Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 208. Overthinking


Khansa tersadar dari lamunan ketika wanita cantik di depannya melambaikan tangan di wajahnya. Ia menarik napas panjang, berusaha tenang dan menepis segala pikiran buruk.


"Ah, iya benar. Silakan masuk!" ucapnya pelan sambil bergeser memberikan jalan pada kedua tamunya.


Dua perempuan itu mengangguk, lalu berjalan melewati Khansa dengan sopan. Mereka duduk setelah Khansa mempersilakannya. Khansa pun mendaratkan tubuhnya dengan gaya yang anggun dan elegant berhadapan dengan keduanya. Mata jernihnya menatap penuh intimidasi.


"Ada perlu apa dengan suami saya?" tanya Khansa.


"Sayang! Nenek telepon!"


Belum sempat menjawab, suara Leon menggelegar dari lantai atas. Leon tidak tahu di mana istrinya sejak ia membuka mata. Setelah tidak menemukan dalam kamar, Leon bergegas keluar dan berteriak.


Khansa berpamitan lalu segera kembali ke atas, sebelum suaminya semakin mendekat. Langkahnya segera dipercepat hingga keduanya bertemu di ujung tangga.


Leon merengkuh pinggang istrinya dengan posesif, tubuh mereka menempel tanpa jarak, satu lengannya mengangkat ponsel tepat di depan wajah mereka. Senyum mereka pun mengembang sempurna. Terutama nenek yang sedari tadi ingin melihat Khansa.


"Sasa, kamu baik-baik saja? Nenek kangen," ucap sang nenek.


"Baru juga semalam, Nek!" cebik Leon memutar bola matanya.


"Kau diam saja! Nenek bicara sama Sasa!" sembur nenek melotot pada Leon.


Khansa terkekeh, tatapannya mengejek Leon. Lalu ia merebut ponsel Leon dan menyorot wajahnya sepenuhnya. Ia juga melepas lilitan tangan Leon, "Mandi dulu sana! Kamu sudah dicari sama sugar baby tuh di bawah!" sindirnya pelan memicingkan mata.


"Sugar baby? Apa maksudmu?" elak Leon menautkan alisnya.


"Lihat aja sendiri!" ucapnya pelan masih menyimpan jengkel di hatinya.


Khansa melenggang pergi mencari tempat yang nyaman untuk berbincang. Kebetulan ada kursi santai di sudut lantai dua, ia segera mendaratkan tubuh di sana, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Pandangannya mengarah tepat pada dua perempuan muda yang mencari suaminya. Mereka tampak bersenda gurau.


Leon tidak mengerti maksud ucapan Khansa, tidak ingin membuat keributan di depan nenek, Leon kembali ke kamar dan bergegas mandi. Ini hari pertamanya akan mulai memimpin dan mengelola perusahaan di negara tersebut secara langsung.


"Sasa! Kamu kenapa?" tanya nenek saat melihat Khansa nampak gelisah.


"Ah, nggak apa-apa, Nek. Kok sudah bangun? Di sana bahkan belum pagi." Khansa menyadarkan dirinya dan kembali fokus pada sang nenek.


"Ya, nenek terbangun dan langsung teringat sama kalian. Makanya nenek ingin segera memastikan kalian sudah sampai dengan selamat."


Dua perempuan beda usia itu pun saling bertukar suara. Sesekali tertawa ketika pembahasan mereka ada yang lucu. Beberapa waktu berlalu, Leon keluar dengan wajah yang segar dan begitu menawan. Jas berwarna abu-abu senada dengan celananya kini membalut tubuh kekarnya.


Sepasang sepatu mahalnya yang mengkilap membentur marmer dengan santai. Saat hendak menghampiri istrinya, seorang pelayan menghampiri. Mengatakan ada dua orang perempuan yang sedang mencarinya.


Langkahnya pun berbelok menuju tangga. Satu lengannya masuk ke dalam saku celana. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Berbeda jauh jika sedang bersama sang istri.


"Selamat pagi, Tuan!" Dua perempuan itu serentak berdiri, menyapa Leon sembari membungkukkan tubuhnya.


"Hmm! Duduk!" titahnya lalu ia mendaratkan tubuhnya berseberangan dengan dua wanita itu.


Khansa mengamatinya dari atas, hatinya terus berdecak kesal melihat suaminya tampak sedang berbincang serius dengan wanita lain. Entah apa yang mereka bicarakan yang pasti Khansa merasa terbakar api cemburu.


"Ini baru dua, nanti kalau di kantor pasti lebih banyak lagi!" gerutunya dalam hati.


"Sa, nanti nenek hubungi lagi ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi nenek. Jangan lupa minum obat herbal yang nenek sebutkan tadi. Biar segera pulih sepenugnya," tutur sang nenek.


