Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 46. Ambisi Jane


Simon menatap punggung Khansa yang semakin menjauh. Pria itu sebenarnya hanya ingin memastikan sesuatu saja. Dan kecurigaannya semakin bertambah saat melihat Khansa keluar dari bar itu dengan mengendap-endap.


Dengan langkah pelan dan elegan, kedua matanya mengawasi Khansa hingga keluar dari bar tersebut. Keningnya mengernyit saat seseorang meraih lengan perempuan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa yang kalian lihat? Pergilah!” tegas Fauzan menatap mengeliling masih berjongkok merengkuh tubuh Jane.


Semua orang pun membubarkan diri. Beberapa di antaranya ada yang meninggalkan bar, dan ada juga yang melanjutkan aktivitasnya.


Untungnya pertemuan Fauzan dengan kolega saat ini telah selesai.  Agenda selanjutnya adalah perjamuan bisnis dengan kolega lain, masih ada waktu tiga puluh menit lagi.


“Bangunlah,” ucap Fauzan membantu Jane berdiri.


Gadis itu menatap penuh tanya dan kagum pada pria paruh baya itu. Air matanya masih berderai membasahi kedua pipinya yang bengkak, rambutnya acak-acakan. Jane pun berdiri dengan sempoyongan, kepalanya berdenyut nyeri, sekelilingnya terasa berputar-putar.


“Ahh!” desis Jane menekan kepalanya yang berdentum kuat. Matanya terpejam merasakan pusing yang menderanya.


“Ayo ikut aku dulu. Kamu tampak sangat kacau, bersihkan dirimu,” ujar Fauzan menahan kedua bahu gadis itu agar tidak terjatuh. Jane mengangguk lemah, sesekali isakannya masih terdengar.


Mereka melangkah beriringan, Jane menundukkan kepalanya sepanjang mereka melangkah. Hingga terhenti di depan resepsionis. Fauzan mendudukkannya di sofa lalu dia memesan sebuah kamar.


Jane memperhatikan setiap gerakan Fauzan, namun ia tak berani berkomentar. Usai mendapat kunci kamar, Fauzan kembali menghampiri Jane. Ia mengulurkan kunci tersebut di hadapan Jane.


“Ini, pergilah ke kamar dan bersihkan tubuhmu.” Suara bariton itu kembali terdengar. Jane mendongak, menatap wajah tegas yang sudah matang namun masih berkharisma itu.


“Ayo ambillah, sekretarisku akan mengantarkan pakaian ganti untukmu,” ucap Fauzan sekali lagi menggoyangkan kunci di tangannya.


Tangan Jane mengulur mengambil kunci itu dengan gemetar. “Te … terima kasih, Tuan,” ucap Jane menunduk.


“Perlu aku antar? Sebentar lagi aku ada perjamuan bisnis dengan kolegaku,” sambung Fauzan menatap jam pada pergelangan tangannya.


Jane menopang tangannya pada sofa untuk berusaha bangun. “Tidak perlu, Tuan. Saya akan ke sana sendiri. Sekali lagi terima kasih,” ujarnya lemah.


“Hmm!” jawab Fauzan hanya dengan deheman.


Mereka berjalan dengan arah berlawanan, keduanya berpisah di sana. Fauzan kembali ke bar, sedangkan Jane mencari kamar yang dipesan oleh pria itu.


Jane melalui lorong cukup panjang, hingga akhirnya ia sampai di kamar yang sesuai dengan nomor pada kunci yang digenggamnya. Dari luar saja sudah terlihat jelas bahwa kamar itu sangat besar. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan, bahwa saat ini ia tidak salah kamar. Jane menatap nomor kamar yang tertera di pintu, dengan nomor yang ada di genggamannya.


“Bener ini ‘kan?” gumamnya memastikan.


Jane menyusupkan kunci tersebut perlahan, dan ya pintu terbuka setelah ia memutarnya dua kali. Jane tercengang di ambang pintu. Kamar tersebut sangat mewah, berbagai perabotan juga lengkap tersedia di sana.


“Seriusan ini kamarnya,” ucapnya menatap sekeliling. Buru-buru Jane masuk dan menutup kamar tersebut. Pandangannya mengedar, berbagai alat elektronik yang canggih pun tersedia, ranjang berukuran king size berwarna serba putih menjadi tujuannya.


Jane masih terkagum-kagum dengan ruangan yang bahkan luasnya sama dengan keseluruhan rumahnya.


