
Khansa masih terdiam, otaknya mendadak beku setelah dihantam rasa syok bertubi-tubi. Sedangkan deru napas Leon tampak memburu. Emosinya kembali memuncak. Jemari Leon segera berselancar di layar ponselnya, mencari titik lokasi keberadaan Gerry.
"Leon!" panggil Khansa lirih menyentuh lengan suaminya.
Leon menoleh, ia segera menarik kepala Khansa ke dalam pelukannya. Tangannya membelai rambut Khansa, "Tidak akan terjadi apa pun," gumamnya mencium puncak kepala Khansa. Satu tangan lainnya masih sibuk mengotak-atik ponsel. Matanya memicing untuk memperhatikan titik merah.
"Ayo kita selamatkan asisten Gerry!" rengek Khansa mendongak, menyentuh kedua sisi pinggang Leon.
"Tidak! Tidak! Kamu di rumah saja. Kamu bisa dalam bahaya," tolak Leon dengan tegas.
Khansa menangkup kedua pipi Leon, menatap dalam kedua mata elang Leon yang nampak kebingungan. "Selama kamu di sampingku, aku pasti baik-baik saja," ucap Khansa meyakinkan.
Leon terdiam sejenak sambil berpikir, matanya terpejam lalu menghela napas panjang. Leon tengah dihadapkan pilihan yang sulit. Gerry adalah asisten setianya, pria yang selalu mendampinginya dalam keadaan terjatuh sekalipun. Sedangkan Khansa adalah belahan jiwanya.
"Leon, ayo. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan asisten Gerry!" Khansa kembali menarik kesadaran Leon.
Pria itu menatap kedua manik Khansa begitu dalam, kalau pun tidak sekarang suatu saat dia pasti akan menghadapi situasi seperti ini. Leon memeluk erat tubuh Khansa. "Maaf, kamu harus berada dalam situasi ini!" gumam Leon.
Khansa mengendurkan pelukannya, "Jangan buang-buang waktu. Aku akan selalu baik-baik saja. Aku percaya kamu bisa menjagaku. Tunggu sebentar aku mau ganti baju!" Gadis itu segera beralih menuju walk in closet.
Leon juga tengah bersiap, ia beralih menuju nakas, membuka laci dan menemukan pisau lipat untuk berjaga-jaga. Leon berjongkok, mengikatnya pada betis di balik celana yang dikenakannya. Lalu kembali berdiri mengenakan jaket kulit untuk membalut kemejanya.
Mata elang Leon semakin menajam, tangannya sibuk mengenakan sarung tangan berbahan kulit juga. Khansa sudah berdiri di belakangnya. Dia sibuk mengikat rambut panjangnya. Leon berbalik melihat Khansa yang tampak berbeda.
Gadis itu mengenakan kaos berlengan pendek, celana jeans panjang dengan sepatu boots sedikit tinggi yang sudah terikat rapi di kakinya. Leon membantu mengenakan jaket berwarna senada dengannya.
"Sudah siap?" tanya Leon menjapit dagu Khansa.
Gadis itu tersenyum di balik cadarnya. Kepalanya mengangguk dengan mantap. Meski dadanya berdebar karena ini adalah pengalaman pertamanya. "Siap banget!"
"Kita ke markas dulu dan naik motor saja agar lebih cepat sampai!" ucap Leon.
Khansa mengangguk lagi, Leon berjalan dengan cepat sembari menggenggam lengan Khansa. Ia berharap bisa kembali pulang sebelum nenek terbangun esok hari. Leon membuka pintu garasi sendiri, Khansa menunggunya di depan. Pria itu mengeluarkan motor gedenya yang jarang sekali dia pakai. Dia berhenti tepat di mana Khansa menunggunya.
Leon menempelkan earpiece di salah satu telinga Khansa. "Cek!" ucapnya mengetes suara. "Kedengeran?" tanya Leon yang diangguki oleh Khansa.
Leon lalu mengenakan helm full face pada Khansa, dan mengaitkannya. Satu tangannya teulur di atas kepala wanita itu, "Nanti, helmnya jangan dilepas apa pun yang terjadi!" pesannya menatap kedua manik indah istrinya.
"Baik!" sahut Khansa dengan patuh.
Leon menuntunnya hingga luar gerbang, karena takut nenek akan terbangun jika dia bersuara tepat di halaman. Khansa berbincang dengan penjaga gerbang. Ia mengatakan ada urusan mendadak dengan Leon. Tidak ada yang curiga, karena Villa Anggrek tidak pernah ada kejadian yang janggal selama ini.
"Hati-hati, Tuan, Nyonya!" ucap penjaga tersebut membungkukkan tubuhnya.