"Baik, Nek. Terima kasih banyak, nenek jaga kesehatan ya," ucapnya sopan diiringi sebuah anggukan dan senyuman hangat.


Khansa buru-buru beranjak berdiri. Kedua tangannya mencengkeram erat pembatas tralis besi. Keningnya mengerut dalam, dadanya bergemuruh hebat kala ketiga orang itu masih terlibat perbincangan serius. Apalagi melihat wanita feminim yang selalu menebar senyum sedari tadi. Ingin sekali melompat dari lantai atas lalu menjambak rambutnya. Posisi Leon yang membelakanginya, membuat pria itu tidak melihat bagaimana reaksi sang istri.


"Nyonya, maaf. Jika Anda sudah selesai diminta Tuan untuk segera ke bawah," ucap salah satu wanita baya yang mengenakan seragam pelayan.


Khansa terkejut, ia menoleh dengan cepat. "Eee ... iya, Bi."


Sang pelayan membungkuk lalu pamit undur diri. Khansa menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Tenang, Sa. Jangan overthinking. Tapi kesel!" gumamnya mengusap wajahnya yang memerah dengan kasar.


Setelah merasa lebih tenang, Khansa menyusul suaminya. Ia berjalan dengan anggun, seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak merasakan apa-apa.


Khansa duduk dengan elegant di sebelah Leon. Ia bahkan enggan membuat jarak, tatapannya menegaskan bahwa pria itu miliknya. Dua wanita di hadapannya tersenyum canggung.


"Sudah?" Leon menoleh pada istrinya yang hanya mengangguk.


"Sayang, kenalin. Ini adalah Miss Hana, dia salah satu penerjemah terbaik yang bekerja di perusahaan. Mulai hari ini, Miss Hana akan menjadi guru privat kamu. Dia akan mengajarimu bahasa korea." Leon menunjuk wanita feminim berkacamata yang saat ini berdiri lalu membungkuk memperkenalkan diri pada Khansa.


"Ooh, iya. Salam kenal, Miss," jawab Khansa menahan napas sesaat.


"Dan ini Evangely Agraham. Dia asli indonesia, salah satu hacker terbaik andalan perusahaan. Tahun lalu mengajukan diri agar dimutasi ke sini. Tugasnya sekarang adalah menjadi bodyguard kamu. Kemanapun kamu pergi dia harus mendampingimu." Leon tak melepas pandangannya dari Khansa.


"Dan kalau kamu sudah pulih, Lily akan mengajarimu bela diri yang belum kamu kuasai. Dia sudah menyandang sabuk hitam!" lanjutnya memperkenalkan wanita yang berpenampilan tomboy, namun tidak mengurangi kadar kecantikannya.


Sabuk hitam merupakan tingkat tertinggi dalam karate. Khansa tercengang mendengarnya. Di usia yang masih muda, namun terlihat sekali sangat kuat, tegas dan tidak mudah dibantai.


"Salam kenal, Nyonya!" Lily berdiri membungkuk setengah badan.


"I ... iya silakan duduk," sahutnya mendesah lega.


Apa yang ada dalam pikirannya ternyata salah. Leon menatap jam di pergelangan tangannya. Matahari semakin merangkak naik. Ia bergegas berangkat ke kantor.


"Sayang, aku harus segera berangkat! Pagi ini akan ada meeting pertama kalinya aku memimpin di sini. Semangat belajarnya!" Leon mengecup pipi Khansa dan buru-buru beranjak dari duduknya.


"Leon tunggu!" seru Khansa menghentikan langkah pria itu.


Khansa melenggang dengan pelan, tangannya terangkat merapikan dasi yang terikat di kerah kemeja suaminya. Tatapan Leon terjatuh pada bibir merah sang istri. Ia meneguk ludahnya, jika saja tidak ada orang lain di sana, sudah dipastikan akan melahap habis bibir perempuan itu.


"Kamu nggak sarapan dong?" ucap Khansa mengusap dada Leon setelah selesai merapikannya.


"Nanti aja di kantor, aku pergi dulu ya!" ujarnya menarik pinggang ramping Khansa dan mencium keningnya lama. Khansa pun memejamkan mata. Gelombang dada mereka seperti ombak hang berkejaran.


Lily dan Hana melongo melihatnya. Selama ini yang mereka tahu, Leon sangat anti berdekatan dengan wanita. Namun sungguh pemandangan yang mencengangkan pagi ini. Mata keduanya enggan berkedip.


"Ly, aku pengen pindah planet!" gumam Hana yang masih terkejut dengan sikap lembut dan posesif bosnya itu.


Bersambung~