Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 154. Berikan Wanitamu!


"Hei! Jangan biarin dia masuk! Kalian mau Emily kenapa-napa?" pekik Bara berdiri sempoyongan.


Bara hendak menerobos masuk, namun dua penjaga itu segera menahannya, melarang pria itu masuk. "Emily dalam bahaya! Kalian mau tanggung jawab kalau terjadi sesuatu sama Emily hah?!" pekiknya memberontak.


"Tunggu, Tuan! Villa ini milik keluarga Kawindra, dan beliau adalah Hansen Mahendra. Salah satu kerabat yang paling disegani di Palembang. Saya harap, Anda tidak membuat masalah dengan beliau," elak salah satu penjaga di sana.


"Saya tidak peduli! Tugas saya di sini menjaga Emily!" pekik Bara dengan tegas melenggang masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansen membawanya masuk saat seorang pelayan membukakan pintu. Pelayan itu terkejut melihat Emily pingsan dalam gendongan seorang laki-laki. Bukan pingsan, lebih tepatnya mabuk berat.


"Tunjukkan kamarnya!" tegas Hansen bersuara dingin.


Buru-buru pelayan mengangguk, sedikit berlari menuju kamar Emily untuk membukakan pintu. Hansen melangkah santai tanpa ekspresi, sedangkan Emily mengeratkan pelukannya pada pria tampan itu.


"Heh! Barbara, kamu kenapa ganti parfum. Baunya kaya punya si kulkas tau?! Aahh bikin candu, Bar!" Emily senyum-senyum sendiri sembari menghirup aroma tubuh Hansen.


Hansen memicingkan matanya, ia semakin mengerutkan keningnya. Giginya terdengar saling bergemeletuk. Lagi-lagi nama itu meluncur dari bibir kecil Emily.


"Lo kok jadi kuat gini, Bar. Biasanya juga diseret-seret. Gue kurusan ya? hihii!" sambung Emily cekikikan sesekali cegukan.


Hansen masih bergeming, langkahnya lebar dan tegas hingga memasuki sebuah kamar yang cukup luas. Pria itu meletakkan Emily di ranjang, melepaskan heels lalu meluruskan kedua kakinya.


Hansen menegakkan tubuhnya, ia melepas jasnya sembari menghela napas pelan. Tiba-tiba Emily menarik dasi yang masih melilit lehernya. Sontak kedua tangan Hansen menopang di antara tubuh Emily. Matanya membelalak, jarak keduanya sangat dekat hingga dada pria itu berdebar kasar.


"Oh, kau. Ah, si kulkas ternyata." Emily memiringkan kepala sembari menyipitkan mata. Kedua tangannya menangkup pipi Hansen. "Tampan! Harusnya sering senyum seperti ini jangan kayak orang punya banyak beban hidup! Haha!" seru Emily mencubit kedua pipi Hansen agar membentuk senyuman.


Hansen menepis kedua tangan mulus gadis itu. Bibirnya masih meracau ke mana-mana. Pria itu lalu menyentil kening Emily dengan keras. "Kalau nggak bisa mabuk itu jangan minum, Bodoh!" sentaknya menajamkan mata.


"Aw! Ya ampun, dasar kulkas nggak punya hati. Sakit tahu!" gerutu Emily mememanyunkan bibirnya disambung dengan kekehan. Ia menarik salah satu lengan Hansen dan memeluknya, matanya sudah terpejam.


"Tidur! Bicaramu akan semakin ngawur!" Hansen meletakkan telapak tangan lebarnya pada kening Emily yang memerah.


Emily tersenyum, tanpa sadar dia mengangguk. Karena memang kepalanya terasa sangat berat. Bara sedari tadi diam bersandar di depan pintu yang masih terbuka, mendengarkan semua percakapan dua orang dalam kamar itu, sambil mengawasi jika terjadi sesuatu dengan Emily. Sekarang dia yakin, pria itu tidak akan berbuat jahat pada gadis kesayangannya. Dia bisa melihat raut kekhawatiran dari sorot mata Hansen.


Melihat wajah lelah perempuan cantik itu, membuat Hansen tidak tega melepas pelukan Emily. Dia duduk di tepi ranjang Emily dan bersandar di sana. Matanya tidak sengaja menangkap bayangan Bara yang kini sudah menjauh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Deru mesin mobil Leon mengalihkan perhatian Khansa. Buru-buru dia melompat dari ranjang dan berlari ke balkon untuk memastikannya. Saat melihat mobil merah masuk ke halaman, Khansa berlari keluar untuk menyambut suaminya.


Ia membuka pintu dengan kasar, lalu menghambur ke pelukan suaminya tepat saat pria itu sampai di teras. Napasnya terengah-engah, kedua lengannya melingkar erat di leher Leon.


