Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 158. Tanggung jawab


Emily seperti menelan kulit durian. Mata bulatnya mengerjap berulang. Jantungnya seolah melompat dari dadanya, tubuhnya menjadi kaku seketika. Telapak tangannya mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Sulit percaya dengan yang dilihatnya pagi ini.


"Ini mimpi, 'kan? Gue udah bangun belum sih!" gumamnya menepuk-nepuk pipinya sendiri.


Hansen masih bergeming menatapnya dengan tajam. Emily mengedarkan pandangannya, ia menemukan pintu yang terbuka lebar. Lalu kembali menatap Hansen yang masih mengatupkan bibirnya dengan rapat.


Tubuhnya merangsek maju dengan kedua lututnya untuk mendekati Hansen. Tangan mulusnya terangkat menangkup pipi pria itu, lalu mencubitnya. "Hah? Ini nyata? Bukan mimpi!" lanjutnya semakin melebarkan kelopak matanya.


"Oh astaga, maaf, maaf!" Emily melompat dari ranjang, menyentuh lengan Hansen mengajaknya duduk di tepi ranjang. "Mana yang sakit? Ponselku? Aduh mana sih!" Emily bingung bercampur panik. Ia menyibak selimut dengan kasar. Rasanya ingin bersembunyi di lubang semut saja.


Hansen menangkap pergelangan tangan Emily, matanya memicing dengan tajam. Gadis itu meringis karena ketakutan. Kepalanya menunduk dalam. "Maaf," ucapnya penuh sesal.


"Eh, tunggu! Kamu ngapain di kamarku?" ucap gadis itu menarik lengannya lalu berkacak pinggang.


Hansen bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun. Emily terus nyerocos sedari tadi saking paniknya. "Bisa diem nggak?" ucap laki-laki itu menaikkan pandangan. "Ngapain kamu mabuk?" lanjutnya mengintimidasi.


'Eh! Dia tahu aku mabuk?' tanyanya dalam hati.


"Emm ... itu, semalam ada acara party, salah satu project film selesai tepat waktu. Cuma minum sedikit kok, segini!" Emily mengangkat tangan. Jarinya mempraktikkan gerakan seperti hendak mencubit memperkirakan seberapa dia minum.


"Sudah tahu nggak bisa mabuk kenapa tetap diminum? Kalau ada yang memanfaatkannya siapa yang bakal kamu salahin, hah? Kamu itu jauh dari keluarga harusnya bisa menjaga diri!" sentak Hansen menggeram marah.


Emily terhenyak melihat kemarahan Hansen. Ia bahkan sampai tidak berkedip. "Kan ada Barbara yang selalu jagain aku," elak Emily dengan suara pelan.


"Barbara lagi Barbara lagi. Dia itu laki-laki. Siapa yang jamin kalau dia terus jagain kamu dan tidak merusakmu!"


"Plak!"


Emily melayangkan sebuah tamparan di pipi Hansen. Mata kecilnya berubah nyalang, kepalanya mendongak agar sejajar dengan mata elang Hansen. "Jangan menilai orang sebelum kamu mengenalnya! Lagi pula apa hak kamu melarangnya? Tidak seharusnya kamu ikut campur dengan kehidupanku!" tegas Emily menunjuk muka Hansen, meluapkan emosi.


Hansen menyentuh pipinya yang memanas. Pria itu terdiam sejenak, deru napasnya terdengar kasar. Tiba-tiba Hansen membingkai wajah mungil Emily dengan kedua telapak tangannya.


"Karena aku peduli denganmu!" sahut Hansen dengan suara tegas menatap kedua bola mata Emily bergantian.


"Untuk apa peduli denganku?" Emily bersuara rendah dengan denyut jantung yang mulai memberontak dalam dada.


Hansen tidak berbicara lagi, ia mendekatkan kepalanya lalu tiba-tiba mencium bibir Emily. Gadis itu membelalak semakin lebar. Dadanya bergemuruh hebat di dalam sana. Satu tangan Hansen menekan tengkuk Emily untuk memperdalam ciumannya. Tubuh gadis itu mendadak beku, tidak bisa digerakkan. Hansen semakin mengeksplore bibir perempuan itu tanpa jeda.


Setelah beberapa lama, Hansen melepas tautan bibirnya. Matanya masih mengarah pada wajah cantik di hadapannya. Air mata mulai merebak di kedua manik indah Emily. Dadanya naik turun, semakin lama semakin deras laju air matanya.


Emily terduduk di tepi ranjang, pikirannya masih mengambur ke mana-mana. Hansen mengernyitkan keningnya bingung. Ia tidak mengerti kenapa Emily justru menangis.


Hansen berjongkok di hadapan Emily, menggenggam jemari lentik gadis itu. "Kenapa menangis?" tanyanya mengangkat satu tangan untuk menyeka air mata itu.


