Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 34 : Mengurai Sabar


"Cuma apa?!" sembur Khansa lagi melayangkan pukulan bertubi-tubi pada lengan suaminya. "Malam ini tidur di luar!" cebiknya memicingkan mata dengan kedua lengan dilipat di dada.


Zahra merunduk, ia segera menyingkir dari tempat duduknya. Tidak ingin ikut campur dengan urusan orang dewasa. Seketika dia melenggang mendekati ranjang ibunya dan itu tanpa sepengetahuan Khansa maupun Leon.


Sontak, Leon pun menjadi panik seketika. Kedua tangannya menangkup bahu Khansa dan menatap lekat manik istrinya yang memerah. "Bercanda, Sayang. Bercanda!" ujarnya bernada lembut lalu menariknya ke dalam dekapan.


Napasnya berembus berat. Ia tahu, hari-harinya akan diwarnai segala perubahan yang akan dialami istrinya, entah dari segi fisik, emosi, kebiasaan atau keinginan-keinginan tak wajar. Namun, semua itu sama sekali tidak mengurangi cinta dan kasih sayang untuk istrinya itu.


Vibra ponsel dari saku jas Khansa, meregangkan pelukan pasangan itu. Khansa segera meraihnya, terlihat Emily tengah melakukan panggilan.


"Halo, Emily," ucap Khansa setelah menjawabnya.


"Sasa! Aku nikahnya bulan depan. Kita jadi 'kan resepsi barengan?" Suara Emily memekik kegirangan di seberang sana.


Khansa turut bahagia mendengarnya, Leon mengerutkan dahi karena penasaran. Ia merebahkan kepala di bahu sang istri, ingin mendengarkan pembicaraan dua wanita itu.


"Akhirnya, selamat sayangku!" ujar Khansa membuat Leon mendelik. "Kalau gitu, kita bisa mulai pilih-pilih konsep nih. Sebulan apa bisa?" lanjut Khansa melirik suaminya, menepuk-nepuk pipinya perlahan.


"Bisa! Aku ada kenalan wedding organizer yang top banget. Nanti aku jemput ke sana ya," ucap Emily terdengar sangat bersemangat.


"Kamu kirim alamat saja Emily, aku sama Leon kok," sahut Khansa.


"Baiklah! Aku kirim alamatnya ya. See you bumil cantik." Emily mematikannya usai mendapat balasan dari Khansa.


Khansa menatap suaminya yang tengah memperhatikannya intens, tidak begitu mendengar panggilan mereka karena Khansa tidak mengaktifkan loudspeaker.


"Kenapa, Sayang?" selidik Leon mengangkat sebelah alisnya.


"Bulan depan Emily sama Hansen nikah," jawab Khansa mengerling.


"Terus?"


"Lupa apa?" Leon masih bertanya dengan bingung.


"Kita 'kan akan mengadakan resepsi bersama! Gimana sih? Masa hal sepenting itu dilupain. Atau ini bagimu sama sekali nggak penting, iya? Jangan-jangan kamu sama sekali tidak menginginkannya. Ayo jawab!" cecar Khansa dengan suara nyaring.


Leon segera menutup mulut istrinya sebelum disambung ledakan amarah lainnya. "Sssttt! Kamu mengganggu istirahat pasien, Sayang! Ayo gelut di ruangan kamu aja!" bisik Leon masih menekan bahu dan bibir Khansa. Sungguuh, sikap Khansa tengah berubah-ubah. Mudah sekali tersinggung, juga mudah menangis. Leon mengurai kesabaran di dada.


Barulah wanita itu tersadar, jika mereka berada di ruang perawatan. Bahkan ada anak kecil di sana. Namun, Zahra menunduk di samping ranjang ibunya, memijit lengan sang ibu yang masih terlelap dengan tenang. Ia mengabaikan pertengkaran orang dewasa itu.


"Aku lupa. Ayo! Kita sudah ditunggu Emily!" ucap Khansa beranjak dari duduknya.


Khansa berpamitan pada anak itu. "Zahra, kalau terjadi sesuatu dengan ibu, entah beliau sadar atau ada reaksi apa pun, kamu tekan alat ini ya, Nak. Biar segera ditangani dokter. Aku akan sering ke sini," tuturnya lembut menunjuk nurse call sembari merangkul bahunya.


"Baik, Tante. Sekali lagi terima kasih banyak. Semoga Allah membalas semua kebaikan tante," ucap Zahra beranjak dari duduknya, membungkukkan separuh badan.


"Aamiin. Sama-sama, Sayang!" ujarnya menepuk puncak kepalanya, lalu melenggang pergi.


Khansa dan Leon membuat peraturan untuk memudahkan para pasien. Mengutamakan keselamatan terlebih dahulu, dari semua kalangan. Tidak membeda-bedakan berdasarkan kasta.


Pemilik rumah sakit itu, akan membebaskan segala biaya perawatan, jika memang benar-benar kurang mampu. Karena itulah, Rumah Sakit Sebastian selalu ramai. Karena memang terkenal dengan kebaikan dan ketulusannya dalam memberikan pelayanan kesehatan. Mereka selalu mempersembahkan yang terbaik.


Doa dari semua penjuru terus mengalir untuk mereka. Baik itu dari kalangan bawah maupun kalangan atas. Juga dari semua kepercayaan, karena toleransinya yang sangat tinggi. Tidak pernah membeda-bedakan.


Bersambung~


😌 ; Thor, kok lama upnya?


💕 ; Maap, di sebelah lagi high tension. Takut ke bawa ke sini. saya baperan soalnya... nulisnya selalu pake hati... jantungnya masih jedag jedug ✌ yang baca mas tiger pasti ngerasain kan 🤗🤗😁


makasih dukungannya ya 🔥💕💕