
Khansa membeliak kegirangan ketika tahu yang menghubunginya adalah Cheryl. Ia hendak bangkit dari pangkuan Leon, namun dengan sigap Leon menariknya kembali.
"Mau ke mana? Di sini aja!" sergah pria itu mencebik kesal.
"Cheryl video call, Sayang," ucap Khansa memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan nama Jihan. Namun seperti biasa, anak itu yang menguasai layar.
"Yaudah sih, di sini aja!" kekeuh Leon.
Khansa mengalah, ia pun menyandarkan ponselnya di meja. Mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua, barulah menggeser slide panggilan tersebut.
"Aunty mama! Om papa!" pekik Cheryl bersemangat setelah mereka saling berhadapan secara virtual.
"Halo anak gadis om papa! Apa kabar, cantik?" Leon melingkarkan lengannya pada perut Khansa, menyandarkan dagu pada bahu wanita itu.
"Cheryl kangen om papa!" cetus Cheryl menopang dagu dengan kedua tangan kecilnya.
"Sama aunty mama enggak kangen?" Khansa menyela.
"Kangen juga. Tapi mama nggak bisa pergi jauh," ucapnya mengerucutkan bibir.
Khansa saling pandang dengan Leon, ia sendiri belum bisa naik pesawat untuk saat ini karena kandungannya masih memasuki trimester awal.
"Besok pagi Om Papa jemput ya, Cheryl siap-siap aja," sambut Leon ketika kembali menatapnya.
Binar kebahagiaan kini muncul di wajah gadis cilik itu. Ia sampai melompat-lompat kegirangan. "Hore! Cheryl tunggu ya Om Papa!" serunya bertepuk tangan.
"Iya, Sayang. Aunty Mama nunggu di rumah ya. Nanti Aunty masakin yang banyak!" sambung Khansa ikut tertawa melihat keceriaan gadis kecil itu.
Percakapan mereka berakhir setelah berbincang beberapa waktu. Khansa segera membereskan pekerjaannya kemudian memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, Khansa mampir ke supermarket lebih dulu untuk persiapan menyambut ratu kecil di hati mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di pelataran Villa Anggrek, Khansa bergegas turun. Ia hendak meraih belanjaannya namun Leon segera menarik lengan Khansa dan merangkul pinggangnya.
"Minta tolong sama asisten rumah tangga aja!" tegasnya melangkah masuk yang terpaksa diikuti Khansa.
"Nenek!" panggil Khansa ketika melihat nenek tengah sibuk merajut di ruang tengah.
"Kalian sudah pulang? Gimana persiapannya, Sayang?" tanya nenek melepas kacamata dan menurunkan benang juga jarum di pangkuannya, lalu menatap cucu menantunya.
Khansa duduk di sebelah nenek, sedangkan Leon memanggil Paman Indra untuk membereskan belanjaannya tadi. Kemudian kembali bergabung dengan nenek dan istrinya.
"Udah, Nek. Siap semuanya. Huft, Sasa kok deg-deg an ya, Nek," gumamnya tiba-tiba merasa gugup.
"Tenanglah, sudah saatnya seluruh dunia tahu."
Khansa merebahkan kepala di bahu nenek, memejamkan matanya sejenak sembari mengatur napasnya.
"Dulu, semua orang selalu menggunjing Sasa, Nek. Sasa masih minder," ungkapnya.
Leon mendaratkan tubuhnya di sebelah Khansa, mengusap puncak kepalanya. "Nyonya Sebastian harus menegakkan kepala, aku sangat bangga memamerkanmu pada seluruh pria di dunia ini. Betapa beruntungnya aku memiliki wanita hebat sepertimu dan membuat mereka semua menyesal karena pernah menghinamu!" tegas Leon membuat Khansa menoleh.
Nenek tersenyum puas dan lega. Ia pun mengabaikan pasangan yang selalu bisa menguatkan satu sama lain, melewati semua badai yang menerjang dalam kehidupan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senja mulai menampakkan diri, hampir menenggelamkan mentari kembali ke peraduannya. Semilir angin menjamah sekujur tubuh pria yang duduk melamun di tepi kolam renang. Kedua kakinya masuk ke dalam air yang tenang dan dalam itu.
"Dor!" Emily berteriak sembari menepuk kedua bahu Bara dari belakang.
