Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 203. Aku akan Bertanggungjawab


Leon baru saja menjajakkan kedua kakinya di pelataran kediaman Isvara. Ia segera masuk setelah pintu dibukakan oleh pengawal yang berjaga di pintu utama. Raut wajahnya dingin dan tak terbaca. Saat melalui ruang tamu, matanya memicing menemukan sang ayah mertua yang sedang termenung.


"Ayah, sudah pulang?" sapa Leon.


Fauzan mengangkat kepalanya. "Iya," sahutnya.


Dua pria itu saling berjabat tangan, kemudian Leon beralih mencari keberadaan istrinya tanpa berbincang lebih banyak lagi. Meninggalkan Fauzan yang menatapnya redup meski menyunggingkan senyuman.


"Sayang!" bisik Leon melingkarkan lengannya pada perut ramping Khansa.


Perempuan itu terjingkat, hampir saja jus yang tengah dituangkannya tumpah karena gerakan refleksnya. Belum sempat mengomel, Leon bergerak cepat mencium pipi dan bibir istrinya sekilas.


"Astaga! Leon!" pekiknya menepuk dada Leon sembari mendelik. "Kebiasaan!" gumamnya menggeram pelan.


Semburat merah kini menguar di wajah cantiknya. Ia kesal karena suaminya tidak melihat situasi dan kondisi untuk bermesraan. Khansa melirik sekilas pada Jihan yang tertunduk dalam, tidak berani mengangkat pandangan.


Berbanding terbalik dengan Leon yang nampak tak acuh dan tidak peduli dengan sekitarnya. Otaknya hanya dipenuhi Khansa, Khansa dan Khansa. Semua yang ada pada sang istri sangat menggoda di matanya, seolah magnet yang selalu menarik dirinya agar terus menempel pada wanita tersebut.


"Cantik! Nggak ada obat!" ucap Leon menyelipkan rambut ke belakang telinga Khansa. Tatapannya dalam dipenuhi asmara yang tak pernah padam.


Khansa mengernyit, heran dengan sikap suaminya yang aneh itu. "Cuci muka dulu sana. Sepertinya kesambet di jalan nih. Aku siapin makanan buat kamu!" Khansa mendorong tubuh kekar lelaki itu dengan pelan, namun Leon masih bergeming sama sekali tidak bergerak.


Leon menyergap pinggang Khansa, melenggang sembari menariknya kuat hingga jalan Khansa tertatih. Hendak mengelak dan melepas, namun kekuatannya kalah jauh dengan Leon. Pria itu bergeming dengan rahang mengeras. Sorot mata tajamnya lurus ke depan. Khansa berdegub hebat saat melihat perubahan mimik muka Leon. Ketakutan kini menyergapnya.


Pria itu membawanya masuk ke toilet tak jauh dari dapur, pintu segera dikunci. Khansa membeku saat Leon mengungkungnya pada dinding. Matanya mengerjap dengan cepat, derap jantungnya berlarian marathon saat Leon semakin menghimpitnya.


"Le ... Leon?" panggilnya gugup. Tenggorokannya kering kerontang. Jemari lentiknya terangkat dan menahan dada Leon.


Dengan tergesa, Leon segera menyibak kain tipis penghalang wajah Khansa. Lalu membenamkan bibirnya pada belahan bibir Khansa yang sedikit terbuka. Memagutnya lembut, menyesap manis dan lembutnya milik wanita itu bergantian. Khansa membeku di tempat karena diserang secara mendadak, kedua mata yang membelalak lebar.


Lama kelamaan, ciuman itu semakin menggebu. Leon tidak memberikan kesempatan pada Khansa untuk meraup oksigen dengan normal. Semakin lama ciuman itu semakin memanas, Leon melahap habis bibir wanita itu hingga sedikit membengkak. Khansa sampai gelagapan mengimbanginya. Kerinduan yang membuncah dalam dadanya tak mampu dibendung lagi.


Sementara itu, di luar ruangan....


Seorang maid mengantarkan tamu yang ingin bertemu dengan Leon menuju ruang makan. Karena setahunya tadi, Leon dan Khansa berada di sana. Namun ternyata hanya ada Jihan seorang yang mengaduk-aduk makanan dengan pandangan kosong.


