
Leon terdiam sejenak, menatap sepasang manik Khansa bergantian, "Boleh makan dulu nggak?" ucapnya melebarkan senyum.
Napas berat diembuskan oleh wanita itu. Dia sudah serius menyimak bahkan menahan napasnya untuk mendengar penjelasan Leon, namun harus ditunda terlebih dahulu. "Oke," sahut Khansa singkat.
Setelah menunggu beberapa saat, semua makanan telah tersaji. Leon melahapnya satu per satu. Mereka makan dalam diam, sesekali terdengar denting sendok yang bertabrakan dengan piring.
Khansa selesai lebih dulu, ia memperhatikan suaminya yang masih makan dengan tenang. Duduknya tegap tanpa melihat sekelilingnya. Pandangannya menunduk, fokus dengan makanannya saja.
Merasa diperhatikan, Leon mendongak. Matanya bertemu dengan wajah cantik istrinya yang masih menatapnya penuh cinta. Ia tersenyum sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya.
Usai mengisi perutnya dengan makanan, Leon bersandar menyulut rokoknya. Khansa masih tidak mengeluarkan suara apa pun. Dia menunggu sampai Leon berbicara terlebih dahulu.
"Sudah jam setengah 4. Kita pulang dulu aja, keburu pagi nanti nenek curiga," ucap Leon menatap jam di lengannya.
Khansa cemberut, ia berdecak kesal. "Padahal nungguin dari tadi juga!" cebiknya bergerak dengan malas.
"Lebih enak di kamar, Sayang. Nggak ada yang dengar. Ayolah!" Leon beranjak berdiri, namun tiba-tiba tersentak saat tidak menemukan dompet di manapun.
"Kenapa?" tanya Khansa khawatir.
"Enggak bawa dompet!" gumam Leon membelalak.
Terlalu fokus membawa senjata, ia sampai lupa membawa dompet. Khansa ikut tercengang, matanya membelalak. Ia sendiri tidak membawa apa-apa saat ini.
"Terus gimana?" tanya Khansa khawatir.
Leon berjalan keluar mengambil helm Khansa dan meletakkannya di kasir. Kebanyakan pelayannya para remaja laki-laki. "Dompet kami ketinggalan, ini saya tinggal sebagai jaminan. Besok saya ke sini lagi," tegas Leon pada petugas kasir.
Laki-laki berseragam cokelat itu mengelak, "Maaf, Tuan. Kami tidak menerima pembayaran dalam bentuk barang."
"Brak!"
Leon menggebrak meja kasir itu hingga membuat mereka terkejut, Khansa menggenggam tangan Leon semakin erat. "Helm ini bahkan bisa membayar gaji kamu satu tahun!" ungkapnya bernada dingin dan menatap tajam.
"Maaf ya, Mas. Kami buru-buru. Saudara saya masuk rumah sakit. Besok kami akan membayarnya. Ini pegang dulu, jangan sampai lecet ya, Mas. Nanti suami saya bisa murka," ujar Khansa menepuk-nepuk lengan Leon lalu mendorongnya keluar.
Para pelayan itu tak berkutik. Mereka terdiam tidak berani menyanggah lagi. Hanya matanya yang bergerak mengikuti langkah kaki dua pasangan suami istri itu.
"Lumayan sih!" ucap salah satu kasir itu tersenyum pada temannya.
Sesampainya di luar, Leon hendak mengenakan helm pada kepala Khansa. Namun wanita itu mengelak. "Pakai kamu aja, aku bisa berlindung di sini!" ucapnya menepuk-nepuk punggung kekar Leon.
Leon menurut, ia bergegas menyalakan mesin motornya. Khansa justru senang tanpa helm di kepalanya, ia bisa memeluk erat suaminya tanpa ada halangan apa pun. Di sepanjang jalan matanya terpejam, menikmati desir angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Ini adalah sesuatu yang baru lagi dalam hidupnya.
Suara klakson dari motor Leon membuat penjaga bergegas membukakan pintu gerbang. Leon langsung memasukkannya ke garasi. Tidak ada pergerakan dari istrinya. Leon menyentuh paha Khansa, mengusapnya lembut.
