Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 113. Pencarian tak Berujung


"Apa yang ingin Anda pastikan, Tuan?" ucap Gerry dengan santai. Tidak seperti biasanya Leon mau berbicara sesantai itu.


"Saya ingin bertemu warga desa di sana. Mereka pasti tahu kejadian lima tahun lalu. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan," jawab Leon tak memalingkan muka dari pemandangan indah yang dilaluinya.


Gerry terus bertanya, sesekali menoleh lalu kembali fokus ke jalan raya yang tidak terlalu luas. Karena sudah memasuki area pegunungan. "Apa yang ingin Anda tanyakan, Tuan? Setelah sekian lama kenapa baru sekarang."


Leon menoleh, "Gerry, kamu masih ingin bekerja?" tanyanya mulai dengan nada dingin dan tatapan tak bersahabat.


Gerry mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Pertanyaan itu seketika membuat degub jantungnya meningkat, "Te ... tentu saja, Tuan!" balas Gerry meneguk salivanya.


"Kalau begitu diamlah!" lanjut Leon memicingkan mata.


Gerry mengangguk patuh lalu mengunci bibirnya rapat-rapat. Sampai kapan pun, Gerry ingin mengabdi dengan tuannya itu. Meskipun selalu menjadi sasaran kemarahan Leon, tapi Gerry tetap setia dengannya.


Sudah hampir tiga jam mereka melalui jalan yang terjal, berliku tajam hingga akhirnya Gerry menghentikan mobilnya. Leon mengernyitkan alisnya, "Di mana ini, Ger?" Pemandangan yang disuguhkan tampak sangat asing di mata Leon.


"Seingat saya di sini, Tuan," gumam Gerry yang juga tengah mengedarkan pandangannya bingung.


Leon keluar dari mobil, kedua kakinya berpijak di atas tanah yang ditumbuhi rumput liar. Pandangannya mengedar dari ujung ke ujung. Keningnya mengerut dalam. Kedua tangannya menempel pada pinggang sembari mengembuskan napas kasar. Gerry turut keluar setelah mematikan mesin mobil, melangkah cepat untuk berdiri di samping tuannya.


Di hadapan mereka tidak ada bangunan rumah satupun, semuanya rata dengan tanah. Desing alat berat masih menggaung bersahutan di pelataran luas itu.


"Kamu pasti salah, Ger. Coba ingat-ingat lagi!" seru Leon melipat kedua lengannya di dada. Kedua kelopak matanya menyipit, memperhatikan hingga jarak terjauh yang bisa dijangkau pandangannya.


"Saya sangat yakin di sini, Tuan. Dulu desa ini belum padat penduduk," sanggah Gerry membenarkan kacamatanya.


"Coba kamu cek ke sana!" titah Leon menunjuk dengan dagunya.


Gerry mengangguk lalu segera menyeberang jalan dan berlari mencapai palang proyek tersebut. Leon mengawasi dari kejauhan, Gerry tampak berbicara dengan penjaga di sana yang tak lama kemudian, seorang pria berpakaian rapi dengan helm proyek menemuinya.


Keduanya berbincang cukup lama, hingga pada akhirnya Gerry menerima sebuah kartu nama. Setelah berterima kasih dan berpamitan, ia segera kembali pada Leon.


Napas Gerry masih tersengal, keringat mulai bermunculan di wajahnya yang memerah tersengat sinar matahari. "Tuan, tiga bulan yang lalu tanah ini telah dibeli oleh seorang pengusaha dari Jakarta. Rencananya akan dibangun resort dan tempat rekreasi. Manajer kontraktor tidak mengetahui pindahnya warga di sini," jelas Gerry.


"Aaahhh sial!" umpat Leon kesal menendang ban mobilnya.


"Ini ada kartu namanya, Tuan!" Gerry menyerahkan sebuah kartu nama pemilik usaha itu.


Leon mengamati tiap huruf yang tertera di kartu itu. Wajahnya berubah pias. "Kamu usut sampai mendapatkan tempat tinggal baru warga di sini. Tapi jangan bawa namaku!" ucap Leon kembali menyerahkan kartu tersebut.


"Baik, Tuan!" Gerry mengangguk.


"Putar balik!" titah Leon dengan ekspresi datar kembali masuk ke mobilnya.


Gerry bergegas duduk di balik kemudi, melajukan mobilnya kembali ke kota. Leon memejamkan matanya, kepalanya bersandar dan sedikit mendongak.


Leon kembali membayangkan sentuhan-sentuhan gadis yang menyelamatkannya. Rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Sungguh menyesal karena tidak sempat menanyakan nama dan pandangannya yang bermasalah.


Kemudian ingatannya kembali terbuka saat bertemu dengan Yenny. 'Dulu aku pernah berjanji akan mencarinya, tapi tidak sengaja bertemu di rumah sakit? Terlalu euforia bisa bertemu dengannya, jadi langsung menjanjikan beberapa hal. Memang sebuah kebetulan atau ....?' Berkali-kali Leon mengembuskan napas, namun masih tak mampu melegakan dadanya yang terasa sesak dirundung rasa penasaran.


