Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 7 : Sambutan Menyakitkan


"Kak Emily!" pekik gadis cantik yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Emily tersenyum canggung di tengah kepanikan yang melanda.


Adik Hansen satu-satunya itu segera berlari hendak menghambur menghampiri Emily yang baru saja keluar dari mobil. Namun tanpa diduga, Bara justru menyembunyikan tubuh Emily di belakang punggungnya. Langkah Jennifer tidak bisa dikendalikan, ia hanya membelalak kaget dan terbentur dada bidang Bara.


"Heh! Aku tuh mau peluk Kak Emily, bukan kamu!" maki Jen mundur beberapa langkah, menatap nyalang lelaki itu.


"Tidak bisa! Kamu terlalu bar-bar!" decih Bara melipat kedua lengannya.


Jen yang emosinya masih labil, mudah sekali tersulut emosi. Ia menarik kedua lengan kaos yang dikenakannya hingga ke atas bahu. "Berani kamu! Sini!" teriaknya mengeratkan giginya hingga bergemeletuk.


"Ayo! Siapa takut!" balas Bara melepas kancing jasnya.


Emily buru-buru menahan lengan Bara, menggelengkan kepala dengan tatapan memohon. Berharap agar asistennya itu tidak membuat keributan.


Artis cantik itu beralih pada Jennifer, mengurai senyum yang menawan di bibirnya. Jen berbinar dengan dada berdegub tak karuan. Tidak pernah menyangka, artis idolanya kini berdiri di depannya.


"Aaaa ... Kakak lebih cantik ternyata!" seru Jennifer dengan tatapan memuja, lalu menjulurkan tangannya, "Aku Jennifer, Kak. Adiknya Kak Han!" serunya memperkenalkan diri.


"Oh, hai Jen. Senang bisa bertemu denganmu," sahut Emily membalas jabat tangan Jennifer lalu mencium pipi kiri dan kanan gadis remaja itu.


"Aku lebih seneng tau, Kak! Karena aku ngefans banget sama kakak!"


Tidak terbayang betapa bahagianya gadis itu. Ia memekik kegirangan lalu memeluk Emily dengan erat. Bara mengembuskan napas kasar. "Beda banget sama abangnya! Lebay!" gerutunya menatap jengkel.


Baru mau mempersilakan masuk, Agnes sang calon mertua keluar dari rumah bersama dengan Alexa. Tatapan mereka berdua begitu sinis.


"Oh! Jadi ini artis yang kamu bangga-banggakan itu, Jen!" tutur Agnes melipat kedua lengannya di dada. Ia keluar ketika mendengar seruan anak perempuannya.


Mendengar nada tidak suka dari wanita paruh baya itu, kedua tangan Emily meremas gaun putihnya. Senyumnya memudar dan berganti dengan bibir bergetar. Dalam hati ia berharap agar Hansen datang secepatnya.


"Selamat malam, Tante," sapa Emily ramah sembari membungkukkan separuh badannya.


"Siapa orang tuamu?! Di mana kamu tinggal? Lalu apa pekerjaan orang tuamu?" cecar Agnes masih dengan nada ketusnya.


Jen yang merasa hawa tak mengenakkan kini menggenggam jemari calon kakak iparnya. Ia menatap ibunya dengan nyalang. "Bu, Kak Emily tamu. Harusnya diajak masuk terlebih dahulu. Kalau Kak Han tahu, habislah ibu!" seru Jen membela Emily.


"Tidak apa, Jen." Emily berusaha tenang meski dadanya teramat sesak. Ia mengusap lengan Jennifer yang mengeras karena menahan emosi. Kini pandangan Emily beralih ke depan. "Tante, perkenalkan. Saya Emily, putri dari Frans Kurniawan, salah satu pengusaha obat dan kosmetik di kota ini," jawabnya masih berusaha menenangkan diri.


Bara sudah menahan emosinya agar tidak meledak. Ia tidak terima bos kesayangannya itu dibentak-bentak dan sama sekali tidak dihargai seperti itu. Namun, satu tangan Emily kini meremas lengan Bara tanpa menoleh. Pria itu beralih menghubungi Hansen.


"Frans Kurniawan? Suami dari Monica Gill?" tanya Agnes.


"Benar, Tante," jawab Emily sopan sembari mengangguk.


"Setahuku, mereka tidak memiliki anak!" cetus Agnes membuat Emily semakin gemetar. Karena ia takut ini menjadi kelemahannya.


"Tante benar, beliau memang tidak memiliki keturunan. Saya adalah anak angkat yang ditolong beliau sewaktu mengalami kecelakaan," papar Emily dengan mata mulai berkaca-kaca.


Bara terkejut mendengarnya, ia bahkan tidak menyangka jika Emily adalah anak angkat. Karena keluarga itu tampak saling menyayangi dengan tulus.


"Hmmh! Anak nggak jelas. Tuh, Jen. Ibu sudah bilang sebelumnya. Calon menantu ibu harus jelas bibit, bebet dan bobotnya. Kau dengar sendiri, dia hanya anak angkat!" ucap Agnes dengan sarkastik.


Seketika dada Emily bergemuruh hebat. Mata indahnya mulai memerah dan muncul cairan bening yang siap jatuh menghujani pipinya.


