpulkan berkas-berkas untuk melakukan negosiasi, juga meyakinkan para investor.
Pagi-pagi sekali Hendra harus melakukan beberapa pertemuan. Kebetulan pertemuan pertama dilakukan di sebuah hotel bintang lima. Tiba-tiba ibunya mengirim pesan meminta agar membelikan buah-buahan dan beberapa kebutuhan lainnya.
"Ck! Kenapa nggak suruh pelayan aja sih!" decaknya. Ia beralih pada wanita yang duduk di hadapannya. "Nadin, kita masih ada waktu berapa menit?" tanya Hendra pada sang sekretaris.
Perempuan itu menatap jam di pergelangan tangannya. "Eemm ... masih 30 menit sih, Tuan," sahut Nadin.
"Kita ke mall sebentar. Tolong belikan beberapa keperluan yang saya kirim ke ponselmu! Saya tidak mengerti urusan seperti itu!" ujar Hendra dengan datar.
Wanita itu sempat terhenyak, buru-buru ia membuka ponsel dan melihat pesan dari bosnya itu.
"Sekarang! Jangan membuang-buang waktu!" Hendra beranjak berdiri. Buru-buru Nadin mengikutinya dari belakang. Pria itu takut nantinya sangat sibuk dan tidak sempat untuk membeli pesanan sang ibu.
Hotel dan mall tersebut bersebalahan. Bahkan dua bangunan itu saling terhubung karena berada di bawah naungan yang sama. Tidak perlu repot-repot keluar naik mobil. Hanya berjalan melalui sebuah jembatan tertutup saja.
Nadin pun dengan cepat membeli semua kebutuhan yang diminta bosnya. Hendra menunggu di tempat pembayaran. Wanita itu sangat cekatan, tidak butuh waktu lama sudah sampai di kasir.
Setelahnya, mereka bergegas kembali ke hotel. Hendra berjalan sembari menunduk, fokus dengan ponselnya. Dan tanpa sengaja, bahunya berbenturan dengan pengunjung lain.
"Prak!" Ponselnya terjatuh. Hendra berdecak lalu segera memungutnya.
Ia merasakan kembali guncangan cukup keras di bahunya. ""Heh! Mata kamu di mana? Jalan kok jelalatan!" pekik Emily.
Hendra kembali menegakkan tubuhnya. Matanya membelalak, detak jantungnya seolah berhenti ketika menatap wanita yang berdiri di hadapannya adalah Khansa.
"Sasa!" ucap Hendra lirih.
"Hai, pembunuh!" sapa Khansa pelan namun dengan nada dingin.
Hendra berusaha tetap tenang, meski hatinya bergemuruh. "Apa maksudmu, Sa?"
Khansa memutar bola matanya malas, bibirnya mencebik lalu kembali melempar tatapan tajam pada pria itu. Deru napasnya memburu.
"Aku sampai bingung, hukuman apa yang paling cocok untuk keluarga Ugraha. Membunuh kakekku dengan perlahan, memfitnahku dengan kejam bahkan menculik Bibi Fida yang saat itu menjadi saksi mata!"
Tubuh Hendra menegang, denyut jantungnya berubah cepat. Dia lalu terkekeh. "Lama tidak berjumpa bicaramu semakin ngawur saja, Sa!" Hendra masih mengelak.
"Hendra, Hendra! Kau tahu? Aku sudah mengantongi bukti-bukti yang menunjukkan kalau kamu bersalah. Sebentar lagi ...." Khansa meletakkan dua jarinya di dada Hendra. "Dor! Aku akan melubangi jantung atau bahkan kepalamu. Mungkin memang sebaiknya nyawa dibayar dengan nyawa. Tapi sebelumnya, aku harus melihat kehancuran kamu dengan perlahan," seru Khansa terdengar seperti sebuah ancaman mengerikan.
Hendra melihat pancaran amarah dari gestur tubuh Khansa. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha menutupi kepanikannya.
"Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa!" bisik Hendra lalu tiba-tiba dia mengunci pergerakan Khansa, menarik lengan Khansa hingga punggung gadis membentur dadanya lalu melingkarkan lengannya dengan kuat pada leher Khansa.
Khansa terkejut, karena mendapat serangan tiba-tiba. Kedua tangannya juga terkunci oleh satu tangan Hendra yang lain.
"Aarrgh!" Tiba-tiba Hendra memekik kesakitan. Tengkuknya dipukul oleh Emily dengan tas hermes yang dibawanya. Tampak sekali lehernya memerah, karena Emily mengerahkan seluruh tenaganya. Hendra lupa bahwa Khanaa tidak sendiri.
Lengan Hendra mengendur, Khansa lalu memutar tubuhnya dan menendang ************ pria itu dengan lututnya. Rasa ngilu yang teramat sangat menjalar dari pangkal paha hingga ke ubun-ubun. Matanya mendelik sambil mendesis kesakitan. "Aaarrghh, sssshhh!"