"Sayang," panggil Leon menoleh. Masih tidak ada jawaban, ia melepas helm lalu menyentuh pipi istrinya. "Sasa!" panggil Leon lagi bersuara lembut. Jemarinya membelai sebelah pipi Khansa.
"Udah sampai," gumam Khansa merentangkan kedua tangannya ke atas.
Leon turun dan memeluk tubuh ramping perempuan itu. Mengusak rambutnya yang berantakan terbawa angin. "Terima kasih, kamu istri dan partner terbaik!" pujinya menopangkan dagu pada puncak kepala Khansa.
"Sudah seharusnya seperti ini bukan? Kamu aja selalu ada untukku, aku pun juga harus sama. Aku janji nggak akan ngrepotin!" cetus Khansa mendongak.
Leon menatap tidak suka, menangkup kedua pipi Khansa. "Siapa bilang kamu ngrepotin. Kamu selalu luar biasa!" sahut Leon memeluknya erat.
"Udah ah, ayo. Aku ingin segera mendengar penjelasanmu! Biar ke depannya aku bisa lebih berhati-hati lagi," ucap Khansa meregangkan pelukannya.
Keduanya lalu bergegas ke kamar, berganti piyama tidur dan melempar tubuhnya di ranjang. Khansa duduk bersila sembari memeluk bantal dan menopangkan dagu, punggungnya bersandar dengan nyaman.
"Tiger Sebastian, dia adalah kakakku. Dia tadi nggak ada di sana," aku Leon setelah berperang dengan hatinya untuk menceritakan pada Khansa.
Khansa melebarkan kedua bola matanya. Mulutnya pun sedikit terbuka, rasanya tidak percaya jika seorang kakak berbuat seperti itu pada adiknya.
'Pantas saja dia memegang prinsip tidak mau melukai terlebih dahulu, mungkin ini salah satu alasannya,' gumam Khansa menyimpulkan sendiri dalam hatinya.
Leon menaikkan satu lutut, satu tangannya menopang di atasnya. "Tiger selalu ingin merebut apa pun yang aku punya. Harta, tahta dan sekarang targetnya adalah kamu. Tiger tidak terima jika aku lebih sukses darinya. Dia akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan semua usahaku. Termasuk, membunuhku," ungkap Leon mendongakkan kepala.
Kelopak mata pria itu terpejam, mengeluarkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Khansa semakin tercengang mendengarnya. Dia tidak berani menyela ucapan Leon.
"Sejak ibu meninggal, aku dirawat oleh kakek dan nenek. Sedangkan Tiger pemberontak, tidak mau melakukan sesuai aturan. Kakek pun enggan merawatnya karena susah diatur. Kau tahu, batu giok hijau itu merupakan identitas turun temurun dari kakek buyut. Sebagai pertanda, darah biru mengalir di tubuhku. Namun, hanya diberikan padaku. Padahal Tiger juga keturunannya."
"Saat mulai memasuki dunia pendidikan, ayah memintaku kembali. Ia memasukkan aku di sekolah khusus, jika nilai-nilaiku tidak sempurna ayah tidak segan menghajarku. Siang malam waktuku hanya untuk belajar, ketahuan bermain sebentar saja, ikat pinggangnya melayang di punggungku berkali-kali. Aku sering tidak tidur agar selalu mendapat nilai sempurna sesuai keinginan ayah."
Bibir Leon menyunggingkan senyum getir jika mengingat masa itu. Ya, dia memang berhasil menjadi orang paling berprestasi, kuliah di luar negeri pun bisa lulus dengan cepat karena melalui jalur akselerasi. Namun di balik itu semua, ada luka yang tertimbun dalam.
"Hal itu, tidak berlaku untuk Tiger. Ayah selalu membebaskannya. Alasannya, ibu meninggal gara-gara aku. Kami pernah mengalami kecelakaan, ibu berhasil menyelamatkanku. Tapi sayang, nyawa ibu justru tidak tertolong. Sejak saat itu, ayah sangat membenciku. Dia memperlakukanku seperti mesin, memaksa untuk terus bekerja keras tanpa perasaan. Dalam hati aku selalu bertekad, semua demi ibu. Aku berhasil."
