
Wow.. makasih crazy comennya meski bab terakhir doang ππ gift and tipsnya juga mamaciww. πππ semoga rizkinya ngalir dan dilipatgandakan Allah. Amiin..
Aku nulisnya sampe lompat-lompat jantungkuππ coba, nyampe nggak kekalian lompat jantungnya...wkwkwk.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Leon masih terpaku menatap Khansa penuh kerinduan. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Khansa, bahkan tidak saling bertukar kabar. Sampai-sampai ia tidak sadar tangan Yenny melingkar di lengannya. Gerry justru yang ketar-ketir melihatnya. Ia merasa serba salah.
Sebaliknya, Khansa justru menatap penuh amarah. Darahnya berdesir hebat dengan debaran jantung yang sangat kuat, emosinya membuncah. Kedua tangannya terkepal dengan kuat, lalu menjulur pada kalung yang dikenakan Yenny. Khansa menariknya dengan kuat, hingga Yenny tertunduk dan kesakitan. Kalung itu berhasil digenggam oleh Khansa.
"Awww!! Apa-apaan sih kamu, Sa! Kembalikan kalung milikku!" teriak Yenny mengusap tengkuknya yang masih kesakitan karena kalung yang dilepas paksa.
Khansa menggantungkan batu giok itu tepat di depan matanya. Ia mengamati detail benda berwarna hijau itu dengan seksama. Yenny hendak merebutnya kembali.
"Balikin! Nggak sopan kamu ya!" pekik Yenny hendak meraih benda itu. Namun Khansa segera menepis tangan Yenny.
"Dari mana kamu mendapatkan kalung milikku?" ucap Khansa dengan suara dan tatapan dingin. Yenny mengerutkan dahinya.
"Jawab! Dari mana kamu merebut kalung milikku, hah?!" bentak Khansa melotot tajam sembari mendorong dada Yenny dengan keras membuat Yenny terjengkang ke lantai. Leon tak berniat membantunya.
"Aarggh! Gila kamu ya, Sa!" pekik Yenny berdiri lagi sedikit kesulitan dengan heels yang dikenakannya.
Dada Leon berdenyut dengan cepat. Kedua netranya yang tajam mengamati dua wanita yang tengah berseteru itu secara bergantian. Keningnya mengernyit dalam. Gerry pun turut merasakan aura ketegangan di sana.
Teriakan bersahutan dari kedua wanita itu mengundang perhatian para tamu undangan, termasuk para awak media yang tengah bersiap di tempatnya. Namun, mereka memilih untuk menyorot pertengkaran Khansa dan Yenny.
Semua orang berbondong-bondong mendekati mereka. Tak sedikit yang mencibir Khansa karena dengan lantang dan berani melawan seorang Yenny.
Yenny menantang, ia semakin mendekati Khansa dan menunjuk bahunya dengan keras. Namun pijakan kokoh Khansa tak mampu menggerakkan tubuhnya.
"Nggak usah ngaku-ngaku deh. Itu kalung punyaku! Pemberian dari Tuan Leon karena aku telah menyelamatkan nyawanya," ucap Yenny jumawa sambil melipat kedua lengannya di dada. Dagunya mendongak dengan tatapan remeh pada Khansa.
Khansa menelan salivanya, beban yang menekan dadanya semakin bertambah kuat. Seluruh tubuhnya bergetar. Khansa menunduk untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Matanya terpejam sembari membuang napas berat sebanyak-banyaknya. Khansa mulai mengurai benang kusut ini dengan perlahan. Bekas luka di kepala Leon, batu giok, ternyata dugaan Khansa selama ini benar.
"Eh Khansa! Kembalikan kalau bukan punyamu!" teriak salah satu netizen mencibirnya.
"Iya, Sa! Jangan macem-macem deh. Di sini nggak ada yang percaya sama kamu. Jelas-jelas kamu merampasnya dari Yenny!" sambung tamu wanita lainnya.
"Balikin, Sa! Jangan mengambil hak orang lain. Itu pasti benda berharga deh!"
