Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 52. Noda Merah


Leon terpaku, matanya sama sekali tak berkedip menatap kecantikan Khansa malam ini. Banyak wanita cantik yang ia temui. Namun, tidak ada yang menandingi kecantikan Khansa.


Tidak berdandan saja sudah membuatnya terpesona. Apalagi dengan sedikit riasan seperti saat ini, semakin membius Leon dan membuatnya enggan menoleh wanita lain.


Leon meraba dadanya yang bertalu dengan kuat. Selama ini tidak ada wanita yang bisa menyentuh hatinya. Khansa adalah satu-satunya. Ditatap seperti itu membuat Khansa salah tingkah. Ia sedikit menyungginkan senyum, membuat Leon semakin gila. Ingin segera mereguk manisnya bibir itu.


Saat Leon ingin menyentuh wajah Khansa, tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar.  Khansa terlonjak kaget. Buru-buru ia  kembali memakai cadar itu, “Tuan Leon, kamu sudah puas ‘kan melihatnya, aku pergi dulu.” Khansa mendorong Leon dengan kuat dan berlari keluar.


“Ma … maafkan saya, Tuan!” ucap seorang pria yang berjalan mengendap-endap. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


‘Sial! Kemana Simon?’ gerutu Leon dalam hati. Kepalanya menoleh, mengarah pada pria itu. Tangannya menyiku, sambil meremas jari jemarinya. Hampir saja orang itu melihat Khansa saat membuka cadar.


Pria itu mengambil salah satu sepatunya yang tertinggal. Tadi mabuk berat dan harus diseret oleh teman-temannya. Tanpa disadari, ternyata salah satu sepatunya nyangkut di kolong meja.


Leon hanya memicingkan mata sembari mengetatkan rahangnya,  giginya bergemeletuk. Leon beranjak berdiri, langkah kakinya santai namun terdengar menakutan bagi pria yang berjongkok di bawah sana.


Ekor mata Leon melirik dengan tajam lalu ia berhenti tepat di belakang pria yang baru saja berbinar menemukan sepatunya.


“Ah, akhirnya ketemu!” serunya.


“DUGH!”


Kepalanya terbentur dengan meja. Ia terduduk di lantai tepat di ujung sepatu Leon. Ingin sekali pria itu menghilang saat ini juga. Ia merasa suasana di ruangan itu menjadi sangat dingin dan membuatnya merinding.


“Maafkan saya, Tuan. Sepatu saya tertinggal. Saya … harus segera pulang,” gumamnya menangkupkan kedua tangan di dada, masih dengan satu sepatu di tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di luar ruangan, Simon terkejut saat melihat Khansa tiba-tiba berlari keluar. Langkah gadis itu terhenti saat lengannya diraih oleh Simon.


Khansa menoleh dengan cepat, wajahnya mendongak hingga sejajar dengan Simon.


“Ada apa?” tanya Khansa. Suaranya terdengar gemetar.


“Apa kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Kamu sakit?” goda Simon memiringkan kepalanya menatap Khansa lamat-lamat. 


Khansa memang selalu seperti itu setiap berdekatan dengan Leon. Wajah yang memanas, tapi jari-jari tangannya seperti es. Dan gelombang dadanya yang menghantam dengan begitu keras, hingga sekujur tubuhnya melemas.


“A … aku baik. Aku baik-baik saja,” gumamnya menunduk, tenggorokannya tercekat.  Lalu melepaskan tangan Simon dari lengannya.


“Kenapa tanganmu dingin sekali? Apa yang dilakukan Kak Leon?” tanya Simon dengan rasa penasaran yang membuncah.


Semua pria tadi pun sama penasarannya dengan Leon. Mereka mendekat dan memasang telinga baik-baik. Namun Khansa justru berlari meninggalkan mereka.


Simon menaikkan sebelah alisnya saat melihat sesuatu yang menyolok pandangannya. Ia senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana wajah dan sikap Khansa tadi. 


Khansa masuk ke toilet untuk menenangkan perasaannya, Khansa tidak pernah melepaskan cadar sejak datang dari desa. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya selain Leon. Dia orang pertama yang melihatnya.


Tak berapa lama, Leon juga keluar dari ruangan diikuti pria lancang yang berjalan membungkuk di belakangnya. Punggungnya baru saja mendapat hantaman dari sepatu mahal milik Leon.


Masih cukup baik nasibnya, kalau saja Leon tidak mengingat ingin mengejar Khansa mungkin pria itu akan habis saat ini juga.


“Mon! Kenapa dia bisa masuk?” tanya Leon menunjuk pria di belakangnya.


“Ck! Kemana Khansa?” tanya Leon berdecak kesal sembari bertolak pinggang.


