
Deg! Deg! Deg!
Deguban jantung keduanya berdentum kuat. Napas hangat Leon berembus menerpa wajah cantik Khansa yang tengah mendongak menatap pria itu. Jemari Leon masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Khansa. Kemudian beralih pada pipi wanita itu, menangkupnya dan membelai lembut dengan ibu jarinya.
Khansa membeku dengan mulut yang sedikit terbuka. Manik matanya bergerak ke kiri dan kanan menatap bola mata Leon yang berkabut secara bergantian. Leon mendekat dan terus mendekat hingga akhirnya bibir mereka kembali menempel. Leon memagutnya penuh nafsu. Tidak selembut seperti biasanya.
Gemetar, merinding kini menjalar di seluruh tubuh Khansa. Ia memejamkan matanya sesaat. Kedua tangannya mencengkeram kuat baju tidur yang dikenakan Leon, napasnya tercekat.
‘Apakah dia mau melakukannya? Haruskah aku berakhir di sini? Tidak boleh, Sasa. Kamu tidak boleh hancur untuk kedua kalinya. Jangan sampai terbuai dengan Leon saat ini.’
Khansa gelagapan. Ia hampir kehilangan kesadaran saat Leon mulai menyusuri leher mulusnya. Ia segera mendorong tubuh Leon dengan kuat hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Gejolak di dadanya kian membuncah. Hawa panas mulai menjalar di seluruh tubuh Leon. Hasrat yang semakin membumbung tinggi hingga ujung kepala, tiba-tiba direnggut paksa oleh penolakan Khansa.
Ketakutan kini melingkupi hati gadis itu. Leon yang masih bersikap misterius dan susah ditebak, membuatnya ragu melangkah lebih jauh. Ia selalu berpikir, Leon punya segalanya, bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Termasuk para wanita yang bisa memuaskan hasratnya.
Khansa takut, jika suatu hari tiba-tiba Leon meninggalkannya saat ia mulai terikat dan bergantung pada pria itu. Seperti Hendra yang justru menusuknya dari belakang, hingga menjungkir balikkan hidupnya, tanpa tahu alasannya.
Kehancuran di masa lalunya membuat trauma dan semakin waspada. Ia semakin membatasi diri untuk tidak melakukan hal yang akan merugikannya kelak. Cukup sudah kesulitan yang ia alami sewaktu kecil selama bertahun-tahun. Khansa tidak mau hancur untuk yang kedua kalinya.
“Sa,” Suara berat Leon diiringi deru napas yang berembus kasar. Dadanya naik turun.
“Maaf,” Khansa menundukkan kepalanya, tangannya menangkup depan dada, menetralkan rasa yang hampir saja mengaburkan kesadarannya, karena sentuhan Leon.
“Geser ke sana dong, Ndra. Aku nggak bisa denger nih!” Nenek Sebastian yang terlanjur begitu antusias menempelkan telinganya pada pintu kamar.
“Baik, Nyonya!” Indra mundur dengan patuh.
Sayup-sayup pendengaran Leon menangkap suara keributan di luar kamar. Gerahamnya mengetat, lalu berputar dan melangkah cepat membuka pintu kamarnya.
Nenek Sebastian terlonjak kaget, hampir saja ia terjengkang, kedua matanya melebar sambil menekan dadanya yang berdegub kencang saat melihat cucunya sudah berdiri di depan kamar dengan kilat mata yang tajam. Begitu pun dengan Paman Indra yang sama terkejutnya.
“Ada apa ini?” tanya Leon menatap tak bersahabat.
“Eee ….” Kedua bola mata sang nenek bergerak ke sama ke mari untuk mencari alasan. Gugup, namun akhirnya ia menemukan sebuah ide.
Leon memicingkan mata sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Punggungnya bersandar pada pintu.
“Indra yang mengajak nenek ke sini dan meminta nenek untuk menguping kegiatan kalian,” ucap nenek dengan lancar sembari menarik kedua sudut bibirnya, memamerkan deretan giginya yang rapi. Kepala pelayan itu melebarkan kedua matanya. Jelas-jelas ini ide Nyonya besarnya, kenapa malah dia yang menjadi kambing hitam?
Sorot mata tajam Leon kini beralih pada Paman Indra. Ditatap seperti itu membuat tubuh Paman Indra gemetar ketakutan, kedua kakinya melemas bahkan peluh mulai bermunculan di keningnya.
“Bu … bukan seperti itu, Tuan, tapi … itu ….” Paman Indra berucap dengan suara bergetar. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada tuan mudanya itu. Tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya jika ini semua rencana nyonya besarnya.
Paman Indra menelan salivanya beberapa kali. Ia menatap penuh harap pada Nenek Sebastian, meminta pembelaan bukan malah menyalahkannya.