Hujatan dan cibiran mengalir untuk Khansa. Gadis itu masih belum bisa menenangkan diri. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Air matanya hampir menyembur, namun ia berusaha menahannya. Khansa terus menguatkan diri.
"Iya, Sa! Itu barang yang sangat penting bagiku. Tolong jangan dirampas. Tuan, tolong bicara sama Khansa kalau itu pemberian dari Anda, Tuan. Itu sungguh berharga bagiku. Aku bahkan tidak akan pernah menjualnya sekalipun ditawar dengan harga paling tinggi!" rengek Yenny menggapai lengan Leon lagi. Namun Leon segera menepisnya.
"Diam!!" sentak Leon menggelegar hingga membuat semua orang bungkam seketika.
Matanya menyalang menatap satu persatu orang yang menghujat Khansa. Seolah sedang memindai dengan matanya untuk merekam di memori otaknya. Terakhir, ia menatap Yenny yang penuh percaya diri.
Pria itu lalu berjalan pelan mendekati Khansa, benturan sepasang pantouvelnya menggema di gedung itu karena sama sekali tidak ada yang bersuara.
Leon menjapit dagu istrinya dan menengadahkan kepalanya, hingga dua pasang manik mereka bertemu. Mata Khansa sudah memerah, bibirnya bergetar, entah kenapa dia merasa sangat lemah kali ini. Padahal dalam hati ingin memberontak dan melawan Yenny. Leon adalah sumber kelemahannya.
"Berikan padaku," ucap Leon tegas menengadahkan tangannya.
Dada Khansa bergemuruh saat Leon memintanya. Tangannya menggenggam semakin kuat, telapak tangannya yang putih mulai memerah. Mata Khansa tak lepas dari iris hitam Leon yang juga menatapnya.
"Berikan padaku, Sa!" tegas Leon sekali lagi masih menggantungkan tangannya di udara.
Dengan perlahan, Khansa menyerahkan kalung itu. Meletakkannya pada telapak tangan lebar milik Leon. Leon menatap benda di tangannya, lalu menatap Khansa dan Yenny bergantian.
"Jika kalian sama-sama merasa ini milik kalian, jawab pertanyaan saya dengan benar. Saya tidak akan mentolerir salah satu dari kalian jika terbukti berbohong dan mengaku-ngaku sebagai penyelamat saya!" Suara Leon yang dingin menelusup pendengaran mereka semua.
Yenny masih menampilkan muka percaya dirinya. Sedangkan Khansa menatap Leon dengan tajam. Orang-orang di sekitarnya juga turut merasa tegang. Seperti hendak melihat eksekusi hukuman mati.
"Di rumah sakit!" jawab Yenny dengan tegas sembari mendongak.
"Di sungai desa xx!" Khansa menjawab tanpa melepas pandangannya dari Leon.
Leon terdiam sejenak, kembali menatap batu giok di tangannya. "Next, berapa lama saya tidak sadarkan diri?" lanjut Leon melemparkan pertanyaan kedua.
"Tiga minggu!" jawab Yenny, karena ia selalu memantau Leon setiap harinya, sewaktu di rumah sakit. Namun tidak pernah tahu rekam medis Leon.
Leon beralih menatap Khansa, "Satu minggu!" ucap gadis itu. Yenny memicingkan mata, ia sangat yakin semua jawabannya yang benar. Sebelah bibirnya bahkan terangkat untuk mencibir Khansa.
"Di mana luka-luka saya pada waktu itu?" Leon kembali melemparkan pertanyaan.
"Di wajah dan kaki Anda, Tuan!" jawab Yenny cepat dan meyakinkan.
"Luka terparah Anda ada di kepala bagian belakang, alis hingga pelipis, tidak ada luka di bagian tubuh yang lain. Sepertinya Anda terbentur bebatuan saat hanyut di sungai. Saya memang tidak bisa menyembuhkan dengan total karena saya hanya menggunakan teknik pengobatan tradisional China, pijat tui na dan akupuntur. Namun setidaknya, bisa membuat Anda sadar." Khansa menjawab dengan santai namun runtut.
