
“Udah ah! Sana pakai baju dulu.” Tubuh Khansa mulai memanas. Telapak tangannya menahan bibir Leon agar berhenti menciumnya.
Leon pun berhenti, ia menatap Khansa dengan serius, “Mau ikut nggak?” tanyanya.
“Kemana?” tanya Khansa balik.
“Mandi,” sahut Leon beranjak dari duduknya sembari menarik lengan Khansa.
“Hah?” seru Khansa terkejut.
“Mandi bareng!” goda Leon masih menarik lengan Khansa.
Seketika gadis itu menjadi panik, “Enggak, lepasin! Lepasin!” Khansa meronta, bahkan sampai berjongkok di lantai. Ia ketakutan dengan kalimat mandi bersama.
Leon tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sengaja ia ingin menggoda perempuan itu. Di matanya, kepanikan Khansa nampak menggemaskan.
Pria itu berhenti melangkah, meraih kedua bahu Khansa dan membangunkannya. “Aku bercanda, bentar ya aku mandi dulu,” ucapnya mengusap pucuk kepala Khansa lalu melenggang ke kamar mandi.
Gadis itu mendesah lega karena apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Padahal sudah sempat kejut jantung sedari tadi.
Khansa lalu berganti baju tidur sekalian menyiapkan pakaian ganti untuk Leon. Merapikan tempat tidur dan membersihkannya. Meskipun tentu saja ranjangnya sangat bersih, bahkan tak ada debu satu butir pun.
Tak berapa lama, Leon sudah keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Beberapa bulir bening menetes dari rambut, mengalir di dadanya. Khansa tak berkedip memandangnya.
“Ada yang salah?” ucap Leon tepat di depan muka Khansa.
Seketika Khansa terlonjak kaget, ia mengembuskan napas kasar, membuang pandangan dari Leon yang ternyata sangat dekat dengannya. Lamunannya pun ikut buyar bersamaan dengan keterkejutannya.
“Ini baju gantinya,” ucap Khansa menyerahkan piyama tidur milik Leon. Sengaja mengalihkan kegugupannya.
Leon tersenyum melihat rona merah di wajah Khansa. Telinganya yang putih bersih pun terlihat memerah, karena Khansa menyibak rambutnya yang terurai dan menyelipkannya di belakang telinga.
“Makasih ya,” ujar Leon meraih sepasang pakaian dari tangan Khansa meninggalkan sebuah kecupan di pipi gadis itu.
Khansa yang sedari tadi menunduk, tidak berani menatap mata Leon seketika mengangkat pandangan dengan memegang pipinya.
Sepeninggal Leon mengganti baju, Khansa menghela napas dan membuangnya berkali-kali. Ia juga menggosok wajahnya dengan kasar. Malu sekali rasanya.
Tak butuh waktu lama, Leon sudah keluar mengenakan piyama berwarna hitam berbahan sutera pilihan Khansa tadi. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih tanpa noda.
Segera Leon merangkak naik ke atas ranjang, Khansa yang sibuk dengan ponselnya kini meletakkan kembali benda pipih itu di atas nakas.
“Sa, boleh tanya sesuatu?” panggil Leon menjatuhkan kepalanya di pangkuan istrinya.
“Ya,” sahut Khansa singkat. Pandangannya menunduk, menatap lekat wajah tampan yang ada di atas pahanya.
“Kamu kenapa beliin aku jam tangan?” tanya Leon menjulurkan lengan bermain-main dengan rambut panjang Khansa.
“Mmm … banyak. Pertama, aku ingin memberimu waktu.”
“Maksudnya?” tukas Leon menyela.
“Iih jangan dipotong dulu. Biar aku jelasin sampai selesai. Kamu komennya entar kalau udah selesai,” ucap Khansa meletakkan tiga jarinya di bibir Leon.
Pria itu mengangguk patuh membuat Khansa tersenyum puas. Kedua telapak tangan Khansa menangkup pipi Leon.
“Aku ingin mensupport kamu agar selalu profesional. Kamu tahu orang profesional itu pasti selalu ontime. Kedua, kamu bisa memakainya setiap hari dan selalu bisa mengingatku sepanjang hari setiap melihat jam tersebut,” jelas Khansa tersenyum lebar. Terlihat jelas dari kedua matanya yang menyipit.
Leon masih bergeming, menatap haru kedua manik Khansa yang bersinar cerah.
“Kok diem?” tanya Khansa setelah beberapa saat.
“Udah?” Leon bertanya balik masih dengan tatapan mendalam.
