Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 213. Simulasi saat punya baby


Suara teriakan Cheryl membuyarkan pikiran mereka berdua yang sempat berhamburan ke mana-mana. Khansa dan Leon melebarkan kedua matanya disertai mulut yang menganga. Keduanya panik seketika.


"Cheryl!" gumam Khansa menahan dada Leon sembari mengatur napasnya.


"Iya, Sayang. Om lagi mandi!" sahut Leon menggema di kamar mandi dengan menahan napas.


Cheryl tak bersuara lagi, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya di atas ranjang. Sedangkan Leon menyatukan kening mereka sambil terkekeh. "Aku sampai lupa ada Cheryl di sini!" gumamnya dengan napas tersengal-sengal.


"Ya, dan begini simulasi saat kita punya baby nanti," balas Khansa tertawa pelan.


"Aku keluar dulu nemuin Cheryl." Leon meninggalkan ciuman di seluruh permukaan wajah Khansa. "Terima kasih, Sayang!" lanjutnya melepas penyatuan tubuh mereka dengan perlahan.


Khansa mengembuskan napas berat, menyandarkan kepalanya pada bibir bak mandi yang sangat luas itu. Mencoba melenturkan otot-ototnya yang menegang.


Leon bergegas membersihkan diri di bawah guyuran shower lalu keluar menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Setelahnya, ia berjalan menghampiri gadis cantik nan imut yang masih bergelung di bawah selimut tebal.


"Hai, princess. Kok bangun?" ucapnya duduk di tepi ranjang. Membelai kepala gadis cilik yang masih terlihat bermalas-malasan.


"Aunty mana, Om?" timpal Cheryl yang juga melontarkan pertanyaan sembari mengucek matanya.


"Aunty lagi mandi. Kamu mau mandi sekarang? Apa mau sekalian bareng sama aunty?" balas Leon pelan.


Gadis kecil itu menggeleng, "Enggak, nanti Cheryl mandi sendiri aja."


"Emang bisa?" tanya Leon menautkan alisnya.


"Bisa! Kata mama, Cheryl nggak boleh manja dan harus mandiri!" terangnya beranjak duduk lalu mengepalkan kedua tangannya.


Leon mengacak-acak rambut Cheryl dengan gemas. "Emm ... Pinter banget sih."


Khansa terlihat sedang berjalan ke arah mereka. Ia sudah berpakaian gaun rumahan sederhana, dengan rambut yang digulung handuk kecil.


"Hai, cantik. Udah bangun? Mandi yuk!" ajak Khansa membungkuk di hadapan mereka berdua.


"Cheryl mau mandi sendiri, Aunty."


Belum sempat Khansa membalas, gadis itu sudah berlari menuju kamar mandi dan terdengar mengunci pintunya. Khansa terdiam, saling melempar pandang dengan Leon.


"Dia anak yang hebat," puji Leon berdiri lalu mendudukkan Khansa dan membantu mengusak rambut panjangnya.


"Pantas dulu Jihan membawanya kabur," Khansa tersenyum getir.


"Tidak akan ada ibu yang tega menyerahkan anaknya pada orang lain!" gumamnya menunduk lalu mencium sebelah pipi Khansa, perempuan itu menoleh lalu tersenyum cantik. Leon memeluknya dari belakang, mengalungkan kedua lengan panjangnya pada bahu Khansa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gemerlapnya bintang yang berhamburan di malam hari, turut meramaikan suasana di rooftop apartemen Leon. Semua pelayan sudah menyiapkan peralatannya.


Hana dan Lily juga turut hadir di tengah-tengah hangatnya keluarga besar itu. Kedua perempuan itu asyik memanggang tenderlion, atau daging sapi yang tergolong paling mahal. Dibantu oleh Vincent dan Simon tentunya.


"Nek, ini teh herbalnya," ucap Khansa mengulurkan secangkir teh pada nenek yang sedang duduk santai menyaksikan para anak muda di depannya.


Leon asyik bermain dengan Cheryl, tawa renyah dua orang itu mengudara kala bersenda gurau. Khansa duduk di sebelah nenek memperhatikan mereka berdua.


