Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 11 : Ibu adalah Garda Terdepan


Derap langkah kaki yang menggema di lorong rumah sakit beserta suara teriakan Monica, menyita perhatian Hansen, Leon dan Khansa yang tengah berada di luar ruangan.


Hansen segera beranjak dari duduknya, menyapa kedua calon mertuanya dengan tatapan sendu. "Ma, Pa, maafin Hansen," gumam pria itu menundukkan kepala dalam.


"Bagaimana bisa ini terjadi, Han?" Kini Frans yang bertanya.


Hansen pun mengakui keterlambatannya pulang, dan juga meski ketakutan dia juga menceritakan bagaimana Emily bisa memilih pulang tanpa menunggunya. Hansen tidak ingin mereka tahu dari mulut orang lain. Dengan gentle dia mengakui semuanya.


Seketika darah Monica serasa mendidih. Emosinya membuncah, tidak terima anaknya diperlakukan tidak hormat seperti itu. Sekalipun Emily hanya anak angkat, Monica sangat menyayangi perempuan itu seperti anak kandungnya.


Wanita paruh baya itu melayangkan tamparan keras di pipi Hansen. Pria tampan itu masih menunduk sembari memejamkan mata. Ia merasa pantas mendapatkannya. Kebas dan perih di pipinya mulai terasa.


"Tidak ada yang berhak mencaci dan menghina putriku! Aku tidak terima dia diperlakukan seperti itu! Tidak peduli siapa pun mereka. Jika sampai Emily kenapa-napa, kamu orang pertama yang akan aku cari!" tegas Monica dengan mata melotot tajam.


Ibu, adalah garda terdepan ketika anak-anaknya tersakiti. Sekalipun harus mengorbankan nyawa.


"Maaf, Ma." Hanya itu yang diucapkan Hansen.


"Ma, tenanglah. Kita lihat kondisi Emily dulu!" Frans mencoba menenangkan istrinya, mengajaknya masuk ke ruangan.


Monica mendorong dada Hansen dengan kasar. Ingin sekali memukuli pria itu sampai babak belur karena dianggap tidak bertanggung jawab. Namun kali ini melihat keadaan Emily lebih penting.


Dua orang paruh baya itu membuka pintu dan melangkah perlahan. Di sana dia melihat seorang gadis cantik yang menggenggam jemari Emily dan menatapnya nanar. Mereka saling pandang karena tidak mengenal gadis cantik itu. Segera memperpanjang langkah dan semakin dekat dengan ranjang pasien.


"Kamu siapa?" tanya Monica menatap penuh selidik.


Jennifer terkejut, melepas genggaman tangannya dan segera beranjak berdiri. Tubuhnya membungkuk menyapa Tuan dan Nyonya Frans.


"Perkenalkan, Om, Tante. Saya Jennifer, adik Kak Hansen," sapa Jen mengurai senyum.


Monica tak membalas lagi ia langsung menghambur memeluk tubuh Emily yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat. Berbanding terbalik saat berpamitan hendak pergi tadi.


Menciumi wajah gadis cantik itu, membelainya dengan penuh kasih sayang. "Kalau waktu bisa diputar kembali, Mama tidak akan mengizinkanmu pergi tadi, Sayang," gumamnya dengan suara bergetar kembali memeluk tubuh rapuh anak gadisnya.


Mereka lalu segera menyusul Khansa yang sudah masuk ke ruangan terlebih dahulu. Wanita yang mengenakan jas berwarna putih itu menyentuh bahu Monica dengan lembut.


"Bibi, Tidak ada luka serius. Tapi, kejadian itu memicu traumanya ketika kecelakaan dulu," papar Khansa menjelaskan.


Monica menegakkan tubuhnya. Ia beralih menatap Khansa, lalu memeluk sahabat putrinya itu dengan isak tangis yang semakin keras. Masih terekam jelas diingatannya, bagaimana ia menemukan gadis kecil yang menangis menjerit ketakutan di bawah jok belakang ketika terjadi kecelakaan beruntun puluhan tahun lalu.


Kebetulan Monica tidak menjadi korban, namun tepat hendak melewati jalur tersebut. Ia mendengar jerit tangis seorang anak kecil di antara mobil yang ringsek dan terjepit. Kedua orang tuanya meninggal di tempat kejadian. Dan setelah ditelusuri, mereka pendatang yang tidak memiliki sanak saudara. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk merawat Emily.


Khansa mengusap punggung wanita itu dengan perlahan, berharap bisa sedikit menenangkannya. "Bibi, tenang ya. Aku yakin Emily bisa melewati ini semua. Dia anak yang kuat," ucap Khansa yang tanpa sadar juga menitikkan air mata.


Monica meregangkan pelukannya. "Emily bersama Bara 'kan? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya wanita itu mengingat asisten sekaligus manager Emily.


"Hanya luka kecil di kepalanya, Bi. Tapi ...."


"Tapi apa, Sa?" serobot Monica tidak sabar.


"Bara juga mengalami trauma berat. Dugaan saya, dia juga pernah mengalami kecelakaan besar," jelas Khansa.


"Apa?! Di mana dia sekarang, Nak?" tanya Monica khawatir.


"Ada di ruangan sebelah, Bi. Mari saya antar," ajak Khansa menunjukkan kamar inap pria itu.


Bersambung~


Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶


Di penghujung ramadhan, takutnya besok gak bisa update. Apalagi reviewnya lama banget.


Saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin ya. Maaf jika ada ketikanku yang menyakiti kalian, sengaja ataupun tidak. Selamat liburan buat yang lagi long holiday 🥰 Selamat menikmati waktu bersama keluarga...