
“Apa? Mau ngomong apa lagi sekarang, hah? Jejak digital itu udah jadi bukti kuat buat nunjukin seberapa murahannya kamu!” teriak Nyonya Wandana mencengkeram gaun bagian dada Maharani hingga tubuhnya terangkat.
Maharani sudah semakin lemas, ia tidak bisa dan tidak berani melakukan perlawanan. Hanya menangis dan merasakan remuk di sekujur tubuhnya akibat amukan Nyonya Wandana.
“Gatel banget sih! Padahal udah punya laki masih aja godain laki orang! Wanita serakah kamu ya!” Nyonya Wandana masih belum puas, ia menampar pipi Maharani berkali-kali. Kedua lututnya menindih perut Maharani.
Wajah Maharani sudah tak berbentuk lagi. Memar, lebam, darah pun mulai mengalir di kedua sudut bibirnya. Rambut yang tadi disanggul dengan rapi kini sudah berhamburan dan sangat acak-acakan.
Nyonya Wandana tidak pernah main-main. Ia akan menghabisi siapa pun wanita yang menggoda suaminya.
“Aduh, ngilu banget lihatnya. Nggak tega, tapi gimana ya,” gumam salah seorang tamu.
“Karma is real, tinggal nunggu waktu yang tepat aja sih. Setelah bertahun-tahun lamanya baru kebongkar,” sahut yang lainnya.
Mereka tidak mau melewatkan kesempatan ini, segera mengambil ponsel masing-masing untuk memfoto, juga mereka kejadian tersebut.
“Nyonya Wandana, keren. Aku pendukungmu! Basmi pelakor,” gumam tamu lainnya namun tak berani bersuara lantang sembari jemarinya membentuk love di tengah kamera yang mengarah pada Nyonya Wandana.
“Makanya jangan pernah nyenggol Nyonya Wandana, tau rasa ‘kan akhirnya. Bilangnya ayah angkat, ternyata …. Ckckck!”
“Nyonya Wandana, istri sah yang patut dicontoh nih!”
Kedua kaki Fauzan melemas dan terduduk di atas lantai bersandar di tembok. Kerongkongannya terasa kering. Ia melepaskan kancing jasnya dan mengendurkan dasi yang melilit kerah kemejanya.
Khansa masih duduk di pojokan dan menyeringai dingin sembari menikmati dessert yang terhidang di hadapannya.
Setelah puas menghajar Maharani, Nyonya Wandana melenggang pergi begitu saja. Langkahnya anggun meski wajahnya menyeramkan. Arief pun segera berlari menyusul istrinya.
Jihan yang sedari tadi terpaku melihat ibunya dilabrak seperti itu, segera berlari ke arah Maharani setelah Nyonya Wandana benar-benar keluar dari aula tersebut.
“Ibu, ah gimana nih. Tolong! Ayah, tolongin ibu dong. Jangan diem aja!” seru Jihan ketakutan. Maharani pingsan di tempat. Namun, Fauzan sama sekali tidak merasa iba sedikit pun. Fauzan hanya diam saja.
Jihan bergegas memanggil supir keluarganya. Ia berlari keluar sambil mengedarkan pandangan.
“Pak supir! Tolong bantu bawa ibu ke mobil! Antarkan kami pulang!” seru Jihan setelah menemukan supir keluarganya.
“Baik, Nona!” jawab sang supir segera mengambil mobil dan memarkirkannya tepat di loby hotel.
Jihan kembali masuk, memanggil beberapa pelayan untuk membantu mengangkat ibunya.
“Tolong bantu angkat ibu saya! Tolong!” pinta Jihan memelas sembari berlutut di samping ibunya.
Beberapa pelayan pria saling pandang terlebih dahulu, mereka seperti saling memberi kode. Tidak melihat pergerakan sama sekali, Jihan mendongak, “Ayo tolong! Kalian mau dilaporkan polisi kalau ibu saya kenapa-napa, hah? Kalian mau hotel ini dan EO ini tercemar karena menelantarkan orang sakit?” pekiknya menatap satu per satu pria berseragam di sekelilingnya.
Akhirnya mereka pun mau membantu membawa Maharani ke dalam mobil. Setelah keduanya masuk, mobil segera melesat pergi meninggalkan hotel.
Fauzan melambaikan tangannya, ia memberikan instruksi pada EO untuk mengakhiri acara tersebut. Para tamu mulai berhamburan keluar ruangan masih dengan perbincangan hangat memgenai Maharani. Fauzan masih terduduk di lantai. Kepalanya berdenyut hebat saat memikirkan nasib ke depannya. Khansa tersenyum melihat pemandangan itu.
“Ayah, selamat menikmati,” gumam Khansa memainkan gelas di tangannya. Tatapannya menyeringai dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa lama merenung, Fauzan beranjak berdiri berpegangan dinding di belakangnya. Suasana sudah sangat sepi. Hanya tersisa EO yang mulai membereskan dekorasi mereka.