"Maaf, Nona Jihan. Tuan Leon ke mana ya?" tanya pelayan tersebut menyadarkan lamunan Jihan.


Jihan mengangkat pandangan dan sudah membuka mulut untuk bersuara. Namun tertahan saat mata sayunya bersirobok dengan tatapan elang Tiger.


Segera perempuan itu berdiri dengan cepat hingga kursi kayu yang didudukinya jatuh ke belakang. Kepanikan kini melandanya, sekujur tubuhnya mulai gemetar dengan keringat dingin yang bermunculan di keningnya. Sekelebat kebringasan dan kekerasan yang dilakukan Tiger kembali terngiang di kepalanya. Matanya berkabut, berlapis cairan bening yang memperkeruh pandangannya.


"Pergi! Pergi!" gumamnya pelan tak melepas tautan mata Tiger. Ia meraih apapun yang ada di meja, melemparkannya ke arah Tiger. Tidak pernah tepat sasaran karena tangannya bergetar hebat. "Pergi dari sini!" pekiknya ketakutan meremas kepalanya.


Mendengar pecahan barang-barang, Leon dan Khansa tercengang. Mereka segera mengakhiri sesi ciuman panas yang sangat singkat namun membangkitkan gairah keduanya.


"Ada apa?" tanya Khansa dengan deru napas yang berantakan, saling menatap dengan Leon.


Leon hanya mengedikkan bahu, lalu kembali memasangkan cadar dengan rapi, menggenggam jemari Khansa dan melenggang keluar dari toilet.


"Jihan!" seru Khansa melepas tautan tangan Leon, kemudian berlari menangkap tubuh Jihan yang terhuyung karena tubuhnya melemah. Khansa segera membawa Jihan menjauh dari sana. Mendudukkannya di sofa ruang tengah dan mengambilkannya minum.


"Tenanglah, Ji. Dia nggak akan bisa menyakitimu lagi," ucap Khansa mengusap bahu Jihan yang masih bergetar hebat. Air matanya masih mengalir deras membasahi kedua pipinya.


Leon berdiri tegap, sorot matanya menantang dan berapi-api. Tiger menekan keras egonya, mengingat selama 34 tahun hidupnya bergantung pada Keluarga Sebastian, dan selama itu pula ia belum pernah memberiksn apapun untuk membalasnya.


Rasa bersalah juga bergelayut di hatinya, terus membayangi dirinya sepanjang hari karena selama ini ia selalu berbuat kejam kepada Leon.


"Leon. Aku akan bertanggung jawab!" ucapnya mantap dan lugas.


Meski dalam hatinya meragukan janin itu benar darah dagingnya atau bukan. Tujuan utamanya saat ini adalah mendapatkan maaf dari Leon. Hidupnya tidak akan pernah tenang selama Leon masih mengibarkan bendera perang.


"Bawa ayahmu ke sini untuk melamarnya!" tandas Leon masih dengan tatapan yang sama.


"Mmm ... baik!" jawabnya singkat. Walaupun dia tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada ayah angkatnya itu. Sampai detik ini, mereka bahkan masih tidak saling berbicara. Tiger memejamkan mata dengan kuat. Mengembuskan napas berat, membuang rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Leon, sekali lagi aku minta maaf. Bisakah kita mengadakan konferensi pers? Aku ingin membersihkan namamu. Dan aku juga akan mengembalikan semua aset yang pernah aku ambil," tutur Tiger menatap sendu.


"Tidak perlu. Aku mau berangkat ke luar negeri. Ingat, aku selalu memantau. Jangan pernah mencoba lari dari tanggung jawab. Karena dimanapun kamu bersembunyi, aku tetap bisa menemukanmu! Satu lagi! Kamu harus bisa menghilangkan trauma pada Jihan akibat perbuatanmu!" tandas Leon dengan tegas.


Tiger mengangguk, dia tahu bagaimana hebatnya Leon dan para bawahannya dalam hal retas meretas. Hilang sudah keangkuhan dan kesombongannya selama ini. Yang tersisa hanya rasa malu, sungkan dan ingin balas budi. Meskipun tidak akan pernah bisa terbalas, sekalipun menggadaikan nyawanya.


