
“Aku bawa ke depan ya, Bi,” ujar Khansa membawa semangkuk sup yang masih mengepulkan asap panas itu.
“Iya, Nyonya. Hati-hati dan terima kasih telah membantu kami,” balas sang pelayan tersenyum tulus.
“Ah, bukan masalah,” elak Khansa.
Khansa telah berdiri di ambang pintu. Sayup-sayup mendengarkan percakapan Susan dan Leon mengenai izin menginap. Khansa sengaja tidak masuk untuk mendengarkan jawaban Leon. Dan betapa terkejutnya ia saat Leon mengizinkan Susan untuk bermalam di Villa Anggrek.
Tangan Khansa gemetar hebat, gemuruh di dadanya bagai bom atom yang memporak-porandakan hatinya. Tanpa sadar, Khansa menjatuhkan mangkuk di tangannya. Kakinya tersiram sup panas dan tergores pecahan mangkuk yang dibawanya.
“Arrghh! Ssshhh!” desis Khansa kesakitan langsung berjongkok dan mengipasi kakinya dengan tangan.
Leon dan Susan menoleh serentak. Melihat Khansa kesakitan, Leon bergegas mendekatinya bahkan nyaris berlari. Kepanikan tidak bisa ia sembunyikan dari wajah tampannya.
“Sa!” seru Leon menjatuhkan tubuhnya, memeriksa kondisi Khansa. “Kamu terluka!” lanjutnya membelalakkan mata, Leon segera menangkup bahu Khansa, membantu gadis itu berdiri.
Leon menariknya untuk duduk di salah satu kursi meja makan. Ia mendudukkan Khansa, menuangkan air putih pada gelasnya hingga penuh.
“Minumlah dulu, kamu pasti shock ‘kan?” ujarnya mengulurkan gelas tersebut.
Khansa menerimanya, meneguk air putih itu hingga tandas. Karena memang dia benar-benar shock. Lebih tepatnya shock dengan percakapan Leon dengan Susan. Perlahan Khansa meletakkan gelas kosong itu.
Kedua manik Khansa tak beralih memandang Leon, pria itu meraih tissu yang tersedia di meja. Lalu menjatuhkan tubuhnya di depan Khansa. Setiap gerakan Leon terekam di mata dan tersimpan di otak Khansa, juga menikam jantungnya.
“Kamu kenapa nggak hati-hati sih?” gerutu Leon mengusap lembut kaki Khansa, membersihkan sisa-sisa sup dan sedikit darah yang mengalir dari punggung kakinya.
Khansa menelan salivanya, bibirnya bergetar. Apalagi Leon dengan telaten membersihkan lukanya lalu meniup-niup bekas luka itu. Kedua ibu jarinya menggesek lembut permukaan kulit di kaki Khansa. Membuat desiran darah Khansa semakin meningkat.
“Masih sakit? Hemm? Apa kita perlu ke rumah sakit? Kerasa panas nggak? Aku takut akan melepuh,” cecar Leon dengan khawatir.
Iris hitam Khansa justru berkaca-kaca. Leon membuatnya kacau dan terharu di saat yang bersamaan.
“Sa! Ayo kita ke rumah sakit,” ajak Leon lagi mendongakkan kepala. Tatapannya saling beradu. Khansa bisa melihat kekhawatiran dari raut wajah Leon.
“Hei,” sambung Leon lagi. Kali ini tangannya mengulur menyentuh salah satu bahunya, mengusap dengan lembut. Ia benar-benar khawatir. Khansa menjauhkan bahunya ke belakang.
Leon geram karena Khansa tak berucap apa pun. Leon lalu beranjak berdiri dan bersiap menggendong Khansa ala bridal style. Namun Khansa segera menolaknya dengan cepat.
“Tidak! Tidak perlu. Aku … aku akan mengobatinya di kamar saja. Ini tidak apa-apa, Tuan,” elak Khansa menahan salah satu bahu Leon.
“Baiklah aku antar ke kamar!” Lagi, Leon hendak merengkuh bahunya namun Khansa menepisnya dan menolaknya.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Tolong, biarkan aku sendiri,” tolak Khansa berusaha berdiri.
Mau tak mau Leon pun mengalah, saat tangan kurus Khansa menahan dada Leon. Dengan terpincang Khansa berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang galau.
Susan yang sedari tadi melihat adegan demi adegan dua orang itu merasa ada yang tidak beres dengan hubungan Leon dan Khansa.
