
Khansa terpaku dengan pria tampan berbalut pakaian casual, tersenyum manis padanya. Gadis itu lalu menoleh pada Emily yang ternyata sudah asyik bersandar menatap luar jendela. Kedua telinganya sudah disumpal dengan earpods.
Khansa menunjuk pria itu dan Emily bergantian. "Jadi kalian sekongkol nih?" cebik Khansa mendaratkan tubuhnya dengan kesal.
"Enggak, cuma kebetulan aja. Aku denger Emily mau balik ke Bali. Yaudah aku ajak bareng aja sekalian. Gimana terkejut nggak?" jawab Leon mendudukkan diri di sebelah Khansa.
"Terus ngapain ngajak aku juga kalau kalian kerja dan bakal ninggalin aku sendirian?" gerutu Khansa membayangkan ditinggal sendiri dengan kesibukan masing-masing.
Satu lengan Leon merengkuh bahu Khansa, menjatuhkan ke dalam pelukannya. Khansa terkejut saat membentur dada pria itu, kepalanya mendongak, menatap Leon yang tersenyum tipis.
"Siapa bilang aku sibuk sendiri? Aku maunya sibuk sama kamu," gumam Leon menundukkan pandangan.
"Bukannya ke Bali mau kerja?" cebik Khansa memutar bola matanya malas.
"Iya, ngerjain kamu tepatnya," celetuk Leon mengeratkan pelukannya diiringi embusan napas panjang.
"Hah? Perasaanku nggak enak nih. Nggak tahu deh harus seneng apa sedih," gumam Khansa meneguk ludahnya dengan kasar.
Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu memakan banyak waktu. Kenyamanan dan privasi mereka pun terjaga. Leon tidak pernah melakukan perjalanan menggunakan pesawat komersial.
Leon tidak membiarkan Khansa menjauh sedikit pun darinya, meski Khansa terus mencoba mengelak. Karena merasa tidak enak dengan Emily.
Padahal, gadis itu santai saja. Ia asyik sendiri mendengarkan musik sembari menikmati pemandangan langit dan gumpalan awan yang mereka lalui.
Setibanya di Bali, Leon langsung mengajaknya ke resort yang sudah direservasi oleh sang asisten sebelumnya. Emily langsung memisahkan diri karena jadwalnya yang padat sudah menantinya.
"Dulu aku pernah bilang, kapan-kapan ke sini sama Leon. Eh kesampaian juga akhirnya. Selamat honeymoon, Bestie. Tenang aja, kali ini aku mau menyibukkan diri. Enggak bakal ganggu dulu deh," ucap Emily memeluk Khansa sebelum berpisah.
"Aihh, aku aja nggak ngerti apa-apa, tiba-tiba bisa sampai di sini." Khansa menjauhkan tubuhnya.
"Ikutin aja alurnya. Sutradaramu terbaik, suka bikin kejutan! Aku tinggal ya. Jemputan udah datang. Good luck!" ucap Emily mencium pipi Khansa bergantian lalu berlari menuju mobil vans hitam yang menjemputnya. "Tuan Leon, makasih tumpangannya. Titip Sasa, jangan dikurangin. Kalau bisa ditambahin!" teriak Emily sembari berlari dan melambaikan tangan.
Leon mengernyitkan dahinya bingung, ia menatap Khansa yang wajahnya tiba-tiba memerah. Lelaki itu tidak mengerti apa maksudnya. "Apanya yang ditambahin?" tanyanya pada Khansa.
"Entah," balas Khansa mengendikkan bahunya, meski dia paham ucapan sahabatnya itu. "Berat badan kali," celetuknya sambil tertawa.
Leon turut tertawa sambil mengacak rambut Khansa. Mereka bergegas menuju resort mewah yang terletak di tepi pantai. Sebuah mobil sudah ia sewa beserta sopirnya untuk mengantar kemana pun mereka pergi.
Tak butuh waktu lama, mobil SUV berwarna putih sudah berhenti tepat di depan loby resort. Leon dan Khansa bergegas turun.
"Terima kasih, Paman," ucap Khansa sebelum mereka melenggang pergi.
"Sama-sama, Nyonya. Tuan, sudah menyimpan nomor saya? Agar lebih mudah berkomunikasi saat Anda ingin berkeliling nantinya," ucap sopir itu ramah.
"Sudah, Paman. Nanti akan saya hubungi," sahut Leon.
"Baik, semoga liburan Anda menyenangkan." Sang sopir lalu memarkirkan kendaraannya.
Leon menautkan jemari besarnya di sela jari-jari Khansa. Keduanya melangkah serentak semakin masuk ke resort tunggal, tanpa ada pengunjung lainnya.
"Leon, kita nggak bawa baju ganti nih?" tanya Khansa menatap sang suami.
"Ngapain? Di dalam sudah disiapkan semua sama Gerry," jawab Leon santai.
Khansa mendelik, ia sampai menghentikan langkahnya. "Baju aku juga?"
"Iya," sahut Leon mengangguk. "Enggak cuma dia sih, paling sama sekretaris juga. Dia nggak ngerti fashion," lanjutnya lagi.
Khansa mengembuskan napas lega. Ia merasa malu seandainya Gerry menyiapkan segala kebutuhannya. Barulah ia kembali melanjutkan langkahnya. Leon hanya menautkan kedua alisnya melihat perubahan sang istri, namun akhirnya mengabaikannya.
"Ke sini dulu, Sa!" Leon menarik Khansa ke belakang resort.
Gadis itu menurut, hingga kakinya berhenti melangkah. Senyum lebar kini menghiasi wajah Khansa hingga kedua matanya menyipit saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Khansa melirik ke arah Leon yang tersenyum menatapnya.
