
"Bagaimana, Dok?" tanya Jihan dengan raut khawatir.
Dokter perempuan itu mengembuskan napas kasar, "Sebenarnya, belum ada perkembangan apa-apa pada ibu Anda. Gerakan yang Anda sebutkan tadi, bukan merupakan tanda-tanda kesadaran. Tanda-tanda vitalnya masih belum ada kemajuan. Mohon bersabar ya," papar Dokter menepuk bahu Jihan.
Perempuan itu menunduk, air matanya kembali hampir tumpah, tubuhnya melemas, padahal tadi ia sempat bahagia karena melihat Maharani menggerakkan jari tangannya.
"Tapi tadi saya melihatnya sendiri, jari ibu saya gerak, Dok!" seru Jihan mengelak dengan kekeh.
"Sepertinya itu hanya gerak refleks saja, semoga secepatnya ada perubahan ya. Saya permisi, dulu. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk panggil kami lagi," pamit sang dokter diikuti dua perawat di belakangnya.
Seketika Jihan kembali melemas, langkahnya gontai kembali memasuki ruangan. Ia mendudukkan diri di samping ranjang ibunya, menggenggam jemari sang ibu dan membenamkan kepala untuk menumpahkan air matanya.
"Ibu sadarlah, Jihan takut uang ini akan semakin habis. Jihan nggak tahu harus ke mana lagi cari uangnya," keluh Jihan tersedu.
Gadis manja yang bisanya foya-foya itu takut, jika suatu hari nanti uangnya akan habis namun ibunya tidak bisa kunjung sadar. Karena sama sekali tidak punya pengalaman apa pun dalam bekerja.
Apalagi, ia sempat melihat berita mengenai ayahnya yang bangkrut. Ponsel sengaja dia matikan agar tidak terlacak keberadaannya. Jihan juga merindukan kakaknya. Namun saat ini keselamatannya yang paling utama. Ia hanya berharap sang ibu bisa sembuh agar bisa keluar dari masalah yang mrmbelitnya itu secepatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ceklek!"
Sebuah pintu terbuka, menampakkan Khansa yang baru saja keluar dengan keadaan sedikit lemas. Leon yang menunggu di luar sedari tadi segera beranjak untuk memapahnya.
"Sudah? Pusing nggak?" tanya Leon membantunya duduk di sebuah kursi tunggu.
"Sedikit," balas Khansa yang wajahnya sedikit pucat.
"Aku cariin minum dulu ya. Jangan ke mana-mana!" perintah Leon beranjak meninggalkan Khansa. Wanita itu mengangguk lemah, meski tadi sudah diberi minum, namun tenggorokannya masih terasa kering dan tubuhnya juga masih melemah.
Beberapa saat yang lalu, Leon mendapatkan telepon dari pihak kepolisian mengenai keadaan Fauzan. Pria itu kehilangan banyak darah, yang kebetulan stok rumah sakit sedang kosong. Golongan darah yang sama, menggerakkan Khansa untuk mendonorkannya. Dua kantung darah Khansa kini mengalir di tubuh Fauzan.
Khansa beranjak dari duduknya untuk menemui suster yang tadi menanganinya. "Sus, tunggu! Boleh minta tolong?" ucap Khansa.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tawar perempuan berseragam putih itu menghentikan aktivitasnya untuk menghampiri Khansa.
"Bisa minta tolong untuk tes DNA antara saya dan orang itu, Sus?"
Suster itu mengerutkan dahinya bingung, karena dia kira mereka ada ikatan darah antara kedua orang itu. Tapi, kenapa tiba-tiba meminta hal seperti ini?
Melihat hal itu, Khansa segera menjelaskan, "Ee, jadi sebenarnya ayah saya pernah ragu, bahwa saya adalah putrinya. Dan karena hal itu juga salah satu alasan ibu saya sampai meninggal. Tolong saya, Sus," pinta Khansa menangkupkan kedua tangannya.
