
Dari sana ia segera beralih ke ruang operasi setelah mendapat kabar bahwa Khansa akan menjalani operasi. Ia tidak tahu ponselnya di mana sekarang.
Di dalam lift, Leon terus menghentakkan kakinya. Tidak sabar ingin segera sampai. "Sial! Kenapa lambat sekali!" teriaknya menendang dinding lift mengejutkan penumpang yang berdiri di belakangnya.
Ketika pintu lift terbuka, kaki panjangnya berlari dengan cepat. Ia hendak menerobos masuk namun dicegah seorang suster yang kebetulan hendak masuk.
"Apa-apaan kamu?! Istriku di dalam membutuhkanku sekarang!" berang Leon tepat di wajah suster itu.
Perempuan muda itu sampai memejamkan mata sejenak, lalu kembali terbuka, "Iya, Tuan. Saya mengerti. Sebelumnya, mohon untuk mengenakan baju steril, masker dan penutup kepala. Mari saya antarkan," tutur perempuan itu sopan.
Barulah Leon terdiam, berjalan pelan mengikuti suster tersebut dan mengenakan atribut yang disebutkan tadi.
"Tuan, operasi akan dimulai sekitar 10 menit lagi. Kalau bisa tolong Anda tenang ya. Agar dokter Khansa juga enjoy menjalani operasinya," tutur suster tersebut sembari mengurai senyum.
Leon pun mulai mengatur napasnya di balik masker. Ia mengangguk setelah lebih tenang. Kemudian diantar masuk ke ruangan dingin yang langsung menerobos permukaan kulitnya.
Di sana, ia dapat melihat istrinya sudah terbaring di atas meja operasi. Kain berwarna hijau membentang di bawah dada. Leon segera menghambur di kepala istrinya, nenek pun berpindah keluar, karena hanya diperbolehkan satu orang saja yang menemani.
"Sayang, maaf aku terlambat. Maafkan aku!" ucap Leon mencium kening dan pipi Khansa.
"Aku takut," gumam Khansa lirih masih terus menangis.
"Jangan takut, kita harus yakin semuanya baik-baik saja. Tenang ya, Sayang!" Leon berucap lembut meski sedikit gemetar.
Ia sendiri tengah menekan rasa panik, ikut mulas, dadanya berdentum dengan sangat hebat. Bahkan bulir keringat juga membasahi wajah tampannya. Akan tetapi, Leon tidak mau menunjukkannya pada sang istri.
"Jangan sedih, nanti anak-anak kita ikutan sedih," ucap Leon terus menyeka air mata istrinya.
Gemeletuk peralatan stainless yang menggema membuat Leon semakin berdebar tak karuan. Leon terus membisikkan untaian kalimat cinta untuk sang istri, terus menenangkan dan menyeka air matanya. Sesekali mencium kening Khansa. Ia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang, berdiri di atas kepala Khansa.
15 menit bergelut dengan kekalutan satu bayi berhasil diangkat dari rahim Khansa. Tangisnya segera menggema di ruangan dingin itu.
"Say Hai, untuk baby boy, Mommy, Daddy! Bayinya sehat, lengkap, Dokter, Tuan!" Dokter mengangkat seorang bayi laki-laki di atas kain pembatas.
Khansa dan Leon menatap dengan pandangan yang memburam. Karena air mata tiba-tiba menyeruak memenuhi indera penglihatannya.
"Sayang!" ucap Khansa dengan tangis yang pecah.
Setelahnya segera dikeringkan, meletakkan pada dada Khansa yang sudah dibuka untuk segera dilakukan IMD. Kulitnya yang lembut bersinggungan dengan kulit hangat Khansa, wanita itu sampai tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya.
Selang lima menit, dokter memperlihatkan bayi satunya. "Say hai untuk baby girl, Mommy, Daddy. Selamat ya Dokter, Tuan. Kedua bayinya sehat, kita tidak terlambat," ucap dokter tersebut sembari tertawa lega di balik maskernya.
"Sayang, terima kasih!" gumam Leon menciumi kening dan pipi Khansa bertubi-tubi.
Baby boy segera diangkat, bergantian posisi dengan adik kembarnya. Bayi laki-laki itu beralih pada dada Leon. Suster membantunya meletakkan bayi tersebut.
