Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 39 : Salting ala Jennifer


Tautan mata dua orang itu terputus tatkala Bara merasakan sesuatu yang basah mengalir pada tubuhnya. Dan benar saja, saat menoleh ke belakang, ternyata tangannya tak sengaja meraih ember pel hingga seluruh airnya tumpah.


"Aaah sial!" gerutunya mengibaskan tangannya yang basah sembari mendudukkan tubuhnya.


Asisten rumah tangga yang bertugas tidak berani bergerak sedikit pun. Hanya menutup mulutnya dengan alat pel yang dicengkeram kuat.


Jenn pun tersadar, ia segera membantu Bara berdiri meski sama sekali tidak membantu. Tubuh Bara yang kekar, tentu saja tidak akan kuat ditopang oleh Jennifer yang mungil.


"Lagian kamu ngapain sih, Bar. Astaga!" cebik Emily tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Emily yang sudah terlanjur nyaman memanggil Bara tanpa embel-embel apa pun, akhirnya kembali kesetelan pabrik. Meskipun terkadang Bara mengingatkannya. Tetap saja Emily malas memanggilnya kakak atau abang.


"Dosa loh ngetawain abang sendiri!" sembur Bara dengan ekor mata yang memicing.


Satu tangan Emily menjulur untuk membantu menarik lengan Bara. Dua gadis itu membantu di dua sisi yang berbeda hingga Bara kembali berdiri tegak menatap kemeja dan celananya yang basah.


"Iih dasar pintunya aja yang meleyot lihat aku yang cantik!"


"Heh!" sembur Emily melotot tajam, menyadarkan pria itu.


"Ganteng maksudnya, Dek," ujar pria itu meluruskan dengan senyum lebar di bibirnya.


Jenn mengehela napas panjang sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Kak. Emang udah kebuka tadi kuncinya," sahut gadis itu merasa bersalah. Karena sudah menarik kaitan kunci namun tidak membuka pintu dengan sempurna.


Tuan Mahendra beserta istri, bergegas ke depan ketika mendengar keributan. Mereka terkejut melihat keadaan Bara yang berantakan, juga asisten rumah tangganya yang sigap menyinkirkan ember dan membersihkan kubangan air di lantai.


"Astaga! Bara, kenapa kamu?" tanya Tuan Mahendra. "Jen, antar Bara ke kamar Hansen biar mandi. Carikan pakaian ganti!" titahnya pada Jennifer.


"Tapi, Om ...."


"Sudah, buruan. Itu air kotor harus segera dibersihkan. Tidak perlu sungkan. Cepat sana!" tukas Tuan Mahendra yang mengerti dengan keraguan Bara.


"Ayo, Kak!" ajak Jennifer memimpin jalan.


Bara membungkuk hormat pada Tuan dan Nyonya Mahendra sebelum melalui mereka. Mau tidak mau ia harus segera membersihkan diri.


"Emily, ayo masuk. Tunggu di dalam saja!" ajak Tuan Mahendra.


"Iya, Yah!" jawab Emily melenggang bersama Tuan Mahendra, mengabaikan kehadiran Agnes.


Agnes bingung memulai percakapan. Napas berat dia embuskan lalu berbalik mengikuti langkah dua orang itu.


Emily duduk santai bersebelahan dengan calon ayah mertuanya. Keduanya tampak serius menonton series yang dibintangi oleh Emily. Pria itu terus menyanjung dan sesekali memberi tepuk tangan bangga dengan kemampuan akting Emily yang seperti nyata.


"Ehm, Emily. Tante minta maaf yang sebesar-besarnya," potong Agnes yang duduk berseberangan dengan mereka berdua.


Emily memutar bola matanya, hingga bertumbukan dengan manik sayu Agnes. Ia meneguk salivanya dengan debaran yang hebat.


"Tante sadar sudah sangat keterlaluan dan pasti sangat melukai hatimu. Maaf," sambung Agnes beranjak dan hendak bersimpuh di hadapan Emily.


Gadis itu segera menahan kedua bahu Agnes, ia merasa tidak enak. Sekalipun rasa sakit itu masih terngiang di benaknya. Tetap saja, Emily tidak akan tega membiarkan orang tua bersimpuh di hadapannya.


"Tante bangunlah. Tolong jangan seperti ini," ujar Emily tidak enak. "Saya sudah memaafkan, Tante. Jadi, tidak perlu sampai seperti ini," sambungnya membesarkan hatinya. Bagaimanapun mereka akan menjadi satu keluarga. Emily tidak mau hubungan mereka menjadi canggung atau bahkan terpecah belah.


"Terima kasih, Emily. Hansen tidak salah memilihmu," ucap Agnes memeluknya.


Sempat terkejut, namun akhirnya ia tersenyum membalas pelukan itu. Dan akhirnya mereka duduk bertiga dalam satu sofa, menonton bersama sembari memakan camilan yang selalu tersedia di hadapan mereka.


Jauh berbeda dengan Jennifer yang sibuk mengobrak-abrik lemari pakaian Hansen. Ia tidak tahu outfit yang pas untuk Bara. Bahkan sampai Bara selesai membersihkan tubuhnya, Jennifer masih kebingungan.


"Mana baju gantinya?" tanya Bara membuat Jennifer terkejut.


Ia terlonjak lalu memutar tubuhnya, sontak membelalak ketika melihat dada bidang Bara yang polos, dihiasi air sisa-sisa ia mandi. Matanya turun ke bawah hingga menemukan perut sicpack pria itu yang membuatnya berdesir seketika. Handuk putih yang membelit mulai pinggang membuat otaknya semakin kacau.


Bara menyilangkan kedua lengannya pada dada. Keningnya berkerut dalam. "Heh?! Lihat apaan?" sentaknya membuat Jenn terkejut dan salah tingkah.


Gadis itu langsung berbalik cepat dengan dada yang berdegub sangat kuat. Bahkan tangannya gemetar saat meraih sebuah hem beserta celana kakaknya. Kedua pipinya terasa panas dan sudah pasti memerah saat ini.


Bersambung~