
Malam belum terlalu gelap. Semburat jingga masih membias di ufuk barat. Leon sudah menapakkan kakinya di Villa Anggrek. Derap langkahnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat memasuki rumah, Leon mendengar pekikan tawa Khansa dan nenek dari ruang tengah. Ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Senyuman lebar tersungging di bibirnya saat melihat tawa Khansa yang menggelegar.
"Leon? Kok sudah pulang?" tanya sang nenek saat melihat pria itu menjulang tinggi di belakang Khansa.
"Memangnya kenapa, Nek?" tanya Leon mendudukkan tubuhnya di samping Khansa.
Gadis itu merapatkan bibirnya. Tawa yang sedari tadi menggema, tiba-tiba menghilang. Khansa sibuk memakan caka buatannya.
"Biasanya juga pulangnya larut. Apa jangan-jangan kamu ingin menemani Khansa ya?" sindir nenek melirik ke arah Khansa.
Menyadari diperhatikan sang nenek, Khansa segera menoleh, "Leon, sudah pulang?" tanyanya menatap sekilas lalu kembali menundukkan pandangan, kembali fokus pada makanan di tangannya. Tanpa ada senyum sedikitpun di bibirnya.
"Nenek tahu aja," ucap Leon merebahkan kepala di pangkuan Khansa. Nenek Sebastian beralih ke dapur untuk mengawasi pelayan yang hendak menyiapkan makan malam. Apalagi Leon sudah pulang, ia ingin menyiapkan lebih cepat.
Khansa sontak terkejut. Ia sedikit panik, hampir saja melempar kepala Leon dari pangkuannya. Namun, sang nenek masih memerhatikan. Ia pun hanya bisa mendesah kasar.
"Makan apa sih? Enak banget sepertinya," tanya Leon menatap Khansa lamat-lamat.
Napas Khansa terasa sesak, ia kembali teringat dengan Yenny. Matanya yang jernih memancarkan kebencian. Leon merasa aneh dengan tatapan Khansa seperti itu. Khansa juga tak menjawab pertanyaan dari Leon. Ia mengabaikan ocehan Leon sedari tadi.
"Hei, ada apa?" tanya Leon menjulurkan tangannya membelai pipi Khansa.
Dengan cepat Khansa menepisnya. Kalau ia berbicara sekarang takut tidak bisa mengontrol emosi dan khawatir nenek tahu jika mereka sedang berperang dingin.
Deru napas Khansa yang berembus terdengar kasar. Meski bibirnya terus mengunyah, namun tenggorokannya terasa susah menelan. Dadanya masih bergemuruh hebat.
"Suapi, dong. Enak banget kayaknya," Leon masih mencoba menggodanya.
Tidak ada balasan apa pun, Khansa masih fokus dengan cake nya sendiri. Tanpa menghiraukan suaminya. Leon menghela napas panjang, ia segera beranjak duduk dan menghadap Khansa.
"Kamu kenapa sih? Marah?" tanya Leon yang tidak peka.
Khansa meliriknya dengan tajam, belum pernah Leon melihat tatapan Khansa seperti itu. Membuat tubuhnya merinding dan jantung yang bertalu kuat.
Leon hendak menyibak cadar Khansa namun dengan cepat gadis itu memalingkan mukanya. Lagi-lagi Leon mendesah kasar. Ia memutar tubuh Khansa dan memeluknya dengan erat.
"Sa, aku kangen! Jangan diemin aku kaya gini dong," gumam Leon meletakkan kepala di bahu Khansa.
Khansa menahan gejolak di dadanya. Sejujurnya ia juga sangat merindukan Leon, bahkan saat ini debaran dadanya sudah tak beraturan lagi. Namun, rasa itu tergerus dengan kekecewaannya.
Khansa mendorong dada Leon dengan keras hingga pelukannya terlepas. "Ada nenek dan yang lainnya!" ucapnya dengan nada dingin.
"Kamu kenapa sih, Sa?" tanya Leon frustasi.
Khansa beranjak dari duduknya, saat mendengar notif pesan di ponselnya. Ia meraih dan membukanya. Ternyata pesan dari Emily bahwa ia sudah sampai di bandara.
Khansa segera bersiap, memasukkan ponsel di tasnya dan menghampiri sang nenek. "Nenek, maaf. Sasa tidak bisa ikut makan malam. Karena mau jemput temen Sasa di bandara," pamitnya meraih tangan sang nenek dan menciumnya.