“Ke … toilet,” tunjuk Simon ke arah Khansa berlari.


Leon berlari mengejar Khansa sampai ke toilet. Tidak peduli ada gambar perempuan di depan pintu. Leon tetap memaksa masuk.


Khansa sendirian di sana. Tidak ada orang lain selain mereka berdua. Khansa terperanjat saat mendapati Leon di ambang pintu melalui kaca besar di depannya.


Pria itu terlihat sangat tampan saat ini. Padahal dasinya berantakan, dua kancing kemejanya bahkan sudah terlepas. Bisa mengintip betapa kekarnya dada milik pria itu. Semua yang ada pada Leon terlihat sangat indah di mata Khansa.


“Tuan Leon? Ini toilet wanita! Kenapa kamu masuk ke sini?” seru Khansa menegang, saat terdengar langkah kaki Leon yang semakin mendekat.


“Kenapa lari dariku, hm?” tanya Leon berdiri tepat di belakang Khansa.


Khansa berbalik dan Leon sudah membenturkan tubuh wanita itu pada dada bidangnya. Pria itu memang selalu seenaknya sendiri dan selalu mendominasi.


Khansa meneguk ludahnya dengan berat. Leon menunduk sedangkan Khansa menengadahkan kepalanya. Kedua tangannya menahan dada Leon dan sedikit menjauhkan tubuhnya. Meski Leon mendekapnya dengan erat. Kedua jantung mereka berlomba-lomba dengan debaran yang sama. Sama-sama kuat.


“Aku sudah bilang bukan? Aku tidak suka kamu datang dan pergi sesuka hati, ingat?” ucap Leon pelan namun bisa menggetarkan hati Khansa.


“Eeemm … aku … aku mau buang air. Sebentar,” ucap Khansa melepaskan diri dari dekapan Leon.


Mengetahui Leon sudah mengendurkan pelukannya. Khansa segera melepaskan diri. Bukannya masuk ke dalam bilik toilet justru hendak berlari keluar. Lengan Leon membentang dan menahan tembok menghalangi langkah Khansa.


“Kabur?” tanya Leon. Khansa menggeleng. Namun ia segera menundukkan kepala dan mendorong tubuh Leon, hingga akhirnya bisa melarikan diri dari pria itu.


Khansa terus berlari dengan gesit dan berhenti di halte bus. Napasnya terengah-engah. Secara kebetulan, sudah ada bus yang siap untuk berangkat, searah dengan Villa Anggrek. Khansa pun menaikinya.


Rasa sakit dan bahagia yang menelusup secara bersamaan. Entah mana yang lebih mendominasi, tapi yang jelas, perasaannya saat ini berkecamuk. Krisis kepercayaan, namun juga tidak bisa mengelak. Tangan kurus itu meremat dadanya sendiri.


Saat Leon hendak mengejar Khansa, Simon menghampiri. Ia ingin tahu mengenai wajah Khansa tadi. Simon selalu saja memiliki tingkat kekepoan yang tinggi.


“Kakak!” panggil Simon membuat langkah Leon terhenti.


“Hm?”


“Bagaimana wajah asli Khansa? Baru lihat matanya aja udah, emmm ....” Kepalanya menunduk saat Leon hanya menjawab dengan tatapan yang sangat tajam. Bukan menjelaskan bagaimana wajah Khansa.


Namun tiba-tiba kedua bola mata Simon membulat. Ia menunjuk paha Leon, “Kak Leon, itu celanamu kenapa? Sepertinya ada noda merah.”


Kebetulan Leon mengenakan celana dan jas berwarna biru muda. Sehingga noda itu terlihat jelas. Leon menunduk mengikuti arah jemari Simon. Keningnya mengernyit sembari berpikir.


“Jangan-jangan darah Kakak ipar? Aku tadi juga lihat di celananya. Jangan-jangan dia terluka? Tidak mungkin milik wanita-wanita bayaran tadi ‘kan? Mereka bahkan cuma duduk lima detik. Itupun di kursi, enggak di atas pahamu,” sambung Simon menjelaskan.


Ya, para wanita tadi memang bergelayut di tubuh Leon hanya lima detik, karena Leon tidak tahan dengan mereka. Bahkan keduanya duduk di kursi yang lebih tinggi dari kursi Leon. Jika dilihat dari jauh mereka tampak berada di pangkuan pria itu karena tertutup meja yang sangat besar.


Hanya Khansa yang tadi duduk di paha Leon, Leon segera meraih ponselnya, mencoba menelepon Khansa berkali-kali, tapi tidak dijawab, Leon segera mengejar Khansa.


 


Bersambung~