Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 74. Tabur Tuai


Leon membenamkan wajah Khansa yang memerah dalam pelukannya. Ia memeluknya sangat erat masih dengan tawa tertahan.


“Sa, kayaknya kamu harus sering dilatih deh,” ucap Leon.


Khansa menjauhkan tubuhnya, meski kedua tangannya masih nyaman berada di pinggang Leon. Gadis itu menautkan kedua alisnya, hingga beberapa lipatan tercetak di dahinya.


“Dilatih apa?” tanyanya bingung.


Leon menaikkan dagu Khansa, matanya terarah pada bibir Khansa. Ia semakin mendekat, Khansa paham maksudnya. Ia pun menjauhkan tubuhnya ke belakang, tidak terjatuh karena masih ditahan lengan kekar Leon.


“Kenapa harus latihan? Bukannya kamu sudah sering merenggutnya?” sungut Khansa meyebikkan bibir.


“Biar makin pinter ciumannya, bukan cuma aku aja yang aktif. Jangan tegang, rileks, napas aja kaya biasa,” sambung Leon memberi tutorial singkat. Namun dia lebih suka langsung praktik.


“Iiihh apaan? Latihan kok ciuman!” gerutu Khansa menepuk dada Leon perlahan.


“Ya dong, kamu belum lulus jadi harus sering remidi. Kalau udah lulus harus lebih sering praktik,” jawab Leon tertawa.


Namun tawanya tak bertahan lama, karena Khansa mencubit pinggang Leon tanpa perasaan.


“Aduduh! Sakit, Sayang!” desis Leon menangkap pergelangan Khansa.


“Ya abisnya kamu otaknya ke sana mulu! Dasar omes!”


“Omes? Apaan?” Leon menaikkan kedua alisnya sembari mengusap bekas cubitan Khansa yang masih ngilu.


“Otak mesum! Udah ah, aku ngantuk mau istirahat.” Khansa menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


“Omes, bagus juga!” Leon tertawa dengan julukan barunya. Ia lalu turut merebahkan tubuh dan membenahi selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Leon menggeser tubuhnya agar semakin mendekat. Lalu membenamkan wajah sang istri yang sudah terlelap dekapannya. Seharian melalui hari yang melelahkan dan menguras emosi, membuatnya cepat tertidur.


Tidak dengan Leon yang belum mengantuk, ia membelai kepala Khansa, bahkan menghujani ciuman di kening berkali-kali. Bibirnya terus tersenyum melihat wajah cantik nan polos perempuan itu. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Tidak rela jika ada pria lain yang melihat kecantikannya dan bahkan merebut perempuan miliknya.


Leon menoleh saat ponsel Khansa kembali berdering. Ia menunduk memastikan pemiliknya masih tertidur. Tangannya yang panjang terulur untuk meraihnya. Alisnya mengernyit melihat nama Hendra tertera di layar benda pipih itu.


“Halo, Sasa. Akhirnya kamu mengangkat teleponku. Sa, aku ….”


“Jangan pernah ganggu Sasa lagi!” tukas Leon memotong ucapan Hendra yang belum selesai.


“Siapa kamu? Di mana Sasa?!” tanya Hendra penasaran.


“Yang pasti, aku bukan orang yang rela membuang berlian demi mendapat batu kerikil. Kamu akan berhadapan denganku kalau sampai berani menyentuh Sasa!” tandas Leon dengan suara dingin lalu mematikan sambungan teleponnya.


Emosinya sempat tersulut, diletakkan kembali ponsel itu di nakas lalu tidur sambil memeluk Khansa. Menghirup aroma shampo yang menguar dari kepala Khansa, mencari ketenangan dari gadis itu.


Sementara itu, di seberang sana Hendra terpaku. Ia masih memegang ponselnya sambil mengira-ngira siapa pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya Khansa  menjenguk Bibi Fida di rumah sakit, ia pergi setelah Leon berangkat ke kantor. Seperti biasa memesan taksi online.


Saat berjalan santai hendak memasuki area rumah sakit tiba-tiba ada yang meraih lengannya dengan kasar. Khansa terlonjak dan segera menepisnya.


“Khansa!” pekik Jihan melotot tajam. Sorot matanya penuh dendam dan amarah.


“Oh, yaampun Jihan, ini kamu? Aku sampai pangkling loh. Hampir aja nggak ngenalin kamu,” ucap Khansa mengiba sembari menutup mulutnya.