Senyuman manis tersungging di bibirnya. Ketakutan yang mengganjal di hati selama ini, sudah mulai hancur perlahan. Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Sa, sepertinya Leon sudah siap menjadi ayah," ucap nenek yang kini pandangannya terfokus pada Leon dan Cheryl.


"Iya, Nek. Leon sudah sembuh, lima tahun ini dia berusaha dengan keras untuk melawan traumanya," sahut Khansa berkaca-kaca. "Mungkin ini memang sudah takdir, jika saat itu Sasa tidak keguguran, Leon belum tentu bisa sembuh, Nek. Karena Sasa tahu semua itu tidak mudah bagi Leon. Meski bibirnya berkata siap dan baik-baik saja, tapi belum tentu jiwanya juga sama."


Khansa yang sudah mempelajari banyak hal mengenai mental health sangat mengerti apa yang dialami suaminya. Tidak mudah bisa mencapai titik kesembuhan. Perjuangan mereka tidaklah mudah.


Nenek menggenggam jemari Khansa, lalu menyeka bulir bening yang jatuh di pipinya. Khansa merebahkan diri di pundak wanita tua itu. "Nenek bangga sama kamu, Sa! Nenek sangat bersyukur memiliki kamu di sisi Leon," pujinya.


"Aaww! Sakit Nona!" pekik Simon mengibaskan tangannya yang seketika membuat semua orang menoleh.


"Ada apa?" Khansa segera berlari menghampirinya.


Hana membungkukkan tubuhnya pada Khansa, satu tangannya masih memegang penjepit berbahan stainless. "Maaf, Nyonya. Tuan Simon dari tadi mencicipi daging yang sudah matang. Dan beliau sudah menghabiskan tiga potong daging. Tangan saya refleks memukulnya. Bisa-bisa semua daging habis masuk perutnya," papar Hana. Ia meremas ujung roknya yang sangat pendek untuk melampiaskan ketakutannya.


"Haihh, Simon. Mana lihat!" ujar Khansa khawatir.


Simon menjulurkan punggung tangannya yang memerah, "Nih, Kak. Masa tanganku dipukul sampai kayak gini!" keluhnya mengusap-usap bekas lukanya.


Khansa menatapnya sekilas, memperhatikan memar yang tidak terlalu serius. "Ah nggak apa-apa, nanti juga sembuh. Nggak usah manja!" ucapnya lalu menepuk-nepuk tangan Simon.


"Astaga! Kakak ipar! Nggak peka banget!" pekik lelaki itu menarik kembali tangannya. Ia memilih duduk di sofa.


"Lagian celamitan sih." Lily menyindirnya dengan pelan, masih sibuk mengoles daging yang akan dibakar.


Khansa hanya tertawa, ia lalu membantu Hansa dan Lily agar segera selesai. Beberapa saat kemudian, daging bakar pun sudah tersaji di sebuah meja besar yang dilingkari beberapa kursi. Tak hanya itu, beberapa makanan lain beserta desert dan buah-buahan juga terhidang dengan indah.


Makan malam keluarga besar beserta orang-orang kepercayaan Leon berjalan dengan lancar. Di bawah taburan bintang yang berkilau, desir angin yang menyejukkan juga disuguhkan pemandangan kota yang sangat indah.


Khansa dengan telaten menyuapi Cheryl, sedangkan Leon makan sambil menguapi istrinya. Perbincangan hangat pun mengalir begitu saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, rombongan keluarga itu pergi mengunjungi beberapa destinasi yang ada di Seoul, termasuk orang-orang kepercayaan Leon. Kebetulan, ini hari libur.


Sedangkan Nenek memilih beristirahat saja di apartemen, karena takut kelelahan. Beberapa pelayan menemani dan melayani dengan baik.


Sudah beberapa tempat menarik yang mereka kunjungi. Cheryl sangat bahagia diajak berkeliling oleh pasangan itu. Ia merasa memiliki orang tua yang lengkap.


Wisata terakhir yang mereka kunjungi adalah gwongeumseong fortress. Leon, Khansa dan Cheryl berada dalam satu cable car untuk mencapainya.


"Aunty, Cheryl mau di sini terus aja sama Aunty dan Om Papa!" cetus Cheryl yang duduk di pangkuan Leon dan memeluknya erat.


Bersambung~