Khansa dan Emily berdiri di depan pria yang kini tengah berlutut di hadapan mereka. Kedua tangannya menutup pangkal pahanya. Dua gadis itu tersenyum sinis. "Nggak usah sok jagoan!" sembur Emily melipat kedua lengannya.
Hendra menatap penuh emosi dua wanita itu. Sang sekretaris yang melihat bosnya kesakitan segera meletakkan belanjaannya dan membantu bosnya berdiri.
"Tuan! Tuan tidak apa-apa?" tanyanya panik.
Hendra masih menikmati rasa sakitnya. Ia bahkan kesulitan berdiri. Kedua kakinya gemetar. Khansa membungkuk, kilat tajam manik indahnya ia layangkan tepat pada kedua mata Hendra. "Selamat ya, atas kebakaran gudang bahan baku kamu! Cepat bangkrut ya," sindirnya pelan sembari menepuk bahu Hendra.
Setelah cukup jauh, Emily tertawa terbahak-bahak. Gadis itu sebenarnya sudah menahan tawanya sedari tadi. Tapi takut merusak suasana. Saat mereka menaiki sebuah lift, tawa Emily pun pecah. Begitupun dengan Khansa.
"Sa kamu lihat nggak sih? Mukanya Hendra merah banget. Hahaha! Sadis banget kamu, Sa. Kalau aset berharganya kenapa-napa gimana coba? Bukan cuma hidupnya yang kamu hancurkan, tapi masa depannya juga, Sa!" Emily berbicara disela tawanya. Sungguh, dia tidak bisa berhenti tertawa.
"Biarin aja," sahut Khansa dengan singkat.
Tanpa sengaja mereka melalui foodcourt. Beberapa gerai nasi yang baru buka mengeluarkan aroma menyengat bagi Khansa. Perutnya tiba-tiba kembali bergejolak. Tenggorokannya seperti sudah terbuka lebar menjadi jalan untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Em," panggil Khansa mencengkeram lengan Emily.
"Ya, Sa?" Emily menoleh. Ia terkejut saat melihat wajah Khansa yang memucat. Keringat dingin sebesar biji jangung memenuhi keningnya.
"Sa, are you oke? Kamu sakit?" tanyanya membelalakkan mata.
Khansa menutup mulutnya rapat-rapat. Mual kembali menderanya. Namun ia mencoba menahan karena kedua kakinya terasa melemas.
"Sa, jangan bikin gue takut. Aduh ayo kita balik aja deh. Kamu kayaknya lagi nggak sehat," serunya panik menoleh ke kiri dan kanan.
Kepala Khansa terasa semakin berat, pandangannya berkunang-kunang hingga akhirnya menggelap. Tubuhnya ambruk di pelukan Emily, namun ia tidak mampu menopangnya. Keduanya terjatuh ke lantai.
"Sasa! Sasa bangun kamu kenapa? Tolong! Tolong!" pekik Emily meminta pertolongan.
Beberapa satpam yang ada di lantai tersebut segera mendekat. Emily memintanya untuk membawa Khansa ke mobil mereka. Sang sopir terkejut saat melihat nyonya nya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Buru-buru dia mengeluarkan mobilnya dari area parkir, berhenti tepat di depan mereka. Ia segera turun membukakan pintu. Emily segera masuk hingga ke ujung pintu. Para satpam itu memasukkan Khansa dengan perlahan. Kepalanya berada di pangkuan Emily.
"Pak, makasih ya!" ucap Emily pada satpam tersebut.
"Sama-sama, Nona. Semoga temannya baik-baik saja," sahut satpam tersebut lalu menutup pintu mobil.
"Paman segera ke rumah sakit!" teriak Emily menepuk-nepuk sandaran kursi sang sopir.
"Baik, Nona!" sahut sopir tersebut mulai melajukan mobilnya.
Emily membelai wajah Khansa yang dingin. Ia juga menyeka kening Khansa yang basah karena keringat. Matanya sudah memerah, tangis gadis itu hampir pecah. Kekhawatirannya pun membuncah.
"Sa, jangan bikin aku takut," serunya dengan suara bergetar, menumpukan pipinya di kening Khansa. Air matanya mulai berjatuhan tanpa diminta.
Bersambung~
Mbak Sa, kenapa lagi atuh?
😌 Tenang, Em. Tenang ... kaleem cantiiq..
Emily; Tenang-tenang gimana? Lu kaya gak tau singanya kalo udah ngamuk!
😳 eng.. itu mungkin terlalu keras nendang anu...
Emily; Ya lu juga sih! Bikinnya keras-keras!
😏 Terus? salah gw gitu?
Emil; Iya lah! Terus mau salahin siapa? Readers?
😅 Iya salah mereka kalau gak mau like komen gift dan vote.. hahaha!