
“Kenapa kamu? Aku cuma mau kasih tahu kalau kamu sudah mengotori celanaku! Lihatlah!” Leon menunjuk noda merah di pahanya.
Khansa memicingkan matanya. “Bagaimana kamu bisa yakin kalau aku yang mengotorinya? Sedangkan banyak wanita yang duduk di pangkuanmu tadi!” cibir Khansa memalingkan pandangannya.
Meskipun ia memang was-was. Karena saat ini ia merasa seperti sedang datang bulan. Hanya saja, ini kesempatan meluapkan kekesalannya. Khansa tidak mau Leon selalu semaunya sendiri, suka memaksa.
Leon justru tertawa terbahak-bahak. Pria itu merangkak naik ke ranjang semakin mendekati Khansa. Gadis itu panik, ia mengambil bantal dan memeluknya erat, kedua lututnya ditekuk semakin merapat pada tubuhnya.
“Hei, kamu cemburu ‘kan? Ayo ngaku,” ujar Leon tersenyum menyeringai.
Khansa diam saja, hanya melayangkan tatapan tajam pada pria di depannya itu. Leon terus mendekat, “Diammu berarti mengatakan iya.” Leon tertawa puas, merebahkan kepala tepat di samping Khansa.
“Tidak ada yang duduk di pangkuanku selain kamu, Sasa,” ucap Leon mendongak menatap ekspresi tak percaya perempuan itu.
“Aku melihatnya sendiri! Dua malah, nggak cuma satu,” sanggah Khansa cemberut lalu memalingkan mukanya dari Leon. Melihat ke arah lain.
Leon mengulum bibirnya kuat-kuat. Hatinya serasa meledak karena kebahagiaan membuncah. Secara tidak langsung Khansa mengakui bahwa ia cemburu. Namun kali ini Leon menekannya. Ia kembali menampakkan wajah garang.
“Lagian siapa suruh kamu ketemuan sama Hendra lagi?” Leon balik mencibir.
“Nggak sengaja ketemu kok!” elak Khansa sedikit menaikkan suara.
Detik berikutnya, Khansa tersadar. Ia terdiam beberapa saat. Lalu menunduk melihat Leon yang kini tengah menatapnya.
“Tunggu! Kok kamu tahu?” tanya Khansa mengerutkan keningnya.
“Taulah, mataku banyak. Makanya jangan macam-macam di belakangku. Ingat ya, kamu adalah Nyonya Sebastian!” ujar Leon penuh penekanan.
“Nggak adil! Kamu aja seenaknya sendiri main-main sama wanita!” ucap Khansa dengan hati mencelos. Ia membuang muka ke samping.
Melihat perubahan wajah Khansa seperti itu, membuat Leon merasa bersalah sekaligus gemas. Ia beranjak duduk, menumpukan dagu di atas lutut Khansa. Wajah mereka sangat dekat, Khansa tidak sempat menghindar. Hanya menahan napasnya dan mengontrol debaran jantungnya.
“Hei, mereka tadi duduk di kursi. Bukan di pangkuanku,” jelas Leon.
“Apa buktinya?” Khansa tidak bisa membayangkan bagaimana bisa dua wanita itu duduk di kursi. Sedangkan penglihatannya jelas seperti di pangkuannya.
Leon meraih ponsel menunjukkan sebuah gambar dari arah samping Leon. Tampak jelas bahwa dua wanita di depannya duduk di kursi bulat yang memang lebih tinggi dari tempat duduk Leon, sedangkan kaki Leon masuk di antara celah kursi tersebut.
Khansa membelalak, “Kamu ngerjain aku!” pekik Khansa melempar ponsel Leon.
“Hahaha! Bukannya kamu yang menyuruhku cari wanita lain?” goda Leon usai dengan tawanya.
Khansa terdiam, namun sorot matanya tampak sendu. Gemuruh di dadanya kembali meningkat. Leon meraih kedua tangannya, “Sasa, yang aku mau hanya kamu. Jangan ucapkan seperti itu lagi. Hatiku sakit mendengarnya,” ucapnya menatap sepasang manik Khansa.
“Maaf,” ucap Khansa pelan.
Leon mengembuskan napas lega. Beban mengganjal di dadanya perlahan terangkat. Ia mengambil bantal di pelukan Khansa dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Hangat, nyaman, yang tidak pernah mereka dapatkan dari siapa pun sebelumnya.
“Jadi, tadi sudah bisa dipastikan noda itu dari kamu ‘kan?” ucap Leon mengusap kepala Khansa.
Sontak, Khansa teringat kembali. Ia mendorong dada bidang Leon dengan kuat. Tubuhnya menegang, ia kembali teringat.
‘Sepertinya aku memang lagi datang bulan,’ gumam Khansa tidak berani bergerak.
Leon berangsut mundur, ia berdiri dan membuka celana di hadapan Khansa. Gadis itu segera menutup wajah dengan kedua tangannya. Leon menyunggingkan senyum jahil.
Ia berjalan menuju sebuah lemari, Khansa mengintip melalui sela jarinya. Saat pintu lemari terbuka, nampak beberapa pakaian Leon menggantung di sana. Leon meraih salah satu dan mengenakannya.
Khansa kembali menurunkan kedua tangannya saat Leon sudah selesai berpakaian. Ia mengedarkan pandangan. Kamar presiden suite ini sangat bersih, tidak ada jejak wanita di sana.
