
Teriakan seorang pria itu seketika membuat Khansa mendongak. Pandangannya bertemu dengan orang yang sangat ia kenal.
“Ayo cepat! Jalankan tugasmu!” seru sang manajer tersebut mendorong Khansa semakin masuk lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Namun sebelum benar-benar pergi, manajer itu mengangkat ibu jarinya ke atas saat bertatapan dengan Simon. Yah, rupanya mereka sudah kongkalikong sebelumnya.
Saat Simon kembali ke ruangan, ia menelepon manajer itu dan meminta untuk mengawasi Khansa tanpa menimbulkan kecurigaan. Kemudian menyusun rencana agar Khansa dipaksa masuk ke ruangan itu kembali. Dan secara kebetulan, Hendra bertengkar dengan Khansa, dan pria itu pergi meninggalkannya sendiri.
Dengan gesit, manajer pun segera menjalankan rencana sesuai perintah Simon. Kali ini, Simon ingin melihat reaksi antara Khansa dan Leon yang ia curigai sedang bermasalah.
‘Coba kita lihat, apa yang sebenernya terjadi,’ batin Simon menyeringai.
“Hei, cantik kemarilah! Jangan malu-malu!” Sebuah suara baru menyadarkannya.
Rupanya Simon yang tadi berteriak, kini ia kembali memanggil Khansa sambil melambaikan tangannya. Leon menyalakan rokok baru setelah menghabiskan beberapa batang, ia menaikkan pandangan ke depan, ternyata gadis cantik yang dimaksud Simon adalah Khansa.
Kedua netra Khansa dan Leon tengah beradu. Sudah tidak ada wanita lain di ruangan itu. Leon merasa jengah meminta semuanya keluar sebelum Khansa masuk kembali.
Khansa merasa canggung karena didorong masuk dengan paksa, apalagi saat bertatapan dengan Leon sekarang.
Khansa berkedip lembut, ia selalu terpesona dengan wajah tampan Leon. Bahkan dalam kondisi rambut yang acak-acakan, pakaian yang berantakan pun, Leon tetap mempesona di mata Khansa. Apalagi cara merokoknya yang elegan seperti itu.
‘Terus aja, Sa. Terus liatin biar semakin makan hati. Huh, bodoh! Dasar playboy! Enyahlah dari otakku!’ gerutu Khansa yang geram pada dirinya sendiri. Karena tidak bisa menolak pesona Leon. Khansa yang terpaku menatap Leon seperti terhipnotis.
Saat ini ada beberapa pria yang mengira Khansa adalah gadis yang menemani minum-minum di bar, Leon bergeming menikmati setiap hisapan rokoknya tanpa bersuara, sedangkan Simon mengamati ekspresi Leon. Simon terkekeh, namun menyembunyikan senyumnya.
“Hei, kamu, cepat tuangkan wine untuk kami, kenapa tidak tahu aturan sih?” teriak Simon berpura-pura tidak mengenal Khansa.
Gadis itu beralih pandang pada Simon. Keningnya berkerut dalam. Sorot matanya penuh tanya.
‘Apa maksudnya?’ geramnya dalam hati.
“Maaf, tapi saya bukan wanita yang menemani minum-minum di sini.” Khansa pun bersikap biasa. Seperti tidak mengenal Simon maupun Leon.
Khansa hendak berbalik, namun terlambat beberapa pria sudah berjalan ke arahnya, menghalangi jalan hingga Khansa tidak bisa beranjak dari tempatnya.
“Bukalah cadarmu! Biarkan kami melihat kecantikanmu!” Seorang pria tua, CEO di salah satu perusahaan mendekati Khansa. Tangannya mengulur hendak menyibak cadar yang melekat di wajah Khansa. Namun buru-buru Khansa memundurkan kepalanya, menghindar dan menepis lengan besar itu.
“Jangan pernah menyentuh saya, apalagi mencoba membuka cadar saya!” seru Khansa menatap tajam. Khansa mundur dan memarahi bos itu.
Pria itu tergelak karena tidak percaya. Beberapa pria lainnya juga turut tertawa, merasa bahwa Khansa hanya ingin bermain-main saja.
