Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 121. Kompak


Di luar ruangan, Emily mengeluarkan ponselnya sambil mengurus pekerjaan yang tertunda. Membaca schedule ulang dari sang manager. Di sela aktivitasnya, Emily menyempatkan jemarinya membuka instagram.


Foto-foto mesranya bersama Hansen bertebaran di mana-mana. Tanpa sadar, jemarinya menggesek layar benda datar itu tepat di wajah tampan Hansen dengan senyum merekah.


"Eh! Tidak! Tidak! Duh, kenapa nih otak kok kayak terkontaminasi!" Matanya terpejam sembari menggeleng dengan kuat, kedua tangannya menepuk-nepuk kepala.


Khansa beranjak berdiri, mencoba melepas lilitan tangan Leon. "Bentar deh, kasihan Emily," gumamnya berjalan keluar. Leon baru menyadari, gaun yang dikenakan Khansa robek, juga tidak mengenakan alas kaki.


"Emily, aku pikir kamu ke mana?" gumam Khansa duduk di sebelah Emily.


"Cari angin segar aja. Abis di dalam bikin sesak napas sih liat orang mesra-mesraan," celetuk Emily sembari memainkan ponselnya.


Khansa merasa bersalah, 'Gara-gara Leon,' gumamnya dalam hati.


Setelah Khansa pergi, Leon meraih ponselnya untuk menelepon seseorang. Tak menunggu lama, telepon terhubung. Wajah Leon kembali serius, kilat tajam tampak memancar dari matanya.


"Gimana, Ger? Sudah kamu ambil pisau itu?" tanya Leon sembari mengendurkan dasi.


"Sudah, Tuan. Haruskah saya serahkan ke polisi? Atau kita selidiki dengan tim sendiri?" Gerry bertanya balik.


"Sendiri saja! Jangan libatkan polisi untuk kasus ini! Oh ya, sampaikan sama Hansen untuk menyusul ke rumah sakit. Saya ada di ruangan Bibi Fida."


"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Gerry khawatir.


"Ya! Suruh Hansen saja yang ke sini. Kamu urus yang di sana! Jangan lupa tempatkan beberapa pengawal di sini. Tapi jangan terlalu mencolok!" cecar Leon dengan tegas.


Baru hendak menjawab, Leon sudah mematikan sambungan teleponnya. Pria itu beranjak berdiri dan berniat untuk menyusul Khansa. Saat membuka pintu, kedua perempuan yang sedang mengobrol itu menatap ke arah Leon. Terutama Emily yang menatapnya tajam.


"Kenapa?" tanya Leon mengerutkan dahinya, berjalan mendekat. "Emily, kunci mobil!" pintanya menengadahkan tangan.


"Mau ke mana?" tanya Khansa penasaran.


Emily menyerahkan kunci mobilnya, Leon berjalan ke arah Khansa, "Keluar bentar," sahut Leon mengecup kening Khansa lalu melenggang pergi.


"Dihh! Pergi sana! Kalau bisa jangan balik lagi!" decak Emily melihat kebucinan Leon. Khansa hanya menahan senyumnya di balik cadar.


Sepeninggalnya Leon, Emily pun banyak bertanya pada Khansa mengenai Leon. Jiwa keponya meronta melihat sikap pria itu. Namun Khansa malu menceritakannya.


Tak berapa lama, Hansen muncul dari kejauhan. Lorong yang sepi membuat langkah tegas Hansen terdengar begitu jelas. Emily dan Khansa seketika mengarahkan pandangan ke sana.


"Sa," Emily meraba-raba tangan Khansa. "Sa!" panggil Emily lagi.


"Iya."


"Kok ada dia?" tanya Emily mulai gugup. Ia memutar tubuhnya, membelakangi Hansen.


"Aku juga nggak tau," ucap Khansa mengendikkan bahunya.


Hansen semakin mendekat, Emily pun nampak salah tingkah. Khansa merasa ada sesuatu di antara mereka berdua. Ia menatap curiga dua orang itu.


