
Leon berlari tergopoh-gopoh, menyentuh kedua bahu Khansa lalu memutar tubuhnya. "Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Ini gimana coba ngilanginnya? Banyak banget!" rengek Khansa menunjukkan lehernya yang dipenuhi hasil karya Leon.
Leon mengembuskan napas kasar, ia sampai berlarian takut terjadi apa-apa tapi ternyata hanya terkejut karena bertaburan jejak kepemilikan yang dibuatnya. Khansa semakin mengerutkan bibirnya, "Iiiss malah ketawa!" cebiknya kesal, ia beralih menatap cermin sembari meraba sekujur lehernya, yang berubah warna menjadi pink keunguan. Bahkan kulit putihnya hampir tertutup saking banyaknya.
"Nanti juga hilang sendiri. Apa mau ditambahi dulu? Biar sekalian?" goda Leon memeluknya dari belakang sembari menopangkan dagu pada bahu Khansa.
"Iiissh! Kepalamu!" cebik Khansa mencubit pinggang Leon sembari melempar tatapan tajam.
"Aww! Sakit, Sa!" rintih Leon mengelak serangan Khansa. Leon lalu mengangkat kedua tangannya, "Ampun cinta!" ucapnya beralih mencari pakaian ganti dan mengenakannya dengan cepat.
Lelaki itu lalu kembali mendekati Khansa yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya. Leon segera mengambil alih untuk mengusak rambut Khansa. Pandangannya menunduk, menatap bibir Khansa yang sedikit terbuka.
Gerakan tangannya terhenti, perlahan mendekatkan kepalanya dan hampir menciumnya. Namun Khansa segera menyadari, ia menarik handuk itu hingga menutupi bibirnya. Matanya mendelik saat menatap Leon.
"Jangan menggodaku!" ucap Leon kembali mengusak rambut Khansa.
"Siapa yang goda!" cebiknya mengerutkan bibir.
Leon melempar handuk itu dan segera menciumnya tanpa aba-aba. Melahap habis hingga Khansa gelagapan dengan keterkejutannya.
"Ini terlalu bikin candu!" gumam Leon meraba bibir Khansa setelah melepas pagutannya. Khanza masih merasa seperti ada yang meledak dalam dadanya.
Leon mengangkat tubuh Khansa dan merebahkannya di ranjang. Leon juga turut merebahkan dirinya di tepi. Memeluk Khansa dengan erat, seolah takut kehilangannya.
"Terima kasih sudah memberikan hal paling berharga untukku," ucapnya menciumi puncak kepala Khansa. Wanita itu hanya mengangguk sembari tersenyum, membalas pelukan Leon lalu menyandarkan kepala di dada sang suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Emily, mau mampir ke suatu tempat dulu nggak?" tanya Hansen yang mengendarai mobilnya dengan santai. Ia tidak mau cepat sampai tujuan.
"Katanya disuruh pulang sama Papa?" tanya Emily mengernyitkan dahinya.
Hansen melengkungkan bibirnya membentuk senyuman, yang membuatnya semakin tampan. Ia tetap bersikap santai.
"Kamu bohongin aku ya?" kesal Emily meninju lengan Hansen, meskipun tanpa tenaga.
Hansen semakin tertawa saat melirik ekspresi Emily yang tengah kesal. Gadis itu melempar pandangannya keluar jendela. "Bukan aku, Kak Leon 'kan yang bilang?" ucapnya masih fokus menyetir.
"Ck! Kalian berdua sama aja!" cebik Emily dengan kesal.
Hansen tak membalas lagi, dia hanya mengendikkan kedua bahunya, melajukan mobil sedikit lebih cepat. Namun bukan arah pulang. Emily pasrah saja saat melalui jalan yang terjal dan cukup berliku. Ia malas bertanya. Hansen tahu suasana hati Emily memburuk, jadi dia pun diam tak bersuara lagi.
Sampai pada akhirnya, mobil berhenti di sebuah pelataran yang cukup luas. Suasananya juga begitu ramai, meskipun malam semakin larut.
"Ayo turun!" ajak Hansen melepas sabuk pengamannya.
Emily masih bergeming, dia enggan untuk beranjak. Hansen mendesah kasar, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah chat pada Emily.
"Aku sudah minta izin sama papa kamu," ucap pria itu.
Emily tersentak, ia cukup berminat untuk melihatnya. Dan benar saja, ternyata Hansen sudah meminta izin sejak mereka bersama. Pantas saja, sang ayah tidak mencarinya.
"Sebegitu percayanya papa sama kamu?" tanyanya heran.
Hansen mengendikkan bahu sambil tersenyum. "Jadi?" ucapnya masih menatap Emily. "Turun aja dulu, kalau nggak suka boleh minta pulang atau kemana pun kamu mau," ajak Hansen keluar dari mobil terlebih dahulu.
Mau tidak mau, Emily ikut turun. Dinginnya angin malam berembus menerbangkan rambut Emily. Pandangan matanya dimanjakan dengan ribuan kelap-kelip lampu yang bertebaran.
"Wah, indah banget," gumam Emily menatap kagum.
Hansen berjalan mendekati Emily, bersandar pada badan mobil sembari menatapnya. "Mau masuk nggak?" tawar pria berkacamata itu.
Emily mengangguk, "Mau!" ucapnya melangkah dengan penuh semangat.
