
Khansa memelankan langkah, mengantar Bibi Fida ke kamarnya. Ruangan yang tidak begitu luas namun begitu nyaman bagi wanita paruh baya itu. Khansa menuruti kemauan Bibi Fida yang menginginkan menempati kamarnya terdahulu. Kamar itu tidak pernah berubah atau ditempati orang lain.
"Istirahat ya, Bi. Biar pulih sepenuhnya," ucap Khansa setelah membaringkan Bibi Fida, menaikkan selimut hingga dadanya.
Napas Bibi Fida nampak memelan, rasanya melelahkan sekali berjalan dari depan menuju kamarnya. Ia mengangguk sembari tersenyum hangat.
Khansa berlalu keluar dari sana. Ia menarik daun pintu hingga tertutup sempurna, lalu memutar kunci dengan sangat pelan agar tidak ada yang mendengar. Ditariknya kunci tersebut dan disimpan di laci meja sebelahnya.
Mendengar denting bell berbunyi, Khansa membalikkan badan. Tubuhnya sedikit menegang dengan jantung yang berdebar kasar. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, tatapannya berubah nyalang. Ia tahu siapa yang hendak bertamu.
Khansa hapal pemilik mobil BMW berwarna putih yang turut mengekori kepulangannya tadi. Ia sengaja mengunci Bibi Fida demi keselamatannya.
"Biar saya saja yang buka, Bi," Khansa mencegah maid yang berjalan ke depan hendak membuka pintu utama.
"Baik, Nona!" ujarnya mengangguk lalu kembali pada pekerjaannya.
Kaki jenjang Khansa melangkah dengan pelan namun tegas. Perlahan tangannya mengulur menarik handel pintu. Pandangannya yang menunduk menangkap sepasang kaki pria, kepalanya terangkat hingga manik indahnya bersirobok dengan mata gelap Hendra. Cukup lama mereka saling beradu pandang.
Kebencian terpancar jelas dari sorot mata Khansa. Debaran jantungnya meningkat karena menahan emosi yang ingin meledak. Sayup-sayup suara pertarungan terdengar di telinga mereka.
Khansa sempat melirik, ternyata Hendra membawa banyak anak buahnya. Kemungkinan, pria itu sudah lama mengawasinya. Sehingga ia pun melakukan strategi penyerangan, dengan membawa pasukan yang lebih banyak.
"Besar juga nyalimu!" sindir Khansa dengan sinis.
Hendra menekan kuat kedua bahu Khansa hingga punggungnya membentur pintu. Gadis itu meringis kesakitan, tapi tertahan. Ia tidak akan menampilkan kelemahannya di depan pria yang dianggap pengecut itu.
"Puas kamu sudah menghancurkan semuanya?" berang Hendra menekankan setiap kalimatnya.
"Maksud kamu apa ya? Datang tiba-tiba marah nggak jelas!" cibir Khansa sinis menepis kedua tangan Hendra. Matanya semakin tajam, layaknya tombak api yang siap dilepaskan.
Hendra mengurung Khansa dengan kedua lengannya. Jarak keduanya hanya beberapa jengkal saja. Tidak ada ketakutan sedikit pun dari tubuh Khansa. Kepala Hendra menunduk, lalu meraih dagu Khansa dengan kasar, menghadapkan pandangan ke arahnya.
"Kamu 'kan yang sudah meledakkan gudang perusahaanku?" tembak Hendra to the poin. "Dan gara-gara kamu juga ayahku meninggal!" semburnya dengan mata memerah.
"Siapa yang lebih kejam di sini? Aku hanya mengikuti permainanmu saja," balas Khansa dingin masih dengan tatapan yang sama.
Wajah Hendra terlihat semakin memerah, meski tatapan tajam yang dilayangkan Khansa, tak dapat dipungkiri pancaran manik sebening kristal itu mampu membius hingga menggetarkan jiwanya.
"Kau harus mempertanggung jawabkan semuanya!" pekik Hendra tepat wajah Khansa saat kembali pada kesadarannya.
"Kalau begitu aku juga meminta pertanggung jawabanmu atas kematian kakek! Kau siap-siap saja dipenjara seumur hidup. Semua bukti-bukti sudah diserahkan ke polisi. CCTV, obat-obatan yang kamu berikan pada kakek, ah iya jangan lupakan status illegal beberapa obat yang kamu produksi. Sabar, sebentar lagi akan dibungkus semuanya. Kamu, perusahaan dan semua aset-aset berhargamu. Turut berduka cita ya," papar Khansa.
Perempuan itu tersenyum menyeringai sambil menunjuk dada Hendra. Sengaja Khansa tidak menyebutkan saksi mata. Ia takut jika Bibi Fida dalam bahaya.
"Haaaargh!" Hendra melayangkan pukulan pada wajah Khansa.
Namun dengan sigap tangannya menangkap kepalan tangan Hendra, matanya semakin menajam. Satu tangan lainnya mengusap lembut perutnya, seolah mengirim signal pada janin yang dikandungnya agar tenang dan tetap kuat.
"Beraninya memukul perempuan? Kamu laki-laki apa bukan?" cibir Khansa dengan ketus mencengkeram kuat tangan Hendra dan memelintirnya hingga pria itu memekik kesakitan.
Tangan Hendra satunya meraih sesuatu di dalam saku jas. Beberapa detik kemudian, dia menepis lengan Khansa dan berbalik. Ia menancapkan sebuah suntikan di bahu Khansa.
"Aaarghh!" seru Khansa membeliak kaget.
