Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 78. Kemunculan Khansa


Dalam foto yang Emily unggah, keduanya tampak sangat cantik. Kulit putih mereka terpampang jelas, terutama pada bagian lengannya. Karena gaun yang mereka kenakan sejenis sleevless atau dress tanpa lengan. Rambut hitam dan panjang Khansa tergerai indah di sana.


Emily adalah salah satu dari anggota dunia entertaiment, ia memiliki jutaan followers yang setia mengikuti setiap aktivitasnya. Ditambah Khansa yang kini tengah menjadi sorotan para netizen, hanya dalam beberapa detik segera menjadi trending topik.


Banyak yang membagikan ulang foto tersebut. Tak hanya netizen, termasuk juga akun-akun lambe turah yang membandingkan kabar berita semalam dengan foto tersebut. Tentu saja disertai caption yang mengundang perhatian para netizen +62.


“Coba lihat baik-baik deh, ini beda banget sama foto yang kesebar semalam,” salah satu awak media melontarkan pendapatnya.


“Iya betul, di foto tak senonoh itu ada tato mawar di lengannya. Sedangkan di sini enggak ada,” sahut yang lainnya.


“Kulitnya juga lebih putih Khansa, yang di foto semalem lebih gelap bahkan cenderung kecokelatan. Juga rambutnya sedikit bergelombang. Ini jelas bukan Khansa!” papar awak lainnya dengan tegas menunjuk ponselnya. Hampir semua dari mereka mengiyakan pernyataan-pernyataan itu.


Mereka semua sibuk membandingkan foto Khansa dengan teliti. Karena memang wajahnyanya tidak terekspos jelas, hanya terlihat dari samping saja. Mereka bisa membandingkan ciri-ciri fisik yang tertangkap kamera.


“Tuh hidungnya aja beda, Khansa yang asli mancung banget. Foto yang satu, hidungnya nggak ada seperempatnya!” celetuk yang lainnya membuat tawa semua orang tergelak.


Para netizen mulai mengomentari kecantikan Khansa dan ada juga yang membahas masalah Khansa, mereka mulai menyindir Maharani dan Fauzan.


“Eh terus siapa dong yang tega fitnah Khansa? Wah ini harus diusut deh, karena pencemaran nama baik.” Pembelaan mulai tampak.


“Bener, bener, mungkin sebaiknya kita wawancara Khansa sepulang dari Bali nanti.”


“Tega banget ya yang bikin tudingan palsu itu. Sebagai sesama wanita, aku ikut sakit hati banget. Apalagi Khansa,” ucap salah seorang wartawan perempuan.


“Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, kejebur got pula. Udah difitnah sekeji itu, eh bapaknya justru memutus hubungan keluarga. Ckckck!”


Setelah berhasil menarik kesimpulan, para awak media itu menengadahkan kepala. Mereka kembali memusatkan perhatian pada Fauzan dan Maharani yang masih berdiri di podium dengan raut kebingungan.


“Tuan Fauzan! Bagaimana itu? Anda sebagai seorang ayah bahkan tidak mengenali putrinya sendiri!” cetus seorang jurnalis menyindirnya.


“Benar, bahkan Anda dengan teganya memutuskan hubungan keluarga dengan Khansa. Padahal jelas di sini bukan Khansa!”


Fauzan diberondong pertanyaan hanya diam saja. Ia meneguk ludahnya dengan gugup. Tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.


“Tuan Isvara! Dimana hati nurani Anda? Padahal saat ini, Khansa pasti sangat terpuruk dengan berita fitnah ini. Ia sedang membutuhkan support dari keluarga terdekat. Tapi apa yang Anda lakukan, Tuan? Keputusan Anda justru semakin membuatnya terpuruk,” sindir salah seorang media dengan pedas.


“Iya! Harusnya Anda lebih mengenal putri Anda daripada orang lain? Anda ini ayahnya apa bukan?” Kalimat yang terlontar semakin sarkas.


Fauzan mengelap keringatnya yang mulai bermunculan di dahi dengan sapu tangan. Padahal ruangan tersebut sudah ada puluhan AC yang menyala. Udara dingin di ruangan itu sama sekali tidak terasa bagi Fauzan. Ia merasa pengap, bahkan sampai membuka kancing jasnya.


“Rani! Cek ponselmu!” bisik Fauzan pada wanita di sampingnya.


“Ee … iya,” ujar Maharani meraih ponselnya dan membuka instagram miliknya.


