
"Gue normal Emily!" tegas Bara melotot tajam.
Emily tersenyum sumringah. Karena sudah ada sedikit kemajuan. Bara enggan disebut tak normal. Emily pun semakin bersemangat untuk menggodanya.
"Normal kok lambai, terus anti sama perempuan. Inget umur, udah makin tua, Bang! Jennifer boleh juga!" ejek gadis itu pada kakaknya.
Emily bergerak cepat, beranjak dari sana dan berlari mengitari kolam karena tahu Bara akan emosi mendengarnya. Bara pun segera berdiri dan mengejarnya. Dua kakak beradik itu saling memekik dan berteriak di belakang rumah.
"Awas kalau ketangkep lu ya!" Bara semakin memperpanjang larinya. Emily tertawa masih berlari, sesekali menoleh ke belakang sembari menjulurkan lidahnya.
"Emily! Bara! Udah gelap gini malah kejar-kejaran. Ayo masuk!" teriak Monica memperingatkan.
"Iya, Ma!" sahut mereka kompak, serentak menghentikan larinya dengan napas tersengal-sengal.
Emily berjalan waspada, sedangkan Bara tampak terlihat tak acuh. Namun, saat berjalan bersisian, lengan Bara menggamit leher Emily sampai susah bergerak.
"Bang, uhukk!" ujarnya menepuk-nepuk lengan tersebut.
Bara yang kasihan melepasnya, dengan cepat Emily beralih melompat naik ke punggungnya memeluk erat leher kakaknya, melingkarkan kedua kaki pada pinggang Bara. Ia ingin menikmati waktu bersama sang kakak sebelum lepas lajang.
Bukannya marah, Bara pun menahan tubuh Emily. Ia melangkah tenang menuju ruang makan di mana mama dan papanya sudah menunggu.
"Emily? Kamu berat loh. Kasihan Bara," seru Monica menarik sebuah kursi untuk Emily duduk.
"Nggak apa, Ma. Bentar lagi juga nggak bisa," sahut Bara mendudukkan Emily, lalu dia duduk di sebelahnya.
Monica hanya menghela napas sembari menuangkan nasi dan lauk pauknya di atas piring, lalu menyodorkan pada anak-anaknya.
"Tetep bisa kok, Bang." Emily menuangkan air putih lalu meminumnya.
"Emang kamu nggak ngerasa Hansen masih cemburu tahu kalau kamu terlalu nempel sama aku," sanggah Bara mendengkus kasar.
"Eh! Masa sih? Perasaan kamu aja kali, Bang!"
"Mungkin karena masih belum terbiasa, dulu 'kan hubungan kalian hanya sebatas pekerjaan. Masih belum bisa nerima kalau kalian sedekat ini. Sudah ngobrolnya, ayo makan dulu." Monica kembali duduk setelah menyodorkan porsi makanan pada masing-masing anggota keluarga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa berbaring di ranjang lebih awal. Tubuhnya sekarang mudah sekali kelelahan. Ia berbaring memiringkan tubuh sembari menatap layar ponselnya. Ia tengah menonton youtube, untuk melihat pertumbuhan janin mulai dari proses pembuahan hingga menjadi bayi.
Khansa suka sekali menontonnya setiap hari. Ia ingin tahu seberapa besar ukuran janinnya dan bagaimana pertumbuhannya sesuai usia.
"Sayang kamu di sini? Aku cari kemana-mana," ucap Leon membawakan segelas susu berwarna cokelat.
"Iya, capek banget, Sayang," sahut Khansa menoleh sejenak lalu kembali fokus dengan layar ponselnya.
Leon duduk di tepi ranjang, "Minum dulu susunya," ucapnya menyodorkan gelas tersebut.
Khansa baru sadar, ia menoleh dengan cepat lalu segera beranjak duduk. Segera meraih susu itu dan meneguknya bersemangat. Karena dibuatkan oleh sang suami.
"Makasih, Sayang. Kamu manis sekali," puji Khansa mengecup pipi Leon dan meletakkan gelas kosong di atas nakas.
"Sama-sama. Tidurlah lagi. Aku pijitin!" Leon menyibak selimut tebal yang menutupi separuh tubuh istrinya.
"Eh nggak usah, Leon. Kamu juga capek sendiri," tolak Khansa merasa tidak enak.
Leon meletakkan telunjuknya di bibir Khansa lalu menepuk-nepuk puncak kepalanya. "Ssttt! Tidur!" ucapnya tegas.
Khansa tak bisa mengelak, ia pun menurut. Leon mulai memijit betisnya dengan perlahan. Sesekali meringis, merasa geli sekaligus sedikit nyeri.