Pria itu menyusulnya dengan pelan, Hansen mengajaknya ke sebuah kafe terbuka di sebuah bukit yang jauh dari keramaian kota. Banyak muda-mudi yang memenuhi kafe tersebut. Beberapa di antaranya, ada yang sedang berparty.
Emily memilih tempat duduk yang berada di ujung tebing. Dari sana dia dapat melihat pemandangan malam yang begitu indah. Ia tampak sangat bahagia.
"Suka banget," sahut Emily mengangguk dengan senyum yang lebar.
Hansen lebih memilih menatap wanita itu dalam-dalam. Sedangkan Emily seru mengabadikan keindahan tempat itu untuk dijadikan status pada watsappnya. Hansen juga mengambil beberapa foto candid gadis itu tanpa sepengetahuannya.
"Suka kopi nggak? Atau mau minum?" tawar Hansen.
"Kopi aja deh. Aku nggak bisa mabuk," jawab Emily apa adanya.
Hansen lalu memanggil seorang pelayan dan memesan dua cangkir coffe late untuk menemani dinginnya malam itu. Dia memilih menunggu sembari duduk di kursi yang tak jauh dari Emily. Matanya sesekali menatap Emily yang masih asyik berfoto ria. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum yang indah.
Setelah beberapa lama, Hansen melepaskan jas yang dikenakannya. Ia baru sadar bahwa Emily mengenakan gaun yang cukup terbuka. Ia beranjak dan menyampirkan jas itu pada bahu Emily.
"Minum dulu, kopinya sudah datang," ucap Hansen.
Emily sempat terkejut dengan perlakuan Hansen, matanya melirik ke arah jas yang membalut tubuhnya. "Terima kasih," ucapnya menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Di balik kesialan, ada hikmah yang bisa dipetik oleh Emily. Mungkin kalau tidak ada tragedi mobil mogok, dia tidak akan bisa bersama Hansen saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berbeda dengan suasana di balik jeruji besi. Sejak masuk ke penjara, Yenny mengalami kekerasan fisik oleh nara pidana yang lainnya. Yenny tidak bisa melawannya karena mereka berkelompok. Luka-luka yang belum mengering, kian bertambah. Dicemooh, dikucilkan dan dianiaya sudah menjadi makanannya sehari-hari. Isakannya membuat bising teman-teman satu selnya.
"Berisik banget sih lo! Bisa diem nggak?!" seru salah seorang tahanan wanita lainnya yang merasa terganggu tidurnya.
Yenny berusaha memeluk lututnya dengan erat. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya dan berusaha meredam suaranya. Sebelum sebuah pukulan menghantam tubuhnya lagi.
Sidangnya akan segera digelar dua hari lagi. Penentuan masa hukuman akan dijatuhkan saat sidang nanti. Yenny meringkuk di sudut ruangan sempit itu. Air matanya tak henti mengalir. Tidak ada yang peduli lagi dengannya. Ia sudah hancur, tidak ada yang bisa dia jadikan pegangan lagi. Bahkan keluarganya sendiri sama sekali tidak ada yang peduli.
Lantai yang keras dan dingin kini menjadi alas untuk tidur. Padahal biasanya dia hidup dalam kemewahan. Dan sekarang, harus menjalani kehidupan yang tragis. Jiwanya sedikit terguncang dengan perubahan drastis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Leon dan Gerry sedang serius berbincang di ruang tengah. Khansa baru saja terbangun, ia segera mandi saat tak melihat suaminya di kamar tersebut.
Usai berganti pakaian, Khansa hendak turun ke lantai bawah. Namun sebelumnya, Khansa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
"Di rumah ini aku merasakan sakit dan kesedihan mendalam. Di rumah ini pula, aku bisa merasakan kebahagiaan. Hanya berharap, ini bukan kebahagiaan semu semata. Leon, aku sudah percaya sepenuhnya padamu setelah melihat semua ketulusanmu. Aku harap, kamu tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanku," gumam Khansa mengurai rambut panjangnya kembali memasang cadarnya.
Khansa menuruni tangga dengan perlahan. Perhatian Leon langsung tertuju pada perempuan yang membuatnya menggila semalam. Ia tersenyum sebelum Khansa menatapnya. Gerry menghela napas panjang saat sang boss tidak mendengarkan ucapannya, dan melihat arah pandang Leon.
"Tuan, saya permisi dulu," pamit Gerry.
"Hemm. Oiya, hari ini aku nggak ke kantor. Kamu back up dulu kerjaan ya," ucap Leon pada sang asisten.
"Baik, Tuan!" ucap Gerry membungkuk lalu melenggang pergi.
"Leon, kok nggak bangunin aku?" ucap Khansa duduk di sebelah Leon.
Pria itu merengkuh pinggang Khansa dan mencium puncak kepalanya, menghirup aroma wangi yang selalu menguar dari tubuh wanita itu.
"Aku mau ngajak ke suatu tempat. Ganti baju ya, jangan pakai gaun dan sepatu heels. Pakai celana sama blouse aja!" ucap Leon membelai rambut Khansa.
"Kemana?" tanya gadis itu menoleh.
"Yang pasti kamu bakal suka. Buruan keburu siang!"
Bersambung~
Sok imut banget sih Mas 🥱
MasLe: Biarin napa Thor, biar mereka terSaLe-SaLe. 😌
Masaaa 😲