Dengan langkah gontai, Fauzan berjalan menuju tempat parkir. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, ponselnya berdering. Banyak panggilan dan notif pesan yang masuk namun diabaikan. Karena ia takut akan kehilangan kendali saat berkendara.
Fauzan menghentikan mobilnya di pelataran rumah. Dadanya masih bergemuruh hebat. Ia mengambil ponsel dan segera membukanya.
Ternyata beberapa panggilan dan pesan dari sekretaris pribadinya. “Tuan, tolong segera cek email. Ini penting!” Isi pesan sekretaris pribadinya.
Mata Fauzan membelalak. Degub jantungnya berdebar dengan kasar. Tangan lebarnya mencengkeram kuat ponsel itu. Jemarinya beralih membuka email yang terhubung di ponselnya. Banyak perusahaan yang menghentikan kerjasama mereka karena aib Maharani.
Beberapa perusahaan juga menghentikan investasi di perusahaan Isvara dengan alasan yang sama.
Fauzan menemukan berita utama, bahwa kini ia dan Maharani menjadi trending topik di seluruh jagat dunia maya.
“Sialan kau Maharani!” serunya memukul-mukul setir mobil.
Beberapa komentar netizen menyebut Fauzan sangat bodoh. Mereka mengkritik dengan sangat pedas.
“Dasar Fauzan aja yang bodoh karena mau-maunya dibohongi selama ini. Jangan-jangan Jihan bukan anak kandungnya tuh.”
“Iya bodoh banget dikibuli istri sendiri selama bertahun-tahun.”
“Wah sepertinya Fauzan harus tes DNA tuh, biar lebih memastikan Yenny dan Jihan itu sebenernya anaknya apa bukan. Jangan-jangan nggak jelas lagi bapaknya.”
“Mungkin Khansa juga sebaiknya tes DNA juga. Dia ‘kan selama ini di anak tirikan.”
Fauzan keluar dari mobilnya. Dengan langkah panjang, Fauzan masuk ke rumah masih diliputi emosi. Ia membanting pintu mobil dan berjalan dengan langkah tegas dan cepat.
Fauzan menggedor pintu utama dengan keras. Tidak menyalakan bel. Maid pun bergegas membuka pintu dengan tergesa. Saat melihat Fauzan, sedikit terlonjak karena wajahnya memerah dan tatapannya terlihat sangat menyeramkan.
“Aaaarrrgghh! Brengsek!” Fauzan melenggang masuk sembari mengumpat.
Dia menendang guci yang menjadi pajangan di ruang tamu saat berjalan. Benda itu pun pecah berhamburan di lantai. Para maid berlarian dan mendekat. Mereka ketakutan melihat kemarahan Fauzan.
“Semua gara-gara kamu Maharani! Kau menhancurkan reputasiku!” pekiknya menggelegar sembari menghempaskan semua barang yang ada di atas buffet hingga berjatuhan ke lantai.
Rumah itu seperti kapal perang yang dihancurkan oleh tim lawan. Fauzan terus berjalan sambil melemparkan barang-barang yang tertata dengan rapi. Suara pecahan, benturan tak terelakkan lagi.
Hingga langkahnya sampai di ruang tengah, sebuah televisi sebesar 40 inch tak luput dari amukan Fauzan. Hancur sudah turut berserakan di lantai.
“Tuan kenapa?” ucap para maid lirih penuh tanya.
“Tadi nyonya pulang dengan kondisi mengenaskan, terus sekarang tuan ngamuk seperti orang kesetanan,” sambung maid lainnya.
Mereka belum sempat membuka berita yang sedang virall, karenanya tidak tahu menahu persoalan keluarga tersebut.
Sedangkan di kamar, Maharani sudah sadarkan diri. Namun kondisinya sangat lemah. Ia sampai tidak bisa bangun dari ranjang karena dipukuli oleh Nyonya Wandana tadi.
Kedua kakinya memar, punggungnya yang sempat dibanting ke lantai sepertinya cedera cukup parah. Wajahnya membengkak penuh luka lebam.
“Bu, syukurlah ibu sudah sadar,” ucap Jihan menggenggam tangan ibunya.
“Aw, Ji. Tangan ibu sakit,” rintih Maharani. Tangannya sempat diinjak menggunakan heels oleh Nyonya Wandana.
“I ... iya, maaf, Bu. Saking senengnya Jihan sampai nggak sadar.” Buru-buru Jihan meletakkan lagi tangan ibunya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar. Dua wanita itu terlonjak kaget saat melihat Fauzan yang berantakan dengan tangan mengepal dan mata nyalang tengah berjalan ke arah mereka.
Bersambung~