
Semua orang sontak menoleh ke sumber suara. Leon dan Khansa berbalik badan, tanpa membuat jarak di antara tubuh mereka. Keduanya saling pandang setelah melihat seorang pria tampan berdiri tegap di ujung tangga bawah.
"Tiger?" gumam Khansa mengerutkan dahinya, sorot mata indah itu menatap manik elang Leon. Namun pria itu pun tidak mengerti. Ia hanya membalas dengan mengedikkan kedua bahunya. Karena ini bukan bagian dari rencananya.
Pria yang sedikit ditumbuhi jambang itu bergerak naik. Seketika para pengawal segera menghadangnya. Kedua tangannya dicekal dengan kuat. Manik abu-abunya menatap nanar pasangan fenomenal itu.
"Ada yang ingin saya bicarakan," ucap Tiger.
Para bawahan Leon menatap atasannya, Leon terlihat mengangguk. Mereka lalu melepas lengan Tiger dan membiarkannya berjalan menghampiri Leon dan Khansa.
"Selamat datang kembali, Leon, adik ipar," sapanya bergantian.
"Langsung saja! Apa yang ingin kamu katakan. Kau tahu sendiri aku tidak suka berbasa-basi!" tandas Leon dengan tegas.
Tiger tersenyum tipis, ia meminta mic pada sang pembawa acara. Berdiri di samping Leon dan mulai berdehem. "Ehm! Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan," ucapnya menghela napas panjang.
Malam itu, Tiger mengakui semua kesalahannya. Ia membersihkan nama Leon dari semua pandangan buruk para pengusaha di kota asalnya.
Tiger menunjukkan pada dunia bahwa Leon memang seorang raja bisnis yang hebat sejak masih muda. Keserakahan dan iri hati yang menggerogoti, mampu memutar balikkan fakta. Namun malam ini semua terkuak. Dengan gentle, dia membeberkan semua. Tidak peduli dengan reputasinya ke depan.
"Leon," panggil Tiger menoleh pada sang adik. Matanya berkaca-kaca. "Aku siap dengan semua konsekuensinya. Aku siap kehilangan segalanya, aku ... sudah tidak mempunyai tujuan hidup. Sekali lagi, maafkan aku Leon," ujar Tiger penuh sesal setelah selesai dengan pengakuan itu. Bibirnya tersenyum tipis, namun air matanya sukses membobol kedua manik abunya.
Leon saling menatap lekat dengan istrinya yang masih saling bertautan tangan erat. Mereka terdiam, mendengar semua pengakuan pria itu. Khansa mengangguk, manik indahnya juga nampak berkaca-kaca.
Tautan tangan mereka terlepas, Leon menghampiri Tiger yang menunduk sembari sibuk menyeka air matanya. Tampak sekali penyesalan dari pria itu.
Leon menepuk lengan sang kakak, "Ini seperti bukan kamu, Kak," gumamnya dengan tenggorokan tercekat. Tangannya beralih pada bahu Tiger, lalu menarik ke dalam pelukannya. "Terima kasih. Tapi, lanjutkan saja semua usaha yang pernah aku rintis," bisiknya menepuk-nepuk punggung Tiger.
Air mata Khansa mengalir dengan deras. menyatukan kedua telapak tangannya, menimbulkan suara tepukan dalam keheningan yang tercipta, karena semua larut dalam keharuan adik dan kakak itu. Lalu diikuti oleh tepuk tangan semua orang.
Tanpa mereka sadari, suara bariton yang sangat berat kini menelusup telinga mereka. Hingga keduanya melepas pelukan satu sama lain dan menatap pria paruh baya berdiri di hadapan mereka dengan mata memerah.
"Maafkan semua kesalahan ayah. Maaf karena ketidakadilan ayah selama ini. Maaf, karena ayah salah dalam menunjukkan kasih sayang ayah pada kalian berdua." Milano menundukkan kepala dalam. Leon menoleh pada Tiger, keduanya tersenyum lalu menghampiri Milano.
"Ayah, terima kasih sudah menjadi pelajaran terbaik untuk hidup Leon. Leon tahu, ayah tidak pandai mengungkapkan perasaan ayah. Setidaknya, dari masa lalu itu, Leon mempelajari banyak hal."
"Terima kasih karena menjadi ayah sekaligus ibu untuk kami berdua, Yah!" ungkap Tiger.
Ketiga pria dewasa itu saling berangkulan erat. Hilang sudah beban yang selama ini mengganjal hati mereka. Perasaan lega menjalar di seluruh tubuhnya.
"Baiklah, karena kita sudah berkumpul semua saatnya kita lanjutkan acaranya." Leon beralih pada Khansa yang menyeka air matanya dengan sebuah tissu yang diberikan oleh panitia acara.
"Ayo, Sayang!" ucap Leon memeluk wanita itu dari belakang. Satu tangannya menyatu dengan jemari Khansa yang masih menggenggam gunting.
Khansa menghela napas panjang, "Huh, kok deg-deg" an banget ya. Tapi penasaran," ucap Khansa berusaha menetralkan perasaannya.
MC mengembalikan acara dan mengumumkan kembali pemotongan pita. Semua orang ikut tegang dan fokus. Seluruh kamera sudah siap membidik mengarah pada ke depan.
"Dalam hitungan mundur, silakan untuk menggunting pitanya, Nyonya. Mari kita hitung bersama-sama!" Sang pembawa acara mengajak audiens untuk mengikutinya.
"Tiga! Dua! Satu!" pekik semua orang dan tepat dalam hitungan, Khansa dan Leon memotong pita tersebut menjadi dua bagian.
Tirai-tirai raksasa yang menjuntai indah, perlahan juga mulai terbuka. Tubuh Khansa menegang dengan rasa penasaran yang membuncah. Matanya bahkan sampai tidak mau berkedip karena takut kehilangan momen mengejutkan itu.
Bersambung~
Sebentar... lanjutannya aku ketik dulu. sabar yaa... semoga gak nyangkut.