Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 49 : Wedding Hansen and Emily


"Ambil aja kalau bisa!" celetuk Emily pada teman-temannya.


"Wah, lampu ijo nih dari adik ipar!" seru mereka kegirangan sembari bertepuk tangan.


Dalam hati Emily yakin jika salah satu dari mereka tidak mampu meluluhkan Bara. Apalagi Bara sudah mengenal seluk beluk mereka semua. Jika memang Bara menyukai salah satunya, sudah pasti digaet sejak lama.


"Eh kita fotbar dulu dong! Mau update story nih!" celetuk salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel mahalnya.


Mereka semua yang memang ratu medsos, tak segan untuk mengambil banyak foto dengan calon pengantin yang sangat cantik itu dengan berbagai gaya. Dari yang kalem, sampai gaya bar bar.


"Post nya nanti malem aja. Jangan sekarang!" seru Emily memperingatkan.


"Iya, Cantik. Siap 86!" ucapnya.


"Sharing ya!" cetus yang lainnya meminta hasil jepretan tersebut.


Bara kembali masuk untuk memanggil Emily, karena waktu sudah tiba. Sebelum berangkat mereka pun mengajak Bara untuk berfoto ria juga bersama Emily. Bahkan tak sedikit yang mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengan pria itu.


"Udah! Ayo berangkat!" ajak Bara menggenggam tangan adiknya.


Emily segera diboyong menuju gereja yang sudah dibooking untuk pernikahan mereka. Sanak saudara yang sudah berkumpul pun mengikutinya. Karena memang acara sakral ini, Emily dan Hansen hanya mengundang orang terdekat saja. Leon dan Khansa langsung menuju lokasi.


Bara secara khusus menyetir untuk adik kesayangannya itu. Sedari tadi hanya terus merapatkan bibirnya. Tidak bersuara sedikit pun. Padahal di kursi penumpang belakang, teman-teman Emily tengah merusuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Musik pengiring pengantin menggema. Berbagai rangkaian bunga telah memenuhi ruangan untuk menyambut sepasang pengantin. Hansen sudah berdiri gagah di atas altar dengan tuxedo putih yang pas membalut tubuh kekarnya.


Tidak ada yang tahu jika pria itu tengah melawan rasa grogi. Ia berdiri membelakangi pintu utama. Ketika derit pintu terbuka, dadanya berdentum kuat, kedua tangannya juga mengepal dengan erat.


Saat iringan musik memelan, pembawa acara meminta untuk Hansen berbalik badan. Sedikit kaku dan menelan saliva, Hansen memutar tubuhnya.


Namun ia membeliak ketika yang ada di hadapannya kini bukan Emily melainkan Simon yang sedang cosplay menjadi pengantin wanita. Simon tersenyum lebar menatap raut ketegangan di wajah Hansen.


"Simon?!" seru Hansen tertahan.


Ia mati-matian menahan gugup, ternyata Simon mengerjainya. Sepupunya satu itu memang sedikit frontal dalam hal apa pun. Simon sengaja mengenakan gaun pengantin, buket bunga bahkan veil untuk menutupi wajahnya. Hansen mendengkus kesal, mengembuskan napasnya dengan kasar.


Semua orang tertawa melihat kekonyolan pria itu. Apalagi saat ia kesulitan berjalan dengan heels berwarna merah.


Simon pandai mengurai ketegangan yang tercipta sedari tadi. Termasuk Khansa dan Leon yang kini sudah duduk di tempatnya masing-masing, juga tertawa melihatnya. Sedangkan Cheryl duduk nyaman di pangkuan Leon.


"Om papa! Kenapa pengantinnya nggak cantik?" tanya gadis kecil itu bingung.


"Bukan itu pengantinnya, Sayang. Itu Om Simon lagi ngerjain Om Hansen," jelas Leon menunjuk dua pria itu. "Pengantin wnaitanya Tante Emily, sebentar lagi masuk kok." Cheryl mengangguk-anggukkan kepalanya, bibirnya pun membentuk huruf O.


Hansen mendengkus kasar, ia tertawa sumbang. "Ck! Gila!" sembur Hansen namun menarik kedua bahu Simon. Dua saudara itu saling berpelukan erat.


"Kalian ninggalin aku. Pasti nanti nggak bisa ngumpul lagi, nggak bisa begadang sampai pagi di bar, sibuk sendiri dengan istri masing-masing," ucap Simon dengan nada sedih.