Khansa melihat bulir bening mulai menetes dari sudut mata Leon. Tangannya terulur untuk menyekanya. Khansa menahan isakannya karena takut membuat Leon semakin sedih.
"Tiger tidak terima merasa kalah dariku, aku pernah diseret masuk ke dunia hitam. Disekap beberapa hari, tidak diberi makan sesekali dihajar oleh mereka. Hanya karena Tiger ingin menggantikanku. Padahal dia sudah diberi perusahaan oleh ayah. Aku pura-pura pingsan, hingga mereka membuangku dan meninggalkanku. Untung saja, Gerry bisa menemukanku dengan keahliannya di bidang IT. Dia saksi perjalanan hidupku."
Khansa menutup mulut dengan sebelah tangannya. Dadanya ikut sakit membayangkan. Kini ia mengerti, sumber tekanan Leon. Sejak lama Khansa penasaran ingin mengetahuinya. Rasa bersalah kehilangan sang ibu, tekanan dari ayahnya sejak kecil dan kakak yang selalu mengincar nyawanya. Pria itu mampu menyembunyikannya rapat-rapat.
"Banyak yang percaya bahwa aku tidak bertanggung jawab, sehingga banyak mitra bisnis di Jakarta yang menyerangku. Lalu kecelakaan, pembunuhan berencana ketika kita bertemu di kereta, bahkan penusukan beberapa waktu lalu adalah ulah Tiger. Meski begitu, aku sangat menyayanginya." Leon menghela napas panjang.
"Aku memilih ke sini, mengajak nenek pindah ke Villa Anggrek yang tidak diketahui siapa pun. Di sini, aku mengembangkan perusahaan kakek dalam berbagai bidang, hingga melebar sebesar ini. Namun tentu saja menutup akses orang luar, menutup identitasku, hanya orang-orang tertentu kepercayaanku saja yang bisa menembus benteng Sebastian Group, untuk menghindari penyusup dan pengkhianat," jelas Leon menoleh pada Khansa.
Khansa menyeka air matanya, meski masih terus berjatuhan. Ia menangkup kedua pipi Leon. "Kamu lelaki yang hebat. Ibu pasti bangga memiliki putra sepertimu," ucap Khansa mengecup kening Leon sangat lama. Lalu menyatukan kening mereka.
Leon mendekap erat tubuh Khansa. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari tubuh perempuan itu. Lama kelamaan, mereka tertidur masih dalam posisi saling berpelukan, memberi support satu sama lain. Lelah dan kantuk yang mendera sudah tidak tertahankan lagi. Apalagi, beban dalam hati Leon seolah terangkat setelah selesai bercerita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Emily meregangkan tubuhnya, kedua matanya masih terpejam. Ia terkejut saat merasa memeluk seseorang di sampingnya. Tangannya meraba-raba ke atas, jantungnya seolah berhenti berdetak saat merasakan wajah seseorang. Gadis itu tidak pernah tidur bersama orang lain sebelumnya.
"Barbara!" teriak Emily menendang orang di sebelahnya yang tak lain adalah Hansen. Ia mengira Barbara yang tidur di sampingnya. Segera Emily membuka mata dan beranjak duduk.
"Brugh!"
"Aaarrggh!" rintih Hansen merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
Napas Emily memburu, ia melirik ke arah bajunya yang masih utuh. Buru-buru menaikkan selimut hingga lehernya. Tubuhnya semakin mundur hingga punggung gadis itu membentur sandaran ranjangnya.
"Brengsek lo, Bar! Berani-beraninya tidur di samping gue!" umpat Emily penuh emosi.
Hansen meraih tepi ranjang, ia berusaha bangun hingga dapat bersitatap dengan Emily. Gadis itu membuka mulut dan matanya lebar-lebar saat melihat pria yang ia tendang adalah Hansen.
Bersambung~
Nah looo, Em... jantung aman? Lambung lambung? Hati gimana?
Bang Han, aduuh sakit ya 😥 sampe melotot doang.