
“Besok malem diadain acara anniversary pernikahan ayah sama ibu tiri kamu, Sa,” jelas Emily pada Khansa.
“Hah? Secepat itu mereka baikan?” tanya Khansa sulit percaya.
Emily segera mencari informasi, ternyata foto tak senonoh dan kejadian Maharani perlahan sudah menghilang.
“Hmm … Maharani punya backingan dan tim humas yang kuat. Makanya dengan cepat beritanya menguap,” balas Emily dengan serius.
“Wait!” seru Emily fokus membaca sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Emily mendapat info kalau Arief Wandana, ayah angkat Maharani, adalah tamu VIP di acara anniversary pernikahan ini.
“Aku yakin sih ini ada hubungannya sama Arief Wandana. Dia jadi tamu VIP di acara itu nanti.” Emily menoleh pada Khansa yang mengernyitkan alisnya bingung.
Arief Wandana punya latar belakang yang kuat di dunia entertainment, investor dana kelas kakap. Kesempatan emas bagi Fauzan untuk mendapat suntikan dana segar.
Arief Wandana adalah produser sekaligus sutradara hebat dan sangat terkenal di negara ini. Berkat ayah angkatnya inilah Maharani bisa menjadi artis top pada waktu itu. Nyonya Wandana juga adalah wanita yang sangat hebat dan tegas.
“Menurut informasi yang aku dapat nih, gara-gara masalah belakangan ini, sudah merusak koneksi Maharani di dunia entertaimen selama beberapa tahun. Jadi ….” Emily kembali menatap Khansa. Keduanya tersenyum misterius dan menarik kesimpulan bahwa Maharani hanya bisa mengandalkan cara terakhir ini.
Emily dan Khansa mencari cara agar nyonya Wandana bisa hadir di acara anniversary ini. “Tenang aja, menghubungi Nyonya Wandana serahin ke aku,” ucap Emily dengan bangga.
Kabarnya, nyonya Wandana selalu melabrak pelakor yang berusaha menggoda suaminya.
“Okey sip, aku pulangnya besok aja sekalian ke sana.”
Khansa pun memutuskan pulang tepat saat acara malam nanti, untuk menghadiri acara tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Hati-hati ya, Sa. Kalau butuh bantuan lagi jangan sungkan. Jangan lupa kabari hasilnya,” ujar Emily mengedipkan sebelah matanya saat mengantar Khansa ke bandara.
“Siap, kamu juga hati-hati ya. Jaga kesehatan, jangan kerja terus,” pesan Khansa merentangkan kedua tangannya yang segera disambut oleh Emily. Keduanya pun berpelukan erat.
“Kapan-kapan ajak Leon ke sini, liburan bareng,” bisik Emily yang segera mendapat cubitan dari Khansa.
“Awwh, Sasa!” pekik Emily kesakitan.
Khansa hanya menyengir sembari mengangkat dua jarinya. Ia selalu salah tingkah jika mendengar nama Leon disebut. Kebetulan Khansa harus segera memasuki kabin pesawat karena sudah terdengar pengumuman.
“Aku pulang ya, Emily.” Khansa mencium kedua pipi Emily lalu melenggang pergi. Emily melambaikan tangan sampai Khansa benar-benar menghilang dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pukul tujuh malam, Khansa sudah mendarat di Palembang. Perayaan anniversary pernikahan Fauzan dan Maharani dilangsungkan di sebuah hotel mewah satu jam lagi. Khansa pun langsung menuju lokasi. Ia memesan sebuah kamar dan beristirahat sejenak sampai waktunya tiba.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, aula hotel bintang lima sudah mulai ramai. Satu persatu pebisnis kaya beserta istrinya di seluruh Kota Palembang datang menghadiri acara tersebut.
Khansa sudah cantik dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya. Kedua kakinya berpijak di pintu masuk. Event organizer yang dipilih bukan kaleng-kaleng. Aula hotel tersebut sudah disulap seperti istana, dekorasinya dominan warna putih dan gold, perpaduan bunga import dan lokal pun semakin menambah kemewahan ruangan itu.