Emily baru saja selesai breafing. Karena ia ikut berpartisipasi mengisi sambutan sebagai aktris muda dan berbakat di Kota Palembang. Saat hendak duduk di kursinya, Emily melihat orang-orang berkerumun.
Gadis itu mencari-cari keberadaan Khansa. Tak ada satu pun orang yang berada di tempat duduknya. Ia pun bergegas mendekati kerumuman itu, khawatir jika Yenny membuat ulah dengan Khansa.
"Permisi! Permisi!" Emily menerobos, matanya menangkap hal yang tidak beres pada tiga orang yang berdiri saling menatap.
Emily membelalak, karena ini pertama kalinya Leon menampakkan diri di muka umum, lalu pandangannya beralih pada Yenny yang masih memasang wajah sombongnya.
"Sasa, ada apa?" tanya Emily dengan dada berdegub kencang.
Khansa menelan salivanya. Ia tidak menjawab pertanyaan Emily, hanya menatap ke arah tangan Leon yang masih menggenggam kalung berliontin giok itu.
Emily membelalak sembari menutup mulutnya, "Batu giok hijau? Itu yang pernah kamu ceritakan dulu bukan? Udah ketemu? Ketemu di mana?" cecar Emily kegirangan.
"Eh, jangan ngaku-ngaku, Emily. Itu milik Yenny tau. Tadi direnggut sama Khansa!" bela salah satu pendukung Yenny.
"Apa?!" pekik Emily melangkah panjang penuh emosi lalu menampar pipi Yenny sangat keras. "Ooh, jadi kamu pencuri batu giok itu?"
"Apa-apaan kamu?!" Yenny berteriak sembari memegang pipinya.
"Kamu yang apa-apaan! Dasar maling!" balas Emily menantang mendorong kedua bahu Yenny dengan keras. Yenny semakin mundur sedangkan Emily terus memajukan langkahnya.
Khansa tidak peduli, orang-orang di sekitarnya saling bergumam membela Yenny. Merasa jawaban Yenny lah yang paling tepat. Pandangan Khansa tak pernah lepas sedikit pun dari Leon.
Yenny dan Emily hampir saling serang sebelum Leon menghentikan pertikaian itu. "Cukup! Saya sudah tahu siapa pemilik batu giok pemberian saya!" ujar Leon bernada geram menahan gejolak amarah yang bergemuruh di dadanya.
Bersambung~
π : Bebskii,, aku masih nemu beberapa yg terkadang tnya, padahal di bab sblumnya udah ada. sekali lagi aku saranin ya. Baca bab-bab sebelumnya yg langsung terjun di akhir bab. takutnya ada sesuatu yang kalian lewatin. Bukan gimana2 sih cuma biar kalian gak bingung aja dan terus nyambung.
π€ : Kenape thor? Lagian jumlah babnya sama.
π : Beda ya sayang. Jumlah episode dengan jumlah bab. Kalau yang baca seluruhnya pasti tahu, aku nggak pernah bikin pengumuman di bab sendiri. Pasti aku sempilin di bab kok. Semua uneg2, keluh kesah atau alasan apa pun aku taruh di ujung bab. Mau dibaca apa enggak, gak masalah. Jadi murni seluruhnya jumlah bab novel tanpa kepotong pengumuman.
π€ : Kenapa? Bukannya menguntungkan thor, viewnya nambah dengan cuma2.
π: Aku nggak mau PHPin kalian seyeng, jadi meskipun lama banget updatenya atau ada something pasti aku sempilin di bawah pas up, pengumumannya. Karena apa? Takutnya kalian kecewa, udah nunggu lama ternyata bukan bab novel yang muncul tp cuma pengumuman.
π₯Ί: Semprul, awas lu yaπ!!! Gw cm gak mau ada yg bingung, dan ikut cenat cenut, Bambang!
Udah yaaa...... aku mau ngamen dulu jan ditagih lagi!
Mas Le : Njirr, ngapain ngamen thor?
π: Gw juga masih doyan duit kalee, Tong! Nulis kisah lu bikin senat senut π€£π€£