Pertemuannya dengan Yenny begitu singkat, tidak ada kontak fisik lebih selain menyentuh tangannya saat berkenalan. Usai berterima kasih dan memberikan beberapa permintaan, mereka tidak pernah bertemu. Sekedar saling sapa melalui telepon pun tidak. Baru akhir-akhir ini mereka kembali berkomunikasi dan tidak sengaja bertemu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu, Khansa mendatangi kantor Fauzan seorang diri. Langkahnya pelan namun pasti, ia tak peduli meski semua pandangan mengarah padanya. Khansa tetap menatap lurus ke depan.


"Tuan Fauzan ada?" tanya Khansa pada sekretaris yang duduk di depan ruangan Fauzan.


Tanpa menjawab, Khansa melenggang masuk ke ruangan Fauzan. Ia tak peduli dengan teriakan sang sekretaris yang melarangnya masuk.


Tangannya sudah mendorong pintu itu dan menerobos masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Fauzan mendongak saat mendengar pintu terbuka.


"Khansa?" gumamnya menghentikan aktivitasnya. Pandangannya masih tak lepas dari gadis bercadar itu.


"Maaf, Pak. Saya sudah melarangnya. Tapi ...."


"Tidak apa-apa. Kembalilah ke tempatmu," tukas Fauzan menggerakkan tangannya.


Pintu kembali tertutup rapat. Khansa berjalan pelan berkeliling ruangan Fauzan. Pandangannya mengedar di seluruh penjuru ruangan dan berhenti tepat di hadapan Fauzan.


"Tuan Fauzan, kenapa di usia senja Anda masih bekerja? Sudah seharusnya beristirahat menikmati masa tua," ucap Khansa menatap remeh pada pria itu.


"Apa maumu?" tanya Fauzan menaikkan pandangan agar bersitatap dengan Khansa.


Khansa menyandarkan bokongnya di tepi meja. Kedua lengannya terlipat di dada, "Saya cuma ingin memberi tahu, kalau sebenarnya Anda bisa mendapatkan sebagian harta dari keluarga Sebastian. Tidak perlu repot-repot bekerja."


"Tentu saja, karena Yenny akan segera menjadi nyonya Sebastian. Kau juga pasti sudah dengar bukan, bahwa Tuan Sebastian memberikan uang cuma-cuma sebesar 10 milyar untuk perusahaan Isvara," tegas Fauzan dengan jumawa.


Khansa terkekeh sembari menunduk, kedua kakinya menyilang. "Fauzan ... Fauzan, jadi hanya segitu hargamu? Cuma 10 milyar? Ckckck," cibirnya lalu berdecak disertai gelengan kepala.


Fauzan nampak mengepalkan tangannya. Raut wajahnya sudah memerah, merasa terhina dengan ucapan Khansa.


"Brak!"


Pria itu menggebrak meja, menatap nyalang pada gadis di depannya itu. "Jangan bicara sembarangan!" geramnya dengan dengusan napas kasar.


Khansa membalikkan tubuhnya, kedua tangannya menopang meja lalu sedikit merunduk untuk menyamakan tingginya dengan Fauzan.


"Kamu tidak tahu ya? Uang 10 milyar itu pemberian dari menantumu sendiri. Kamu bahkan bisa mendapatkan sebagian harta dari Keluarga Sebastian," ucap Khansa dengan tatapan seperti busur panah yang menghujam jantung Fauzan.


"Apa maksudmu?" tanya Fauzan memekik dengan nada berat.


"Leon Sebastian adalah suami dari Khansa, putrimu. Eh, tidak, tidak! Perlu saya ralat. Leon Sebastian adalah suami dari anak yang sudah tidak menganggapmu sebagai ayah." Mata Khansa masih tak beralih dari raut keterkejutan Fauzan.


Bersambung~


Penting; Buat kalian yang baru gabung dan bacanya langsung lompat di bab ini atau beberapa part terakhir, saya sarankan untuk nanjak ke bab sebelumnya dulu. Biar kalian nggak bingung dan nggak nemu plot hole (alur yang bolong), jangan skip2 bab yg akhirnya bertanya2. entah dalam hati atau terungkap di kolom komentar.


Malah kalau baca dari bab 1 lebih disarankan lagi... wkwkwkwk 😂😂😂


mati listrik dari siang... 😭😭 Signal juga ikut menghilang, sama sekali gak bisa diapa2in nih


HP. dan skrg baru nyala di jam 23.30... 😩...


Aku mau rakit bom dulu 😁😁 gaskeuund komennyaa... tambahin vote dan giftnyaaa 🤭



😌 Astagfirulloh ... iyo, Mas ... iyoo!! Giftnya seiklasnya 😂😂


Yang rajin kasi tips, masyaAllah tabarakallah ... semoga lancar rizkinya 😘