"E copot!" cetus Bara refleks, terjingkat sembari menekan dadanya yang berdegub kuat. Bahkan hampir saja melompat ke dalam kolam. Namun urung karena Bara bisa menguasai dirinya dengan cepat.
Emily tertawa terbahak-bahak, lalu mendudukkan dirinya di samping Bara sembari bergelayut di lengan kekarnya.
"Untung adek, kalau enggak kulempar kau ke tengah kolam!" dengus Bara melengoskan wajah ke depan.
"Maaf! Maaf, kakakku sayang. Lagian ngapain sih, sore-sore melamun sendirian di sini. Kesambet nanti aku yang bingung. Kalau kesambetnya minta jodoh si nggak masalah. Hahaha!" goda Emily kembali tertawa terbahak-bahak.
Bara memicingkan mata, ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar tepat di wajah Emily. Namun tak lama kemudian, wajahnya berubah sendu. Tatapannya nanar dan kembali menatap lurus ke depan.
"Lah, nangis dia. Jangan sedih dong, Bar!" Emily memundurkan lengan Bara, lalu memeluk pria itu dari samping.
Bara justru menitikkan air mata, ia menangis tanpa suara. Emily mmerasa bingung, ia mendongak dan menyeka pipi kakaknya yang basah.
"Baru aja ketemu keluarga. Bentar lagi lu ninggalin gue lagi!" keluh Bara tersenyum getir.
"Siapa yang ninggalin elu sih, Bang. Ya elah, dari sini ke tempatnya Hansen 'kan deket. Nggak sampe harus naik pesawat. Lagian nih ya, kalau diitung-itung kita bareng-barengnya udah hampir 10 tahun loh. Ya nggak sih?" Emily merapatkan tubuhnya. Jika dulu mereka hanya sesekali berpelukan karena sungkan, kini seolah tak ada lagi jarak antara keduanya.
"Yah, sayangnya kita baru tahu ternyata dalam tubuh kita mengalir darah yang sama. Dan tak lama lagi, kamu sudah akan diambil pria lain. Rasanya nggak rela aja. Aku masih mau bersama kamu, Dek! Rasa sayangku nggak pernah berubah. Bahkan mungkin selalu bertambah," ucap Bara menunduk, memainkan kakinya dalam jernihnya air kolam itu.
"Kenapa jadi mellow gini sih!" Emily turut berkaca-kaca. "Aku juga sayang banget sama kamu," lanjutnya dengan suara serak.
Bara beralih mendekap erat tubuh kecil adiknya. Mencium puncak kepala Emily sangat dalam. Hingga waktu hampir beranjak malam, mereka masih menikmati waktu berdua.
"Nikahlah, Bang. Lagian nggak semua wanita sama kaya si Weni bangsat itu!"
"Hussh! Ngomongnya. Udah mau nikah lebih dijaga lagi bicaranya. Yang anggun gitu loh!" tegur Bara menatapnya tajam.
"Iisssh! Masih aja dibelain. Segitu cintanya elu sama si bang...." Bara membekap mulut gadis itu dengan tangan lebarnya.
Emily mengangguk dan berusaha melepasnya. "Iya, iya, maaf! Ayolah ini udah berapa tahun berlalu. Move on dong! Move on! Heran aku tuh sama kamu!" geramnya melipat kedua lengan di dada.
"Bukan Weninya yang nggak bisa aku lupain. Tapi bagaimana ketika dia meninggalkanku saat terpuruk demi lelaki lain. Sakitnya masih terasa yang entah sampai kapan bisa hilang," tutur Bara.
Emily menghela napas panjang. "Kamu tuh nggak bakal bisa melupakannya kalau nggak ada usaha untuk membuka hati lagi. Selamanya kamu akan trauma kayak gini. Harusnya kamu diterapi sama Sasa buat ngilangin trauma ini!"
"Nggak perlu. Nanti juga hilang sendiri," sahut Bara enteng.
"Nggak! Pokoknya nanti sehabis acara kamu harus ketemu dengan Sasa!" kekeuh Emily menangkup kedua pipi Bara dan menghadapkan wajah tampan itu padanya, menatap lekat kedua matanya. "Aku juga ingin melihatmu normal dan meraih kebahagiaan!"
Bersambung~