"Kakak ipar, kamu tidak apa-apa?" tanya Hansen.


"Emm ... sepertinya Emily yang kenapa-napa, Tuan Hansen. Duduklah, aku harus melihat kondisi Bibi Fida," ucap Khansa berdiri, meninggalkan dua sejoli itu. Kerja sama suami istri yang bagus walau tanpa rencana.


"Eh, Sasa! Kok pergi sih?" panggil Emily yang diabaikan Khansa. Gadis itu menatap lurus ke depan, hingga Khansa menghilang di balik pintu.


Keheningan tercipta di antara Hansen dan Emily. Gadis itu sama sekali tidak berani memandang pria di sampingnya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, sambil menahan debaran jantungnya yang tak karuan.


"Tuan!"


"Emily!"


Keduanya bersuara secara bersamaan, setelah beberapa menit saling diam. Lalu saling menatap dan melempar tawa. Emily menyengir menggaruk kepalanya. "Anda saja dulu," ucapnya.


"No, ladies first," tolak Hansen dengan suaranya yang tegas. Jantung Emily semakin berdetak kuat.


"Eee ... terima kasih, karena beberapa kali menolongku," ucap Emily menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Sama-sama. Hanya kebetulan saja," sahut pria itu.


Emily terdiam sejenak, 'Oh, kebetulan?' gumamnya dalam hati sembari merutuki perasaannya sendiri yang menanggap lebih. Ia pun merapatkan bibirnya, menoleh ke arah lain.


"Kamu, tidak ada pekerjaan?" tanya Hansen setelah Emily terdiam.


"Banyak, sementara aku cancel, sampai masalah Sasa beres," jawab Emily berusaha untuk biasa saja.


Hansen mengangguk, ia menumpukan kedua sikunya di atas paha. Kepalanya menoleh pada gadis muda yang cantik di sampingnya. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


"Kamu sangat dekat sama Khansa ya?" tanya pria itu lagi memancing Emily untuk berbicara.


"Ya, kami selalu bersama sejak kecil," sahut Emily singkat.


"Tuan Leon, mana kunci mobilnya. Aku mau pulang!" pinta Emily menengadahkan tangan.


"Kamu lupa ini mobil siapa?" tanya Leon menaikkan kedua alisnya.


"Ya pinjemin dulu lah. Mobil kamu 'kan banyak. Tenang aja, nanti aku kembaliin nggak kurang secuilpun!" celetuk Emily tersenyum.


"Enggak! Han, antar dia pulang. Sasa biar sama aku aja di sini. Biar nggak ada pengganggu sekaligus mencuri perhatian Sasa!" tegas Leon segera masuk ke ruang rawat inap, ia merasa cemburu dengan kedekatan dua perempuan itu.


Emily berdiri mengepalkan tangan dan mengayunkannya di udara seperti hendak memukul Leon, namun keburu pintu tertutup kembali. Hansen hanya tersenyum melihatnya. Gadis itu tampak berbeda di matanya. Tidak ada manis-manisnya sebagai perempuan, namun terlihat istimewa baginya.


"Ayo, aku antar pulang," ucap Hansen berdiri di belakangnya memasukkan kedua tangan di celana.


Emily mengangguk sembari mengerutkan bibirnya. Ia meraih sling bagnya dan memasukkan ponselnya. Lalu berjalan pelan, beriringan dengan Hansen.


"Mau pulang ke mana?" tanya Hansen.


"Ke rumah orang tua angkatku saja. Maaf merepotkan, Tuan," ujar Emily menatap lurus ke depan.


"Baiklah," ucap Hansen berjalan dengan cool.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa menoleh saat Leon memasuki ruangan. Mereka pun saling melempar senyum, Bibi Fida sudah bangun dari tidurnya dan baru saja selesai makan disuapi oleh Khansa.


