
"Gimana caranya aku menyampaikannya sama Khansa?" gumam Leon menyugar rambut dengan kedua tangannya. Selama beberapa hari terakhir, kondisi Khansa sudah membaik. Dia takut usahanya selama ini akan sia-sia.
Hansen menepuk bahu Leon, merematnya cukup kuat karena tubuh Leon sedikit menegang. "Katakan semuanya, Kak. Jangan ada yang ditutupi. Dia berhak tahu, dan lebih baik kamu sendiri yang menyampaikannya. Jangan sampai dia mendengar dari mulut orang lain. Bisa jadi boomerang untukmu, dia bisa kehilangan kepercayaan," tutur Hansen menasehati.
Leon mengembuskan napas kasar. Dia mengangguk dengan pandangan lurus ke depan. "Ya, aku tahu!" kedua tangannya bertangkup dan saling menggenggam di dagunya.
"Hasilnya sudah keluar, Kak!" seru Hansen saat laptopnya terdengar notifikasi yang nyaring, pertanda bahwa pengetesan telah selesai dilakukan. Selanjutnya Hansen yang membuat laporan penelitian itu.
Pria berkacamata itu menegakkan tubuhnya, kedua jemarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard, kedua matanya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan laporan yang ia buat.
"Oh, ****!" umpat Hansen.
Leon segera mendekat, melihat deretan unsur, molekul dan senyawa di layar benda datar milik Hansen. Dua pria itu tampak tegang, tatapannya sangat serius dan fokus.
"Gimana?"
"Benar dugaanku. Kemarin aku sempat diskusi dengan Tuan Frans untuk memastikan. Dan laporan ini, sama persis dengan obat-obatan yang ditemukan Khansa tempo hari," jelas Hansen menoleh pada Leon yang mengerutkan dahinya.
"Intinya?" tanya Leon lagi memperhatikan dengan serius. Dia mengikuti setiap gerakan Hansen.
"Ada unsur logam negatif dan positif yang bercampur dalam darahnya." Hansen berdiri lalu melangkah ke ranjang kakek. Ia membuka salah satu alat yang menempel di dada kakek.
"Ini ada magnetnya, jika bertemu dengan ion yang sama akan terjadi penolakan. Itulah yang menyebabkan getaran seperti detak jantung. Begitu pun di lengan kakek. Hal yang sama terjadi." Hansen beralih memegang lengan kakek yang juga ada magnet yang sama, dimanipulasi seperti peralatan medis seperti pada umumnya.
Leon mengangguk paham, "Oke, aku mengerti sekarang. Sepertinya kita jangan libatkan polisi dulu. Lebih seru jika kita eksekusi sendiri."
Hansen kembali duduk di sebelah Leon, "Aku rasa begitu, tapi untuk obat illegal aku rasa perlu hubungi polisi, Kak. Biar dihentikan pemasarannya."
"Iya, tapi jangan sekarang. Eh jam berapa nih, kenapa Gerry belum kembali?" ucap Leon melirik jam tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan di luar sekarang sedang hujan deras. Leon mengernyit heran, pasalnya biasanya asistennya itu sangat cekatan dalam melakukan apa pun. Tapi kenapa sekarang sudah berjam-jam belum ada tanda-tanda kembali.
"Han, kamu mau nginep di sini? Hujannya belum reda," tawar Leon kembali menghadap Hansen.
"Enggak, sepertinya aku pulang ke rumah," sahut Hansen mengirimkan laporan ke email Leon.
"Oh, yaudah." Laptop Leon juga sudah menunjukkan proses backup sudah mencapai 100%. Matanya berbinar, lalu segera membuka tanggal sewaktu kakek terjatuh. "Akhirnya, ketemu!"
Leon memutar ulang hingga menemukan detik demi detik saat kakek terdorong hingga jatuh ke lantai bawah, penyekapan Bibi Fida, hingga saat Khansa digendong dan ditidurkan di lantai. Hansen melebarkan kedua matanya saat ia ikut melihat. Pria tampan itu menggeleng tidak percaya.
"Biadab!" sembur Leon mengepalkan kedua tangannya. Urat-uratnya bahkan sampai menonjol.
Leon menyimpan video itu ke dalam flashdisk, tak lupa membagikannya pada anak buahnya, termasuk Gerry dan juga Hansen. Berjaga-jaga jika salah satu laptop mereka ada yang tidak selamat. Tubuhnya bersandar di sofa, kedua tangannya diregangkan ke atas. Rasa lelah bergelayut di seluruh tubuhnya.
"Kak, kamu nggak jemput Khansa?" tanya Hansen mengingatkan.
