
Waktu silih berganti, siang dan malam pun bergiliran menyelesaikan tugasnya. Tak terasa satu bulan berlalu. Keseharian Khansa ditemani dua wanita cantik yang bahkan tidak seperti majikan dengan bawahan. Khansa selalu memperlakukan mereka layaknya sahabat. Tidak pernah membeda-bedakan.
Kemana pun Khansa ingin pergi, Lily dan Hana dengan senang hati mengantarnya. Mereka berdua juga menunjukkan destinasi tempat-tempat wisata yang menarik. Khansa sudah lumayan bisa berkomunikasi dengan bahasa korea. Meskipun pengucapan belum fasih, namun setiap ada yang berbicara dia bisa mengerti.
Nenek tidak pernah absen menghubungi mereka. Emily dan Jihan juga sesekali bertukar cerita dengan Khansa. Satu bulan yang berat bagi Khansa, tergantikan dengan situasi dan pengalihan emosi yang bagus.
Awal perjuangan Leon sangat berat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus bekerja lebih keras lagi untuk mengembangkan usahanya. Bahkan sering pulang malam, persaingan begitu ketat dan ulet. Tak hanya itu, ia juga menyiapkan kejutan besar untuk sang istri ketika pulang ke Indonesia kelak.
"Oppa!" panggil Khansa dengan manja di pagi yang cerah.
Leon yang sedang menunduk mengenakan sepatu, segera menegakkan punggungnya. Panggilan sayang itu, membuatnya meringis mendengarnya. Seketika matanya melebar ketika melihat penampilan Khansa saat ini.
"Pakai baju apa itu kamu?!" serunya dengan wajah memerah. Ia bahkan sampai mengabaikan panggilan yang sempat mmembuatnya tersentak.
Khansa menunduk, menatap pakaian yang ia kenakan. Atasan berlengan pendek, dipadukan dengan rok yang sangat pendek memperlihatkan pahanya yang putih dan bening bak porselen. Sebuah cardigan berlengan panjang dengan bahan katun menggantung di lengannya.
Aliran darah Leon berdesir kuat melihatnya. Dadanya bergolak dengan deguban kasar. Ia tahu ini hari pertama Khansa masuk kuliah. Emosinya membuncah ketika istrinya itu memperlihatkan kemolekan tubuhnya.
"Siapa yang suruh pakai baju kayak gitu, hah?" geramnya berdiri menghampiri Khansa. Matanya memicing tajam penuh intimidasi.
Khansa mengerjap berulang-ulang, ia kesusahan menelan salivanya. Kakinya berjalan mundur ketika Leon semakin mendekat hingga punggungnya terbentur dinding.
"Siapa yang suruh pakai baju kayak gini?" semburnya lagi menarik ujung dress pendek itu. Satu lengannya mengurung Khansa, tubuh kekarnya menghimpit wanita itu pada dinding kamar.
"A ... aku milih sendiri. A ... ku baru membelinya kemarin waktu jalan-jalan ke mall," ucapnya terbata-bata.
Padahal sebenarnya pakaian itu merupakan rekomendasi dari Hana yang memang selalu berpenampilan feminim. Namun Khansa menutupinya, ia tidak mau Hana berada dalam masalah. Mata sendunya beradu dengan manik elang Leon.
"Ganti sekarang juga!" tandas Leon dengan rahang mengeras. Matanya berkobar penuh amarah.
"I ... iya, aku ganti!" ucap Khansa merunduk melalui lengan Leon yang menghadangnya.
Leon memejamkan matanya sejenak, ia menghirup oksigen dalam-dalam untuk meredam dadanya yang memanas. Khansa berjalan sambil menyeka air matanya yang berjatuhan.
"Bicara pelan-pelan kan bisa!" gerutunya kesal karena tiba-tiba Leon berbicara dengan nada tinggi.
Leon mengacak rambutnya dengan kasar. Ia segera berlari menghampiri Khansa yang sedang memilih-milih pakaian. Hatinya ngilu ketika mendengar isakan lembut dari istrinya.
"GREP!"
Kedua lengan Leon melingkar erat di perut ramping Khansa. Kepalanya terbenam di cceruk leher wanita itu. Gerakan Khansa terhenti sembari mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Maaf, Sayang! Aku nggak bermaksud membentakmu," ujar Leon penuh sesal.
