
"Cukup! Saya sudah tahu siapa pemilik batu giok pemberian saya!" ujar Leon bernada geram menahan gejolak amarah yang bergemuruh di dadanya. Gerry yang tepat di sampingnya terlonjak kaget.
Tangan Leon memasukkan kalung tersebut ke dalam saku celana. Kepalanya menoleh pada Gerry, "Siapkan mobil tepat di depan gedung, sekarang dan buat laporan kepolisian dengan pasal berlapis, penipuan dan pencemaran nama baik!" perintahnya bersuara rendah.
"Baik, Tuan!" ucap Gerry pelan mengangguk patuh lalu berbalik dan melenggang pergi.
Leon berjalan dengan santai, namun kilat amarah terlihat jelas dari gestur tubuhnya, menghampiri Khansa yang sudah merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Bagaimana tidak, dia yang bekerja keras namun orang lain yang memetik buahnya.
Kecewa, marah, sakit menggulung menjadi satu dalam benaknya. Setetes bulir bening perlahan mengalir di kedua pipinya usai kedipan pertama.
"Tuh 'kan, emang Khansa yang salah. Dibilangin nggak percaya sih!" gumam salah satu tamu wanita.
"Kelihatannya serem, mau diapain ya dia," lanjut rekan satunya.
"Dia sendiri yang cari gara-gara sih!" balas lainnya.
Yenny menatap sinis, ia melipat kedua lengannya. Merasa yakin bahwa dialah pemenangnya. Emily yang melihatnya segera berlari dan berdiri di depan Khansa. Menjadi tameng untuk sahabatnya.
"Mau ngapain kamu?!" pekik Emily menatap Leon dengan tajam.
"Minggir!" ucap Leon dengan dingin.
Emily merentangkan kedua tangannya sembari menggeleng, "Enggak, aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti Sasa! Kamu akan kuberi perhitungan jika itu terjadi. Nggak peduli siapa pun kamu!" tegasnya mendongak karena Leon lebih tinggi darinya. Sedangkan jarak di antara mereka sangat dekat.
"Han! Han! Tu satu-satunya cewek yang berani nantangin Kak Leon! Bahkan berani pukul Kak Leon. Nyawanya double kali," bisik Simon menepuk bahu Hansen yang melihat mereka dari kejauhan.
Hansen hanya diam, pandangannya terus mengarah pada Emily dan Leon. Kedua tangannya masuk ke saku celana.
"Han! Han! Lu denger nggak sih?" tambah Simon lagi.
Hansen hanya melirik sekilas, meletakkan jari telunjuk di bibir tipisnya. Simon mengerti, ia mengangguk dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
Leon mendengkus kasar, mata elangnya menyeringai dingin. Hansen cukup tahu bagimana sifat saudaranya itu. Leon tidak pernah pandang bulu, dia bisa menyakiti siapa pun tak peduli seorang wanita.
"Minggir!" sentak Leon lagi. Emily tak gentar meski dalam dadanya berdentum dengan kuat.
Hansen melangkah perlahan, meminta jalan pada orang-orang hingga ia sampai di arena pertarungan. Tangannya mengulur menarik lengan Emily agar menyingkir dari sana. Sempat memberontak, karena Emily takut Khansa kenapa-napa. Namun, ia kalah tenaga dengan Hansen. Tubuh mungilnya ditarik dan ditahan oleh Hansen.
Tinggallah Leon yang langsung menangkap netra Khansa, jarak keduanya semakin dekat, gadis itu berdiri terpaku. Bulu mata lentiknya bertumbukan dengan lembut saat berkedip. Pandangan mereka saling beradu. Tenggorokan Khansa serasa tercekat, dadanya pun teramat sesak.
Leon menangkup kedua pipi Khansa dan mencium keningnya cukup lama. Khansa semakin menangis, air mata yang mengalir semakin deras. Kedua matanya terpejam. Mengeluarkan semua kesakitan dan kepedihan yang selama ini terpendam jauh di sanubarinya.
"Hah?!" Pekik semua orang terkejut dengan mata membelalak lebar dan mulut menganga.
"Loh, kok?" Semua saling pandang masih dengan keterkejutannya.
Emily turut menitikkan air mata haru, seiring dengan embusan napas penuh kelegaan. Netranya lalu menangkap Leon yang menyeka air mata di kedua pipi Khansa. Emily sampai berjongkok menangis tersedu. Tak peduli dengan penampilannya saat ini. Apa yang ditakutkan tidak terjadi, Leon berada di pihak Khansa.
Hansen menundukkan pandangan, ia menangkup kedua bahu Emily yang bergetar dan membangunkannya. Di balik sikap bar-barnya, Emily memiliki hati yang lembut. Dia akan berjuang mati-matian untuk membela sahabatnya.