“Gila, ya ampun. Ini keren,” ucapnya memantul-mantulkan diri di ranjang.


“Aahh aduh!” Seketika ia terlupa dengan luka-lukanya. Kepalanya kembali terasa nyeri saat gerakannya terlalu bersemangat.


Selama ini Jane belum pernah masuk dan transit di kamar presiden suite, oleh karena itu Jane masih terkagum-kagum dengan fasilitas dan juga interior kamar tersebut.


Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Jane tersadar, lalu kembali mengenakan mantel yang diberikan Fauzan melapisi pakaiannya.


“Apa dia Tuan Fauzan?” Jane tiba-tiba berdegub. Ketukan itu terdengar lagi, hingga akhirnya Jane melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan.


Terlihat seorang wanita cantik dengan penampilan formal tersenyum pada Jane. “Selamat malam, Nona. Saya sekretaris Tuan Fauzan, beliau meminta saya untuk mengantarkan ini pada Nona,” ucap perempuan itu mengulurkan sebuah paper bag.


“Oh, iya. Terima kasih,” sahut Jane menerima paper bag itu.


“Kalau begitu, saya permisi Nona, selamat malam.” Sekretaris Fauzan pun segera undur diri dari hadapan Jane.


Jane kembali menutup pintu dan mengintip isi paper bag tersebut. Matanya membulat dan mulutnya menganga saat meraih gaun itu sambil melangkah ke kasur.


“Ya ampun, gaun impian gue. Aaaa … akhirnya gue punya gaun branded dan masih baru!” pekik Jane memeluk gaun itu dengan erat, menjatuhkan tubuhnya hingga terpantul di kasur.


Setelah beberapa saat, Jane bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Jane sudah keluar. Ia tidak sabar ingin segera mengenakan gaun itu.


Jane berdiri dan sesekali berputar di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang sudah terbalut gaun indah itu. Senyumnya terus mengembang di bibirnya. Matanya berbinar mengagumi kecantikan dirinya sendiri.


“Ah gue cantik banget!”


Tiba-tiba senyumnya menghilang, tatapannya berubah berapi-api. Ia benci karena terlahir di keluarga miskin.


“Gue harus bisa memiliki Fauzan dan menjadi ibu tiri Jihan juga Khansa!” gumamnya dengan senyum menyeringai. Darahnya bergejolak saat memikirkan hal ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul satu dini hari, Fauzan masuk ke kamar presiden suite setelah selesai dari perjamuan bisnis. Langkahnya sempoyongan, Fauzan mabuk dan langsung terkapar di atas ranjang.


Cahaya remang-remang berpendar di ruangan itu. Karena Jane hanya menyalakan lampu tidur. Jane terkejut saat merasakan pergerakan di sampingnya. Ia pun mengerjapkan mata perlahan setelah sempat tertidur beberapa saat. Perempuan itu menatap Fauzan dalam diam, memerhatikan setiap gerakan dan gumamannya.


Ponsel Fauzan berdering berkali-kali, tapi dia mengabaikannya. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab telepon tersebut. Ternyata Maharani yang terus mencoba menghubunginya.


Fauzan mengeluarkan dompetnya lalu memandangi foto yang selalu tersimpan rapi dan dibawa ke mana-mana.


Dia adalah  Stephanie, ibu kandung Khansa. Fauzan menatapnya sendu dan penuh cinta.


Dalam foto itu, Stephanie tampak sangat cantik. Senyuman tulus membingkai bibir tipisnya. Wajah yang anggun dan penuh kasih sayang, tidak pernah bisa terhapus dari memori dan hati Fauzan.


Fauzan mengusap setiap inchi dari foto Stephanie dengan penuh kasih sayang sambil bergumam, “Steph … Steph …” Dadanya berdebar menyebut nama itu. Kenangan indah bersama Stephani tiba-tiba terngiang di otaknya. Fauzan sangat merindukan istri pertamanya itu.


Tiba-tiba, sebuah tangan hangat tengah menyentuh pipi Fauzan, membelainya dengan lembut. Fauzan terkejut dan menahan tangan itu, “Siapa?” tanyanya dengan suara berat dan pandangan yang buram.


Bersambung~


Hari ini aku bawa 5 bab lagii.. semoga nggak ada drama nyangkut lagi kek kemarin ya. etapii gpp sih nyangkut, like komennya lebih banyak 😄 kebiasaan kan di akhir bab yg di up doang...wkwkwk...


Happy readings~ thankyou supportnya😘😘😘