
Khansa memberikan pelayanan terbaik untuk Bara. Ia tahu seberapa pentingnya lelaki itu bagi Emily. Monica melangkah pelan didampingi oleh Khansa, mendekati ranjang pasien di mana Bara terbaring lemah di sana.
Pria itu tampak mengernyitkan dahinya. Bulir keringat memenuhi kening dan seluruh wajahnya. Kepalanya terus bergerak tak nyaman, kedua lengannya mencengkeram kuat selimut yang membalut tubuhnya.
Segera Khansa mengenakan stetoskop dan memeriksa detak jantung pria itu yang tampak tak beraturan. Ia mencoba merangsang tingkat kesadaran Bara.
"Bara ... Bara kau bisa mendengarku?" ucap Khansa pelan di telinga Bara.
"Buka matamu perlahan ya, Bar," lanjut wanita itu bersuara lembut sembari menggenggam telapak tangan Bara.
Napas Bara semakin memburu, ia tampak sangat ketakutan. Genggaman tangannya semakin kuat hingga Khansa meringis. Namun masih bisa ia tahan.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Bara terbuka dengan kasar. Napasnya tersengal-sengal, Khansa mengurai senyum di hadapannya menunggu Bara sadar sepenuhnya.
"Di ... dimana aku?" gumamnya pelan masih didengar Khansa dan Monica.
"Syukurlah, kamu sudah sadar. Bara, tante sangat khawatir sama kamu!" ucap Monica segera mendekati ranjang tersebut.
Wanita paruh baya yang suka sekali mengikuti kegiatan sosial itu memang berhati lembut pada siapapun. Apalagi jika orang itu bersikap baik pada keluarganya, ia tak segan akan membalas lebih baik lagi. Termasuk Bara, sikapnya yang bertanggung jawab dan selalu melindungi Emily, membuat Monica juga menyayangi lelaki itu seperti anaknya sendiri.
"Tante. Di mana Emily? Apa dia baik-baik saja?" seru Bara beranjak duduk. Kembali ia memejamkan mata, meringis kesakitan karena kepalanya berdentum hebat. "Aahhss!" desisnya menyentuh kepala.
"Tenanglah, Emily baik-baik saja. Dia sedang tidur. Bara, apa kamu pernah mengalami kecelakaan besar sebelumnya?" tanya Monica tidak sabar.
Manik cokelat Bara bergerak tak tenang, cairan bening pun segera menggenang dan memburamkan pandangannya. Menangis, pria itu menangis tersedu-sedu. Menaikkan kedua lutut dan memeluknya sangat erat.
"Biarkan Bara mengeluarkan semua kesedihannya, Bi. Biar sesak yang menghimpit di dadanya memudar. Nanti setelah tenang, dia pasti akan cerita," bisik Khansa mengusap bahu Monica.
Wanita paruh baya itu menoleh, matanya juga memerah. Hatinya mudah sekali tersentuh. Tidak tega melihat orang-orang yang dia sayangi menangis. Perlahan ia mengangguk, mengikuti saran dari dokter cantik itu.
Bara menumpahkan segala kesedihannya. Menangis pilu sesekali mengusak kepala dan menjambak rambutnya. Khansa menatapnya sendu, namun ini salah satu cara meluapkan emosi untuk meruntuhkan apa yang selama ini ia pendam seorang diri.
Satu jam lebih, Bara menangis terisak. Kini ia sudah lebih tenang. Ia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu berharga. Monica tidak tega melihatnya, perlahan ia meraih wajah Bara yang basah oleh air mata.
Wanita itu tersenyum sembari menyeka air mata itu, "Bicaralah, ceritakan semua pada tante. Jangan dipendam sendiri," ucap Monica lembut.
Sungguh, wanita itu mengingatkannya pada sosok ibu yang sudah lama tidak ia jumpai. Bara memejamkan kedua matanya, lagi-lagi air matanya mengalir tanpa permisi. Merebahkan pipinya pada hangatnya telapak tangan wanita itu.
Khansa berpindah ke sisi yang lain. Ia mengusap bahu Bara dengan perlahan. "Jadi, kapan kamu mengalami kecelakaan sebelum ini? Apakah baru-baru ini bersama Emily?" tanya Khansa dengan pelan.
Bersambung~
Aaaaaaa.... kangenn bangeettt!!!! Maap ya sempat terbengkalai karena waktunya bener2 sempit buat ngetik.
😒😒: Helleh, lapak Tiger aja bisa up tiap hari!
Iyaa... maaf cintaahh.. di sana kejar kontrak dulu, makanya ada waktu dikit disempetin dulu...
muakasiih yang masih setia 😘😘