“Selamat malam semuanya,” sapa Maharani dan Jihan mendekati beberapa istri pebisnis kaya.
Mereka yang tadinya sedang asyik mengobrol seketika terdiam dalam keheningan. Para wanita kalangan atas itu bahkan melempar tatapan sinis. Tidak ada yang menyahuti sapaan Maharani. Wanita itu pun menjadi canggung.
“Bu, pindah aja kali ya. Mereka liatinnya gitu amat, Jihan risih, Bu.” Jihan berbisik sembari menarik-narik lengan ibunya. Ia merasa tidak nyaman karena ditatap seperti itu. Maharani mengangguk tanda mengerti.
“Baiklah, silakan menikmati pestanya, saya mau menyapa tamu yang lain dulu,” ujar Maharani mengangguk sambil tersenyum canggung. Namun tetap saja tatapan mereka tidak berubah bahkan mereka mengabaikannya.
Sepeninggal Maharani, para istri pengusaha kaya itu mulai bergosip. Mereka membicarakan berita yang tengah menerpa wanita itu.
“Eh, gila sih ya dia jebak anaknya sendiri. Demi apa coba?”
“Anak tiri kali, Jeng. Ya demi menguasai suami sepenuhnya lah. Apalagi,” sahut wanita lainnya.
“Kok masih mau nampung sih si Fauzan, dia buta apa gimana? Bukannya kemarin marah besar ya gara-gara dia upload foto tak senonoh itu, merusak nama baiknya.”
Kelima wanita itu saling mengendikkan bahu, karena memang beritanya mulai mereda dengan sendirinya. Khansa yang melihatnya hanya tersenyum sinis di balik cadarnya.
Dari kejauhan, Fauzan melangkah dengan tergesa sembari menatap jam di pergelangan tangannya. Pria itu menghampiri Maharani, menarik lengan wanita itu menjauh dari para tamu. Hingga di sudut yang tampak sepi, Fauzan menghempaskan lengan wanita itu saat mereka saling berhadapan.
“Rani, kenapa Arief Wandana masih belum datang juga?” tanya Fauzan sedikit panik.
Fauzan sedang melebarkan sayap bisnisnya pada proyek pembangunan perumahan mewah di Kota Palembang. Karenanya, saat ini dia sangat membutuhkan investasi dana yang sangat besar dan mendesak untuk kelancaran proyek tersebut.
Fauzan tidak peduli dengan urusan Maharani dan Jihan. Ia akan memanfaatkan momen ini untuk menarik simpati ayah angkat Maharani yang terkenal investor kelas kakap itu.
“Ya sabar dong. Mungkin lagi kejebak macet,” jawab Maharani.
“Sabar! Sabar! Ini sudah jam berapa, hah?” sentak Fauzan.
Tanpa mereka sadari, Khansa berjalan mendekati mereka untuk menonton pertunjukan seru itu.
“Belum ada satu jam, Zan! Lihatlah baru dua puluh menit. Kayak nggak tau ini jam-jam macet!” Maharani turut menggeram karena suaminya tidak sabaran.
“Lihat saja jika sampai Tuan Wandana tidak datang, kamu akan tanggung akibatnya! Kamu harus membayar semua kesalahanmu!” ancam Fauzan mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Maharani.
Meski wanita itu tidak terima dimarahi dan ditunjuk-tunjuk seperti itu, namun ia sedikit punya rasa bersalah dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Masih beruntung ia mendapat maaf dari Fauzan.
Tidak lama kemudian, Arief Wandana memasuki aula. Tanpa sengaja, Maharani melihatnya. “Itu dia,” ucapnya dengan senyum yang lebar sembari mengembuskan napas lega.
Fauzan yang membelakangi pintu masuk kini memutar tubuhnya, ia melihat Arief Wandana, pria yang ditunggu-tunggu sedari tadi. Khansa pun menengok untuk melihat kedatangan pria itu.
Maharani mengulas senyum lebarnya, berjalan anggun ke depan dengan bangga lalu merangkul lengan Arief sambil menyapa dengan manja, “Papa angkat.”
Bersambung~