Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 137. Kembalikan Ibuku!


"Bi! Tehnya di mana ya?" Tiba-tiba Maharani mengejutkan Bibi Fida.


Wanita itu tersentak kaget dengan jantung yang hampir melompat dari sarangnya. Buru-buru ia memasukkannya bungkus tersebut ke kantung bajunya.


"Eh, biar saya saja, Nyonya Rani," ucap Bibi Fida meraih cangkir dan membuatkan teh hangat untuk Maharani dan juga Fanny.


Bibi Fida menghela napas panjang, karena Maharani tidak tahu jika pelayan kepercayaan di rumah itu tengah mencurigainya. Saat mengantarkannya, seperti tidak terjadi apa-apa. Dua wanita itu saling bercengkerama seperti biasa.


Bubur yang dibuat Maharani sudah tandas. Fanny merasa terhibur dengan kedatangan Maharani. Bibi Fida hanya menahan kecurigaannya, karena yang ia lihat tidak terjadi apa-apa.


Sejak saat itu, Maharani sering sekali berkunjung. Mereka sering memasak bersama, namun lagi-lagi Bibi Fida menemukan bungkus serbuk yang sama. Ia terus memungut dan menyimpannya. Menuduh tanpa bukti bisa menjadi fitnah.


Sudah dua minggu berlalu, sikap Fauzan berubah semakin dingin. Bahkan tak segan main tangan jika Fanny salah bicara. Ia juga sering pulang larut malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maharani masih gencar mendekati Fauzan. Pria itu lebih sering menghabiskan waktu di bar. Bayang-bayang istrinya bersama pria lain terus bergelayut di otaknya. Sejak saat itu, Maharani terus berusaha menjatuhkan Stefanny. Mulutnya yang manis itu bahkan tega memfitnah Fanny, meyakinkan bahwa Khansa bukan putri kandungnya.


Otak dan hati Fauzan masih kacau, setiap hari dicekoki hal-hal yang semakin membuatnya panas. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Hanya kemarahan, dendam dan sakit hati yang semakin menggerus nuraninya.


Maharani menggeram ketika merasa sulit mendapatkan Fauzan. Rencana kotor pun ia lakukan. Wanita itu mencampurkan obar ke dalam minuman Fauzan. Hingga terjadilah hal yang sangat diidamkan oleh Maharani.


"Kamu milikku! Termasuk hartamu!" gumam Maharani tersenyum licik mengusap pipi Fauzan yang sudah terlelap tanpa busana di sampingnya. Ia pun memejamkan mata sembari memeluk tubuh Fauzan.


Keesokan paginya, Fauzan tersentak kaget ketika terbangun bukan di kamarnya. Ia pun bertambah kaget saat ada perempuan tanpa busana memeluk tubuhnya.


"Rani! Apa yang kamu lakukan?!" teriaknya mendorong tubuh wanita itu.


"Kamu lupa, Zan? Semalam kamu yang memaksaku!" seru Maharani membela diri.


Fauzan meremas kepalanya, "Enggak, ini nggak mungkin," gumamnya mencoba mengingat-ingat. Namun sayangnya, ia tidak bisa mengingat apa pun.


"Kamu bahkan sangat menikmatinya. Percayalah, aku bisa memberikan lebih dari pada Fanny. Bukan hanya itu saja, aku juga bisa membantumu untuk mencari investor dengan mudah. Tidak seperti Fanny, yang hanya menjadi beban buat kamu. Bahkan, dia juga mengkhianatimu, Zan," papar Maharani menempelkan tubuhnya pada pria itu.


Lagi-lagi Fauzan teringat hal itu lagi. Ia bergegas memungut pakaian dan mengenakannya dengan asal. Maharani ditinggalkan begitu saja. Namun dia yakin dalam hitungan hari, Fauzan akan jatuh ke pelukannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah, Fauzan mendapati Fanny yang sedang berdiri menyambutnya di kamar dengan tatapan nyalang. Fauzan bahkan tidak pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya.


"Dari mana kamu, Mas? Tidur di mana semalam?" tanyanya dengan nada dingin.


"Bukan urusanmu!" pekik Fauzan balas menyentaknya lalu berjalan melaluinya.


Fanny menarik jas yang dikenakan oleh suaminya. "Ini apa, hah?! Tega kamu, Mas!" teriaknya menunjukkan sebuah foto panasnya bersama seorang wanita yang wajahnya disamarkan.


Fauzan terkejut, namun dia bisa menutupinya dengan baik. "Kamu lupa? Kamu juga melakukannya dengan pria lain!" ucap Fauzan melotot tajam.


"Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu. Aku dijebak, Mas. Aku sama sekali tidak pernah melakukannya! Aku dijebak!" teriak Fanny melemparkan ponselnya ke dada Fauzan.


Pria itu hanya sedikit meringis, dadanya naik turun menahan emosi. Deru napas keduanya terdengar kasar. Keduanya juga saling melempar tatapan tajam.