Kolam renang yang cukup luas itu dipenuhi kelopak mawar merah. Airnya bahkan sampai tak terlihat. Di tengah-tengahnya membentuk kalimat 'I Love You, My Sasa!' yang dibuat dari kelopak mawar putih.
"Suka?" tanya Leon.
"Byur!"
Dua sejoli itu terjatuh bersamaan, Leon masih memeluknya dengan erat. Hingga keduanya muncul kembali ke permukaan di antara kelopak mawar itu. Kedalaman kolam hanya sebatas dada Khansa. Sehingga bisa menjajakkan kedua kakinya di dasar kolam.
"Kamu seneng banget sih bikin orang terkejut!" ucap Khansa menggosok wajahnya yang basah.
"Tapi suka 'kan?" ucapnya merapikan rambut Khansa yang menghalangi keningnya. Lalu Leon mendaratkan sebuah kecupan di sana. Khansa memejamkan matanya, meresapi rasa hangat yang mulai menelusup jiwanya.
Haru dan bahagia menyeruak hingga air matanya tak terbendung lagi. Air mata kebahagiaan tentunya. Khansa berharap, selamanya tidak ada yang berubah.
"Terima kasih," ucap Khansa dengan suara bergetar dan mata yang memerah. Ia membenamkan kepalanya di dada Leon yang langsung disambut pelukan hangat pria itu.
"Kok nangis sih, aku ngajak kamu ke sini buat bahagiain kamu, Sa. Bukan untuk membuang air matamu," tutur Leon menopangkan dagunya pada puncak kepala Khansa. Kedua tangannya bergerak naik turun pada punggung wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sidang kasus Yenny tengah digelar. Leon dan Khansa menyerahkan kasus itu sepenuhnya pada pengacara mereka. Semua bukti-bukti telah dilimpahkan ke pengadilan.
Yenny yang sudah tidak memiliki apa-apa, tidak bisa menyewa pengacara untuk membelanya atau mengajukan banding. Tidak ada pula yang bisa menjaminnya.
Kepalanya tertunduk lesu mengenakan baju tahanan. Kedua tangannya masih diborgol, kulitnya yang dulunya putih bersih sekarang berubah pucat dan dipenuhi luka lebam.
"Kasihan ya, karirnya hancur, hidupnya berantakan, keluarganya bahkan tidak tahu ada di mana!" gumam salah seorang netizen yang menghadiri sidang itu.
Pengacara Leon dan Khansa bergantian mencecar Yenny habis-habisan. Dia tak berkutik, pikirannya sudah kosong. Kehilangan karir, harta dan keluarga secara bersamaan.
"Yah gimana lagi, karena ulahnya sendiri. Haduh, gedek banget waktu lihat dia sok sokan teraniaya dan menyudutkan Khansa," sahut teman di sebelahnya.
"Iya sama. Dan karenanya, seluruh warga net menghujat Khansa, menyerangnya, mencibirnya. Eh, aku juga termasuk sih. Haduh, jadi merasa bersalah. Keluarga Maharani nggak ada yang beres emang," celetuk yang lainnya.
"Dan baiknya Khansa nggak koar-koar untuk klarifikasi ya. Dia juga tidak menuntut orang-orang yang mengumpat dan menyumpahnya dengan sadis, diem aja. Waktu ternyata menjawab semuanya. Kalau iya, wah mungkin penjara akan penuh."
Sidang berlangsung selama lebih dari dua jam. Hakim telah memeriksa seluruh bukti-bukti. Dengan berbagai pertimbangan, hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara selama sepuluh tahun plus denda sebesar 20 milyar rupiah. Tiga kali ketukan palu dari hakim ketua, tanda berakhirnya sidang.
Yenny hanya bisa terisak dan mau tidak mau menerimanya. Wanita yang paling dibanggakan di Kota Palembang, kini berbalik menjadi orang yang paling dihujat dan direndahkan. Kesombongan dan ketamakannya hancur lebur bersamaan dengan hidupnya yang sudah hancur pula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Jihan sangat bahagia saat ibunya mulai sadar. Meski masih belum bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Salah satu kakinya semakin membusuk. Kadar gula darah yang tinggi menjadi salah satu pemicunya.
Dokter baru saja keluar dari ruang rawat Maharani. Jihan langsung berlari mendekat untuk mendengar penjelasan dokter yang menangani ibunya itu.
"Berhubung Nyonya Maharani sudah sadar, kita harus segera melakukan tindakan untuk luka kakinya yang semakin menyebar. Berdasarkan hasil rontgen, lukanya sudah menembus hingga ke tulang. Dikhawatirkan akan semakin menyebar. Untuk paru-parunya, perlahan sudah mulai bersih dari virus dan bakteri. Meski begitu, kita harus tetap melakukan terapi dan juga jangan sampai lingkungannya kotor," papar dokter setelah membaca hasil pemeriksaan.
Jihan menelan salivanya dengan berat. "A ... apa yang harus dilakukan pada kaki ibu saya, Dok?" tanya Jihan yang tenggorokannya mulai tercekat.
"Mau tidak mau kita harus mengamputasinya. Kita baru berani melakukan tindakan setelah pasien sadar untuk memastikan kondisi tubuhnya," lanjut dokter itu lagi.
"Amputasi?" Tubuh Jihan terasa melemas. Kedua kakinya terasa lunglai tak bertulang. "Apa yang akan terjadi jika tidak diamputasi, Dok?"
"Lukanya akan semakin menyebar, dan bisa menyebabkan kematian," jelas dokter lagi.
Jihan menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya terperosot ke lantai. Dokter melenggang pergi setelah memberinya penjelasan.
Bersambung~
🤨 Lu mau berantem, Mas?
Mas Le: Enggak dulu deh, Thor. Jan merusak hati gw yang lagi berbunga-bunga.
😐