Hansen menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Aroma maskulin menyeruak dalam indera penciuman Emily. Lengan Hansen bergerak naik turun di punggung Emily, memberikan ketenangan pada gadis itu.
Yenny mulai panik, matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya. Ia menoleh ke sekelilingnya. Dalam hati mengerutuki kebodohannya saat menjawab pertanyaan Leon tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Jadi sebenarnya Yenny? Oh ... ini sulit dipercaya ya Tuhan!" keluh salah satu orang yang membelanya tadi.
Leon segera melepaskan Khansa, tubuhnya berputar dan menatap Yenny. Mata elangnya nampak mengerikan. Sudah seperti tombak api yang siap ditancapkan pada Yenny.
Aura kemarahan pria itu menguar di sekujur tubuhnya. Kedua tangan terkepal kuat diiringi deru napas yang mendengkus dengan kasar. Langkahnya semakin cepat, Yenny pun mundur dengan cepat pula. Ketakutan mulai menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Tangan kanan Leon menjulur lalu menekan leher Yenny dengan kuat. Tubuh Yenny semakin terpundur karena gerakan Leon yang begitu kuat hingga membentur dinding. Leon menumpukan seluruh tenaga pada tangannya untuk mencekik Yenny.
"Brengsek! Kamu sudah menipuku selama bertahun-tahun! Kamu juga telah memerasku! Dasar bajingan!" berang Leon dengan suara tinggi.
Yenny hampir kehabisan napas. Tidak ada yang berani membantunya, orang-orang di sekelilingnya takut melihat kemarahan Leon. Wartawan pun sedari tadi bungkam. Hanya mengambil gambar dan video mereka tanpa mengeluarkan suara.
"Tu ... Tuan, Uhuuk! Uhuk!" Yenny berusaha melepas lilitan tangan Leon di lehernya.
Khansa hanya menatapnya datar, membiarkan Leon berbuat semaunya pada Yenny. Bahkan mungkin jika dibunuh hari ini pun Khansa tidak peduli.
"Saya akan menuntut kamu untuk mengembalikan semua dana yang kamu pakai. Terutama biaya pendidikanmu di luar negeri!" pekik Leon menggelegar.
Seketika semua orang tahu, bahwa pria itu adalah Leon Sebastian. Pria misterius yang tidak pernah menunjukkan dirinya ke publik. Pria yang selalu berada di belakang Yenny untuk menyokong keberhasilannya.
"Jadi, dia Leon? Leon Sebastian?" Orang-orang saling berbisik.
"Astaga, dasar Yenny penipu!" teriaknya bersamaan.
"Sumpah nyesel banget idolain dia. Hah, fiks mau balik haluan jadi hatters tingkat nasional aku!" seru salah seorang penggemarnya.
Gerry kembali masuk, ia panik melihat Leon yang masih mencekik Yenny tanpa ampun. Segera mempercepat langkah kakinya untuk segera mendekat.
"Tuan! Tuan lepaskan," ucap Gerry mencoba melerai.
"Berani-beraninya kamu mempermainkan saya!" teriak Leon sangat keras tepat di depan wajah Yenny. Perempuan itu memejamkan matanya dengan erat. Napasnya sudah semakin menipis.
"Tuan, polisi sudah perjalanan ke sini," ucap Gerry memegang lengan kekar Leon yang terasa sangat keras itu.
Tanpa belas kasih Leon membanting tubuh Yenny ke lantai. Tak hanya Yenny yang berteriak, namun juga semua orang yang menyaksikannya sembari menutup mulut yang menganga. Mereka turut merasa ngilu walau hanya melihatnya.
"Aaarrrrgh!" Yenny merintih kesakitan. Napasnya juga tersengal-sengal. Sekujur tubuhnya terasa remuk seketika.
Leon berjongkok, satu kakinya sengaja menginjak lengan Yenny. Tatapannya masih sama, bagai tombak api yang menyala. "Ini masih belum seberapa. Karena kamu telah menyakiti istriku," ucapnya lirih di hadapan Yenny.
Leon kembali berdiri dan memutar ujung sepatunya tepat di lengan Yenny. Perempuan itu sampai tidak bisa berteriak karena kehabisan suara. Mata Leon mengedar, tidak menemukan keberadaan Khansa.
Bersambung~
Nungguin yaa 😬 maap bebskii kesiangan... ini aja sambil masak, sambil nyuci, nyapu...wkwkwkwk untung nggak kegoreng nih hp. maap kalo ada typo ya.
Emeziing komennyaa 😄😄 makasih ya bebskii... aku padamu pokoe... love you sekebon cabe. alhamdulillah cabenya subur kembali setelah dihujani beberapa hari 😆😆
😌 : Rasakan! Rasakan!
Mas Le: Cepetan weh! Gw gak sabar.
😌: Nggak sabar mau ngapain?
Mas Le; Anuu 😳
DIIIIHH gw mau konser dulu, Tong... awokwok...