
Tepat pukul sepuluh pagi, Bara dan Emily telah mendarat di bandara kota Palembang. Dua hari dua malam digempur untuk syuting membuat gadis itu terlelap dengan mudah. Feeling Bara memang selalu tepat, untung saja dia memutuskan untuk ikut bersamanya.
Dua orang itu tengah duduk di kursi menunggu taksi online yang dipesannya. Bara menaikkan hoodie untuk menutupi kepala gadis itu. Agar penampilannya tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian para fans.
Kepala Emily bersandar nyaman di bahu kekar Bara. Sedang pria itu asyik memainkan ponsel dengan kedua tangannya. Sesekali membenarkan kepala Emily yang merosot atau hampir terjengkang.
"Permisi! Dengan Pak Bara," ucap seorang pria muda membungkuk di hadapan Bara.
Sang pemilik nama menaikkan pendangannya, kedua alisnya saling bertaut dengan mata memicing tajam. "Pak! Pak! Gundulmu!" sembur Bara. "Panggil gue Cece," lanjutnya mengedipkan sebelah mata.
Sopir taksi online itu seketika menegakkan tubuhnya. Kedua matanya membelalak tersentak kaget. Ia sampai tidak berani mengeluarkan kata-kata lagi.
"Baby! Bangun!" Bara menepuk-nepuk pipi Emily sampai gadis itu terbangun.
"Hah, udah sampe mana, Bar? Mata gue lengket banget! Aduh, pedih," rengek Emily mengucek matanya yang memerah.
"Iissh! Jangan digosok! Untung nggak pake softlens" ujar Bara menahan tangan Emily.
Bara mengulurkan dua koper pada sopir yang masih terpaku itu. Sedangkan dia beranjak bangun sembari menarik Emily menuju mobil tumpangannya.
"Enaknya ke mana dulu nih, Bar?" tanya Emily yang sudah cukup sadar dari tidurnya.
"Mandi dulu lah, dandan yang cakep!" ujarnya merangkul Emily.
Mobil mulai melaju dengan perlahan. Mengantarkan dua orang itu ke apartemen Emily. Sebenarnya ia ingin pulang ke rumah, namun pasti akan ditahan sang mama terlebih dahulu. Lagian Bara pun sudah menentukan lokasinya ke apartemen.
Keributan kecil terjadi saat Emily selesai mandi. Ia mengacak-acak isi kopernya mencari gaun terbaik yang akan dikenakan sambil terus berteriak.
"Bar! Gue pake baju yang mana ya! Nggak punya baju!" keluh Emily mengacak-acak gaunnya di kasur.
Mendengar teriakan Emily, pria yang tadinya menonton televisi bergegas masuk ke kamar. Pria itu membuang napas berat. Decakan cukup keras terdengar saat dia berdiri di ambang pintu melihat ranjang yang berantakan.
"Baju satu ranjang itu kamu masih bilang nggak punya?" Bara menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada yang bagus," cebik Emily memanyunkan bibirnya. Ia mendaratkan tubuhnya dengan kasar di tepi ranjang.
Kaki Bara melangkah semakin dekat dengan gadis itu. Kedua tangannya menyentuh bahu Emily. Kepalanya sedikit menunduk untuk mensejajarkan pandangannya. "Dengar! Pakai baju yang nyaman kamu kenakan. Jadi dirimu sendiri dan tampil apa adanya. Nggak perlu jadi orang lain untuk membuat seseorang tertarik sama kamu. Jika dia memang tulus menyukaimu, mau pakai apa pun tidak akan dipermasalahkan. Paham?" tegas Bara menjelaskannya panjang lebar.
Emily terhenyak mendengar penuturan Bara. Pria itu tidak pernah gagal memberi sugesti pada Emily yang pemikirannya sering kacau dan mudah berubah sesuai mood.
"Oke!" sahut Emily.
"Jangan lama-lama. Sebentar lagi masuk waktu makan siang. Nanti keburu pergi si kulkas tampanmu itu," cetus Bara kembali berjalan keluar dengan anggun.
Akhirnya pilihan Emily jatuh pada blouse panjang berwarna merah, celana jeans sepanjang tumit membalut kaki jenjangnya. Dan sneakers putih menjadi alas kakinya. Sesuai dengan apa yang membuatnya nyaman seperti ucapan Bara. Rambut panjangnya digerai, satu sisinya hanya diselipkan di belakang telinga.
"Huh, kok deg degan gini ya," gumamnya di depan cermin sembari meraba dadanya yang berdetak dengan kencang.
Ia senyum-senyum sendiri, lalu segera mengambil sling bag dan keluar kamar. Langkahnya ceria, meski tidak tahu bagaimana nasibnya nanti.
