Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 82. Oleh-oleh


Flashback~


Ketika sebuah tangan lebar membekap hidungnya, Khansa menyikut tepat di tulang rusuk pria di belakangnya dengan sangat keras, juga menendang lututnya setelah menusukkan sebuah jarum perak di sana. Pria itu meringis kesakitan, merasakan ngilu yang berpusat pada tulang rusuknya. Terdengar suara gemeletuk tulang, kemungkinan sedikit retak atau bahkan patah karena Khansa mengerahkan seluruh tenaganya.


Pria berpakaian hitam itu terjengkang sembari memegangi dadanya. Tidak menyangka akan mendapat perlawanan. Tiba-tiba ia juga merasa kaki sebelahnya mati rasa.


Pandangan Khansa semakin menajam. Napasnya menderu, meski kepalanya mulai merasa pusing namun ia terus berusaha menarik kesadarannya. Pria satunya dengan gesit mengeluarkan senjata tajam. Sebilah pisau kini diacungkan pada Khansa.


Gadis itu melirik sekelilingnya, memantau sekitar lalu berlari ke sebuah sudut. Pria yang membawa pisau mengira Khansa takut karena ia membawa senjata tajam. Namun, tanpa disangka, satu kaki Khansa memanjat dinding lalu tubuhnya berputar dan menendang pria yang menertawakannya sedari tadi.


Pria itu terjatuh, pisaunya terlempar jauh dari jangkauannya, dengan cepat Khansa menekan leher pria itu dengan sikunya.


“Kamu pikir aku takut? Kamu salah cari korban, aku berlari ke sini karena sudut ini tidak tertangkap CCTV. Jadi, lebih mudah untuk menghabisimu!” ucap Khansa dengan dingin semakin menekan lehernya.


Penjahat itu merasa hampir kehabisan napas, Khansa melirik rekannya yang masih meringis kesakitan. Kedua tangan berusaha menyingkirkan lengan Khansa dari lehernya, kedua kakinya terus bergerak hingga ia bisa terlepas dan berdiri kembali. Khansa sempat terjengkang, namun dengan cepat ia menendang tulang kering pria itu, hingga terjatuh kembali ke lantai.


“Aaaarrgh!” pekiknya kesakitan.


Khansa beralih ke belakang tubuh pria itu, lalu mematahkan lehernya. Kemudian menusukkan sebuah jarum perak di leher, hingga pria itu terkapar tak berdaya. Khansa memeriksa setiap sakunya, lalu mengambil sebuah ponsel untuk menggali informasi lagi. Kini ia beralih pada pria satunya. Ia sudah ketakutan karena melihat temannya bahkan dikalahkan oleh Khansa.


Khansa berjongkok, menekan dada yang sakit pri berbaju hitam itu dengan kelima jarinya, “Katakan! Siapa yang nyuruh kalian?” tanya Khansa dengan cepat.


“Aaaa ….” Pria itu meringis kesakitan, ditambah tatapan dingin Khansa semakin membuatnya tak berkutik.


“Ayo bilang! Apa rencana kalian?” cecar Khansa sekali lagi.


Penjahat itu pun mengatakan semuanya dengan terbata-bata. Tentang rencana penculikan juga rencana untuk berbuat tidak senonoh pada Khansa.


Khansa memejamkan matanya sejenak, mengatur napasnya yang menderu setelah mendengar semua kelicikan Maharani. Ia membantu pria itu berdiri dan mendudukkannya di kursi roda.


“Ikuti perintahku jika kau ingin selamat, atau kau akan berakhir tragis seperti temanmu itu!” bisik Khansa penuh penekanan di telinga pria itu.


“I … iya,” jawabnya terbata-bata.


Khansa menatap lurus ke depan, ia mendorong pria itu masuk ke dalam lift. Tidak ada yang mencurigainya hingga mereka menaiki sebuah taksi dan berhenti di salah satu bar tak jauh dari rumah sakit itu.


Khansa memesan satu wanita malam, meski belum terlalu larut tapi kebetulan sudah ada yang buka. Setelah menunggu selama hampir satu jam, wanita itu keluar meninggalkan pria yang masih mati rasa di sebelah kakinya.


Khansa melenggang masuk, “Mana?” pintanya menyodorkan tangan.


Dengan perlahan, pria itu menyerahkan ponselnya yang berisi foto-foto tak senonoh itu. Khansa tersenyum puas. Ia menepuk pipi pria itu, “Bagus, terima kasih kerja samanya!” Lalu meninggalkan sebuah bogem di pipi pria itu.


Setelahnya ia melenggang pergi dengan segera, karena tiga puluh menit lagi pesawat yang sempat ia booking akan segera lepas landas. Khansa memilih menyusul sahabatnya ke Bali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Begitu. Terus pas aku mendarat di sini sebelum kamu jemput, aku kirim foto itu ke nomornya Maharani. Abis itu aku buang kedua ponselnya,” ucap Khansa menutup ceritanya.


