Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 24 : Di ambang Batas Kesabaran


"Ngapain kamu bawa anak pungut itu ke sini, Han? Sudah ibu katakan berkali-kali, kalau dia sama sekali bukan level kita!" cetus Agnes dengan tatapan sinis.


"Anda sama sekali tidak berhak untuk menolaknya. Jika Anda tidak bisa menerimanya, saya tidak peduli. Silakan angkat kaki di rumah ini," tegas Hansen semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Mendengar Hansen berbicara frontal padanya, membuat Agnes semakin meradang. "Kamu meracuni pikiran anakku untuk mengusirku dari sini ya!" sentak wanita paruh baya itu henda mendorong bahu Emily dengan jarinya. Namun Bara dengan sigap menangkap pergelangan tangan wanita itu.


"Jangan pernah menyentuh adikku, jika Anda berani menyakitinya, bersiaplah untuk kupatahkan jari-jari tangan Anda!" ancam Bara membuatnya bergidik ngeri.


Namun tentu saja itu hanya sejenak, Agnes menepis kasar tangan Bara dan menatapnya tajam. "Cih! Apa sih istimewanya gadis ini! Sampai-sampai kalian berdua memperjuangkannya mati-matian. Lagipula siapa kamu? Beraninya mengancam saya!" ucapnya memicingkan mata, melipat lengannya di dada.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Emily. Dia sama sekali tidak pernah mempengaruhiku. Saya mencintainya. Emily hidup dan mati saya. Anda sama sekali tidak berhak menentukan masa depan saya!" tandas Hansen tak melepaskan tautan tangannya.


"Hansen, buka mata kamu. Bagaimana bisa kamu memilih wanita yang tidak jelas asal usulnya? Sedangkan di samping ibu ada seseorang yang jauh lebih bermartabat dan jelas garis keturunannya juga sangat berjasa bagi perusahaan Ayah di Australia," tambah Agnes semakin membuat amarah Hansen membuncah.


Napas Hansen menderu kasar, matanya menyalang merah dengan geraham yang semakin kuat hingga giginya saling bergemeletuk. Hansen melepaskan tautan tangannya lalu melangkah lebar melalui dua wanita di hadapannya.


Hansen meraih vas bunga yang ada di meja melemparnya dengan kuat pada televisi yang menyala. Lalu menendang meja kaca yang dipenuhi dua cangkir teh dan beberapa makanan ringan. Semua hancur berkeping-keping. Hansen meluapkan semua emosinya, karena takut menyakiti wanita.


Agnes dan Alexa menjerit saat mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh Hansen. Emily hanya memejamkan matanya. Kali ini Bara yang menggenggam tangannya.


Ia sudah cukup sabar selama ini. Namun, Agnes sudah semakin keterlaluan menghina wanita kesayangannya. Ibu tirinya itu harus ditampar dengan statusnya di masa lalu.


Agnes membeku dengan debaran jantung m yang begitu kuat. Hansen berjalan dengan perlahan hingga berdiri di hadapan Agnes. Tubuh pria itu masih menegang, urat lehernya pun tercetak jelas, pertanda ia sudah berada pada batas kesabaran.


"Asal Anda tahu, Emily dan Bara kakaknya adalah anak dari Jenderal Darren Miller dan Nyonya Amoera Miller. Mereka anak dari keluarga terhormat. Lalu Anda siapa, hah?" sentak Hansen semakin membuat sekujur tubuh Agnes gemetar.


Pria itu sedikit merunduk hingga sejajar dengan wajah Agnes, kobaran api kemarahan masih menyala jelas di matanya. "Anda membicarakan balas budi? Asal Anda tahu, Nyonya Amoera Miller adalah pengacara hebat yang pernah membantu Perusahaan Mahendra, yang saat itu tengah tersandung kasus besar dengan jajaran perusahaan yang ingin menjatuhkan perusahaan milik ayah."


"Jika tanpa bantuan beliau, Perusahaan Mahendra tidak akan bisa sampai di titik ini. Anda tidak akan bisa menikmati kemewahan ini. Lalu apa jasa Anda pada keluarga saya?!" berang Hansen mengepalkan kedua tangannya erat.


DEG!


Jantung Agnes seolah terlepas dari sarangnya. Wajahnya berubah pucat pasi. Kesombongan dan kengakuhannya seketika menghilang dan hancur.


"Hansen?"


Bersambung~