
Tubuh Khansa menegang saat melihat Leon yang serius mengecek botol-botol kosong tersebut. Ia tidak sabar, kekhawatiran mulai membuncah dari hatinya.
"Leon, gimana?" ulang Khansa lagi menyentuh lengan pria itu.
"Emm ... ini harus ditanyakan sama ahlinya. Ini bukan ranahku," aku Leon menatap Khansa.
"Haiihh kenapa pula mukamu seserius itu kalau akhirnya nggak tahu juga!" cebik Khansa kesal. Ia meninggalkan Leon untuk membereskan sampah-sampah yang berserakan di lantai akibat ulahnya sendiri.
Leon hanya terkekeh melihat Khansa yang cemberut seperti itu. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tepat bersamaan dengan ponsel Khansa yang berdering.
Khansa mendongak menatap suaminya, "Leon, kamu mengerjaiku ya?" tanya Khansa yang menaruh curiga. Karena sepertinya mengerjai Khansa mulai menjadi candu baginya.
"Ngerjain apa?" elak Leon menaikkan sebelah alisnya, satu tangannya menempelkan benda pipih di telinganya.
"Kamu sengaja 'kan nelepon ke nomorku?" tuduh Khansa melirik dengan tajam.
"Nethink aja terus. Nih, aku lagi nelepon Hansen, Sasa!" Leon menarik ujung hidung Khansa, satu tangannya menunjukkan layar ponselnya.
Khansa mendelik, 'Kalau bukan Leon lalu siapa?' gumamnya segera beranjak. Takut ada hal penting.
Pasangan suami istri itu saling mengobrol dengan masing-masing penelepon. Jarak mereka cukup jauh agar tidak mengganggu satu sama lain.
"Huft! Semoga perkiraanku salah," gumam Khansa duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan sang kakek, usai dengan teleponnya.
Leon yang juga selesai dengan teleponnya, menghampiri Khansa. Merengkuh bahu wanita itu, sembari menopangkan dagu di pucuk kepalanya. "Aku akan usahakan yang terbaik," janjinya pada Khansa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah jalan tol yang cukup sepi, mobil yang dikendarai Emily tiba-tiba mogok. Ia segera keluar dan membuka kap mobil. Asap pekat mengepul ke udara, Emily mengernyit sembari mengayunkan tangannya.
"Kenapa pake acara mogok? Mana sepi banget," gerutu Emily mengedarkan pandangannya.
Ia pun segera menghubungi papanya untuk mengirim bengkel langganannya ke sana. Karena Emily lama tinggal di Bali, ia tidak punya kontak bengkel mobil. Sambil menunggu, Emily berdiri menyandarkan punggungnya di badan mobil. Jemarinya sibuk menggulir layar ponselnya.
Sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Namun tiba-tiba mobil itu berhenti dan berjalan mundur sampai jaraknya semakin dekat dengan Emily.
Emily melirik, ia pun sudah memasang badan karena waspada. Matanya menangkap seorang pria yang keluar dari mobil tersebut. Dan saat berbalik, membuat Emily terkejut.
"Emily, ngapain malam-malam di sini?" tanya Hansen saat sudah berdiri di hadapan gadis itu.
'Tenang Emily, tenang. Jangan GR dulu,' ucapnya dalam hati.
"Eummm ... ini, mogok," ucapnya menunjuk mobil. "Tapi sudah panggil bengkel. Bentar lagi sampai sih," lanjutnya.
Hansen turut bersandar di sebelah Emily. "Kamu mau ke mana malam-malam? Sendirian pula," ucap Hansen menundukkan pandangan, melirik gadis itu.
"Mau ke rumah Sasa," sahutnya tanpa menoleh. Tidak nyaman rasanya berada di dekat pria itu, sudah dipastikan wajahnya memerah saat ini. Debaran jantungnya juga mulai bergejolak. Pandangannya masih tertuju pada ponselnya.
"Oh, kebetulan aku juga mau ke sana. Ayo berangkat bareng saja," tawarnya saat petugas mekanik sudah sampai di sana dan langsung mengeksekusi mobil Emily.
"Eh, eng ... enggak usah deh. Bentar lagi juga udah jadi," tolak Emily. "Berapa lama nih, Bang?" tanyanya menoleh pada orang bengkel itu.
"Maaf, Nona. Sepertinya ini memakan waktu cukup lama. Sekitar 4-5 jam," sahut pria berseragam hitam itu setelah memeriksanya.
Emily menggaruk kepalanya, "Waduh!"
Tanpa aba-aba, Hansen menarik lengan Emily dan mengajaknya ke mobil. "Udah, ayo! Tinggalin aja!" ucapnya tanpa menoleh.
Hansen membukakan pintu penumpang, tidak ada pilihan lagi Emily pun menurut. Ia tidak mau menunggu terlalu lama. Di sepanjang jalan, Emily menatap ke luar jendela. Hansen yang memang irit berbicara pun hanya diam saja. Kesunyian melanda mobil mewah itu.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di kediaman Khansa. Kebetulan Khansa sedang membantu menyiapkan makan malam. Mendengar bel berbunyi, Khansa segera bergegas membukanya. Ia yakin itu adalah Emily.
"Biar aku aja, Bi. Pasti Emily," ucap Khansa bersemangat.
