Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 123. Terkuak


Emily membelalak, ia terkejut hingga mendadak otaknya nge-blank bahkan tanpa ia sadari, Hansen sudah berdiri di depan pintu. Kemudian Emily berlari menyusul setelah terpaku beberapa saat.


Hansen menekan bell yang menempel di dinding dekat pintu. Perlahan pintu yang menjulang tinggi itu terbuka, seorang pelayan muncul di sana. "Tuan Frans ada?" tanya Hansen tanpa basa basi.


"Ada, Tuan. Mari silakan masuk," ucap pelayan itu membuka pintu lebar-lebar.


Setiap jam istirahat, Frans selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama istrinya. Emily adalah anak satu-satunya, meski hanya anak angkat, mereka sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri.


"Tunggu! Kamu mau ngapain ketemu papa?" tanya Emily menghadang langkah Hansen.


Hansen mengabaikan pertanyaan Emily, ia melenggang masuk dan duduk dengan elegan di kursi tamu. Gadis itu berdecak karena diabaikan. Ia pun berlari dan duduk di sebelah Hansen.


"Hei, Tuan muda. Anda mau apa, ha? Saya bahkan tidak menawari Anda mampir loh!" seru Emily duduk serampangan menghadap pria tampan itu, satu kakinya bahkan sudah naik di atas sofa.


Hansen menoleh, "Saya mau membicarakan bisnis dengan Tuan Frans," tegasnya.


Sontak wajah Emily pun memerah. Ia menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak. Segera ia memutar tubuh dan menurunkan kakinya. Bibirnya terkatup sempurna, suasana menjadi canggung seketika. 'Sialan!' umpatnya dalam hati.


Tak berapa lama, muncul sang ayah bersama ibu angkatnya yang merawat Emily sejak kedua orang tua kandungnya meninggal. Monika yang melihat putri kesayangannya pun mempercepat langkahnya.


"Emily!" pekik sang mama langsung mengambur memeluk anak gadisnya begitu erat. "Kamu udah pulang beberapa hari lalu, kenapa baru ke sini, hah?" serunya menangkup kedua pipi Emily.


"Maaf, Ma. Emily ada urusan sebentar," sahut Emily melebarkan senyumnya, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Tuan Hansen. Wah suatu kehormatan Anda mau datang ke kediaman saya," ucap Frans yang malah fokus pada Hansen.


Hansen berdiri lalu menjabat tangan Frans sembari tersenyum. "Jangan berlebihan, Tuan. Kebetulan saya mengantar Emily pulang. Jadi, sekalian mampir untuk membicarakan kelanjutan kerja sama kita," akunya kembali duduk. Mereka sudah pernah bertemu beberapa kali, dan hanya tinggal menunggu deal saja.


"Oh, kalau begitu mari kita bicarakan di ruang kerja saya saja," tawar Frans mengajak pria muda itu masuk.


"Papa nggak kangen sama Emily?" tanya Emily saat melihat sang papa hendak pergi.


"Nanti saja, Sayang. Papa lagi ada tamu spesial," ujarnya mengedipkan sebelah mata.


"Iih martabak kali, spesial!" cibir Emily dengan kesal.


Monika melirik putrinya sembari mengerutkan kening. Ia lalu menarik Emily masuk ke ruang tengah. "Emily, kau ada hubungan apa dengan Hansen? Kalian pacaran? Kok tidak pernah ada di berita? Hei, kau menyembunyikan sesuatu dari mama?" cecar Monika tanpa henti.


"Yaampun, Mama. Anaknya baru pulang bukannya nanya kabar malah nanya yang enggak-enggak," cebik Emily membuka toples keripik kentang favoritnya.


"Eh, terus maksudnya apa tadi? Dia nganter kamu pulang? Kok bisa?" Monika menahan tangan Emily saat hendak memasukkan keripik ke dalam mulutnya.


"Ck, nggak ada hubungan apa-apa, Mama. Kebetulan aja kami dari rumah sakit. Terus ya gitu, dia nawarin nganter pulang. Emily mau minjem mobil, Ma."


"Kenapa minjem, Sayang? Kamu mau pakai ya tinggal pakai aja, kayak punya orang lain aja. Mama kangen sama kamu!" ucap Monika kembali memeluk Emily.


Di balik punggung sang mama, Emily mengepalkan tangannya karena berhasil menghentikan kekepoan wanita paruh baya itu. 'Yess!' Ia pun menghela napas lega. "Emily juga kangen sama mama," sahutnya membalas pelukan hangat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa dan Leon menoleh serentak, memusatkan pandangan pada Bibi Fida. Lalu mereka saling menatap, Khansa buru-buru beranjak. Tak lupa tangannya merebut outer dari tangan Leon dan mengenakannya dengan cepat.


Buru-buru Khansa beralih duduk di samping Bibi Fida. Dadanya berdebar kuat, menguatkan diri untuk mendengarkan kesaksian Bibi Fida. Leon turut berdiri di belakang Khansa, menggenggam rambut panjang wanita itu, mengeluarkannya dari balik outer agar lebih nyaman.