"Sakit?" tanya Leon tepat di telinga Khansa.
Leon menautkan alisnya, namun masih terus memijitnya dengan pelan. Sampai beberapa waktu berlalu, Khansa tak bersuara. Ia masih dengan posisinya yang miring.
"Sayang, besok aku jemput Cheryl jam 7 ya."
Tidak ada sahutan apa pun. Ia melongok mengintip wajah istrinya yang ternyata sudah memejamkan mata. Leon meraih ponsel milik istrinya, tersenyum ketika melihat video pertumbuhan janin dalam rahim. Ia segera mematikan benda itu, meletakkannya di atas nakas. Kemudian beranjak untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Selama satu jam Leon berkutat di depan laptop. Khansa terperanjat ketika tak menemukan sang suami di sampingnya.
"Leon!" panggilnya.
"Ya, Sayang?" sahutnya dari sudut kamar. "Kok bangun?" sambung pria itu beranjak menghampiri.
"Nggak ada yang peluk!" cebiknya kesal.
"Oh, kirain pengen," celetuk Leon kini membaringkan tubuhnya, diikuti Khansa.
"Mmmm ... mungkin itu juga," sahutnya membuang muka karena malu.
Leon terkejut. Ia merapatkan tubuhnya dengan bersemangat. Karena sebenarnya ia sudah menahan sedari tadi, namun tidak tega untuk memintanya.
"Serius? Nggak akan sakit 'kan?" tanya Leon memastikan.
"Enggak! Yang penting pelan-pelan," sahut Khansa masih belum berani menatap suaminya.
Leon mengepalkan kedua tangannya, "Yess!" pekiknya dalam hati. Lalu membalikkan tubuh sang istri hingga saling bertatapan. Jemarinya membelai rambut istrinya, mencium keningnya lalu berucap, "Iya, aku akan pelan-pelan," janjinya.
Dan malam itu, Leon melupakan pekerjaannya, memilih untuk berperang di ranjang panas bersama sang istri. Beberapa kali Khansa harus menepuk lengan Leon. Pria itu terlalu bersemangat karena sudah libur beberapa hari hingga lupa bahwa ia harus melakukannya dengan lembut dan hati-hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Leon terbang menuju Jakarta untuk menjemput Cheryl seorang diri. Tak butuh waktu lama, perjalanan udaranya. Kini ia sudah mendarat di kota metropolitan itu.
Rico pun sudah siaga menjemput sang big boss di bandara. Sedangkan Khansa seharian ini tidak ada jadwal praktik di rumah sakit. Dia di rumah untuk menyambut kedatangan ponakannya.
Sebenarnya bisa saja Leon menyuruh orang untuk mengantar atau menjemput Cheryl. Tapi dia enggan dan lebih memilih datang sendiri.
"Selamat datang, Tuan! Senang bertemu dengan Anda!" sapa Rico membungkuk membukakan pintu penumpang.
"Hmm!" sahut Leon dingin lalu duduk dengan elegan.
Rico mengedikkan bahu, bergegas menutup pintu dan segera menjalankan mobil. Dalam perjalanan mereka sama sekali tak bersuara. Rico bungkam, takut salah bicara.
Tak berapa lama, mereka sampai di kediaman sebastian yang bak istana. Leon mengembuskan napas berat. Sudah puluhan tahun dia meninggalkan rumah itu. Dan kini pertama kalinya ia kembali menginjakkan kedua kakinya di sana.
"Apa ayah di rumah?" tanya Leon ketika mobil mulai memasuki gerbang.
"Sudah ke kantor, Tuan. Hanya Tuan Tiger bersama Nyonya Jihan yang di rumah," sahut Rico.
Leon tak bersuara lagi. Matanya menyapu rumah megah itu dengan perasaan campur aduk. Tentu, kenangan-kenangan buruk semasa kecilnya hingga beranjak remaja, masih teringat lekat di benaknya.
Ia pikir sudah cukup kuat. Ternyata tidak sesuai ekspektasi. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dengan debaran jantung yang meningkat. Leon juga merasa sesak. Ia segera menggeleng kuat, memudarkan rasa pusing di kepalanya.
Buru-buru Leon meraih ponsel untuk menghubungi Khansa. Rico bingung dengan perubahan Leon, mobil sudah berhenti. Namun tak berani menyapa Leon karena melihat wajah tuannya yang memucat dan tiba-tiba panik.
"Sayang! Aku ... aku nggak bisa!" ucap Leon bergetar ketika Khansa sudah menjawab di seberang. Kepalanya menunduk dengan mata terpejam.
Bersambung~