Mendengar perkataan Khansa, perawat itu tersentak kaget juga merasa iba. Ia segera mengangguk cepat, "Saya akan meminta dokter untuk melakukannya. Nanti kalau hasilnya sudah keluar, akan segera saya kabari," ucapnya dengan sopan sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Sus," ujar Khansa mengangguk lalu kembali berjalan keluar untuk di kursi sebelumnya, menunggu Leon.
"Sasa! Kenapa? Hei, ada apa?" Leon berlarian panik saat melihat Khansa menunduk dalam sambil terisak.
Pria itu segera menarik kepala Khansa ke dalam pelukannya. "Kenapa? Ada yang sakit?" ulangnya sekali lagi, napasnya tersengal.
"Sakit banget Leon, sakit banget!" rintih Khansa dengan air mata semakin deras. Dia tidak terima ibunya diperlakukan tidak adil di akhir hidupnya.
"Aku panggilkan dokter ya! Atau mau langsung pesen kamar inap?" Leon menangkup kedua pipi Khansa mendongakkan wajahnya pada pria itu.
Khansa menggelengkan kepalanya. Kedua ibu jari Leon menyeka air matanya. "Mana yang sakit? Jangan bikin aku takut!" ucap pria itu panik.
Satu tangan Khansa meraih lengan Leon, lalu meletakkan telapak tangan itu tepat di dadanya. Terasa sekali tubuh Khansa menegang, seperti ada beban besar yang menghimpit dadanya. "Di sini! Aku ... aku merindukan ibu, kalau bisa aku meminta, aku mau ibu kembali, Leon!" ucap Khansa sesenggukan.
Leon terhenyak, ia pikir Khansa merasa sakit pada fisiknya. Ia kembali memeluknya dengan erat, mengusap punggung perempuan itu yang bergetar hebat. Jika sudah mengenai sang ibu, Leon tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam, berusaha menenangkannya. Gadis itu lemah jika menyangkut orang-orang yang dia sayangi.
"Eh kita belum nengok Bibi Fida, Sa. Mumpung sudah di sini, kita ke sana yuk," ajak Leon setelah beberapa saat. Dia mencoba mengalihkan perhatian Khansa agar tidak terus menerus mengingat mendiang ibunya.
Khansa menggesekkan kedua pipinya di dada Leon sebelum memundurkan tubuhnya. "Iya, ayo ke sana sekarang!" ajak Khansa beranjak berdiri.
"Minum dulu nih!" ucap Leon menyodorkan sebuah jus alpukat. Khansa segera menyesapnya hingga habis, lalu menuju ruangan Bibi Fida.
Leon mengekor di belakang Khansa, semua pengawal membungkuk memberi hormat. Khansa membalasnya dengan sebuah anggukan. Ia bisa cepat menyesuaikan diri dengan keadaan sang suami. Meski terkadang, masih merasa aneh.
Khansa membuka handel pintu, menatap Bibi Fida yang kini menoleh padanya, "Hai, Bi. Gimana kabarnya?" tanya Khansa berusaha ceria. Ia segera duduk di kursi samping ranjang.
Bibi Fida tersenyum lebar, ia sangat bahagia nona kecilnya itu datang, "Non, Bibi sudah bisa menggerakkan tangan," ucap Bibi Fida memperlihatkan tangannya yang bergerak.
"Wah, Bibi hebat!" puji Khansa menyentuh tangan Bibi Fida.
Leon masih di luar berkoordinasi dengan para anak buahnya. Memastikan keadaan aman dan tidak ada situasi yang membahayakan. Tak berapa lama, ia pun segera menyusul Khansa. Seperti biasa, dia selalu berada di belakang Khansa.
"Tuan," sapa Bibi Fida saat melihat Leon. Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
"Non, tadi Bibi lihat Tuan Fauzan di berita, apa itu benar?" ucap Bibi Fida dengan pelan.
Seketika ekspresi Khansa berubah. Leon mengusap pelan lengan Khansa. Gadis itu mengangguk.
Bibi Fida menelan salivanya, tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Manik matanya berkaca-kaca. "Non, maaf. Tapi, sepertinya Tuan ada sangkut pautnya dengan kematian Nyonya," aku Bibi Fida dengan suara bergetar.
Bersambung~