Ia sendiri membandingkan dengan foto yang semalam dia unggah. Tangannya sudah gemetar dan berkeringat dingin. Maharani baru menyadari foto tak senonoh itu ternyata palsu dan wanita di dalamnya bukan Khansa!


“Gimana?” bisik Fauzan memutar tubuhnya menghadap Maharani.


“Iya, ini bukan Khansa,” bisik Maharani balik.


Fauzan mendelik, “Bagaimana bisa!” Emosi pria itu hampir menyembur, namun tertahan karena sadar seluruh media masih menyorot mereka berdua. Maharani mengedikkan kedua bahunya, ia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa semua rencananya gagal. 


“Eee … sepertinya konferensi pers hari ini cukup. Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media semuanya. Selamat siang.” Maharani segera mengakhiri konferensi pers siang itu sebelum dihujani berbagai hujatan dan pertanyaan yang menyudutkan mereka.


“Loh kenapa diakhiri? Ini belum nemu titik terangnya loh, Nyonya Isvara,” sambut awak media serentak.


Maharani tidak menjawabnya, Fauzan berbalik dan meninggalkan podium. Maharani segera mengekor di belakangnya.


“Kok pergi sih? Tuan! Nyonya! Kami butuh klarifikasi, woy!” teriak seorang pria yang jengah dengan pasangan itu, ingin rasanya dia melempar aqua di tangannya, namun diurungkan saat kembali tersadar. Ia merasa, kedua orang itu tidak bertanggung jawab. Pria itu menarik dan mengembuskan napas dengan kasar.


Para awak media pun kini beralih menggunjingkan mereka berdua. Semua mendesah kecewa.


Jihan sendiri penasaran melihat kegaduhan itu, ia segera membuka ponselnya dan terbengong ketika melihat kolom komentar yang heboh di bawah foto Khansa. Bukan hanya ribuan, tapi sudah mencapai puluhan ribu. Padahal belum ada satu jam.


Fauzan dan Maharani masih berada di dekat podium, namun menjauhi standmic agar percakapan mereka tak terdengar.


“Ran, gimana hal seperti ini bisa terjadi?” serunya dengan nada frustasi.


“Aku sendiri nggak tahu, Zan,” jawab Maharani menggigit bibir bawahnya. Matanya bergerak ke sana ke mari, ia sendiri pun kebingungan.


“Huuft!” Fauzan menghela napas panjang. “Kamu gunakan koneksimu untuk mencari tahu siapa dalang yang mengunggah foto tak senonoh itu karena telah merusak reputasiku! Awas aja kalau sampai ketangkap, tidak akan aku beri ampun!” Pria itu bahkan hanya memikirkan reputasinya tanpa mempedulikan Khansa. Benar-benar ayah durhaka.


Hati Maharani berdegup kencang, dadanya bergemuruh, tubuhnya sempat menegang dan mengerjapkan mata berulang. Ia tidak berani membayangkan kalau sampai Fauzan tahu bahwa dirinya adalah dalang di balik ini semua.


“Heh, Rani! Apa yang kamu pikirkan? Kamu denger nggak yang aku bicarakan tadi?” Fauzan menepuk bahu Maharani membuyarkan lamunannya.


“Eh, iya, iya. Aku denger kok. Ini aku segera cari tahu melalui koneksiku! Kamu tenang saja,” ucap Maharani tetap tenang dan pura-pura menyetujui permintaan Fauzan.


Fauzan mengusap wajahnya dengan kasar, sedang tangan lainnya berkacak pinggang. Tak habis pikir, kehidupannya sering terseret dalam masalah seperti ini. Otaknya hanya memikirkan bagaimana caranya agar namanya kembali bersih.


Jihan beranjak dari duduknya, lalu berlari penuh emosi mendekati kedua orang tuanya. “Bu! Kenapa Khansa tidak digilir? Kok dia malah baik-baik saja dan liburan ke Bali?” cetus Jihan  pada Maharani tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia keceplosan sembari menunjuk ponsel di tangannya.


Bersambung~


Sumpah yaa di bab ini aku bayanginnya Fauzan kek Doddy S. yang ***** 🤣🤣Maap Pak Doddy. Kalau di dunia nyata nggak ada kamu, aku yakin bapak seperti Fauzan cuma ada di dunia fiksi. Tapi Pak D buka mata hati saya bahwa Fauzan ini mirip banget sama Pak D 😭 dan memang ada di dunia nyata. Astagfirullah...


*Iihh lu ngapa thor? lebay... gua gak kenal pak doddy tuh 😒


🌶Engg.... gausah kenal deh 😂