Khansa menggenggam jemari Bibi Fida, "Bibi tenanglah," ucap Khansa mengusap air mata Bibi Fida yang mengalir semakin deras. Khansa khawatir kesedihannya bisa membuat Bibi Fida kembali drop.


"Bibi, bicara pelan-pelan ya. Jangan takut, kami akan melindungi Bibi." Leon menimpali.


Bibi Fida menghela napas panjang, matanya menatap lurus langit-langit rumah sakit. Ingatannya kembali berputar mundur sepuluh tahun yang lalu.


Flashback~


Siang telah bergulir menjadi senja, Keluarga Ugraha berkunjung ke kediaman calon besannya. Namun, saat itu bersamaan Fauzan yang sedang keluar bertemu klien.


Khansa kecil masih bersedih karena ditinggalkan oleh ibunya tujuh hari yang lalu. Ia tidak mau keluar kamar, untuk makan saja jika tidak dipaksa oleh Bibi Fida tidak akan makan. Itu pun hanya beberapa suap saja.


"Bibi, Sasa di mana?" tanya Hendra berlari ke lantai dua.


Bibi Fida yang sedang menyapu lantai, berhenti sejenak. "Ada di kamar, Tuan kecil. Non Sasa masih tidak mau keluar," ucap Bibi Fida dengan sendu.


"Baiklah, Bi. Aku akan mencoba membujuknya."


Hendra berlari menuju kamar Khansa, ia mencoba menghibur dan mengajaknya bermain. Namun Khansa tetap bergeming, terbaring membelakangi pintu, menaikkan selimut hingga lehernya.


Isakan tangisnya masih terdengar jelas. Khansa terus mengabaikan Hendra. Ini bukan pertama kalinya, sudah beberapa kali Hendra berusaha mendekati Khansa, namun sama sekali tidak dapat membuat gadis kecil itu bangkit.


"Sa, jangan sedih terus. Ayo kita bermain, atau kamu mau pergi ke suatu tempat?" tanya Hendra pantang menyerah.


"Pergilah, Kak. Aku ingin sendiri," ucap Khansa dengan suara seraknya. Ia merasa tidak nyaman.


"Jangan seperti ini, nanti kamu sakit," sergah Hendra menyentuh bahu Khansa.


"Pergi!" teriak Khansa menepis tangan Hendra.


Laki-laki itu pun berlari keluar menyusul kedua orang tuanya. Langkah kakinya yang cepat dan tidak berhati-hati, tubuhnya membentur punggung Kakek Khansa yang hendak turun menemui Keluarga Ugraha.


Kakek Khansa terjatuh dan berguling di tangga yang cukup tinggi, hingga lantai dasar. Pria tua itu seketika tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari kepalanya.


Tubuh Hendra mematung, bahkan sampai gemetar. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya. Ketakutan menggulung di benaknya.


Melihat sang kakek tergeletak bersimbah darah, ayah dan ibu Hendra segera beranjak berdiri. Mereka mendekat, ibu Hendra histeris melihatnya. Lalu pandangan keduanya mengarah ke atas. Nampak, putra kesayangannya berdiri ketakutan. Matanya sudah memerah dan hampir menangis. Dua orang tua itu saling pandang dengan keterkejutannya.


"Hendra!" ucap ibunya dengan lirih, tenggorokannya tercekat.


Bibi Fida berlari ke lantai bawah. Ia hendak menelepon ambulan karena luka tuan besarnya sangat parah. Namun tiba-tiba, lengannya ditarik oleh Tuan Ugraha dan dibekapnya.


"Tolong! Lepaskan saya, Tuan!" teriaknya terdengar lirih karena mulutnya tertutup rapat oleh telapak tangan lebar ayah Hendra.


"Bu, cepat cari kain atau selotip dan juga tambang!" ujar Tuan Ugraha pada istrinya.


"Di mana carinya?"


"Di mana aja! Jangan banyak tanya, cepat bertindak!" tegas pria itu melotot tajam.


Wanita itu menurut, segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membekap dan mengikat Bibi Fida. Bibi Fida memberontak hendak melepaskan diri. Namun, sebuah pukulan keras di tengkuk, membuatnya langsung tak sadarkan diri.


Beberapa pelayan di rumah itu masih sibuk membersihkan gudang untuk menyimpan barang-barang ibu Khansa, sesuai permintaan Fauzan. Mereka sibuk sampai-sampai tak mendengar keributan di sana.


Nyonya Ugraha kembali dengan sebuah selotip hitam yang cukup besar dan sebuah tambang yang ia temukan di dekat dapur. Mereka menyeret Bibi Fida, dan mengikatnya di kursi belakang tangga.


Tuan dan Nyonya Ugraha segera berlari ke lantai atas menghampiri putra kesayangannya. Wanita itu memeluk Hendra yang hampir menangis, mengusap punggungnya dengan perlahan. "Sayang, tenang ya. Jangan takut. Kami akan membereskannya," ucap sang ibu membelai kepala putranya.


"Yah, kita harus gimana sekarang?" tanya sang istri ketakutan.