"Oh iya, ajak saja temanmu makan malam dan menginap di sini, Sa!" balas nenek.
"Iya, Nek." Khansa berbalik dan hampir bertabrakan dengan tubuh Leon kalau saja tidak segera berhenti.
"Tidak usah!" tolak Khansa tegas. Namun saat menatap mata Leon yang tajam, Khansa pun pasrah. Karena tidak mau nenek curiga dengan hubungan mereka. "Baiklah, ayo. Emily sudah menunggu," lanjut Khansa melangkah mendahului Leon.
Nenek menghampiri Paman Indra yang sedang membukakan pintu. Menatap kepergian Leon dan Khansa. "Lihat saja, nyonya mudamu tidak akan pulang malam ini."
"Maksud Nyonya?" tanya Paman Indra menanggapi gumaman Nenek Sebastian.
"Apa kamu tidak melihat ada yang aneh sama mereka berdua?" tanya nenek menatap kepala pelayannya. Paman Indra hanya menggeleng pelan, lalu menunduk.
"Ah, sudahlah. Biarkan Leon mengejarnya." Nenek Sebastian kembali masuk ke rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Ferrari California berwarna merah melaju dengan kecepatan rata-rata. Khansa sedari tadi memalingkan muka, pemandangan di luar jendela seolah terlihat lebih menarik dari pada menatap Leon.
"Sa, kamu marah karena 10 milyar itu?" Leon mulai membuka percakapan.
Khansa masih diam, tak berniat ingin membalas ucapan Leon. Pria itu memelankan laju mobilnya. Satu tangannya meraih jemari Khansa dan menggenggamnya.
"Sasa," panggil Leon dengan suara pelan.
"Tidak, untuk apa aku marah. Kau sendiri yang menghasilkan uang itu, jadi terserah mau kamu gunakan untuk apa! Tidak ada kaitannya denganku!" jawab Khansa dengan nada dingin.
Khansa menarik tangannya dari genggaman Leon. Ia kembali menoleh keluar, tangannya dilipat depan dada. Leon mendesah kesal.
"Kalau aku mengatakan tidak ada hubungan apa pun dengan Yenny, apa kau percaya?" tanya Leon.
Khansa mencebik, "Bahkan kau memberinya fasilitas pendidikan di luar negeri, lalu sekarang memberinya 10 milyar, dan kamu mengatakan tidak ada hubungan apa pun dengan wanita itu? Bullshit!" umpatnya kesal.
Dada Khansa bergemuruh hebat. Emosinya kembali naik hingga ke ubun-ubun. Bahkan tubuhnya gemetar saat ini.
"Aku hanya pernah berhutang budi padanya beberapa tahun lalu. Dia pernah menyelamatkan nyawaku dan sebagai gantinya aku memenuhi permintaannya," jawab Leon memusatkan pandangan lurus ke depan.
Khansa menoleh dengan cepat. "Oh, karena pernah menyelamatkan nyawa, kamu memenuhi semua permintaannya. Kuliah di luar negeri, karir yang bagus dan sekarang uang 10 milyar lalu besok apa? Apakah kamu juga akan langsung mengiyakannya jika dia meminta kamu untuk menidurinya dan juga menikahinya?" teriak Khansa mengepalkan kedua lengannya.
Leon menginjak rem mobil mendadak. Untung saja jalanan sepi. Tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Leon melepas sabuk pengamannya. Dengan cepat bergerak pada kursi Khansa dan menghimpitnya.
Sorot matanya sangat tajam dan menakutkan. Giginya bergemeletuk, rahangnya mengeras. Leon menjapit dagu Khansa agar menatapnya, satu tangan lainnya menyibak cadar Khansa dan dengan cepat Leon mencium bibir Khansa dengan rakus.
Khansa tersentak karena mendapat serangan mendadak. Tangan kecilnya berusaha memukul-mukul dada Leon untuk memberontak. Namun Leon semakin memperdalam ciumannya, tidak memberikan ruang sedikit pun untuk Khansa bernapas.
Beberapa saat kemudian, Leon melepas pagutannya karena hampir kehabisan napas. Ia menempelkan keningnya dengan kening Khansa. Keduanya berlomba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Jangan bicara sembarangan! Aku sudah memiliki Nyonya Sebastian. Dan kamu tahu pasti siapa yang ingin aku tiduri!" geram Leon menatap Khansa dengan tajam.
Bersambung~
Aku lagi flu berat. Cuaca nggak nentu. Maap kalo besok gak bisa up ya... silakan menggibah 😂