"Tenang aja bentar lagi nyusul," celetuk Simon percaya diri.


Hansen meregangkan pelukannya. "Sama siapa?" tanyanya menautkan kedua alis.


"Belum tahu. Hahaha! Peluk lagi ah, sebelum menjadi hak milik Emily!" Simon menghambur ke pelukan Hansen lagi.


Beberapa saat kemudian, gemuruh tepuk tangan diiringi denting musik pengiring pengantin menelusup pendengaran semua orang. Simon segera pergi dari sana, mencari jalan lain untuk kembali mengganti pakaian.


Sedikit kesulitan berjalan dengan heelsnya, mengangkat gaun putih yang dikenakan. Semua orang yang dilaluinya tak kuasa menahan tawa. Simon justru menaburkan senyum lebar, tidak ada rasa malu sedikit pun. Ia bangga selalu menjadi diri sendiri. Ada kalanya serius, konyol dan menghibur.


Terlihat Emily tengah berjalan dengan melingkarkan lengannya pada Bara. Di belakangnya teman-teman Emily pun berjalan beriringan mengantarnya ke atas altar.


Barisan para artis cantik dan pengantin itu membuat semua mata terkagum-kagum. Banyak dari mereka yang mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka.


Mata Bara berkaca-kaca, sedih harus melepas adiknya pada pria lain. Kakinya melangkah dengan berat. Dadanya pun mendadak sesak.


Emily berjalan dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap pria yang berdiri gagah di hadapannya. Ia mendadak menjadi gugup, panas dingin merajai sekujur tubuhnya.


"Aku serahkan Emily, adikku padamu. Jaga dia, sayangi dia dan jangan pernah sakiti dia. Jika memang kamu tidak sanggup mengemban tanggung jawab itu, kembalikan adikku secara baik-baik. Aku orang pertama yang akan mencarimu, ketika Emily terluka," ucap Bara tegas dan lantang dengan mata memerah.


"Baik, aku akan mengingatnya, kakak ipar," balas Hansen mengangguk dan sedikit tersenyum.


Bara meraih jemari Emily yang terbalut kain brukat putih, menyatukannya dengan tangan Hansen. Ia menepuk puncak kepala Emily dengan senyum paksa. "Jadilah istri yang baik. Jika dia menyakitimu, aku masih sama. Akan menjadi garda terdepan membela dan melindungimu," ucap Bara yang seketika membuat Emily menitikkan air mata di balik veilnya.


Tak ingin berlama-lama, Bara takut semakin tak kuasa menahan tangis. Ia segera berbalik untuk bergabung dengan orang tuanya. Begitupun para pengiring pengantin.


Hansen menggenggam erat jemari Emily, keduanya saling melempar senyum dengan irama detak jantung yang berlarian. Setelah melewati lima tahun lamanya, akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan.


Janji suci pun terucap lantang, acara sakral itu berjalan dengan lancar sesuai susunan acara. Keduanya pun resmi dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Mereka pun menyematkan cincin pernikahan pada masing-masing pasangannya.


Semua pun bertepuk tangan, turut merasakan kebahagiaan yang mendera artis cantik bersama salah satu konglomerat di kota tersebut.


Sebuah penantian panjang dari Hansen akhirnya berbuah manis. Status mereka sudah berubah baik dalam negara maupun agama.


Hansen membuka veil transparan yang sedari tadi menutup wajah Emily. Tatapan keduanya saling beradu. Hansen terpesona dengan kecantikan perempuan yang kini sudah berstatus sebagai istrinya. Meski make up natural, namun ada aura berbeda yang memancar.


"Cantik," gumam Hansen menyentuh sebelah pipi Emily, menggesekkan ibu jarinya dengan lembu. Menciptakan getaran halus di dada Emily.


Tak berapa lama, tanpa aba-aba, Hansen segera menyatukan bibirnya pada bibir tipis Emily. Emily pun pasrah, mencengkeram kuat buket bunganya dengan dada yang meledak-ledak.


Leon dan Khansa kompak menutup mata Cheryl dengan telapak tangannya. Pasangan suami istri itu saling melempar pandang dan tertawa. Leon pun mencium kening Khansa yang kini bersandar di bahu kokohnya.


"Aunty mama! Om papa! Kenapa mata Cheryl ditutup!" protes gadis kecil itu menggembungkan pipinya.


Bersambung~