Fauzan bergegas mandi untuk membersihkan diri, membiarkan Fanny tergeletak di lantai. Ia bahkan tidak tahu bahwa hidung dan mulut istrinya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


Bibi Fida berlari masuk ke kamar saat Fauzan sudah berangkat ke kantor. "Nyonya!!" teriaknya menjatuhkan tubuh tepat di sebelah Stefanny.


"Bibi, ibu kenapa?" jerit Khansa yang menyusulnya.


Bibi Fida meraih tubuh Fanny, memangku kepala perempuan itu dan menyibak rambutnya perlahan. Bibirnya bergetar dan tiba-tiba kaku saat melihat darah yang memenuhi wajah nyonya nya itu. Tenggorokannya tercekat, tidak bisa berteriak meminta pertolongan. Air matanya menyeruak tak terbendung.


"Ibuu!!" jerit Khansa memeluk ibunya. Ia menangis sejadi-jadinya. "Ibu bangun! Jangan tinggalin Sasa! Ibu!" Khansa menggerakkan tubuh ibunya yang sama sekali tidak merespon.


Kakek Khansa susah payah berjalan keluar dari kamar, pun dengan para pelayan berlarian saat mendengar jeritan Khansa. Mereka serentak membelalakkan mata dan menutup mulutnya yang terbuka.


"Apa yang terjadi?" gumam mereka saling mengendikkan bahu.


"Ada apa ini? Fanny!" Kakek sungguh terkejut melihat putrinya berlumuran darah. "Kenapa dia? Apa yang terjadi? Cepat bawa ke rumah sakit!" seru Kakek mengarahkan dengan panik.


Sang sopir dengan sigap segera menyiapkan mobil, membawa majikannya ke rumah sakit. Khansa masih menangis menjerit. Tubuh Bibi Fida masih gemetar hebat. Dia mengalami syok saat mendapati Fanny dalam kondisi seperti itu.


Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Fanny mengalami komplikasi. Padahal selama ini, dia tidak pernah ada gejala penyakit apa pun. Dan hari itu juga, Stefanny dinyatakan meninggal dunia.


Fauzan yang mendapat kabar duka sang istri segera melaju ke rumah sakit. Ada sedikit rasa sesal yang bergelayut di hatinya. Meski kecewa dan benci masih mendominasi. Ia cukup syok dengan kejadian tak terduga itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...🌶🌶🌶🌶🌶🌶...


Khansa terus menangis tanpa suara sejak mendengarkan cerita Bibi Fida. Dulu dia memang mendengar langsung pertengkaran orang tuanya, tapi dia belum paham pokok permasalahannya. Khansa juga mendapat informasi dari Emily bahwa Maharani memfitnah ibunya. Itu saja sudah cukup membuatnya sakit.


Dan sekarang, setelah mendengar kesaksian langsung dari Bibi Fida, hatinya hancur berkeping-keping. Khansa menutup wajah dengan kedua tangannya, derai air mata semakin deras membasahi kedua pipinya. Matanya sembab dan bengkak.


"Aaaaarrgghhh!" jerit Khansa sepuasnya menumpahkan semua air mata dan amarahnya. Meledakkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Kedua tangannya mengepal dan menekan dadanya kuat-kuat, tubuhnya sedikit membungkuk lalu menangis sekeras-kerasnya.


"Ibuu!" jerit Khansa dengan air mata yang semakin deras.


Khansa menumpukan kepalanya di atas ranjang Bibi Fida. Sepreinya sudah basah karena air matanya. Suara tangisnya nyaring sampai berubah serak dan dadanya terasa sesak. Punggungnya bergetar hebat. Bibi Fida juga sesenggukan, satu tangannya berusaha mengusap bahu Khansa.


Leon tidak tega melihatnya. Ia berlutut di depan Khansa, menggenggam kedua tangannya yang berubah dingin. Lalu menarik ke dalam dekapannya.


Gadis itu justru memberontak, ia melampiaskan kesedihannya dengan memukuli dada Leon. "Jahat, mereka jahat! Kembalikan ibuku!" pekik Khansa di tengah isakan tangisnya. "Aku mau ibuku kembali! Aaaarrgggh!!"


Leon diam menjadi pelampiasan istrinya. Ia tidak menghindar, tetap bertahan di sana, di posisi yang sama. Dadanya siap memberi sandaran untuk wanita itu. Meski pukulan yang ia terima. Matanya turut memerah. Lama kelamaan, pukulannya melemah. Leon menarik kepala Khansa ke dalam pelukannya. Membelai rambutnya dengan lembut dan memberi ciuman pada puncak kepalanya.


"Sa! Sasa!" panggil Leon saat merasakan tubuh Khansa semakin berat dan suaranya menghilang.


Bersambung~


Mon maap saya nulisnya sambil nangis, sejak sebelum dapet satu kata pun 😭😭😭🤧🤧 dan setelah selesai ternyata udah bengkak nih mata. 🥺🥺 plus diiringi lagi dari Rauf & Faik. Nggak ngerti artinya tapi sumpah sad vibes banget ni lagu. 🤧