Khansa segera naik ke jok belakang saat Leon selesai memanasi mesinnya. Kedua lengan kurus itu melingkar erat di perut Leon. Tubuh keduanya menempel tak berjarak. Leon segera memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi.
Angin malam yang begitu dingin tidak mampu menembus kulit mereka. Leon fokus dengan jalan yang sepi, sesekali meliuk sembari memainkan gigi roda duanya saat hendak menyalip kendaraan besar.
"Kenapa kalian tidak ada yang melapor saat kehilangan kontak dengan Gerry, hah?!" berang Leon dengan pandangan mengeliling tajam.
"Maaf, Tuan. Kami tidak mengira ini akan terjadi," sahut pria kekar yang ditunjuk Leon untuk menjadi pemimpin.
"Leon, bukan saatnya memarahi mereka. Atur strategi," bisik Khansa berjinjit, sembari menarik lengan Leon.
Benar yang dikatakan Khansa, sekarang bukan saatnya untuk mencari kesalahan. Leon menghela napas panjang. Ia menuju sebuah meja bundar berukuran cukup besar. Leon menyambungkan ponselnya dengan proyektor.
"Matikan lampu!" ujar Leon mendudukkan tubuhnya di kursi depan.
Khansa masih setia berdiri di belakang Leon, pria itu menunjukkan titik keberadaan Gerry disekap. Lokasi yang cukup jauh dari pemukiman padat penduduk. Terlihat sebuah rumah tua di tengah semak belukar.
Leon menjelaskan strategi untuk bisa mengeluarkan Gerry dengan selamat. Cukup cepat penjelasannya, namun bisa langsung dimengerti oleh para anak buahnya. Khansa pun memperhatikannya dalam diam. Meski lelah terlihat jelas dari gurat wajah Leon, pria itu tetap fokus dan tegas dalam setiap kalimat yang keluar dari tenggorokannya.
"Ingat! Gunakan senjata kalau kepepet saja. Jangan melukai terlebih dahulu, kecuali kalian dalam kondisi terdesak!" tegas Leon memperingatkan.
"Baik, Tuan!" jawab mereka serentak.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Leon dengan suara pelan sembari menoleh ke belakang. Para anak buahnya saling melirik, baru saja teriak-teriak dengan garang, detik berikutnya bersuara lembut seperti itu.
"Siap!" sahut Khansa menepuk satu bahu Leon.
Leon beranjak berdiri, mengambil senjata kesayangannya dan menyembunyikan di balik saku jaketnya. Khansa juga diberi sebuah dessert eagle yang pernah ia pakai untuk latihan.
"Untuk berjaga-jaga saja," ucap Leon meletakkannya di tangan Khansa lalu meraih helm.
"Waspada," ucap Leon setelah memakaikan helm pada Khansa.
Gadis itu segera memasukkannya ke dalam saku jaket. Mereka segera berangkat menuju lokasi. Sesuai perintah Leon, mereka berangkat secara bertahap. Hanya dua mobil yang akan mengawal Leon, sisanya menyusul. Meski demikian, mereka juga tengah bersiap di mobil masing-masing. Tinggal menunggu waktu saja.
Motor Leon melaju sangat cepat memimpin jalan, dua mobil di belakangnya pun juga melaju dengan kecepatan yang hampir sama. Tiga puluh menit berpacu di tengah dinginnya angin malam, akhirnya mereka mencapai lokasi.
Tampak rumah tua itu berada di lereng gunung. Leon berbelok dan sedikit menuruni jalan yang terjal sehingga berhenti tepat di halaman. Dua mobil di belakangnya berhenti di bahu jalan. Mereka bersiap di posisi masing-masing.
Baru mematikan mesin motor, beberapa orang segera mengerumuninya sambil menodongkan senjata. Khansa membuka kaca helmnya, mengangkat kedua tangan lalu turun dari motor. Sedangkan Leon membuka helmnya, meletakkan di atas jok motor yang sudah distandarkan. "Di mana Tiger?!" tanyanya tanpa basa-basi.
Mereka tidak menjawab, hanya saling menatap. Salah satu di antaranya mengedikkan kepala, lalu dua orang maju beberapa langkah dan mencekal lengan Khansa.
Khansa menepisnya dengan kasar, "Tunggu! Bawa Asisten Gerry ke sini terlebih dahulu! Aku harus memeriksa keadaannya!" teriak Khansa melemparkan tatapan tajam pada dua pria di sampingnya.
Bersambung~
Loh Mas! Eh loh! Are you kidding me? Hei, kau barterin Mbak Sasa, Mas?