Emily terperangah, ia berdecak kagum sembari menggelengkan kepalanya. “Gila, sahabat aku keren banget!” puji Emily menangkup kedua pipi Khansa. “Pantesan nggak mau Leon turun tangan, pasti nggak bisa ngerasain sensasi yang seru seperti itu kan ya?” sambung Emily sembari tertawa yang dibalas dengan tawa Khansa juga.


“Udah yuk tidur. Besok temenin cari hadiah buat Leon dan nenek ya,” ucap Khansa bersiap untuk tidur.


“Siap 86!” tegas Emily dengan ceria lalu menyusul Khansa merebahkan tubuhnya. Keduanya terlelap begitu cepat, karena sudah menghabiskan waktu seharian penuh untuk berlibur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, mereka sudah berada di supermall tak jauh dari tempat tinggal mereka. Emily tampak heboh sekali, karena memang ia sangat menyukai kegiatan berbelanja.


Tidak dengan Khansa yang bingung mau membelikan apa untuk suaminya itu. Barang-barang mewah, sudah pasti ia punya semuanya. Sedari tadi matanya mengeliling namun masih tidak menemukan hadiah yang cocok.


“Iya, angkut!” balas Khansa setuju.


Tak hanya itu, mereka juga membeli banyak aksesoris couple. Ada tas branded, sepatu, sandal semuanya dibayar oleh Emily. Meskipun Khansa menolak, namun Emily terus memaksa.


“Terus kamu beliin apa buat Leon?” tanya Emily, Khansa menggaruk kepalanya.


“Bingung mau beliin apa. Dia udah punya segalanya,” ucap Khansa menghela napas panjang.


Emily membantu memikirkannya. “Emmm ... menurutku nih ya, meskipun udah punya segalanya tapi kalau kamu yang beliin pasti spesial deh, Sa. Udah cari aja jam tangan kek, atau dasi, atau sepatu, eh jangan kalau sepatu kemahalan,” tutur Emily menyebutkan semua sarannya.


“Aiiihh kau ini,” cebik Khansa.


Setelah berkeliling, kini Khansa menjatuhkan pilihannya pada sebuah jam tangan mewah. Emily pun iseng bertanya. “Kenapa pilih jam akhirnya?”


“Mmm ... biar dia inget aku setiap waktu,” celetuk Khansa.


“Ciiyeee! Uhuukk! Tiba-tiba keselek biji kedondong nih!” kelakar Emily tertawa. Khansa tak peduli, ia melanjutkan transaksi setelah hadiahnya dibungkus dengan rapi.


“Terus mau beli apa lagi?” tanya Emily berjalan santai di samping Khansa. Sedang semua belanjaannya tadi sudah dibawakan oleh asistennya.


Khansa diam sejenak, ia mengedarkan pandangan sampai pada akhirnya tersenyum saat menemukan stand makanan.


“Ke sana! Aku mau beli kue untuk nenek,” tunjuk Khansa berbinar. Khansa tahu Nenek Sebastian sangat menyukai aneka kue.


Khansa mengambil banyak pie susu, pia dan berbagai makanan khas bali lainnya. Selain itu, Khansa juga membelikan kain blanket, tenun khas bali.


Seharian penuh mereka mengitari mall. Mereka beristirahat di foodcourt karena sudah masuk waktu makan siang.


“Huuhh, capek banget ya. Nggak kerasa udah siang gini,” ucap Emily di sela makannya.


“Huum,” balas Khansa masih menikmati makan. “Kalau nggak capek, aku pulang entar malem aja ya,” sambungnya setelah menelan makanan.


“Jangan! Besok pagi ajalah. Aku besok baru ada kerjaan. Aku masih kangen tau! Eh apa kamu udah kangen sama Leon nih?” goda Emily mengangkat telunjuknya mengarah tepat pada wajah Khansa.


“BLUSH!”


Khansa terdiam, wajahnya memanas terus digoda Emily seperti itu. “Iihh enggak. Yaudah aku balik besok deh,” sahutnya tanpa berani menatap Emily. Ia takut akan semakin digoda wanita itu saat mengetahui eskpresinya saat ini.


Usai makan mereka pun bergegas kembali ke villa resort. Mereka memutuskan beristirahat menghilangkan penat yang mendera.


“Sasa! Sini deh!” panggil Emily melambaikan tangannya sembari menatap ponsel.


Khansa yang sedang packing oleh-olehnya pun mendongak. Ia beranjak menghampiri Emily yang sedang rebahan di ranjang.


“Ada apa, Emily?” tanya Khansa duduk di tepi ranjang.


“Kabar terbaru Maharani dan ayahmu,” jawab Emily mendudukkan tubuhnya.


Bersambung~