Hendra mendorong cepat benda itu dengan ibu jarinya sampai semua cairan masuk ke tubuh Khansa. Tidak sempat mengelak, karena lengannya terasa kaku.
Hendra memangku tubuh mungil Khansa. Gadis itu masih sadar, tapi sekujur tubuhnya melemas, matanya juga sulit dibuka. Terasa berat sekali. Pengawal Leon yang bertugas menjaga Khansa bergelimpangan karena memang kalah kuantitas.
"Sial! Berani-beraninya dia menyentuh istriku! Gerry tambah kecepatannya!" teriak Leon yang sekujur tubuhnya menegang. Detak jantungnya seperti bermarathon, mata elangnya terus mengawasi layar tab yang ada di genggamannya.
Tanpa menjawab, Gerry menaikkan laju mobilnya. Diikuti seluruh anak buah Leon yang berpapasan di sebuah jalan. Rahang Leon mengeras sedari tadi. Ia tidak terima ada yang berani menyentuh Khansa.
Iring-iringan mobil Leon membelah jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalan yang lengang menjadi salah satu dukungan Leon dan para anak buahnya saat ini yang langsung disambut oleh para bawahan Hendra.
Mobil Leon menerobos masuk ke pelataran terlebih dahulu, sejajar dengan mobil Hendra. Namun sayangnya, mobil putih itu mulai bergerak keluar. Leon segera keluar dari mobil, meraih desert deagle yang sudah berisi peluru mematikan.
Pria itu berlari mengerahkan seluruh tenaganya mengejar laju mobil Hendra. Di bawah terik matahari yang begitu menyengat, Leon tetap fokus melangkah panjang dan cepat. Jarak pelataran hingga gerbang cukup jauh.
Emosi yang membuncah menuntun Leon hingga mencapai mobil tersebut. Ia melompat hingga atap mobil berlari ke bagian depan, berjongkok di atas kap mobil tersebut lalu menodongkan senjata tepat pada kepala Hendra. Sopir segera menginjak pedal rem.
"Turunkan Khansa! Atau aku ledakkan kepalamu saat ini juga!" teriak Leon penuh emosi dengan napas tersengal-sengal.
Pakaian yang tadinya rapi sudah berantakan tak berbentuk lagi, keringat mengucur deras mengalir di wajah tanpannya. Deru napasnya memburu. Tatapan tajamnya bertemu dengan sorot mata penuh dendam dari Hendra. Pandangan mereka saling mengunci.
"Lepaskan Khansa!" pekik Leon menembak ke sembarang arah, memecahkan kaca mobil, menembus jok bagian depan. Memperingatkan bahwa dia tidak main-main.
Sayup-sayup Khansa mendengar suara familiar di telinganya. Ia berusaha membuka mata tapi rasanya teramat sulit untuk saat ini. Bibirnya bergetar ingin mengutarakan sesuatu.
Hendra lalu meletakkan perempuan itu pada kursi mobil. Ia keluar dengan perlahan. Begitu kedua kakinya menjajak di tanah, Leon melompat dan langsung memukul kepala Hendra dengan pistol di tangannya.
Hendra mendesis, tangannya menyentuh keningnya yang mulai dialiri darah segar. Mata elang keduanya saling beradu. Detik berikutnya, Leon melancarkan serangannya membabi buta.
Ia menerjang tubuh Hendra dan melayangkan pukulan bertubi-tubi sebelum laki-laki itu sempat membalasnya. Leon meledakkan emosi yang sedari tadi menggumpal di dadanya.
"Brengsek! Berani-beraninya kamu menyentuh Nyonya Sebastian!" seru Leon di tengah serangannya.
Pukulan, tendangan terus dia layangkan. Tak peduli Hendra sudah babak belur dan tak berdaya. Hendra memekik kaget, meski awalnya curiga dengan hubungan dua orang itu. Tapi dia tak menyangka, pria tampan yang menghajarnya saat ini adalah suami Khansa.
Hendra bangkit dan membalik tubuh kekar Leon, senjata apinya terlempar jauh ketika tubuhnya membentur tanah. "Aku nggak peduli siapa pun kamu! Sasa harus ikut bersamaku!" serunya bernada ancaman sembari membalas pukulan Leon.
Dengan cepat, Leon kembali bangkit. Mencengkeram kerah kemeja Hendra sambil melotot tajam. Ia membenturkan punggungnya pada mobil, "Jangan harap! Karena aku akan mematahkan lenganmu!" seru Leon bernada dingin. Dan benar saja, Leon langsung menarik lengan Hendra. Dalam satu gerakan, ia berhasil mematahkan lengan pria itu.
"Aaaarrggh!" teriakan kesakitan terdengar memilukan.
Leon menghempaskan tubuh Hendra ke tanah. Ia beralih membuka pintu mobil. Matanya menatap nanar sang istri yang tergolek lemah. Segera ia meraup tubuh Khansa dalam gendongannya.
Leon melangkah tegas dan panjang menuju rumah. Para anak buahnya pun berhasil mengalahkan bawahan Hendra. Terdengar sirine polisi memekakkan telinga.
Hendra susah payah membangunkan dirinya. Lengan satunya meraih desert deagle milik Leon, mengarahkan pada pria itu, membidik dari kejauhan.
"Dor!"
Bersambung~
mon maap kalo bnyak typo ya. ngetiknya dalam keadaan mata sayup2 😅
yok komen yang banyak 😄😄 gift sama votenya juga boleh banget... wkwkwk..