“Hei, sudah seharusnya semua wanita di sini memperlihatkan kecantikannya! Bukan malah menutupi seperti itu!” teriak pria itu lagi.
“Nggak usah sok misterius. Ayo cepat buka!” seru pria lainnya yang kini juga mendekat ke arahnya.
“Iya, bukalah cantik. Tidak perlu malu-malu seperti itu!” sambung pria lainnya.
Khansa mengembuskan napas berat, “Sudah saya katakan berulang, saya bukan wanita yang biasa menemani minum di sini. Saya dipaksa masuk oleh manager bar di sini!”
Khansa mencoba menjelaskan ia tidak bisa mundur atau keluar dari sana karena kini sudah terkepung oleh beberapa pria. Sesekali pandangannya mengarah pada Leon yang tampak tak acuh dan sibuk sendiri dengan kegiatannya.
“Lha itu kamu kenal sama manajer di sini? Berarti kamu kerja di sini dong. Masih nggak mau ngaku lagi!” balas pria tua yang terkekeh sedari tadi. Ia sama sekali tidak percaya dengan penjelasan Khansa.
Khansa berkacak pinggang. Ia mendengkus kesal, “Tuan, saya tahu kalau orang yang memaksa masuk tadi manager dari name tagnya yang menggantung di jasnya. Saya ‘kan nggak buta aksara!” seru Khansa menghentakkan satu kakinya yang terbalut sepatu kets berwarna putih, dengan geram.
Pria-pria itu tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa bahwa Khansa pandai membual, sehingga tidak percaya dengan penjelasan Khansa.
Pria tua tadi mengitari tubuh Khansa, berjalan pelan, kedua tangannya saling bertaut di belakang punggungnya. “Hmmm… bagaimana kalau kita bertaruh?” tawar pria tua itu setelah berpikir beberapa saat.
Khansa mengernyitkan alisnya. “Bertaruh apa?” tanya Khansa dengan arah mata mengikuti gerakan pria tua itu.
“Kita bertaruh, jika kalah, kamu harus mengikuti perintah kami.” Pria itu menjeda ucapannya sejenak. Menghentikan langkahnya tepat di hadapan Khansa. Gadis itu masih diam mendengarkan.
“Jika kamu kalah dalam taruhan ini, kamu harus membuka cadar dan memperlihatkan wajahmu pada kami!” lanjut pria tua itu dengan tegas.
Gadis berkuncir kuda itu menatap Leon, yang masih tidak memperhatikannya. Pria itu seolah tidak peduli dengan Khansa yang sedang menghadapi para pria hidung belang di sana. Ekspresinya datar dan dingin, Leon menganggap Khansa seperti orang asing.
Simon justru duduk tidak tenang sedari tadi. Rasanya ia ingin menghajar pria-pria yang mengganggu kakak iparnya itu. Kedua tangannya bahkan sudah terkepal erat. Namun melihat Leon yang diam seperti itu, membuatnya menahan emosinya.
“Kak, serius nih ngebiarin kakak ipar digoda mereka? Kalau aku jadi kakak sih nggak rela. Udah kuhajar mereka semua sedari tadi,” ujar Simon dengan suara pelan sambil menyenggol lengan Leon.
Leon menoleh, ia menopang kedua sikunya di atas meja, menatap Simon dengan mata elangnya. Menyiratkan agar diam saja dan jangan banyak bicara.
Simon menelan salivanya, meregangkan otot-ototnya ke atas, “Eerrgh, pegel juga ternyata duduk terus!” ucapnya mengalihkan kemarahan Leon.
Leo kembali menyesap rokoknya kuat-kuat, mengembuskannya dengan kasar, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Bos tua tadi memangkas jarak antara dirinya dan Khansa. Tangannya kembali mengulur hendak membuka cadar Khansa.
“Nona cantik, taruhan sudah kita sepakati ayo perlihatkan wajah indahmu di balik kain ini! Hahaha” seru pria tua itu tertawa terbahak juga diliputi rasa penasaran.
Khansa mengelak, mencoba mempertahankan apa yang sudah ia jaga selama ini, tangannya mencengkeram erat lengan kekar pria tua itu. “Tunggu sebentar,” ujarnya dengan cepat.
Bersambung~