"Kamu, membuatku khawatir Leon," gumam Khansa berkaca-kaca.


Leon membalas pelukan wanita itu dengan satu tangannya, "Maaf!" gumam Leon mencium kening Khansa. "Ayo masuk!" gumamnya merengkuh pinggang Khansa mengajaknya masuk ke kamar. Satu lengannya menutup pintu.


Khansa membantu melepas jas yang dikenakan Leon, ia tidak ingin bertanya apa-apa saat ini. Yang terpenting adalah suaminya sudah pulang dalam keadaan selamat.


"Mau mandi dulu? Atau makan dulu?" tawar Khansa sembari meletakkan jas itu di keranjang kotor.


Khansa mengembuskan napas pelan, ia berbalik agar saling berhadapan. Khansa berjinjit sambil meraih tengkuk Leon lalu mengecup bibirnya sekilas. "Lain kali jangan kayak gini lagi, aku takut banget, Leon!" gumamnya mendongak, tatapannya serius.


"Gerry belum mengantarkan ponsel untukmu?" tanya Leon mengerutkan keningnya.


"Enggak ada datang ke sini sama sekali," jawab Khansa menggeleng.


"Ke mana dia! Aku menyuruhnya sudah sejak sore tadi." Leon segera mencari ponselnya dan melakukan panggilan pada asistennya tersebut.


Leon sedikit panik. Ia ceroboh kali ini, karena tidak memberikan pengawalan pada Gerry. Tidak ada jawaban sama sekali, kedua manik Leon bergerak perlahan. Padahal selama ini, Gerry selalu cepat saat menjawab teleponnya.


Sentuhan di lengan Leon kini menyadarkannya. Kepalanya menoleh pada sang istri yang turut khawatir, "Apa yang terjadi?" tanya Khansa lembut.


Leon mengajak Khansa untuk duduk. Dia meraih tas yang ada di atas meja, mengeluarkan laptopnya. Pria itu membasahi bibirnya yang tiba-tiba mengering. Tubuhnya berputar pada Khansa. "Kamu pernah berjanji, selalu menjadi wania yang kuat apa pun yang terjadi?" tanyanya menyentuh kedua bahu Khansa.


Gadis itu mengangguk, ia menelan salivanya dengan debaran jantung yang mulai menggila. Khansa takut sesuatu buruk telah terjadi.


"Sekarang aku tagih janjimu. Dengarkan baik-baik semua penjelasanku. Jadikan ini pelecut agar kamu semakin kuat ke depannya!" lanjut Leon menatap dengan serius. Khansa pun mengangguk tanpa banyak tanya.


Leon menghela napas panjang, membuka sebuah folder di laptopnya sembari menjelaskan bagaimana kondisi sang kakek disertai dengan bukti-bukti akurat.


Terkejut, syok, kaget, Khansa sampai tidak bisa berkata apa-apa. Hanya kedua bahunya yang naik turun disertai detak jantung yang meningkat. Tubuhnya memang melemas, namun kedua tangannya terkepal dengan kuat.


Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh Leon. Khansa masih mengatupkan bibirnya dengan sempurna. Namun bulir bening mulai berjatuhan di kedua pipinya saat berkedip. Khansa menangis dalam diam. Meski tidak terdengar isakan.


"Sekarang aku mengerti semuanya, kenapa Hendra selalu menghindar dan tidak mau menjawab setiap aku menanyakannya!" ucap Khansa dengan nada dingin.


"Kita harus relakan kakek, agar beliau tenang," ucap Leon merengkuh bahu Khansa dan memeluknya.


Khansa menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Kedua matanya terpejam, mensugesti diri sendiri bahwa ini adalah jalan terbaik untuk kakek. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir berkata lain.


Ponsel Leon berdering, ia melepas pelukannya dan buru-buru mengangkatnya. "Gerry! Kamu di mana?" tanyanya cepat.


"Hahaha! Leon Sebastian. Aku dengar kamu sudah menikah?" Suara yang tidak asing di telinga Leon.


"Lepaskan Gerry!" teriak Leon penuh emosi. Khansa terperanjat melihat Leon yang mendadak berubah.


"Datanglah! Berikan wanitamu dan aku kembalikan asisten setiamu ini. Kau pasti bisa menemukannya dengan mudah. Hahaha!"


"Tuan! Jangan dengarkan dia! Jangan pernah melakukannya! Aarrggh!" teriak Gerry memekik kesakitan.


"Sialan! Hentikan kegilaanmu, Tiger!" pekik Leon berdiri dengan dada bergemuruh. Namun sambungan telepon itu terputus setelah terdengar gelak tawa menggelegar.


Khansa mengerjap berulang kali. Ia bisa mendengar suara orang itu di ujung telepon. Karena Khansa berada sangat dekat dengan Leon.


Bersambung~