Khansa mengangguk pelan. Leon beranjak duduk dan langsung mencium kedua pipi, kening dan bibir Khansa. Leon sangat bahagia dan puas mendengar penjelasan Khansa.
“Bagaimana liburanmu di Bali? Kalau saja aku tidak banyak pekerjaan, pasti aku sudah menyusulmu ke sana.” Leon membelai rambut panjang Khansa.
Perempuan itu bersandar di tempat ternyamannya. Sepanjang malam Khansa bercerita tentang bagaimana keseruannya bersama Emily selama di Bali. Ia juga menceritakan kronologi kejadian yang sempat menerpanya. Leon semakin kagum pada perempuan itu. Pantas saja ia enggan meminta bantuan, karena memang pengantinnya itu luar biasa.
“Kalau ada sesuatu yang bisa ku bantu, katakanlah,” tawar Leon mendongakkan dagu Khansa.
“Tidak untuk saat ini. Aku akan menyelesaikannya dengan caraku,” jawab Khansa dengan mantap.
Jemari Leon menyibak cadar Khansa, mendekatkan kepalanya hingga bibir keduanya hampir bersentuhan. Seakan sudah pasrah, Khansa pun memejamkan kedua matanya.
Leon bisa melihat kecantikan gadis polos yang masih berusia 19 tahun itu dalam jarak yang sangat dekat.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum, tanpa berlama-lama lagi bibir keduanya pun saling bersilaturahmi. Leon memagutnya dengan lembut, satu tangannya menahan tengkuk Khansa untuk semakin memperdalam ciuman. Satu tangan lainnya membelai lembut pipi gadis itu.
Khansa sudah bisa lebih santai, menikmati setiap sentuhan Leon. Tidak gelagapan seperti sebelum-sebelumnya. Leon semakin bersemangat menjelajah setiap inchi bibir gadis itu tanpa terlewat sedikit pun.
Setelah beberapa saat Leon melepas pagutannya. Menyatukan kening mereka dengan napas menderu.
“Kamu udah makin pinter,” gumam Leon sedikit serak.
“Kan diajarin sama kamu,” sahut Khansa tertawa.
“Gimana tanggapanmu tentang permintaan nenek?” tanya Leon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kediaman Isvara, seorang wanita cantik mengetuk pintu perlahan. Tangannya masih menggenggam pegangan koper.
“Nona Yenny, selamat datang,” sapa pelayan membukakan pintu.
Begitu pintu dibuka, perempuan itu melenggang masuk meninggalkan koper dengan langkah elegant tanpa menghiraukan sapaan pelayan yang membukakan pintu untuknya, juga tanpa berpesan apa pun.
“Sabar, sabar,” gumam pelayan itu membawakan koper perempuan itu.
Yenny menaiki tangga dan masuk ke kamar ibunya. Ia terkejut melihat keadaan sang ibu yang begitu mengenaskan.
“Ibu!” pekik Yenny mempercepat langkahnya.
“Yenny!” seru Maharani berkaca-kaca.
“Kakak!” Jihan pun turut berteriak.
Yenny memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan sendu. Maharani merintih kesakitan saat tubuhnya digerakkan.
Yenny segera memeriksa keadaan ibunya. Setelah memastikan beberapa pemeriksaan dasar, ia sangat sedih karena ternyata Maharani mengalami luka yang cukup serius.
“Di mana ayah, Ji?” tanya Yenny mengalihkan pandangan pada Jihan.
“Nggak tahu, Kak. Tadi setelah marah-marah sama ibu, dia keluar dan belum kembali sampai sekarang,” ucap Jihan yang juga merasa sedih melihat kondisi sang ibu. “Dan juga, tadi ayah menolak untuk memanggil dokter,” adu Jihan pada sang kakak.
Yenny mendesah kasar, “Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit!” serunya meraih ponsel di sakunya. “Jihan, kamu siapin keperluan yang dibawa!”
Perempuan itu segera menelpon ambulance rumah sakit terdekat. Jihan beranjak mengobrak-abrik isi lemari ibunya untuk mengambil beberapa barang.
Usai menelepon, Yenny menoleh pada adiknya yang memasukkan banyak pakaian pada tas.
“Jihan! Ambil yang penting saja. Kita tidak lagi liburan! Dokumen identitas ibu yang paling penting!” tandas Yenny dengan tegas.
“Eh, baik, Kak,” sahut Jihan bergegas mencari barang yang memang diperlukan.
Bersambung~
Berenti duluu teken likenyaa... baru lanjut 🌶🌶