"Ayo, Bar!" ajak Emily sudah berdiri menghalangi pandangan Bara. Pria itu mengamati penampilan Emily dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Emily menunduk, memastikan lagi penampilannya.
Tidak butuh waktu lama, mereka telah menjajakkan kakinya di depan gedung pencakar langit yang sangat tinggi dan luas itu. Emily mendongak di bawah silaunya matahari, menatap puncak gedung itu sedikit menyipit.
"Bar, gue takut. Apa balik aja ya?" gumam Emily yang merasakan denyut jantungnya semakin kuat.
"Gila! Udah bela-belain kerja lembur bagai kuda biar bisa libur malah mau mundur! Sana masuk! Masker jangan dilepas sampai ketemu orangnya. Aku tunggu di sini saja," sembur Bara mendorong bahu Emily dengan pelan.
Gadis itu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Namun justru debaran jantungnya kian meningkat. Tangan kecilnya mengepal memukul-mukul dadanya.
"Gue takut dia marah, Bar," ucap Emily menoleh.
Bara kesal melihat Emily yang maju mundur seperti itu. Ia melepas satu sepatunya dan mengayunkannya di atas kepala. "Masuk nggak?" geramnya melotot tajam.
"Iya! Iya! Santai dong." Lagi, Emily menarik napas panjang lalu membuangnya. Bara berjalan ke arah berbeda sembari mengenakan sepatunya lagi.
Emily melangkah dengan cepat, pandangannya menunduk tanpa menoleh siapa pun. Satpam yang berjaga tengah dialihkan perhatiannya oleh Bara.
Hingga masuk ke dalam lift, Emily semakin tidak tenang. Tangannya gemetar saat menekan tombol lantai teratas gedung itu. Kakinya tidak bisa berhenti bergerak.
Ketika pintu lift terbuka, Emily bisa melihat pintu ruangan Hansen dari kejauhan. Kakinya seolah berat melangkah. Langkahnya berubah sangat pelan.
"Tumben nggak ada sekretarisnya?" gumamnya pada diri sendiri.
Saat berdiri di depan pintu, Emily menaikkan tangannya memberanikan untuk mengetuknya. Tidak ada sahutan apapun. Dia memberanikan diri untuk membukanya. Kepalanya menyembul untuk memeriksa keberadaan Hansen. Kosong, tidak ada siapa pun.
"Apa tunggu di dalem aja? Ah, iya deh." Gadis itu melangkah dengan sangat pelan, kembali menutup pintu lalu berjalan ke arah sofa.
Emily melemparkan tubuhnya di sofa panjang. Lama kelamaan gadis itu memposisikan tubuhnya untuk tiduran. Sisa-sisa kantuk kemarin, membuat gadis itu terlelap dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Hansen kembali ke ruangannya. Ia masih mengenakan jas putih beserta alat pelindung diri lainnya, karena ia baru kembali dari laboratorium miliknya bersama para staf lainnya.
Tubuhnya terpaku di ambang pintu, ia kembali menoleh pada meja sekretaris di depannya. Keningnya mengernyit, namun berjalan ke sana dan berbincang sebentar.
Hansen kembali ke ruangannya. Menutup pintu dengan sangat pelan, melepas semua APD yang menempel di tubuhnya. Lalu mencuci muka dan tangannya di wastafel toilet. Setelah mengeringkannya, Hansen kembali menghampiri Emily.
Tubuhnya berjongkok tepat di sebelah sofa. Memperhatikan wajah cantik itu lekat-lekat. Tangannya menjulur hendak merapikan anak rambut Emily. Namun diurungkan karena melihat ada pergerakan dari gadis itu.
Buru-buru Hansen berdiri, memasukkan tangannya di saku celana dan berjalan ke arah jendela. Pura-pura mengabaikan kehadirannya. Emily terperanjat, buru-buru menegakkan tubuhnya. "Bisa-bisanya ketiduran!" gerutunya menekan kepala.
Saat mengedarkan pandangan, kedua matanya membelalak melihat Hansen yang sudah berdiri menjulang di samping jendela dengan pandangan mengarah keluar.
'Waduh, jadi dia sudah ada di sini. Jantungku rasanya mau lepas!' batinnya merasakan rongga dadanya yang seolah memukul-mukul dari dalam.
Bersambung~
Apa yang terjadi selanjutnyaa... 🤔🤔 Karna udah panjang. potong dulu yaa 🤠InsyaAllah lanjut kalo nggak sibuk. yang penting like komennya jan lupa 😚💕 lope you sekebon 🥬🥬
Bang Han diem diem bae 🙄