Mendengar nama Emily, merusak mood Leon seketika. Entah kenapa kesal sekali rasanya jika dua perempuan itu bertemu. Ia mengganti-ganti channel televisi yang sama sekali tidak ditonton.
Tak berselang lama, Hansen juga sudah sampai di ambang pintu. Khansa melepas pelukannya. "Loh, kalian barengan?" tanya Khansa melongokkan kepala ke pelataran dan hanya menemukan satu mobil.
"Kalian sudah ...."
"Iih enggak! Kami nggak sengaja ketemu di jalan tol. Mobilku mogok, kata bengkelnya 4-5 jam baru jadi. Kebetulan Tuan Hansen mau ke sini. Jadi diajakin bareng," jelas Emily dengan cepat memotong ucapan Khansa.
"Kak Leon memintaku datang." Hansen menjawab.
"Ooo. Yaudah, ayo masuk. Kita makan malam dulu. Mari masuk Tuan Hansen," ajak Khansa menarik lengan Emily.
Hansen tidak berucap apa pun. Ia melangkah pelan mengekor di belakang dua perempuan itu. Khansa langsung mengajak mereka makan malam.
"Leon! Tuan Hansen sudah datang! Ayo makan malam dulu!" teriak Khansa.
"Oh, iya!" sahut Leon beranjak dari duduknya.
Leon segera bergabung dengan mereka. Seperti biasa, Khansa dan Emily selalu heboh dan asyik sendiri ketika bertemu. Sampai-sampai mengabaikan para pria yang duduk berseberangan dengan mereka.
"Eh, gimana ekspresi Fauzan? Pasti lucu banget deh. Sayang banget aku nggak lihat," gumam Emily berbisik di telinga Khansa sambil cekikikan.
"Ya gitu deh," jawab Khansa tersenyum sembari menyiapkan makanan untuk Leon dan menyerahkannya. Pria itu enggan melepaskan tangan Khansa, bibir tipisnya mengerut dengan tatapan jengkel.
"Sa! Sa! Aku denger, Jihan sudah pindahin ibunya ke rumah sakit lain. Tapi belum tahu ke mana," ucap Emily lalu meneguk teh hangat dengan kedua tangannya. Hansen tak memindahkan pandangannya dari Emily sedari tadi.
Khansa menatap Leon, menaikkan kedua alisnya. "Leon lepasin dong. Aku juga mau makan," ucap Khansa setelah sekian lama Leon masih tidak melepaskannya.
Emily hampir tersedak, "Astaga!" ucapnya menepuk dahinya sembari menggeleng.
Leon pun melepaskan tangan Khansa, gadis itu segera duduk dan kembali melanjutkan perbincangan. "Terus, Fauzan ke mana dong?"
"Kok kamu masih peduliin dia sih? Waktu kamu dibuang ke desa aja, dia sama sekali nggak peduliin kamu!" geram Emily mulai emosi sembari menggebrak meja.
Kedua pria itu menatap Emily. Ia segera menutup mulutnya yang kelepasan bicara dengan nada tinggi. Biasanya tidak apa jika hanya ada Khansa. Dia bahkan lupa jika sedang bersama dua tuan muda di kota ini. "Maaf!" ucapnya menunduk lalu melanjutkan makannya dalam diam.
Usai makan malam, Leon mengajak Hansen ke kamar kakek. Dia menunjukkan hasil penemuannya juga Khansa. Hansen adalah pengusaha bahan kimia yang mensupply pembuatan obat-obatan.
"Aku dan Khansa menemukan itu, mungkin kebetulan pelayan belum membuangnya. Kami menduga, ada sabotase pengobatan kakek selama ini. Sudah sepuluh tahun, kakek masih koma dan tidak ada perkembangan sama sekali," papar Leon berjalan pelan menatap pria tua yang terbaring di atas ranjang.
Leon tidak menceritakan kronologinya. Ia tidak ingin melibatkan banyak orang yang pada akhirnya akan membahayakan nyawa mereka juga. Karenanya, Leon menutup mulut awal kejadian yang menimpa sang kakek.
Hansen membuka segel botol itu, meletakkan tepat pada hidung mancungnya dan menghirup selama beberapa saat. Keningnya mengernyit dengan mata terpejam.
"Ini harus aku selidiki ke laboratorium dulu. Bisa jadi isinya tidak sama dengan labelnya," sahut Hansen.
"Ya, bawalah. Aku tunggu hasilnya," sahut Leon.
Sementara itu, Emily dan Khansa sedang bersenda gurau di kamar. Dua perempuan itu merebahkan diri di ranjang Khansa yang tidak pernah berubah. Mereka bernostalgia sewaktu masa kecil. Banyak hal yang mereka kenang. Tawa, sedih, kecewa, semua mereka ceritakan.
"Emily, apa kamu menyukai Hansen?" tanya Khansa setelah mereka terdiam beberapa saat. Emily menoleh, keduanya saling bersitatap.
Bersambung~
🤨 Kenape, Dul? Kusut amat tu muka.
MasLe: Jangan ada dusta di antara kita, Thor!
🙄 Maksud lu apa, Bambang?
MasLe: Jan hadirin orang ketiga gini dong. Sad banget nasib gw.
😒 Njirr.. Emily sahabatnya, Bambang! bukan orang ketiga. Gw slepet nih!