Tuan Hendra mengeluarkan sapu tangan, menumpahkan setengah botol kecil berisi cairan pada kain itu lalu mengulurkannya pada sang istri. "Bikin Khansa tidak sadar. Aku akan segera mengurus CCTVnya!" ujar pria yang merupakan pemilik perusahaan obat ternama di Kota Palembang itu.


Nyonya Ugraha mengangguk paham, ia segera berlari menuju kamar Khansa dan membekapnya sampai pingsan. Hendra masih mematung melihat nasib sang kakek. Keluarga Ugraha hanya sibuk menyelamatkan nama baiknya saja, tanpa mempedulikan nyawa seseorang.


Tuan Ugraha mengancam penjaga untuk segera menghapus rekaman CCTV dan menyuruh mereka segera mengundurkan diri. Ia juga menjanjikan sejumlah uang agar mereka pergi sejauh mungkin dari Kota Palembang. Jika tidak, mereka akan dibunuh saat itu juga.


Pasangan suami istri itu menghela napas panjang. Khansa sudah dipindahkan ke lantai dasar di dekat kakeknya. Dan disaat itulah, mereka memaksa Hendra untuk melemparkan kesalahan pada Khansa.


"Halo, Tuan Isvara. Bisakah Anda segera pulang? Kakek ... kakek mengalami kecelakaan. Khansa mendorongnya dari lantai atas dan keadaannya cukup mengkhawatirkan!" ucap Tuan Ugraha menelepon Fauzan.


Seketika Fauzan segera pulang ke rumah. Dan tepat saat itu, Khansa tersadar karena merasakan hawa dingin di tubuhnya. Ia bingung, karena tiba-tiba terbangun di lantai.


"Kenapa aku bisa di sini?" Pandangan Khansa mengedar, semua orang di sekelilingnya menatap dengan tajam. Khansa mengerutkan kening, lalu ia kembali menjatuhkan pandangannya.


Seketika bibirnya bergetar, manik mata bulatnya semakin melebar, "Ka ... kakek?" ucapnya terbata-bata. Khansa merangkak mendekati kakeknya. "Kakek, Kakek kenapa? Kakek bangun! Jangan tinggalin Sasa, Kek!" jerit Khansa menangis pilu.


"Kenapa kamu melakukan ini, Sa?!" pekik Fauzan menatapnya dengan tajam.


"A ... apa maksud ayah?" tanya Khansa bingung.


"Kenapa kamu mendorong kakek dari tangga?" ulang Fauzan bersuara dingin.


Khansa terus mengelak diiringi deraian air matanya. Namun dia semakin terdesak dengan pengakuan Hendra dan seorang peramal yang mengatakan bahwa Khansa adalah pembawa sial.


Bibi Fida menangis menjerit mendengar semua pertengkaran waktu itu, yang mana semua orang menyalahkan Khansa atas jatuhnya sang kakek. Tapi tidak ada yang bisa mendengarnya. Tubuhnya terikat kuat di kursi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah tidak ada air mata lagi yang mengalir dari kelopak mata Khansa. Tubuhnya menegang dengan kedua tangan terkepal dengan kuat. Matanya berubah nyalang, dadanya bergemuruh, seperti gunung merapi yang hendak memuntahkan laharnya. Bibi Fida justru yang menangis tersedu saat menceritakannya.


Leon juga tak tinggal diam. Ingin rasanya membunuh keluarga Hendra saat ini juga. Detak jantungnya sudah berpacu dengan kuat. Berbeda dengan Khansa, Leon justru tidak bisa menahan emosinya. Leon menggebrak meja di sebelah Bibi Fida.


"Brakkk!"


Beberapa buah, piring dan gelas bekas makan Bibi Fida berjatuhan ke lantai, karena gebrakan yang begitu keras dari kedua tangan Leon. Giginya bergemelatuk sangat keras. Deru napasnya berubah kasar.


Bibi Fida dan Khansa terjingkat, Khansa segera berdiri dan memeluk Leon. Lengannya mengusap punggung lebar Leon dengan lembut. "Tenanglah, Leon. Tarik napas panjang dan buang perlahan. Jangan biarkan emosi menguasaimu, tenang ya," ujar Khansa pelan dengan suara lirih.


Leon memejamkan kedua matanya, menghirup oksigen sebanyak mungkin. Urat-urat tangannya sudah menonjol. Ia berusaha keras untuk melawan emosinya sendiri. Kelembutan Khansa mampu membuat Leon tersentuh, lama kelamaan Leon kembali tenang mendekap erat tubuh mungil Khansa.


Bersambung~


Inii isinya banyak banget loh btw. Jan bilang pendek dan kurang 😂 Thankyou yaa yang udah vote dan lempar hadiah.. Yang belum, buruaan kalia aja nanti syemangat up lagi.. 😄 komengnya juga melemahh.. wkwkwkwk...



Eh gitu ya? Jadi? Kurangin nih isinya? 🙄



Wah ide yang baguss... Mas Le kali ini aku pada Sasa.


Mas Le: Perempuan memang selalu benar 😐