"Ganti baju dulu. Nih ada sandalnya juga. Abis itu makan," ucap Leon menyerahkan dua paper bag ke tangan Khansa. Kemudian ia mengeluarkan makanan dan meletakkannya di atas meja.


Khansa mengintip isinya lalu menatap Leon, senyumnya semakin melebar. Tidak menyangka jika Leon sangat perhatian padanya. "Terima kasih, Leon," ujarnya.


"Bibi, Sasa ganti baju dulu ya," pamit Khansa dijawab dengan sebuah anggukan kecil.


Bibi Fida turut bahagia melihat Khansa sudah mulai mendapatkan kebahagiaannya. Dipertemukan dengan laki-laki yang tampak jelas terlihat binar cinta dari sorot matanya.


Leon beberapa kali melihat jam di tangannya. Jam pemberian Khansa yang tidak pernah ia lepas kecuali saat tidur. Banyak koleksi jam mahal lainnya yang sudah tidak pernah ia sentuh lagi semenjak mendapatkannya dari Khansa.


Sudah sepuluh menit, Khansa tak kembali dari toilet. Leon bermaksud untuk menyusulnya. Beberapa kali Leon mengetuk pintu sembari memanggil istrinya itu.


"Sa! Kamu kenapa nggak keluar-keluar? Kamu baik-baik saja?" tanya Leon khawatir.


Klek!


Pintu terbuka sedikit, Khansa menyembulkan kepalanya. Leon pun mendesah lega melihat Khansa baik-baik saja.


"Kamu ngapain? Jangan bikin aku panik," ucap pria itu.


"Ini nggak ada outernya?" tanya Khansa tidak mau memperlihatkan tubuhnya.


Gaun tanpa lengan sepanjang lutut itu membuat Khansa takut untuk keluar dari toilet. Leon terkekeh melihat wajah polos Khansa. "Ada, di sana!" Leon menunjuk ke arah sofa dengan dagunya.


"Siniin!" cebik Khansa memaksa.


"Nggak! Ambil sendiri." Leon pun berbalik sambil tertawa. Ia sengaja mengerjai Khansa, lagipula tidak ada orang lain selain mereka dan Bibi Fida.


Leon kembali duduk, sedangkan Khansa menggeram di toilet, "Leeooonn!" teriaknya menggema.


"Sinilah! Kamu mau di sana terus sampai malam?"


Mau tak mau, Khansa pun keluar meski dengan wajah yang kesal. Rambutnya diurai sempurna, sebagian untuk menutupi bahunya yang putih dan mulus. Ia berjalan dengan tergesa ke arah Leon. "Mana?" pinta Khansa mengulurkan tangan.


"Tuh!" Leon menatap meja namun secepat kilat ia mengambil outer Sasa.


"Leon! Siniin!" seru Khansa mencoba merebutnya.


Namun Leon sengaja menjauhkan dari jangkauan Khansa, wanita itu terus berusaha merebut, lalu Leon sengaja menyembunyikan di balik punggungnya hingga tubuh Khansa terjatuh dan menindih Leon. Kedua tangan Khansa refleks menyentuh bahu Leon.


DEG! DEG! DEG!


Bunyi dentuman jantung keduanya bahkan terdengar sangat nyaring. Manik jernih mereka saling menatap dan menyelam begitu dalam. Hingga suara Bibi Fida membuyarkan keromantisan dua orang itu.


"Syukurlah, Nona Sasa tidak jadi menikah dengan Hendra," ucap Bibi Fida lirih namun dapat terdengar jelas di telinga Leon dan Khansa. "Dia ... sangat jahat." Air mata Bibi Fida kembali mengalir dari kedua sudut matanya.


Bersambung~


Aduuduuhh gulaku sampe abis gegara kalian SaLe... 😑😑😑



Gausa repot repot, Mas Le. Aku gasuka disuap 😏Kalau bisa pabrik minyak goreng saja. Yang harganya melebihi skincare 😂😂