Jihan yang biasanya selalu tampil sexy dan mempesona, kali ini tampak kacau. Rambutnya berantakan, kantung mata yang menghitam, wajah pucat tanpa lipstik yang menyala.


Sungguh, ia terlihat sangat menyedihkan semenjak pertunangannya gagal total. Dan ia menganggap semua gara-gara perempuan di hadapannya itu.


“Puas kamu menghancurkan pesta pertunangan aku, hah?” pekik Jihan mengepalkan kedua tangannya.


“Weiits, pelan-pelan aja ngomongnya, telingaku masih normal. Kenapa nyalahin aku? Kan Hendra sendiri yang membatalkannya. Jangan suka nyari kambing hitam deh,” elak Khansa melipat kedua lengannya.


“Memang semua gara-gara kamu! Kak Hendra meninggalkan acara karena kamu. Dan bahkan sampai sekarang dia tidak bisa aku hubungi. Kamu brengsek Khansa! Kamu selalu merenggut kebahagiaanku!” teriak Jihan tidak terima sambil menunjuk-nunjuk Khansa. Gadis itu sangat marah pada saudara tirinya itu.


Khansa melangkah semakin dekat hingga jaraknya tinggal setengah meter saja. “Ckckck! Oh kasihan sekali kamu, Jihan. Dicampakan ya? Uuughh sakit banget ya?” ledek Khansa berucap lembut.


Namun tiba-tiba dia meremat bahu Jihan dan menatap nyalang. “Ini akibatnya jika kamu mengambil sesuatu dengan jalan pintas dan menghalalkan segala cara!” ujarnya penuh penekanan lalu mendorong Jihan hingga terpundur beberapa langkah. “Apa yang kamu tabur, itu juga yang akan kamu tuai!” Khansa berbalik hendak meninggalkan Jihan.


Jihan mengerang, merasa kesakitan pada bahunya. Kondisi fisiknya yang memang sudah lemah, ditambah psikisnya yang tertekan membuat Jihan tidak mampu menyerang balik. Meski kebenciannya sudah sampai ubun-ubun dan hampir meledak.


“Oh iya, satu lagi.” Khansa berhenti dan menoleh pada Jihan. “Hendra sering nelepon aku tuh. Tapi aku nggak pernah mengangkatnya!” papar Khansa dengan bangga disertai senyuman remeh, terlihat dari matanya.


Lalu Khansa masuk ke dalam rumah sakit. Jihan langsung mengepalkan tangan dengan geram.


“Khansa sialan!” pekik Jihan mengusak rambutnya frustasi. Ia pun bergegas pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jihan memasuki rumah dengan gontai, kebetulan ibunya sedang menonton televisi di ruang tengah.


“Jihan!” seru Maharani saat matanya menangkap putrinya yang terlihat tak berdaya.


Maharani berdiri dan menghampirinya. “Ji, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?” tanyanya memeluk putri kesayangannya.


Air mata Jihan semakin luruh dengan deras. Maharani mendudukkan putrinya di sofa. Dia merapikan rambut putrinya yang sangat beratakan.


“Bu, tadi aku ketemu Khansa sialan itu!” ucapnya meraih tisu yang disodorkan oleh ibunya lalu menyeka air matanya.


“Terus? Apa lagi yang dia lakukan kali ini?” tanya Maharani membelai kepala Jihan dengan lembut. Sebagai seorang ibu, hatinya tersayat melihat putrinya sehancur itu.


“Selama ini Kak Hendra nggak pernah bisa aku hubungi, Bu. Tapi … tapi Khansa bilang Kak Hendra selalu meneleponnya.” Jihan mengadu dengan sedih pada Maharani tentang kejadian hari ini.


Maharani kembali memeluk putrinya, kedua bahu Jihan bergetar karena tangisnya yang kembali pecah.


Maharani turut sedih melihat Jihan seperti itu. Hatinya sudah berkabut dendam, ia merasa rencana menikahkan Jihan pada salah satu dari 4 keluarga terhebat di Palembang telah dirusak oleh Khansa. Semua usahanya sia-sia.


“Percayalah pada ibu, kali ini ibu akan membuat Khansa dalam masalah besar sampai tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya. Ibu akan menghancurkan Khansa secepatnya! Kamu tenang saja,” gumam Maharani sembari menepuk-nepuk punggung Jihan. Gadis itu hanya mengangguk lemah di tengah isakannya.


Bersambung~