"Setidaknya garis keturunan Alexa lebih jelas! Dia juga memiliki karir yang bagus. Lebih cocok bersanding dengan Hansen," tambahnya dengan sinis.


"Ibu, stop!"


Pekik Jennifer dan Bara bersamaan. Mereka saling melempar pandangan sejenak, lalu kembali menatap ke arah Agnes. Tatapan nyalang dilemparkan oleh Bara. Dadanya naik turun dengan cepat. Disaat seperti ini, jiwa lelakinya akan benar-benar muncul sepenuhnya. Menjadi garda terdepan melindungi Emily.


"Bar, kita pulang saja," gumam Emily dengan suara bergetar.


"Jangan, Kak. Kakak harus tunggu Kak Han sebentar lagi. Jangan dengerin omongan ibu, Kak. Kak Han akan selalu memperjuangkan kakak. Please, Kak. Tunggu sebentar," rengek Jennifer yang justru menangis melihat Emily diperlakukan seperti itu.


"Heh, Jen! Feeling ibu itu nggak pernah salah. Lagi pula, Alexa sangat berjasa bagi perusahaan ayah di Australia. Dia adalah calon menantu idaman semua orang!"


Alexa tersenyum miring mendapat pembelaan dari Agnes. Air mata Emily mulai berjatuhan tanpa diminta. Tubuhnya gemetar mendengar semua penuturan frontal ibu Hansen itu.


"Bu, yang mau menikah itu Kak Han. Bukan ibu. Biarkan Kak Han sendiri yang menentukan. Ibu sama sekali tidak berhak untuk mengatur hidup kakak!" pekik Jen meluapkan emosinya.


"Jen, sudah jangan bertengkar. Sayangi ibumu selagi masih ada. Kakak pamit ya." Emily berbisik di telinga Jen lalu beralih menatap Bara. "Ayo, Bar!" ajak Emily melepas cengkeraman tangan Jennifer yang masih menahannya di sana.


"Permisi, Tante."


Para pengawal segera menahan Jen yang masih menangis dan meronta karena tidak ingin Emily pergi. Sedangkan Emily sudah tidak tahan lagi. Hancur, sesak dan sakit dengan semua penghinaan yang baru saja diterimanya.


Emily memilih duduk di samping kemudi. Tidak mau menoleh sedikit pun karena pasti tidak akan tega dengan Jen yang masih menangis meronta menahan kepergiannya.


"Lepasin! Kak, jangan pergi dulu! Kak Han sudah perjalanan!" pekik Jen ditahan dua pengawal. "Kak Emily tunggu!" pekik Jen menangis histeris.


Bara segera melajukan mobil meninggalkan kediaman Mahendra dengan hati yang ikut teremas dan sesak. Kedua tangannya mencengkeram kuat setir kemudi. "Jika saja dia bukan wanita, sudah kurobek mulutnya dan kuberi stempel tangan pakai bogeman!" ujar Bara penuh emosi.


Pengawal segera melepas gadis itu dan segera menyusul mobil Emily. Jennifer berlari mengejar dengan kedua kakinya hingga mencapai pintu gerbang. Napasnya terengah-engah dengan mata yang bengkak karena tangis yang pecah.


"Kak Han!" pekiknya berjongkok di depan gerbang tinggi rumahnya. Ia kecewa karena kakaknya tidak pulang tepat waktu.


Emily menumpahkan semua tangis yang sedari tadi dibendungnya. Ia tidak menjawab perkataan Bara. Setiap kalimat yang terucap dari bibir Nyonya Mahendra terngiang-ngiang di telinga.


Cukup lama Jennifer tidak mau masuk ke rumah. Ia terduduk di tanah, menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepala. Mobil Hansen baru sampai dan berhenti saat menemukan sang adik meringkuk di tanah.


"Jen!" Mata Hansen membelalak lebar, ia segera turun dan berlari menghampiri adiknya.


"Jen, ada apa? Kenapa kamu menangis di sini? Mana Emily?!" tanya pria itu panik melongokkan kepala ke dalam. Ia tidak menemukan mobil milik Emily ataupun keluarga Frans.


Jennifer menaikkan pandangannya. Melihat adiknya sesenggukan, Hansen semakin panik. Dia menyeka air mata adiknya itu. "Kenapa kakak baru pulang, hah?! Apa kakak tahu apa yang dilakukan ibu pada Kak Emily? Ibu menghinanya, mencacinya dan membandingkan dengan Alexa. Kenapa kakak nggak datang tepat waktu! Kak Emily pasti sakit banget, Kak!" teriak Jennifer berlinang air mata sembari memukul-mukul dada Hansen.


Pria itu tersentak, "Kakak terjebak macet. Emily di mana sekarang?"


"Tentu saja pulang! Aku sudah menahannya tapi ibu semakin menyakitinya!" seru Jen.


Hansen segera berdiri, mengusir sopirnya dan hendak melajukan mobilnya. Buru-buru Jennifer berdiri dan masuk ke mobil. "Aku ikut!" ucap perempuan itu menoleh pada sang kakak.


"Pakai sabuk pengamannya!" titah Hansen. Kekhawatirannya membuncah, ia segera menginjak pedal gas kuat-kuat. Melajukan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Bersambung~



Cantiik... Keep strong, Baby!!!