Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 52 : Kado Spesial


Hansen menggeram dalam hati, matanya terpejam sesaat dengan deru napas yang kasar. Emily mendorong dada bidang Hansen lalu bergersk cepat, beranjak ke kamar mandi.


"Iya, Abangku Sayang! Aku mandi dulu!" teriak Emily sembari berjalan cepat.


Dalam hati bersyukur karena ada yang menghentikan Hansen sebelum keblabasan. Mengingat padatnya acara nanti malam, tentunya Emily belum cukup siap jika harus melakukan kegiatan intim sekarang, apalagi acara sebentar lagi akan dimulai.


Sedangkan Hansen memejamkan mata sembari memijit pelipisnya. Apa mau dikata, ia memang harus menahannya. "Huuhh! Awas aja kakak ipar!" gerutunya dalam hati.


Beberapa waktu berlalu, Emily sudah dalam proses make up. Hansen beralih ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di Villa Anggrek sudah ramai kedatangan Zahra beserta seluruh penghuni panti sosial. Tidak ada yang tahu jika Khansa dan Leon sebenarnya akan mengadakan resepsi, karena di Villa Anggrek, tidak ada dekorasi apa pun. Hanya ada beberapa meja yang dilingkari kursi berbalut kain satin berwarna putih.


Di meja, banyak sekali berbagai macam hidangan mewah yang seketika membuat mata anak-anak seusia Zahra berbinar. Mereka tampak menelan ludahnya, ini pertama kalinya anak-anak itu melihat makanan mewah sebanyak ini.


Khansa, Leon, nenek dan semua pelayan sudah berdiri rapi menyambut kedatangan mereka. Pengurus yayasan termasuk ibu Zahra menitikkan air mata haru, karena ini pertama kalinya ada orang kaya yang mau bersinggungan dengan yayasan mereka.


"Sepertinya anak-anak nggak sabar mau makan, Bu. Silakan dinikmati dulu hidangannya," ucap Khansa mempersilakan.


Anak-anak tampak antusias mencari tempat duduk. Namun tetap sesuai arahan pengurus yayasan mereka. Setelah menggumamkan doa, mereka segera menyantapnya dengan begitu bersemangat.


"Lihatlah Leon, makanan yang menurut kita biasa saja, begitu istimewa di mata mereka. Mereka sangat bahagia ya," gumam Khansa menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


Manik indah Khansa sudah dipenuhi air mata. Ia terharu melihat kebahagiaan anak-anak itu. Bahkan lama-lama isakannya semakin terdengar. Leon hanya mengangguk, sembari berusaha menenangkannya.


"Anak-anak daddy jangan cengeng kayak mommy ya," celetuk Leon mengusap perut Khansa.


Khansa mencubit pinggang Leon, "Jangan jadi pemarah kayak daddy!" sambungnya.


Leon hanya terkekeh, memang perpaduan alami yang terkadang di luar nalar semenjak hamil. Khansa menjadi lebih cengeng dan mudah terenyuh. Sedangkan Leon mudah sekali marah.


Yayasan mereka tidak terdaftar, apalagi lokasinya yang berada di perbatasan, membuatnya cukup kesulitan mendapat donatur atau bantuan.


Namun kini tidak lagi, karena Sebastian Group sudah resmi menjadi donatur tetap untuk yayasan tersebut. Tidak peduli dengan keyakinan mereka yang berbeda.


Kebahagiaan Khansa adalah bisa bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. Leon dan nenek sangat mendukung keinginan mulia wanita itu.


Menjelang malam, mereka pun berpamitan dengan diantar oleh transportasi yang disediakan oleh Leon. Satu persatu dari mereka menyalami keluarga kecil itu. Doa dan ucapan terima kasih terus bergulir untuk Leon dan sekeluarga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Emily sudah siap dengan gaun mewah dan riasan memukau malam itu. Hansen pun sudah tampak gagah dan tampan dengan balutan jas yang senada dengan gaun istrinya.


"Bang? Gimana? Udah siap semua?" tanya Emily yang saat itu tengah dirapikan rambutnya oleh hair do profesional.


"Udah, tim WO udah telepon tadi katanya udah siap. Eh, dapet kiriman kado spesial dari Khansa dan Leon," papar Bara yang turut masuk mengoreksi riasan Emily. Karena lelaki itu yang sejak dulu paling mengerti make up yang cocok dengan Emily.


"Kado? Apaan?" tanya Emily penasaran.


Hansen yang juga tengah dirapikan rambutnya kini menoleh pada kakak iparnya. Namun tidak berapa kembali fokus ke cermin di hadapannya.


"Lihat aja nanti di depan," ucap Bara merapikan gaun yang dikenakan Emily.


"Iihh bikin penasaran aja. Kenapa nggak dibawa masuk aja sih?" ucap Emily tak sabar.


"Sabarlah! Ini bentar lagi juga kelar," gumam Bara memilihkan heels yang cocok dan nyaman. Karena ada banyak pilihan berjajar di ruang make up tersebut.


Bersambung~