Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 51. Menyuapi Leon


Khansa menegang, ia menelan salivanya dengan susah payah. Apalagi saat matanya mengarah pada manik Leon yang sangat tajam itu. Tubuh mereka tak berjarak. Seperti biasa, Khansa selalu tak berdaya jika berada di dekat Leon. Padahal sudah berulang kali ia menekan setiap perasaan yang muncul ke permukaan.


Khansa sendiri pun tidak mengerti, kenapa tidak pernah bisa menolak pesona pria itu. Dan Khansa juga merasa sakit hati setiap ada perempuan lain yang bersamanya.


“Su … suapi apa?” ucap Khansa pelan.


Leon tersenyum menyeringai, lengannya merengkuh pinggang Khansa semakin erat lalu mengajaknya duduk di sebuah sofa di ruangan itu.


Semua pria yang menghalangi mereka segera menyingkir memberikan jalan untuk raja dan ratunya itu. Banyak yang iri dengan Leon karena bisa mendapatkan gadis misterius di mata mereka.


Meski separuh wajahnya tertutupi cadar, mereka bisa membayangkan kecantikan Khansa. Apalagi ketika melihat dari kedua mata lembutnya yang begitu menawan. Hanya menatap matanya saja, banyak yang sudah tertarik dengannya.


“Kalau raja sudah bertitah, hamba sahaya bisa apa?” gumam bos tua yang tadi sangat menginginkan Khansa. Ia menggaruk kepalanya yang rambutnya tumbuh dengan jarang itu.


Leon menghempaskan bokongnya di sofa. Lalu menepuk pahanya sembari menatap Khansa yang masih berdiri di depannya. “Duduk!”


Khansa yang masih bergeming membuat Leon gemas, ia menarik menarik pinggang Khansa agar duduk di pangkuannya.


Khansa teringat dengan para wanita penghibur yang beberapa jam yang lalu juga duduk di atas paha Leon. Hatinya merasa tidak nyaman dan mencoba untuk berdiri.


“Eitss, mau ke mana?” bisik Leon semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Khansa. Sampai-sampai gadis itu tidak bisa bergerak.


“Aku … duduk di sana saja.” Khansa menunjuk sebelah Leon yang kosong. Tapi pria itu tentu saja tidak mengizinkannya. Leon menggeleng, “Tidak boleh! Sekarang tuangkan aku minum dan suapi!” ucap Leon memerintah.


“Apa?” tanya Leon saat Khansa melotot padanya.


“Enggak apa-apa!” ujar Khansa menggelengkan kepalanya.


“Ingat ya, kamu sudah kalah. Banyak saksinya di sini. Dan apa pun yang aku minta kamu harus lakukan!” tegas Leon tidak mau dibantah.


Khansa mendengkus kesal namun di sisi lain juga bersyukur. Karena bukan pria lain yang menguasainya saat ini.


Khansa mulai menuangkan wine pada gelas keramik berukuran kecil lalu mendekatkannya ke tepi bibir Leon, menyuapi Leon minum wine dengan perlahan. Tangannya sedikit bergetar.


Selama meminum wine, mata Leon tidak pernah lepas memandang wajah Khansa. Ia menyipitkan mata, melihat sesuatu yang beda dari penampilan wanita itu.


“Jangan dilihatin terus,” ucap Khansa tidak berani memandangi Leon. Karena sudah bisa dipastikan, jantungnya hampir meledak. Wajah dan telinganya sudah memerah terus-terusan ditatap seperti itu.


Bukan hanya Leon. Seisi ruangan itu pun menatap dua sejoli yang seperti sedang memadu kasih itu. Khansa menggerakkan iris hitamnya, sadar jadi pusat perhatian ia pun sangat malu.


‘Ini benar-benar memalukan,’ jerit Khansa menghela napas berat sambil memejamkan matanya.


Hingga tanpa sadar, tangannya tidak tepat mengarah pada bibir Leon. Minuman itu pun sedikit meleset dan tumpah, beruntung hanya sedikit.


“Sa!” panggil Leon membuatnya tersadar.


Khansa menengok dan terkejut saat mulut Leon belepotan cairan alkohol itu. Bahkan sampai mengalir dari kedua sudut bibirnya. Khansa membelalak, “Maaf!” Ia segera meletakkan gelas di meja dan hendak mengambil tissu.


Khansa bersiap untuk berdiri, tapi Leon dengan sigap melingkarkan kedua lengannya, memeluk erat pinggang Khansa yang ramping agar gadis itu tidak sembarangan bergerak.


“Mau ke mana?” ucap Leon menopangkan dagu di bahu Khansa.