Leon menegakkan duduknya, melirik jam di tangan hingga membelalak. "Aku harus segera pulang!" serunya membawa laptop dan buru-buru pulang ke villa.
"Dasar bucin!" sindir Hansen membereskan peralatannya dengan santai.
Hansen menuruni anak tangga perlahan, sembari memainkan ponselnya. Matanya menyipit saat melihat status watsapp Emily sedang online.
"Belum tidur?" tanya Hansen melalui pesan.
"Belum!" jawaban singkat masuk ke ponsel Hansen.
"Masih kerja?" tanya Hansen lagi.
"Nggak!"
"Terus ngapain?"
Hansen membelalak saat sebuah gambar masuk ke ponsel Hansen, menunjukkan Emily tengah mabuk berat di tengah hingar bingar suasana club. "Nanya mulu kayak dora. Nih lagi party!"
Hansen menelepon pilot yang biasa bertugas mengantarkannya ke mana pun dengan jet pribadinya. "Saya tunggu di bandara sekarang! Antar saya ke Bali!" serunya lalu mematikan telepon dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Membayangkan Emily sedang mabuk bersama orang-orang yang tidak bertanggung jawab membuat hati Hansen serasa diremas tangan-tangan tak terlihat. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Sesampainya di bandara, pilot sudah siap menerbangkan jet miliknya. Ia berlari menuju tengah bandara dengan menjinjing tas laptopnya, seorang pramugari khusus menyambutnya dan membantu segala kebutuhan Hansen.
"Langsung berangkat saja!" teriak Hansen saat pilot menatapnya, padahal belum bertanya apa pun. Hujan yang sedari tadi mengguyur kota Palembang sudah mulai reda. Petir juga sudah tidak menggelegar seperti tadi.
"Baik, Tuan!" ucapnya lalu segera lepas landas menuju ke pulau Bali. Dalam hati ia was-was, takut jika di tengah perjalanan tiba-tiba cuaca kembali memburuk.
Hansen tidak tenang sedari tadi, tatapannya datar, terus mengarah ke depan. Gemuruh yang ada di langit kini berpindah di dadanya. Kedua kakinya terus bergerak tidak karuan.
Waktu 2,5 jam terasa sangat lama baginya. Akhirnya mereka mendarat dengan selamat. Hansen segera turun mencari taksi menuju villa yang ditempati Emily. Informasi itu sangat mudah dia dapatkan.
Langkahnya tenang namun tegas. Hansen berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi itu. Ada dua orang penjaga yang menghampirinya.
"Emily sudah pulang?" tanya Hansen tanpa basa basi.
"Maaf, dengan Tuan siapa dan ada keperluan apa ya?" tanya salah seorang penjaga.
"Jawab saja pertanyaanku! Sudah pulang atau belum, hah?" teriak Hansen mencengkeram kerah pria yang tingginya jauh di bawahnya.
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa memberi informasi sembarangan. Silakan tinggalkan villa ini karena Anda mengganggu keamanan di sini," pinta penjaga lainnya.
Deru mesin mobil dengan lampu menyorot ke arah mereka mengalihkan perhatian. Hansen menoleh, melihat seorang pria berlari memutar menuju pintu samping.
Hansen melempar pria yang ada dalam cengkeramannya, lalu melangkah lebar saat melihat Emily dipapah pria itu. Tanpa banyak bicara, Hansen menendang pria itu dengan sepatu mahalnya. Emily terhuyung dan hampir terjatuh. Namun lengannya dengan sigap merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aaahhh, sial! Siapa lo!" teriak Bara membungkuk karena merasakan nyeri di perutnya.
Mata Hansen menyalang merah, deru napasnya semakin kasar melihat kondisi Emily yang hampir tak sadarkan diri. Mata kecil gadis itu mengerjap dengan berat. Kepalanya mendongak, "Eng ... kau seperti kulkas dua pintu!" tutur Emily yang samar-samar menatap pria yang memeluknya.
"Aduh! Kenapa mikir ke sana! Tidak! Tidak! Ini pasti mimpi," racau Emily menepuk-nepuk kepalanya, lalu mengendus aroma tubuh Hansen, "Tapi, baunya juga mirip!" lanjutnya lagi dengan mata yang sulit dibuka, terasa berat sekali.
Mata Hansen memicing dan hanya meliriknya. Bara hendak menerjang tubuh Hansen namun lagi-lagi hentakan kaki panjang Hansen membuatnya terjengkang ke belakang.
Para petugas keamanan segera mendekat. Hansen melempar kartu nama tepat di dada mereka. Lalu tanpa berkata ia menggendong Emily masuk ke dalam Villa.
Bersambung~
Aah elah... yang romantis dikit napa, Bambang! 🤨 uda dateng jauh jauh juga!