"Kamu masih nanya nangis kenapa?" Emily menepis tangan Hansen lalu mendorong bahu pria itu hingga terjengkang. "Kenapa kamu bersikap seenaknya sendiri, hah? Kamu pikir aku wanita apa? Tiba-tiba tidur satu ranjang denganku lalu sekarang kamu menciumku seenak jidat kamu!" teriak Emily di tengah isak tangisnya.


"Aku akan bertanggung jawab!" ujar Hansen beranjak duduk di samping Emily.


Emily tertawa getir sembari menyeka air matanya, "Tanggung jawab? Dengan cara apa kamu bertanggung jawab?" tantang Emily menaikkan dagunya.


"Menikahimu!" tegas pria itu tanpa berkedip. Menatap Emily dengan serius. Tidak ada sedikit pun raut bercanda di wajah tampan itu.


"A ... apa?" seru Emily menelan saliva yang terasa berat.


Langkahnya terhenti saat melihat dua sejoli itu tengah berada dalam mode serius. Ia teringat dengan pria yang digosipkan dengan Emily diseluruh jagat dunia maya. "Eee ... apa ini ada masalah rumah tangga? Tapi maaf, bisa ditunda dulu nggak? Emily harus syuting pagi ini. Kejar project baru yang akan segera tayang bulan depan," jelas Bara menatap Emily dan Hansen bergantian.


Emily segera beranjak dari duduknya. "Ah iya bener. Aku harus segera bersiap. Thankyou Barbara!" serunya berlari menuju kamar mandi.


Gadis itu membanting pintu cukup keras. Ia berdiri di balik pintu sembari menekan-nekan dadanya yang berdetak tak karuan. "Menikah? Aku sama manusia kulkas? Hah?" gumamnya sembari mengacak rambut panjangnya.


"Baby! Sepuluh menit dari sekarang!" teriak Bara yang tidak mendengar gemericik air sedari tadi.


"Iya! Iya!" balas Emily berteriak juga.


Hansen membuang mukanya, ia sangat tidak menyukai pria yang tengah menyiapkan perlengkapan Emily itu. Raut wajahnya berubah masam. Ia tidak suka melihat kedekatan mereka.


"Hei! Jadi kamu manusia kulkas dua pintu itu?" ucap Bara yang tiba-tiba duduk di sebelah Hansen.


Hansen terkejut, ia menoleh sembari merapatkan tubuhnya ke ujung ranjang Emily. Bara menunggu jawabannya, ia menaik turunkan kedua alis dengan senyum yang lebar.


"Hem, ternyata bener." Bara melipat kedua lengannya di dada. Tidak ada jawaban apa pun dari Hansen, hanya membalas dengan tatapan tajam saja. Bara menelisik tubuh Hansen dari ujung rambut sampai ujung kakinya melalui pandangan mata.


"Apa lihat-lihat?" seru Hansen memicingkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tengah padatnya jalan raya di pagi hari, Jihan berjalan sambil mendorong kursi roda ibunya. Kehilangan satu kaki, membuat Maharani masih merasa terguncang. Jihan tidak ingin uangnya semakin habis jika terus-terusan dirawat di rumah sakit. Setidaknya, masih ada sisa uang untuk mereka hidup ke depannya.


"Bu, kemarin Jihan sudah membayar kontrakan untuk satu tahun ke depan. Nggak jauh dari sini. Lumayan masih ada sisa," ucapnya pelan.


Maharani masih diam. Sejak selesai operasi, dia bungkam dan tidak mau berbicara sepatah kata pun. Apalagi mengingat putri kebanggaannya sudah masuk bui, sedangkan suaminya entah tidak tahu bagaimana nasibnya.


Mereka sampai di depan rumah petak yang bahkan ukurannya jauh lebih besar dibanding kamar mereka dulu. Jihan mencari kunci untuk membuka gembok pintu rumah itu. Lalu kembali mendorong ibunya masuk.


Wanita itu mengedarkan pandangannya. Hanya ada satu kasur di atas ranjang yang sempit. Tidak ada AC atau pun kipas angin. Hanya beberapa ventilasi udara yang menerobos rumah mungil itu.


"Ibu mau tiduran? Jihan lagi siap-siap mau cari kerjaan," tawarnya berjongkok di depan ibunya.


Maharani masih diam tak bersuara. Jihan menghela napas panjang. Dia mulai bisa menerima keadaan dan berusaha untuk bertahan hidup.


"Jihan pamit ya, Bu," ucapnya meraih amplop cokelat berisi surat lamaran, yang sudah dia siapkan beberapa hari yang lalu.


Sepeninggalnya Jihan, Maharani mencengkeram kuat pegangan kursi rodanya. Dia kembali menangis, lalu menjerit meratapi nasib yang kini menimpanya.


Bersambung~




*SaLe mana thor?


😌 Masi Bobo ya Bebskii.. jan ganggu dulu..