"Kan bisa bicara baik-baik!" cebik Khansa enggan menoleh.
"Iya, aku salah. Maaf!" sambung Leon mengeratkan pelukannya. Pikirannya yang sedang kalut membuat Leon terbawa emosi.
"Sedikit!" balas Leon tersenyum paksa. "Jangan khawatir aku pasti segera membereskannya. Dan lagi, jangan pernah keluar apartemen dengan pakaian seperti itu lagi. Aku enggak rela tubuh indahmu ini dinikmati mata-mata telanjang di luar sana!" lanjutnya dengan tegas.
"Baik, Oppa! Maafkan kekhilafan istrimu ini," ucapnya manja melingkarkan lengan di bahu Leon dan merapatkan tubuhnya.
Kali ini dada Leon kembali sesak. Bukan karena emosi, namun menahan gejolak dalam dirinya yang mulai membuncah. Apalagi setalah bersentuhan dengan tubuh sang istri yang sudah sangat dirindukannya.
Setiap malam harus tersiksa karena menahan hasratnya. Ia takut menyakiti Khansa jika melakukannya. Padahal, wanita itu sudah meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Tetap saja Leon merasa khawatir.
"Chagia! Manis sekali!" balas Leon menunduk hingga hidung keduanya bersinggungan.
Khansa sedikit berjinjit lalu mencium bibir suaminya sekilas. Tak ingin menyia-nyiakannya, Leon menahan tengkuk Khansa lalu memagut bibir ranum sang istri dan menyesapnya dengan rakus.
Tangan Khansa mendorong dada Leon dan memukulnya pelan karena pasokan oksigen di paru-parunya menipis, tautan bibir keduanya pun terlepas. Leon menggertakkan giginya karena lagi-lagi hawa panas mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Bagian bawahnya melesak sedari tadi dan ingin mereguk lembah kenikmatan.
"Sayang," panggil Khansa menyadarkan Leon yang pikirannya berhamburan kemana-mana.
Deru napas keduanya berembus dengan kasar. Leon masih menyatukan kening, enggan melepas dan menjauh dari istrinya.
"Apakah kita sudah bisa melakukannya?" desis Leon dengan dada yang meletup-letup.
"Tentu saja! Tapi tidak sekarang, kita harus segera berangkat." Khansa sedikit menarik tubuhnya ke belakang, meski pinggangnya masih direngkuh erat oleh suaminya.
"Tapi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Leon khawatir menaikkan dagu Khansa.
"Iya, Sayang. Aku sudah sembuh! Kalau tidak percaya, kita bisa periksa untuk memastikannya! Sekarang kita harus keluar. Lily dan Miss Hana pasti sudah menunggu di bawah.
Leon menilik jam di pergelangan lengannya, "Ah baiklah. Hari ini jadwal kuliahmu setengah hari. Nanti kamu langsung ke kantor saja. Aku akan booking dokter spesialis. Aku harus memastikan kalau kamu sudah benar-benar sembuh! Ganti baju, jangan pernah pakai pakaian kayak gini lagi. Kecuali ... di kamar!" tandasnya menunjuk baju yang dikenakan Khansa.
Leon menelan ludah ketika matanya tak sengaja menangkap bukit kembar Khansa yang tampak menggoda.
"Baik, Suamiku!" jawab Khansa tersenyum dengan lebar, mengalihkan perhatian Leon.
Leon berbalik dan melenggang pergi setelah mencium pipi Khansa sekilas. Jika berlama-lama seperti itu, ia tidak yakin bisa menahan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nyonya tidak jadi memakai baju kemarin?" tanya Hana ketika melihat Khansa turun dengan blouse dan celana serba panjang. Untuk sementara, Hana masih mendampingi Khansa untuk membantu menerjemahkan sesuatu yang mungkin tidak dimengerti Khansa. Sedangkan Lily menjadi bodyguard sekaligus sopir pribadi Khansa.
Leon yang melangkah serentak dengan Khansa seketika berhenti. Ia menatap tajam pada bawahannya itu. Tubuh Hana meremang melihat tatapan menghunus bak tombak api yang siap menancap.
"Jadi kau yang menyuruhnya?!" geram Leon menggelegar.
Bersambung~
Chagia dan Oppa -> panggilan kesayangan yang kerap dipakai di korea....