Leon melenggang pergi meninggalkan Tiger yang masih mematung, bahu kokohnya sengaja bersinggungan cukup keras dengan bahu Tiger hingga pria itu tergeser. Tatapan kebencian Leon masih tertangkap jelas.


Khansa terpaksa membuat Jihan tertidur, agar bisa lebih tenang. Ia meluruskan kaki Jihan di atas sofa, mengambilkan selimut dan menutupinya. Leon datang menghampiri, langsung menangkap kedua bahu Khansa dari belakang.


"Mana Tigernya?" tanya Khansa memutar badan namun tidak menemukan siapa pun.


"Sudah pulang," jawabnya singkat.


"Hah? Terus gimana?" Keduanya saling berhadapan.


"Tenang aja, Tiger mau bertanggung jawab. Aku juga memintanya agar mendekati Jihan perlahan sampai traumanya hilang," jelas Leon melingkarkan lengan di bahu Khansa.


Mereka melangkah perlahan, Khansa terdiam sejenak. Ia nampak sedang berpikir keras. "Tunggu! Kenapa Tiger bisa semudah itu melakukan semua yang kamu minta?" Khansa berhenti menatap wajah suaminya.


Leon mengedikkan bahu. "Mungkin menebus rasa bersalahnya. Ayo pulang," ajaknya.


"Sebentar, aku mau lihat keadaan Bibi Fida," ucap Khansa melepaskan diri lalu berlari kecil menuju kamar Bibi Fida.


"Bibi! Gimana kabarnya?" tanya Khansa setelah mengetuk dan membuka pintu.


"Non Sasa?!" pekiknya segera memeluk erat wanita itu. "Non sabar ya? Semoga lekas mendapat momongan lagi," ujarnya menepuk-nepuk punggung Khansa.


Kabar keguguran Khansa sudah menyebar di seluruh penjuru rumah. Mereka turut berduka dengan apa yang dialami Khansa, namun tidak berani mengucapkan karena takut akan menyakitinya lagi.


"Iya, Bi, semoga! Sasa sekalian pamit, mungkin akan lama enggak ke sini. Bibi jaga kesehatan ya? Obatnya harus rutin diminum!" tutur Khansa meregangkan pelukannya.


"Non Sasa mau ke mana?" tanya Bibi Fida bernada khawatir.


Khansa menceritakan semua angan dan citanya, membuka lembaran baru di negeri tetangga. Ia juga menceritakan nasib kelam Jihan dan meminta agar membantu mengawasinya.


Meski berat ditinggal Khansa, namun Bibi Fida mensupport apapun yang bisa membuatnya nyaman dan mendoakan kebahagiaannya. Perpisahan itupun diwarnai dengan isak tangis. Leon bersandar pada pintu, menatap reaksi dua wanita beda generasi itu.


Setelah dirasa cukup, Khansa pun bergegas pergi. Saat baru di depan pintu, ia melihat Fauzan berdiri di hadapannya dengan tatapan kompleks.


"Ayah," ucap Khansa, dua pasang mata mereka saling bertumbukan.


Fauzan terdiam, tenggorokannya tercekat, ia lalu bergerak cepat menarik putrinya ke dalam dekapan erat. Khansa tersenyum, membalas pelukan hangat yang puluhan tahun tidak pernah ia rasakan.


"Kamu mau pergi?" Suara Fauzan terdengar bergelombang.


"Iya, Yah."


"Kamu marah sama ayah? Sehingga harus pergi sejauh itu?" Dada Fauzan terasa begitu sesak. Ia mengeratkan pelukannya.


"Tidak, Yah. Sasa mau kuliah, dan suami Sasa juga ingin mengembangkan usaha di sana. Doakan Sasa bisa sukses. Ayah jaga diri baik-baik. Tolong jangan sakiti Jihan, Yah. Biarkan dia tenang tinggal di sini."


Fauzan tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Ia semakin terisak dan hanya mengangguk saja. Ia bahagia karena akhirnya Khansa mendapat kebahagiaan yang tidak pernah ia berikan. Dan itu semakin membuatnya terperosok dalam kubangan penyesalan.


Bersambung~



hmmmmmm 🙄🙄



Lagi mode kalem mas......