“Sudahlah Indra, kamu tidak perlu takut mengakuinya. Leon tidak akan marah. Iya ‘kan Leon?” ucap sang nenek semakin membuat Paman Indra lemas tak bertenaga. Ia menundukkan kepala dalam, pasrah dengan hukuman yang akan diberikan sang tuan muda. Leon masih bergeming.
“Jangan melempar kesalahan pada orang lain, Nek,” ucap Leon yang tahu bahwa kepala pelayan itu tidak akan berani berbuat lancang seperti yang diucapkan oleh sang nenek. Terdengar hembusan napas lega dari mulut Paman Indra.
“Nenek ‘kan cuma memastikan hubungan kalian baik-baik aja. Dan lagi, nenek ingin segera menimang cicit. Cuma itu keinginan nenek satu-satunya, sebelum Tuhan mengambil nyawa nenek,” ujar sang nenek mengakui dengan sendu.
“Tapi hanya itu keinginan nenek saat ini. Nenek ingin kamu segera mendapat keturunan, sebagai penerus dari Keluarga Sebastian,” lanjut sang nenek membuat Leon mendengkus kasar.
Leon tak berdaya dan menutup pintu kamar kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaki panjang Leon melangkah menuju ke tepi ranjang, duduk di samping istrinya. Khansa sudah tahu situasi saat ini dan jadi tegang. Gadis itu menggeserkan tubuhnya, sedikit memberi jarak pada Leon.
“Sa,” panggil Leon menumpukam kedua lengannya di atas paha.
“I … iya,” sahut Khansa takut.
“Kamu denger sendiri ‘kan keinginan nenek?” Leon memiringkan kepalanya, menatap gadis yang duduk dalam kegugupan. Hanya sebuah anggukan yang dilakukan Khansa.
“Nenek masih di luar. Lakukanlah seperti yang dulu pernah kita lakukan saat pertama kali kamu menginjakkan kaki di sini,” ujar Leon yang tidak mau membuat neneknya kecewa.
Ia tahu bagaimana sifat sang nenek. Tidak akan berhenti sebelum keinginannya benar-benar terwujud. Seperti sekarang, ia masih tetap di luar memastikan cucunya melakukan itu.
Khansa meremas ujung gaunnya. “Tapi … aku tidak bisa, aku nggak tahu gimana,” jawab Khansa yang juga tidak ingin mengecewakan nenek. Wanita tua yang sangat menyayanginya seperti cucu sendiri. Ia teringat pengalamannya dulu harus dipancing oleh Leon.
“Baiklah, sepertinya aku harus kembali bertindak,” ucap Leon membuat Khansa mendongakkan kepalanya.
Pria jangkung itu sudah berdiri tepat di depannya. Khansa gugup saat Leon merebahkan kedua bahunya hingga terlentang di atas ranjang. Leon menindih tubuh Khansa, mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis itu dan menariknya ke atas kepala.
Leon pun mulai melancarkan aksinya. Ia mencium bibir Khansa sekilas, lalu turun ke leher, menyesapnya, memberikan tanda kepemilikan. Khansa tidak tahan, tubuhnya bahkan sudah menggeliat tidak karuan. Bibirnya menggigit kuat-kuat, hingga Leon memberikan beberapa tanda di leher, turun ke tulang selangka hingga dua bukit kembar Khansa.
“Aaaahh!” Khansa tak tahan untuk tidak mengeluarkan desahannya. Seluruh tubuhnya bahkan bergetar hebat.
“Akhirnya, semoga berhasil!” gumam sang nenek lalu melenggang pergi diikuti Paman Indra yang menggelengkan kepalanya lalu kembali menjalankan tugasnya.
Gairah Leon semakin memuncak, tubuhnya serasa terbakar, pangkal pahanya sudah mengeras dan siap bertempur. Satu tangannya hampir melepas pakaian Khansa namun segera dihentikan Khansa. Tangannya memberontak, hingga terlepas dari genggaman Leon, kemudian menahan tangan Leon yang sudah hampir berhasil membuatnya telanjang.
“Tolong … hentikan!” pinta Khansa dengan napas tersengal-sengal.
Leon terdiam masih menahan gejolak di dadanya, Khansa memohon sekali lagi. Ia pun segera turun dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Khansa menggulung diri dalam selimut, Khansa tidak mengantuk. Perasaan Khansa berkecamuk.
Lama kelamaan Khansa tertidur setelah berhasil meredam debaran jantungnya dan melemaskan kembali tubuhnya yang sempat menegang.
Tengah malam, Khansa terbangun dan masih belum sadar sepenuhnya, dia melihat Leon tidak ada di sofa. Saat menoleh ke samping, juga tidak menemukan pria itu.
Bersambung~
Haaii... kembali lagii bawain 5 bab hari ini happy readings ya... mon maap kalo ada typo. biar gak kelamaan nunggu, nanti aku revisi pelan-pelan. kopi atau bunganya boleh lah seiklasnya 😄😘
ya ampun kesian si otong. Peluk babang Leon 🤧🤧 Kecewa ya? Sama aku juga 😭