“Ma … mau ngambil tissu. Maaf aku nggak sengaja,” ucap Khansa pelan.


“Enggak usah, begini aja udah,” ucap Leon menggesekkan bibirnya pada bahu Khansa yang tertutupi sweater itu.


Darah Khansa berdesir seketika, napasnya sempat tertahan beberapa saat, sekujur tubuhnya merinding. Leon selalu bisa mengombang ambingkan perasaan dan raganya. Sekuat apa pun ia menahannya.


“Aku nggak suka kamu yang datang dan pergi sesuka hati!” bisik Leon.


Leon sedikit mundur agar dapat melihat wajah Khansa dengan jelas. Ah lebih tepatnya dua bola mata indah perempuan itu. Setiap menatapnya, selalu mampu menggetarkan jiwanya. “Aku? Kapan?”


“Haruskah aku mencatat setiap waktu kepergianmu?” Khansa menepuk keningnya sendiri cukup keras. Leon meraih lengan kecil itu menggenggamnya cukup kuat,  “Jangan menyakiti diri sendiri! Aku tidak mengizinkan!”


Khansa mengerjap beberapa kali. Sikap pria itu sangat manis sekali di matanya. Pandangan Leon terus mengarah pada cadar Khansa yang berkilau.


“Kamu dandan ya?” ucap Leon sangat pelan, matanya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan manik Khansa.


“Setiap keluar rumah juga dandan,” jawab Khansa mengernyit, Leon nampak menajamkan tatapannya. “Tapi ‘kan aku selalu pakai cadar,” lanjutnya saat melihat aura kemarahan dari pria itu.


Orang-orang mendekatkan telinga, ingin mendengarkan percakapan mereka berdua yang berubah lirih bahkan terdengar berbisik.


“Ehm!” Leon berdehem sangat keras. Hingga membuat para pria itu kalang kabut dan salah tingkah. Mereka mencari kesibukan, ada yang langsung duduk, pura-pura bertengkar dengan rekannya, ada pula yang tiba-tiba menjauh. Simon terkekeh geli melihatnya.


“Bukalah, aku ingin melihatnya,” ucap Leon.


“Buat apa? Bukannya kamu sudah pernah melihatnya?” elak Khansa menangkupkan kedua tangan di pipi, menahan cadarnya dari niat Leon yang ingin membukanya.


“Aku melihat sesuatu yang berbeda malam ini! Ayo, Bukalah!” Khansa melihat pandangan memohon Leon dan tersenyum menyeringai.


“Enggak! Mukaku lagi jelek banget. Penuh jerawat,” elak Khansa menggoda Leon.


“Aku nggak peduli! Buka, sekarang! Titik nggak pake koma apalagi tanda tanya!” tegas Leon justru membuat Khansa menahan senyum.


Leon melihat ke arah Simon. Simon menaikkan kedua alisnya. Sedangkan Leon memberi kode mengarahkan wajahnya ke arah luar.


Seperti sudah saling memahami, tanpa berucap Simon mengerti maksud dari kakaknya itu.


“Semuanya keluar dari ruangan ini tanpa kecuali!” ucap Simon lantang.


Semua orang keluar dari ruangan meski tanpa mengetahui alasannya. Karena Simon memang penguasa bar tersebut.


“Kamu ngapain masih di sini, Mon?” tanya Leon ketika melihat Simon masih berdiri di sana.


“Aku masih mau di sini!” ujar Simon menautkan kedua alisnya.


“Keluar!” sembur Leon melotot tajam.


“Issh! Bilang aja mau mesra-mesraan. Kenapa di sini coba? Kayak nggak ada kamar aja!” gerutu Simon memungut barang-barangnya dan keluar.


“Suaramu selalu bikin jengah telinga, Mon. Mirip lebah!” celetuk Leon terkekeh.


Hari ini Khansa disuguhkan banyak pemandangan dari wajah Leon. Dan ini pertama kalinya, Khansa melihat senyum tulus Leon.


Setelah pintu tertutup, tinggallah mereka berdua saja di ruangan itu. Pandangan mereka kembali beradu, tanpa berucap lagi Khansa menggerakkan jemari kecilnya yang ramping dan putih, melepaskan cadar yang dipakainya dengan perlahan.


Leon tidak berkedip,  binar takjub memancar dari kedua matanya.


 


Bersambung~


Aku kembali dengan lima bab... semoga gak nyangkut yaa~ dan... anuu hati2 mengandung pemanis buatan.


Happy readings Like komennya jangan yg akhir doang😅


Thankyou banget yang selalu support selalu nungguinn... lope sekebon cabe always 😘🌶🌶