Tubuh Leon gemetar hebat saat bayi yang masih merah itu menempel di dadanya. Tangisnya tak terbendung, semua orang yang melihatnya turut terharu.
Twins sudah bisa dijenguk di ruangan berbeda. Sementara Khansa, masih ditangani pasca operasi. Leon kembali menemani istrinya. Ia menempelkan pipinya dengan pipi Khansa. Menciuminya dengan sayang.
"Leon, geli," gumam Khansa pelan.
"Nggak tahu lagi mau bilang apa, selain terima kasih. Kamu wanita hebat, ibu yang hebat, terima kasih telah memberi kehidupan untuk kedua anak kita. Kamu wanita kuat dan sabar menyembuhkan semua lukaku. I love you bertubi-tubi. Aku hanya ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu, membesarkan anak-anak kita," Leon menyatukan kening mereka.
"Sama-sama, Sayang. Aku juga terima kasih, karena kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab, menggenggam tanganku kuat-kuat sekalipun kita berjalan di atas duri. Kamu juga membantuku mengokohkan pijakan kakiku di bumi ini. Kamu menjadi sandaran terkuat ketika aku rapuh. I love you tak terhingga, suamiku," papar Khansa dengan seuntai senyum yang sangat manis.
Tak disangka, dokter sudah selesai menangani Khansa. Mereka yang mendengar penuturan pasangan itu merasa iri dengan cinta mereka, saling menghargai dan saling menguatkan.
"Ehm, maaf, Tuan. Kami akan segera memindahkan Dokter Khansa ke ruang inap," tukas dokter memutus percakapan pasangan itu.
Leon menyeka air mata Khansa dan juga air matanya. Ia tak meninggalkan istrinya barang sedetikpun.
Bayi-bayi lucu itu sudah bersama nenek, Fauzan, Asisten Gerry dan dua babby sitter yang diminta nenek ketika masih menjalani operasi tadi.
Nenek dan Fauzan tampak sangat bahagia. Mereka sangat antusias menggendong cucu-cucunya. Akhirnya setelah sekian lama keinginan nenek terpenuhi.
"Leon, siapa nama mereka," tanya nenek ketika mereka sudah berkumpul di ruang rawat inap.
"Clyton Xavier Sebastian dan ...." Leon menatap istrinya.
"Clarissa ALuna Sebastian," Khansa menyahut yang langsung dipeluk oleh sang suami.
Pandangan mereka mengarah pada kedua bayi yang sudah lama mereka nantikan. Apa yang dikhawatirkan Khansa tidak terjadi, Leon tidak ketakutan ketika anak-anaknya lahir. Justru sangat bahagia bahkan memeluknya dengan sayang.
"Aaa... Xavier dan Lunanya Oma," seru nenek mencium pipi bayi-bayi itu bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu tahun kemudian, Emily dan Hansen juga memiliki bayi laki-laki yang tampan. Sejak menikah, Hansen tidak mengizinkannya masuk dunia entertaint lagi. Dia hanya menyelesaikan beberapa project lalu menjadi istri yang terus mendampingi sang suami.
Simon sendiri telah menikah dengan salah satu rekan artis Emily. Sedangkan Bara, sejak adiknya menikah, ia kebanjiran job untuk menjadi model, bintang film, bintang iklan. Tubuhnya yang atletis, wajahnya yang rupawan memang memiliki daya pikat tersendiri.
..._TAMAT_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih banyak buat semua yang sudah mengikuti novel ini sampai detik terakhir. Perjuangan yang nggak mudah, sakit, tertekan dan mental yang tertatih2 saat mengerjakannya.
Tapi berkat kalian, aku bahkan tidak menyangka bisa membuatnya hingga sepanjang ini. Terima kasih banyak 🥺 Terharu sekali kalian nggak bosen padahal sampe sejauh ini.
Makasih yang tak terhingga untuk Support, Like, Komen, gift dan vote yang tanpa dipaksa.. I love you sejagad raya all 😭😭😭😭
Ambil sisi positifnya, buang semua sisi negatifnya ya 🥰🥰 Khansa dan Leon, sama sama terluka di masa lalu, saling mengobati, saling menguatkan, saling mencintai dengan tulus. Selalu bersama menghadapi badai dan cobaan yang dikasih author 😂😂