Matanya memicing, hingga ekor matanya kehilangan Khansa yang sudah naik ke kamarnya.
‘Sebenarnya ada hubungan apa Leon dengan pelayan itu? Bahkan seorang CEO hebat seperti Leon bertekuk lutut dan begitu khawatir pada seorang pelayan. Pasti ada yang nggak beres nih,’ cebik Susan dalam hati.
“Mmm … Tuan, mari kita lanjutkan makan malamnya,” ajak Susan dengan nada manja.
Susan berinisiatif menuangkan air putih di gelas yang baru lalu menyodorkannya di hadapan Leon. “Silakan diminum, Tuan,” ucap Susan.
Leon menatapnya dingin, lalu menggeser gelas berisi air tersebut, menggunakan gelas bekas Khansa dan menuangkan air sendiri. Meneguknya dengan cepat dalam beberapa kali teguk dan meletakkannya cukup kasar. Bahkan Susan sampai terlonjak.
Kemudian keduanya makan dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring memecah keheningan di ruang makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar. Khansa duduk di tepi ranjang dengan pandangan mengarah pada jendela. Menatap gelapnya malam tanpa bintang yang bertaburan, karena awan hitam pekat tengah bergulung menutupi cahaya yang berpendar di angkasa.
“Tok! Tok!”
Khansa terlonjak mendengar ketukan pintu. Ia menoleh pada saat pintu tersebut terbuka, lalu seorang wanita masuk ke kamarnya.
“Permisi, Nyonya. Ini obatnya,” ucap salah satu pelayan yang tadi tidak sengaja melihat luka Khansa, ditambah lagi mendapat perintah dari Leon.
“Oh, makasih, Bi,” ucap Khansa pelan mengurai senyum tipis.
Pelayan itu berjongkok dengan kotak P3K di pangkuannya. Namun Khansa segera menyingkirkan kakinya saat hampir diraih oleh sang pelayan.
“Biar aku obati sendiri, Bi. Terima kasih banyak perhatiannya.”
“Tapi, Nyonya ….”
“Aku baik-baik saja, Bi. Jangan perlakukan aku seperti orang sekarat,” kelakar Khansa membuat ketegangan di wajah pelayan memudar seketika.
Pelayan itu pun berdiri dan mengulurkan kotak P3K pada Khansa. “Baiklah, Nyonya. Semoga cepat sembuh. Kalau begitu, saya permisi, Nyonya,” ujar pelayan tersebut membungkuk lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Khansa.
Khansa menghela napas panjang. Ia lalu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan bersandar pada headboard kasurnya. Tampak, salah satu kakinya hampir melepuh. Khansa mencari salep dan segera mengoles sedikit demi sedikit pada lukanya.
Namun ia tampak tidak fokus. Perlakuan manis dan romantis Leon terus berputar di ingatannya. Tapi hatinya juga sedikit nyeri saat mengingat Susan yang akan menginap di Villa tersebut.
“Kamu selalu seenaknya sendiri, Leon!” Khansa sudah bersusah payah untuk mengabaikannya. Namun, hatinya berkhianat. Ia terus merasa gelisah dengan kebimbangan hati yang tengah terombang-ambing diterjang badai. Khansa menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
Suara ketukan pintu menyadarkan Khansa dari lamunannya. Ia pikir itu adalah Leon. Khansa turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu. Khansa sedikit terkejut karena ternyata, Susan yang berdiri di depan kamar.
“Ada apa?” tanya Khansa mengerutkan dahi.
“Heh pelayan! Ada hubungan apa kamu sama Tuan Leon? Tau diri sedikit ya status kamu di sini,” Sentak Susan dengan nada ketus.
‘Hmmmh! Kenapa di dunia ini dipenuhi orang-orang menyebalkan!’ Khansa memutar bola matanya malas.
“Apa maumu?” tanya Khansa menatapnya tajam.
“Kamu carikan aku sekotak ******. Karena malam ini, aku yakin akan menjadi wanita milik Leon! Dan kamu!” Susan menunjuk Khansa dengan telunjuknya. “Kamu adalah pelayan pertama yang akan kutendang dari Villa ini,” ancamnya melotot tajam. Sungguh percaya diri sekali wanita satu ini.
‘Ingin sekali kucongkel kedua matamu itu, dasar murahan!’ gerutu Khansa dalam hatinya yang bergemuruh.
Bersambung~