“Tuan Leon,” panggil Khansa ragu.
Leon menaikkan satu alisnya. “Sa, bisa nggak sih panggilnya jangan pakai tuan?”
“Aku … tidak biasa,” ucap Khansa canggung.
“Ya mulai sekarang dibiasakan, Sasa,” pinta Leon mengedipkan mata genit.
Khansa tersenyum canggung. “Eemm ... jadi selama beberapa hari ini kamu tinggal di sini?” tanyanya penasaran.
“Iya, bar 1949 ini bisnis milik keluarga Simon,” ujar Leon menaikkan kedua kakinya di atas ranjang.
“Jadi kamu bohongin nenek?” desak Khansa lagi.
“Itu lebih baik dibandingkan harus mandi air dingin berkali-kali di malam hari.” Jawaban yang tidak bisa disanggah oleh Khansa lagi. Ia sadar, semua karena kesalahannya.
Tubuh Leon menghadap Khansa. Pria itu menjulurkan tangannya, ingin melepaskan cadar milik Khansa lagi. Ia masih merindukan wajah cantik istrinya itu. Leon merasa masih belum puas karena tadi hanya melihat wajah Khansa sebentar saja.
“Bukannya tadi udah lihat?” Khansa menolak.
Leon mendengkus, namun ia tidak memaksa Khansa lalu membaringkan Khansa di atas ranjang. Mereka saling berhadapan. Leon membelai pipi Khansa, meski terhalang cadar namun Khansa tetap bisa merasakannya. Sentuhan yang terasa hangat dari tangan Leon. Matanya sempat terpejam. Tiba-tiba terbuka lagi.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?” ujar Khansa.
“Tanyakan apa yang ingin kamu tahu,” balas Leon mantap.
“Siapa perempuan yang di kamarmu waktu itu?”
Leon mengernyit, “Yang mana? Di kamarku ‘kan cuma ada kamu, Sa.”
“Bukan! Waktu kamu di luar negeri. Saat aku menelepon seorang wanita yang mengangkat, dia bilang kamu sedang mandi.” Khansa menghela napas panjang setelah menyampaikannya.
Leon mencoba mengingat. “Aku selalu sama Gerry.”
Khansa merengut tidak percaya. Lalu membuang napas beratnya. Menyingkirkan sesak di hatinya. “Ada kok,” sahutnya pelan menatap langit-langit kamar.
Beberapa saat mereka terdiam, sedangkan Leon mengingat dengan keras. Lalu tiba-tiba bangkit dengan cepat membuat Khansa terkejut.
“Oh, itu Chief Public Relation, namanya Susan,” terang Leon setelah mengingatnya.
Khansa memiringkan tubuhnya membelakangi Leon. “Aku nggak mau tahu siapa namanya dan jabatannya apa.”
“Lho, tadi nanya?” goda Leon menahan senyum.
“Enggak jadi! Anggep aja nggak pernah nanya.”
Sekarang Leon mengerti, kenapa saat itu Khansa merajuk, tidak mau mengangkat teleponnya, hingga berada dalam bahaya.
“Sa!”
“Hem.” Khansa malas menjawab ia masih membelakangi Leon.
“Aku nggak ada apa-apa sama dia. Kata Gerry, Susan ingin mengantar dokumen urgent. Tapi dia lancang ngambil barang pribadiku, jadi kamu dulu marah karena hal ini?” tanya Leon merapatkan tubuhnya.
Khansa diam, tidak mengiyakan juga tidak mengelak. Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Leon. Seperti habis menggali harta karun yang terpendam selama ratusan tahun.
“Sa, kamu nggak sopan!” tegur Leon ketika Khansa masih bergeming.
“Ooh mau pake cara lain? Oke jangan salahkan aku yang tidak akan berhenti sebelum kamu memohon ampun.” Leon mengeringai, Khansa masih tak peduli. Hingga akhirnya Leon menggelitiki pinggang Khansa yang ramping itu.
Khansa terjingkat, segera berbalik menahan serangan dari Leon. Tubuhnya bergerak semakin tak beraturan, tidak tahan dengan sensasi geli dari kejahilan Leon..
Mereka tertawa terbahak-bahak. Leon masih terus menyerang Khansa, menyusuri pinggangnya, membuat Khansa terbangun dan kelimpungan.
“Hahaha! Iya, iya. Ampun! Udah cukup Leon. Aku nggak kuat!” teriak Khansa di sela tawanya.
Leon tersenyum puas dan menghentikan aksinya. Napas Khansa tersengal-sengal. Degub jantungnya juga sangat cepat. Seperti habis melakukan lari maraton.
Leon menyentil kening Khansa, “Makanya kalau ada apa-apa tuh ngomong. Kebiasaan suka berspekulasi sendiri!” ucap Leon geram. Khansa meringis mengusap keningnya, masih mengatur napasnya.
“Iya aku salah, maaf,” ucap Khansa menangkup kedua pipi Leon, menggerakkan ibu jarinya perlahan. Leon memejamkan matanya, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Sentuhan Khansa, memang menimbulkan efek samping yang berat bagi Leon.
Leon meraih jemari lentik Khansa dan menciumnya, keduanya saling berpandangan, Khansa melihat ada binar gairah yang terpendam di dalam pandangan Leon, Leon ingin membuka pakaian Khansa.
Bersambung~